Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Malam Purnama di Desa Itu Selalu Dihantui Suara Rindik Aneh

10
×

Malam Purnama di Desa Itu Selalu Dihantui Suara Rindik Aneh

Share this article

Malam Purnama di Desa Itu Selalu Dihantui Suara Rindik Aneh

Di sebuah desa terpencil di kaki gunung berapi, jauh dari hiruk pikuk modern, Bayu mencari ketenangan. Ia seorang seniman yang lelah dengan gemerlap kota. Pondok kecilnya, dikelilingi sawah hijau, menawarkan kedamaian mutlak.

Malam-malam awal di sana sungguh hening. Hanya suara jangkrik dan gemerisik daun. Udara sejuk membelai kulit, membawa aroma tanah basah. Bayu merasa akhirnya menemukan tempatnya.

Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Malam purnama pertama, Bayu terbangun. Sebuah melodi tipis mengambang di udara. Ia mengerjapkan mata, mengira itu hanya mimpi.

Suara itu lembut, melankolis, namun anehnya menusuk. Ia mengenali instrumennya: rindik. Gamelan bambu khas Bali, dengan nada-nada menenangkan. Tapi siapa yang memainkannya?

Bayu bangkit dari ranjangnya. Ia melangkah perlahan ke jendela. Bulan purnama bersinar terang, menerangi sawah. Tak ada siapa-siapa di luar sana.

Melodi rindik itu terus mengalun. Seolah bermain di halaman pondoknya. Bayu memberanikan diri membuka pintu, melongok keluar. Halaman kosong, hanya dihiasi cahaya rembulan.

Ia melangkah keluar, mengikuti suara. Melodi itu terdengar dari arah gubuk kecil di ujung sawah. Tempat penyimpanan alat-alat pertanian yang sudah lama tak terpakai.

Jantungnya berdebar kencang. Bayu berjalan mendekat, setiap langkah terasa berat. Semakin dekat, suara rindik semakin jelas. Getarannya terasa di dada.

Ia berhenti di depan gubuk reyot itu. Pintu bambunya sedikit terbuka. Bayu mengintip ke dalam. Gelap, pengap, dan berdebu. Tak ada seorang pun di sana.

Namun, di sudut, sebuah rindik tua tergeletak. Tertutup kain usang. Melodi itu seolah keluar dari alat itu sendiri. Bayu mundur perlahan, ketakutan mulai merayap.

Ia berlari kembali ke pondoknya. Mengunci pintu rapat-rapat. Suara rindik itu masih terdengar. Mengikuti, mengejek, seolah tahu ketakutannya. Bayu tak bisa tidur malam itu.

Pagi harinya, Bayu mencoba mencari penjelasan. Ia bertanya pada beberapa penduduk desa. Mereka hanya tersenyum tipis, sorot mata penuh arti. Tak ada yang mau bicara banyak.

“Mungkin itu angin, Nak,” kata seorang tetua. Tapi suaranya terdengar ragu. “Atau mungkin… penunggu desa.” Senyumnya menghilang, diganti raut serius.

Bayu mencoba menepisnya. Ini abad ke-21. Pasti ada penjelasan logis. Mungkin seseorang iseng, atau anak-anak bermain-main. Tapi melodi itu terlalu sempurna.

Malam-malam berikutnya, melodi rindik itu kembali. Setiap kali bulan purnama tiba. Lebih jelas, lebih menghantui. Seolah rindik itu memanggil namanya.

Bayu mencoba mengabaikannya. Memasang penyumbat telinga, menyalakan radio. Tapi melodi itu menembus segalanya. Terukir dalam benaknya, berputar-putar.

Ia mulai merasa terisolasi. Penduduk desa menghindarinya. Seolah ia telah menyentuh sesuatu yang tabu. Mereka berbisik-bisik saat Bayu lewat.

Bayu memutuskan untuk menghadapi misteri ini. Malam purnama berikutnya, ia mempersiapkan diri. Ia membawa senter dan kamera. Akan merekam bukti.

Tepat tengah malam, melodi itu muncul. Lebih kuat dari sebelumnya. Mengisi seluruh malam. Kali ini, Bayu tidak menunggu. Ia langsung menuju gubuk.

Langkahnya mantap, meski jantungnya bergemuruh. Senter di tangan gemetar sedikit. Cahaya bulan purnama menuntunnya. Semak-semak bergoyang tanpa angin.

Ia mencapai gubuk itu. Pintu terbuka lebar. Rindik tua itu masih di tempatnya. Namun kini, ia tidak tertutup kain. Bambu-bambu rindik tampak bersih, seolah baru dipoles.

Melodi itu mengalun dari sana. Bayu mengangkat senternya. Membidik ke arah rindik. Tak ada tangan, tak ada jari. Hanya bilah-bilah bambu yang bergetar.

Ia mengarahkan kamera. Merekam setiap detik. Suara rindik itu semakin cepat. Melodi yang tadinya melankolis, kini terdengar lebih bersemangat, hampir seperti tarian.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas. Bukan bayangan manusia. Lebih mirip asap hitam yang menari di sekitar rindik. Bayu terkesiap, menjatuhkan senternya.

Gelap menyelimuti gubuk. Hanya cahaya bulan yang masuk dari celah. Melodi rindik itu berubah. Menjadi sebuah lagu yang tak pernah Bayu dengar. Melodi kuno, penuh misteri.

Ia merasa dingin menusuk tulang. Seolah ada hembusan napas di belakang lehernya. Bayu berbalik cepat. Tak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan dan suara rindik.

Bayu ingin lari, tapi kakinya terpaku. Ia merasa terpikat, terhipnotis. Melodi itu seperti memanggilnya untuk mendekat. Mengundang ke dalam kegelapan.

Ia melihat ke arah rindik lagi. Bayangan hitam itu kini lebih jelas. Menari-nari di atas instrumen. Seolah dialah yang memainkan, namun tanpa wujud.

Kemudian, rindik itu berhenti. Tiba-tiba. Hening yang memekakkan telinga. Bayu mendengar detak jantungnya sendiri. Dan napasnya yang terengah-engah.

Gelap itu terasa lebih pekat. Bayu merasakan tatapan. Bukan tatapan mata, tapi sebuah kehadiran yang menekan. Dingin dan kuno.

Ia meraih senternya yang jatuh. Menyalakannya. Cahaya menyorot rindik. Kosong. Tak ada bayangan. Hanya alat musik tua yang membisu.

Bayu merangkak keluar dari gubuk. Berlari tanpa menoleh. Kembali ke pondoknya. Mengunci semua pintu dan jendela. Jantungnya masih berdebar kencang.

Ia memeriksa rekaman di kameranya. Tangannya gemetar saat memutar ulang. Ada suara rindik yang jelas. Gambar-gambar gubuk yang gelap.

Namun, tak ada bayangan. Tak ada asap hitam yang menari. Kamera tidak menangkapnya. Hanya suara rindik yang bermain sendiri.

Keesokan harinya, Bayu meninggalkan desa itu. Ia tidak memberi tahu siapa pun tentang apa yang dilihatnya. Penduduk desa hanya mengangguk, seolah sudah tahu.

Pondoknya kembali kosong. Sawah-sawah tetap hijau. Dan rindik tua itu tetap di gubuk reyot. Menunggu malam purnama berikutnya.

Bayu tidak pernah kembali ke desa itu. Namun, setiap malam purnama, ia akan terbangun. Melodi rindik itu selalu terngiang di telinganya.

Melodi yang lembut, melankolis, dan menghantui. Melodi yang dimainkan tanpa pemain. Sebuah misteri yang tak terpecahkan. Sebuah rahasia dari alam yang tak kasat mata.

Dan Bayu tahu, di bawah cahaya purnama, di desa terpencil itu, rindik tua itu masih bergetar. Mengalunkan melodi misteriusnya. Menanti siapa pun yang berani mendengarkan.

Melodi dari dunia lain. Sebuah undangan yang tak bisa ditolak. Sebuah janji untuk mengungkapkan lebih banyak lagi. Jika ada yang berani kembali.

Suara Rindik Tanpa Pemain di Malam Purnama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *