Baik, siapkan dirimu. Berikut adalah artikel misteri tentang “Bidadari Palsu di Gunung Gede”, dengan panjang sekitar 1200 kata dan setiap paragraf maksimal 4 baris. Bacalah dengan perlahan, dan biarkan imajinasimu bekerja.
Bidadari Palsu di Puncak Gede: Bisikan dari Kabut Abadi
Gunung Gede. Bukan sekadar puncak menjulang, melainkan gerbang menuju alam lain. Setiap jengkal tanahnya menyimpan bisikan, setiap kabutnya menyembunyikan rahasia. Bagi para pendaki, Gede adalah tantangan. Bagi yang lain, ia adalah penjaga legenda, tempat di mana batas realitas mulai kabur.
Aku, Andi, adalah salah satu dari mereka yang terpanggil oleh Gede. Bersama tim kecilku—Rizal si logistik, Mira si fotografer, dan Doni si pemandu lokal—kami telah menaklukkan banyak gunung. Tapi Gede selalu memiliki daya tarik yang berbeda, aura mistis yang tak bisa dijelaskan.
Desas-desus tentang “Bidadari Palsu” mulai beredar beberapa tahun terakhir. Awalnya kami menganggapnya bualan pendaki kelelahan, atau cerita horor untuk menakut-nakuti pemula. Konon, ada sesosok wanita sangat cantik, bergaun putih, yang muncul di jalur tak terjamah, mengundang dengan senyum mematikan.
Ia akan muncul di tengah kabut tebal, suaranya merdu bagai nyanyian surgawi. Para pendaki yang tersesat atau kelelahan seringkali menjadi korbannya. Mereka yang pernah melihatnya dan selamat, selalu bercerita tentang mata kosong dan senyum dingin yang tersembunyi di balik kecantikannya.
“Itu hanya halusinasi, Di,” ujar Rizal suatu malam di basecamp, saat kami membahasnya. “Kurang tidur, oksigen tipis, dan dinginnya gunung bisa membuatmu melihat apa saja.” Doni, pemandu kami, hanya diam, tatapannya menerawang jauh ke arah puncak yang gelap.
Namun, di ekspedisi kami kali ini, hal-hal aneh mulai terjadi. Kami memilih jalur yang lebih terpencil, jarang dilalui, menembus hutan lumut yang lebat. Udara dingin menyengat, dan keheningan hutan terasa begitu pekat, seolah menelan setiap suara.
Pada malam kedua, saat kami berkemah di sebuah punggungan terpencil, Doni tiba-tiba membeku. Matanya melebar, menatap ke arah semak belukar di balik tenda kami. “Ada yang mengawasi,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Kami semua menegang. Gelap gulita di luar, hanya diterangi cahaya rembulan yang samar menembus celah pepohonan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan, hanya keheningan yang menyesakkan. Namun, bulu kudukku meremang, merasakan kehadiran yang tak kasat mata.
Keesokan paginya, jejak-jejak aneh ditemukan di sekitar area kemah. Bukan jejak hewan, juga bukan sepatu pendaki. Itu adalah cetakan kaki yang kecil, telanjang, seolah seorang wanita berjalan tanpa alas kaki di tanah lembap. Terlalu sempurna untuk jejak manusia biasa.
“Ini… ini aneh,” gumam Mira, mencoba mengambil foto. Namun, setiap kali ia mengarahkan kameranya, jejak itu seolah memudar, menjadi tidak jelas. Kamera digitalnya bahkan sempat eror, memunculkan gambar-gambar buram yang tak bisa dijelaskan.
Kami memutuskan untuk tetap melanjutkan pendakian, mencoba mengabaikan keganjilan itu. Mungkin hanya imajinasi kolektif yang dipicu cerita-cerita. Namun, semakin tinggi kami mendaki, semakin tebal kabut menyelimuti, dan semakin dingin udara terasa menusuk tulang.
Tiba-tiba, Doni berhenti. Ia menunjuk ke arah celah di antara pepohonan tua yang diselimuti lumut tebal. Di sana, di tengah remang-remang kabut, sebuah siluet putih terlihat. Samar, namun jelas. Ia berdiri membelakangi kami, seolah baru saja muncul dari kegelapan hutan.
Napas kami tertahan. Itu adalah sosok wanita, tinggi semampai, mengenakan gaun putih yang berkibar lembut ditiup angin yang tidak ada. Rambutnya hitam panjang, terurai indah. Ada semacam cahaya samar yang menguar darinya, membuat sekitarnya terlihat seperti lukisan surealis.
“Jangan mendekat,” bisik Doni, suaranya serak. Wajahnya pucat pasi. “Itu dia. Bidadari Palsu.” Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri diam, menunggu. Sebuah undangan tanpa kata, yang terasa lebih menakutkan daripada ancaman terang-terangan.
Rizal, yang terkenal paling rasional di antara kami, tiba-tiba merasa pusing. Ia terhuyung, berpegangan pada pohon. “Aku… aku merasa tidak enak,” keluhnya. Matanya mulai berkunang-kunang, seolah ada sesuatu yang mencoba menarik kesadarannya.
Sosok putih itu perlahan menoleh. Wajahnya… begitu sempurna. Mata besar yang hitam kelam, hidung mancung, bibir tipis yang sedikit melengkung dalam senyuman misterius. Kecantikannya membius, seolah mampu menghipnotis siapa saja yang memandangnya.
Namun, ada sesuatu yang salah. Senyumannya tidak mencapai matanya. Bola matanya terlihat terlalu gelap, terlalu dalam, seperti jurang tanpa dasar. Dan kulitnya… itu bukan kulit manusia. Terlalu halus, terlalu putih, seolah terbuat dari pualam dingin.
“Dia tidak nyata,” bisik Mira, jarinya gemetar saat ia mencoba mengabadikan momen itu. Namun, setiap kali ia menekan tombol rana, layar kameranya menjadi gelap gulita, atau menampilkan tulisan “Error” yang berkedip-kedip. Seolah kehadirannya menolak untuk direkam.
Tiba-tiba, sebuah melodi lembut terdengar. Bukan dari suara manusia, melainkan seperti bisikan angin yang memainkan senar harpa tak terlihat. Melodi itu membuai, mengisi udara dengan perasaan damai yang menipu. Rizal yang tadinya pusing, kini tampak lebih tenang, namun matanya kosong.
“Indah sekali,” gumam Rizal, dan ia mulai melangkah maju, perlahan, seperti ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Ia berjalan lurus ke arah sosok putih itu, senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah senyuman yang bukan miliknya.
“Rizal! Hentikan!” teriakku. Aku mencoba meraih tangannya, namun ia sudah terlalu jauh. Doni dan Mira juga berusaha menariknya kembali, namun Rizal terlalu kuat, seolah ada energi aneh yang mendorongnya maju. Ia bergerak cepat, seolah melayang di antara pepohonan.
Sosok putih itu mengulurkan tangannya. Jari-jemarinya ramping dan pucat. Ia tersenyum lebih lebar, dan kali ini, senyum itu terlihat seperti seringai. Rizal semakin dekat, nyaris mencapai tangannya, ketika Doni berteriak panik.
“Lihat matanya!” seru Doni. Mata sosok itu kini berpendar merah samar, seperti bara api yang membara di kegelapan. Dan senyumannya, oh, senyumannya kini merekah lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu panjang, terlalu tajam, seperti taring.
Kulit pualamnya mulai retak. Di beberapa bagian, muncul urat-urat kehitaman yang menjalar, seperti akar-akar pohon mati. Cahaya samar yang tadinya memancar, kini berkedip-kedip, mengungkap wujud aslinya yang mengerikan di balik ilusi kecantikan.
Gaun putihnya kini terlihat lusuh, robek di sana-sini, dan ada noda-noda gelap yang menyerupai darah kering. Rambutnya yang tadinya terurai indah, kini tampak kusut dan kotor, sebagian bahkan rontok, memperlihatkan kulit kepala yang mengerikan.
“Itu bukan bidadari!” jerit Mira, mundur ketakutan. “Itu… itu monster!” Wujud asli “bidadari” itu kini terungkap sepenuhnya. Ia adalah makhluk mengerikan, dengan wajah yang sebagian sudah membusuk, mata merah menyala, dan taring tajam yang mencuat.
Rizal terhuyung, seolah ilusi telah sirna. Ia melihat wujud asli makhluk itu, dan jeritan horor keluar dari tenggorokannya. Ia mencoba berbalik, namun sudah terlambat. Sosok itu bergerak dengan kecepatan tak masuk akal, lebih cepat dari yang bisa kami bayangkan.
Dalam sekejap, makhluk itu mencengkeram lengan Rizal. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam menusuk kulitnya. Rizal berteriak kesakitan, dan darah segar mengalir membasahi tangannya. Makhluk itu menyeretnya dengan kekuatan brutal ke dalam kabut tebal.
“Rizal!” teriakku, tak berdaya. Aku dan Mira hanya bisa menyaksikan. Doni, meskipun ketakutan, berhasil menarik kami berdua mundur. “Jangan lihat! Jangan pernah melihat matanya!” perintahnya, suaranya nyaris pecah.
Kami berlari. Panik melanda, menguasai akal sehat kami. Kabut tebal seolah menjadi labirin, setiap langkah terasa seperti jebakan. Kami mendengar suara jeritan Rizal yang melengking, memudar perlahan, sebelum akhirnya digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Suara langkah kaki makhluk itu terdengar di belakang kami, seolah ia sedang bermain-main. Ia tidak mengejar dengan tergesa-gesa, melainkan mengikuti, menikmati setiap detik ketakutan kami. Bau anyir dan amis kini memenuhi udara, menyesakkan napas.
Kami berlari tanpa henti, menuruni gunung dengan kecepatan gila. Tidak peduli jalur, tidak peduli bebatuan licin. Yang ada hanyalah keinginan untuk menjauh, untuk melarikan diri dari teror yang baru saja kami saksikan.
Akhirnya, setelah berjam-jam berlari seperti orang gila, kami tiba di basecamp. Tubuh kami gemetar hebat, napas terengah-engah. Wajah kami pucat pasi, mata kami dipenuhi kengerian yang tak terlukiskan. Kami tidak berani menoleh ke belakang.
Kami melaporkan hilangnya Rizal. Pihak SAR melakukan pencarian besar-besaran, namun tidak menemukan jejaknya. Tidak ada tubuh, tidak ada barang-barang pribadi. Rizal lenyap ditelan misteri Gunung Gede. Seolah ia tak pernah ada.
Sejak saat itu, aku tak pernah lagi mendaki Gede. Setiap kali melihat siluet puncaknya dari kejauhan, bulu kudukku meremang. Bisikan angin seolah membawa kembali melodi mematikan itu, dan bayangan senyum mengerikan dari “bidadari palsu” itu menghantuiku.
Doni, pemandu kami, kini jarang bicara. Ia selalu terlihat gelisah, matanya menerawang jauh. Mira, fotografer kami, tak pernah lagi menyentuh kameranya. Kejadian itu merenggut sesuatu dari jiwa kami, meninggalkan luka yang tak akan pernah sembuh.
Gunung Gede tetap berdiri megah, diselimuti kabut abadi. Legenda “Bidadari Palsu” kini bukan lagi cerita bualan. Ia adalah peringatan. Peringatan akan keindahan yang menipu, akan teror yang bersembunyi di balik pesona. Dan di setiap kabut yang turun, aku tahu, ia masih menunggu. Menunggu mangsa berikutnya.





