Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Ada yang Berdiri di Ujung Kamar Kosong… Tapi Tak Punya Wajah

13
×

Ada yang Berdiri di Ujung Kamar Kosong… Tapi Tak Punya Wajah

Share this article

Ada yang Berdiri di Ujung Kamar Kosong… Tapi Tak Punya Wajah

Kaki Bayangan di Kamar Kosong

Ardi menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya terasa berat. Malam di kamar kosnya selalu menawarkan keheningan yang pekat, seringkali terlalu pekat. Ia merindukan hiruk-pikuk kota, atau sekadar suara tawa teman-teman.

Kamar kosnya sederhana, diapit dua kamar lain yang senyap. Satu dihuni seorang mahasiswi pendiam, satunya lagi adalah kamar kosong. Kamar kosong itu selalu terkunci, gelap, dan diselimuti debu.

Namun, beberapa malam terakhir, keheningan itu terusik oleh sesuatu. Sebuah anomali yang perlahan merayap, menusuk ketenangan Ardi. Ia sering terbangun oleh perasaan aneh, seperti ada yang mengawasinya.

Awalnya ia mengira itu hanya ilusi, kelelahan mata setelah seharian bekerja. Tapi bayangan itu terus muncul, semakin jelas dan nyata, tepat di bawah celah pintu kamar kosong di seberang.

Kilasan pertama adalah gerakan samar, seperti kain hitam yang terseret. Ardi mengucek matanya, mengira itu hanya pantulan cahaya dari luar. Namun, bayangan itu memiliki bentuk, sebuah siluet kaki.

Bukan kaki manusia utuh, hanya bagian pergelangan ke bawah. Mereka muncul dari bawah pintu, bergerak perlahan, seolah sedang melangkah di dalam kegelapan. Jantung Ardi berdegup tak beraturan.

Ia memaksa dirinya untuk berpikir logis. Mungkin ada celah di dinding yang membuat cahaya masuk, menciptakan bayangan aneh. Atau mungkin Bu Kos sedang bersih-bersih di dalam, padahal katanya kosong.

Kaki bayangan itu berhenti, seolah merasakan tatapan Ardi. Mereka tetap diam di sana, terpaku di ambang pintu, menunggu. Ardi merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya, bukan karena AC.

Malam berikutnya, kejadian itu terulang. Ardi terbangun tepat di tengah malam, merasakan sensasi familiar yang menusuk. Ia menoleh ke pintu kamar seberang, dan di sanalah mereka.

Kaki-kaki bayangan itu, kali ini lebih jelas. Bukan hanya siluet, Ardi bisa melihat lekuk pergelangan kaki, bahkan seperti jemari kaki yang samar. Mereka bergerak sedikit, bergeser dari satu sisi ke sisi lain.

Ketakutan mulai menyelimuti Ardi. Ini bukan ilusi, bukan fatamorgana. Ada sesuatu di balik pintu itu, sesuatu yang tidak seharusnya ada di kamar yang konon kosong dan terkunci rapat.

Ardi mencoba memberanikan diri. Ia mendekati pintu kamarnya, mengintip melalui celah kecil. Kaki-kaki bayangan itu tak bergerak, seolah membeku di tempatnya, menantang keberanian Ardi.

Ia mencoba mengetuk pintu kamarnya sendiri, membuat suara gaduh. Kaki bayangan itu seketika menghilang, seolah ditarik mundur ke dalam kegelapan. Keheningan kembali meraja, lebih mencekam dari sebelumnya.

Pagi harinya, Ardi memberanikan diri mendatangi kamar kosong itu. Ia memeriksa gagang pintu, masih terkunci rapat. Ia mengintip melalui celah bawah, hanya ada debu tebal dan lantai yang kotor.

Tak ada tanda-tanda kehidupan, tak ada jejak kaki. Ardi bahkan mencoba mengetuk pintu itu pelan, memanggil. Tak ada jawaban, hanya gema kosong yang kembali padanya.

Ia bertanya pada Bu Kos yang sedang menyiram bunga. “Bu, kamar seberang itu benar-benar kosong, kan?” Bu Kos menoleh, mengernyitkan dahi. “Oh, iya, Ardi. Kosong sejak setahun lalu. Belum ada penyewa.”

Jawaban itu tidak menenangkan Ardi, justru membuatnya semakin gelisah. Jika kosong, lalu bayangan kaki siapa yang dilihatnya? Apakah ia mulai gila, atau ada sesuatu yang lebih mengerikan?

Malam-malam berikutnya menjadi siksaan. Ardi tidur dengan gelisah, telinganya awas terhadap setiap suara. Kaki-kaki bayangan itu menjadi lebih sering muncul, seolah semakin berani.

Mereka tidak lagi hanya diam. Kadang mereka bergerak maju-mundur di bawah celah pintu, seperti sedang mondar-mandir. Sesekali, Ardi bahkan mendengar gesekan samar, seperti kain yang terseret di lantai.

Paranoia mulai menggerogoti Ardi. Ia merasa terus-menerus diawasi. Bahkan saat ia menoleh ke pintu kamarnya, ia merasa sepasang mata tak terlihat sedang mengintip dari celah di bawah pintu seberang.

Ia mencoba mencari penjelasan logis. Hantu? Ardi tidak terlalu percaya takhayul, tapi apa lagi yang bisa menjelaskan ini? Sosok tak terlihat di kamar terkunci yang konon kosong.

Suatu malam, ketegangan mencapai puncaknya. Kaki-kaki bayangan itu muncul lagi, tapi kali ini mereka bergerak lebih cepat. Mereka berputar di tempat, seolah sedang mencari sesuatu.

Lalu, sebuah suara samar terdengar dari kamar itu. Bukan suara langkah, melainkan suara seperti isakan pelan, tertahan. Ardi merinding, bulu kuduknya berdiri tegak.

Ia tidak bisa lagi menahannya. Dengan jantung berdebar kencang, Ardi bangkit dari tempat tidurnya. Ia mendekati pintu kamarnya, menatap celah di bawah pintu kamar kosong itu.

Kaki bayangan itu kini diam, terpaku di tengah celah. Mereka terlihat begitu nyata, begitu gelap, seolah menyerap semua cahaya di sekitarnya. Ardi mencoba memberanikan diri.

“Siapa di sana?” bisiknya, suaranya serak. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang memekakkan. Namun, kaki bayangan itu bergerak, sedikit maju, seolah ingin meraih sesuatu.

Kemudian, dengan gerakan yang tiba-tiba, salah satu kaki bayangan itu menendang sesuatu dari dalam. Benda itu terlempar ke luar melalui celah pintu, mendarat tepat di depan pintu kamar Ardi.

Ardi terkesiap. Kaki-kaki bayangan itu seketika lenyap, ditarik kembali ke dalam kegelapan. Ia menatap benda yang tergeletak di lantai, sebuah lipatan kertas kecil, kusam dan usang.

Dengan tangan gemetar, Ardi meraih kertas itu. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, tulisan tangan yang buram dan tergesa-gesa tertera dengan tinta yang nyaris pudar.

“Tolong aku. Dia masih di sini. Mereka tidak tahu. Aku di bawah.”

Napas Ardi tercekat. Bukan hantu, bukan ilusi. Ini adalah pesan, sebuah jeritan minta tolong. “Dia masih di sini,” kalimat itu menusuk otaknya, siapa “dia”? Dan “aku di bawah”?

Ia menatap pintu kamar kosong itu dengan pandangan baru. Bukan kosong, melainkan sebuah kedok. Sebuah penjara, atau mungkin sebuah makam. Kaki bayangan itu adalah penampakan keputusasaan.

Tanpa pikir panjang, Ardi berlari ke kamar Bu Kos. Ia menceritakan semuanya, histeris. Bu Kos awalnya tidak percaya, menganggap Ardi berhalusinasi. Tapi Ardi menunjukkan kertas itu.

Melihat tulisan tangan yang kusam itu, wajah Bu Kos memucat. Ia mengenali tulisan itu. “Ini… ini tulisan anak saya,” bisiknya, suaranya bergetar. “Dia menghilang setahun yang lalu.”

Polisi dipanggil. Pintu kamar kosong itu akhirnya didobrak. Di dalam, tidak ada apa-apa, hanya debu dan sarang laba-laba, persis seperti yang Ardi lihat sebelumnya. Kamar itu memang kosong.

Namun, di sudut ruangan, di bawah tumpukan kain usang, ada sebuah retakan. Retakan itu mengarah ke sebuah papan lantai yang sedikit terangkat. Dengan susah payah, polisi mengangkat papan itu.

Di bawahnya, bukan tanah, melainkan sebuah ruang sempit yang gelap dan pengap. Ruang bawah tanah rahasia, dulunya mungkin gudang. Di sana, mereka menemukan jejak-jejak, tanda-tanda kehidupan yang baru saja ada.

Bukan jenazah, melainkan selimut kotor, sisa makanan, dan sebuah botol air. Ruang itu kosong, tapi Ardi bisa merasakan aura mengerikan yang tertinggal di sana. Aroma lembap dan busuk memenuhi hidungnya.

Penyelidikan berlanjut. Ternyata, anak Bu Kos, seorang mahasiswa aktivis, diculik oleh kelompok tertentu. Kamar kosong itu adalah tempat persembunyian rahasia mereka, sebuah ‘rumah aman’ yang tak terdeteksi.

Kaki bayangan itu… apakah itu manifestasi terakhir dari anak Bu Kos yang mencoba melarikan diri? Atau arwahnya yang bergentayangan, mencari pertolongan? Polisi tidak bisa memastikan.

Ardi tak pernah lagi tidur tenang di kamar kosnya. Kamar kosong di seberang kini memiliki makna baru. Bukan lagi sekadar kamar kosong, melainkan saksi bisu sebuah teror, sebuah tragedi yang nyaris tak terungkap.

Setiap malam, ia masih sesekali menoleh ke pintu itu. Tak ada lagi kaki bayangan, tak ada lagi suara isakan. Tapi ia tahu, di balik keheningan yang pekat itu, sebuah rahasia gelap pernah bersembunyi.

Dan entah mengapa, Ardi selalu merasa ada sepasang mata tak terlihat yang masih mengawasinya dari balik celah pintu kamar kosong itu. Menjaga rahasia, atau menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

Kaki Bayangan di Kamar Kosong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *