Gadis Tua Penunggu Goa Lawah
Desas-desus tentang Goa Lawah selalu memikatku. Bukan hanya ribuan kelelawarnya yang mistis, atau pura kuno yang berdiri di mulutnya. Ada kisah lain, bisikan yang lebih gelap, tentang seorang “Gadis Tua” yang menghuni kedalamannya.
Sebagai seorang peneliti mitologi, aku selalu skeptis. Legenda seringkali hanyalah bumbu penyedap untuk menarik wisatawan, atau cara masyarakat menjelaskan hal-hal yang tak mereka pahami. Namun, narasi tentang gadis ini terasa berbeda.
Ia disebut “Gadis Tua” – sebuah kontradiksi yang menggelitik. Bagaimana bisa seorang gadis menjadi tua? Cerita-cerita itu berdesir dari bibir ke bibir, diwariskan dari generasi ke generasi, dengan detail yang semakin aneh.
Ada yang bilang dia adalah penjelmaan roh penjaga gua. Lainnya menyebutnya korban kutukan, terperangkap di antara dua alam, abadi namun menderita. Setiap versi selalu berakhir dengan nada ngeri dan peringatan.
Aku memutuskan untuk melihatnya sendiri. Goa Lawah, dengan mulutnya yang menganga lebar, tampak seperti gerbang menuju kegelapan abadi. Bau belerang dan amonia kelelawar menyambutku, menusuk hidung.
Ribuan kelelawar menggantung di langit-langit gua, menciptakan selimut hitam yang bergerak-gerak. Suara kepakan sayap mereka, bercampur dengan pekikan samar, mengisi udara dengan melodi yang mengerikan.
Aku melangkah lebih dalam, senter di tangan, menyorot dinding gua yang basah dan licin. Pura di depannya memang agung, namun aura mistis gua jauh lebih kuat, seolah ada sesuatu yang bernapas di dalam kegelapan itu.
Tak ada tanda-tanda manusia lain. Hanya aku, kelelawar, dan kegelapan yang kian pekat. Sebuah dingin yang tak biasa merayap di kulitku, bukan dingin gua, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih spiritual.
Beberapa langkah lagi, aku merasa diperhatikan. Bukan dari kelelawar. Perasaan itu sangat spesifik, seolah sepasang mata tak terlihat tengah mengamatiku dari balik tirai kegelapan. Jantungku mulai berdebar.
Aku berhenti, memutar senterku ke segala arah, namun tak menemukan apa pun. Hanya bayangan-bayangan yang menari, tercipta dari pantulan cahaya di permukaan batu yang tak rata. Aku mencoba meyakinkan diri.
“Hanya imajinasimu, Risa,” bisikku pada diri sendiri. Namun, bisikan itu terdengar lemah, seolah aku sedang mencoba menipu diriku sendiri di hadapan sesuatu yang lebih besar dari akal sehatku.
Aku melanjutkan, namun langkahku kini lebih ragu. Setiap suara, setiap tetesan air yang jatuh, setiap kepakan sayap kelelawar, terdengar membesar, mengancam, seolah ada pesan tersembunyi di baliknya.
Tiba-tiba, sebuah siluet. Sangat samar, di ujung pandangku, di antara kerumunan kelelawar yang bergelantungan. Sebuah bentuk ramping, bergerak tanpa suara, menghilang secepat ia muncul.
Aku tersentak, mengarahkan senterku ke titik itu. Kosong. Hanya dinding gua yang kotor dan kelelawar yang diam. Apakah itu hanya kelelawar besar yang terbang? Atau ilusi yang tercipta dari kelelahan?
Aku memutuskan untuk kembali. Pengalaman pertama ini sudah cukup. Aku tak menemukan apa pun yang konkret, namun perasaan tak nyaman itu melekat, menarikku seperti magnet yang tak terlihat.
Beberapa hari berikutnya, kisah Gadis Tua itu menghantuiku. Aku tak bisa berhenti memikirkannya. Kontradiksi dalam namanya, bayangan samar yang kulihat, dan dingin yang kurasakan di dalam gua.
Aku mulai menggali lebih dalam, mewawancarai penduduk lokal yang lebih tua. Mereka enggan bicara, mata mereka memancarkan ketakutan yang mendalam setiap kali nama itu disebut.
Seorang tetua desa, setelah dibujuk dengan susah payah, akhirnya berbagi. “Dia bukan manusia,” katanya, suaranya berbisik. “Dia adalah bagian dari gua itu sendiri. Jiwanya terikat, untuk selamanya.”
“Dia menjaga perbatasan,” lanjutnya, matanya menatap kosong ke kejauhan. “Antara dunia kita dan dunia di bawah sana. Dia gadis, karena dia tak pernah menua. Dia tua, karena dia telah ada sejak permulaan.”
Penjelasan itu, meski puitis, membuat bulu kudukku meremang. Bagaimana seseorang bisa abadi namun tak menua? Apa yang menjaga “perbatasan” itu? Dan apa yang ada di “dunia di bawah sana”?
Obsesiku semakin menjadi-jadi. Aku harus melihatnya lagi, lebih jelas. Aku harus membuktikan, atau setidaknya memahami, keberadaan entitas misterius ini. Ini bukan lagi sekadar penelitian, tapi panggilan.
Aku kembali ke Goa Lawah, kali ini dengan persiapan yang lebih matang. Kamera, perekam suara, dan hati yang berdebar kencang. Aku tak tahu apa yang kuharapkan, tapi aku siap menghadapi apa pun.
Kegelapan gua menyambutku lagi, lebih pekat, lebih mengancam dari sebelumnya. Bau belerang terasa lebih kuat, dan suara kelelawar seolah menjadi orkestra yang menyeramkan.
Aku melangkah perlahan, mencoba menyerap setiap detail. Setiap bayangan, setiap lekukan batu. Mataku menjelajahi setiap sudut, berharap menangkap sesuatu yang terlewatkan sebelumnya.
Tiba-tiba, sebuah suara. Sangat samar, seperti helaan napas panjang yang sedih, bercampur dengan bisikan angin. Aku mengarahkan perekam suaraku, berharap bisa menangkapnya.
Kemudian, aku melihatnya. Kali ini, lebih jelas. Dia berdiri di kejauhan, di ceruk gua yang lebih gelap, tempat kelelawar berkumpul paling padat. Siluetnya kurus, tinggi, dan diselimuti bayangan.
Wajahnya… wajahnya memang muda. Kulitnya pucat, nyaris tembus pandang. Rambutnya hitam legam, tergerai panjang. Namun, matanya. Matanya adalah jurang tanpa dasar, memancarkan kearifan ribuan tahun.
Itu adalah pandangan yang membuatku membeku. Matanya bukan hanya tua, melainkan kuno. Seolah telah menyaksikan segala sesuatu yang pernah terjadi di dunia ini, dan segala yang akan datang.
Dia mengenakan kain putih kuno, terlihat usang dan lusuh, seolah telah dikenakan selama berabad-abad. Gerakannya nyaris tak terlihat, seolah dia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri.
Aku mencoba memotret, namun kameraku tak berfungsi. Layarnya gelap, seolah ada energi tak kasat mata yang menghalanginya. Jantungku berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhku.
Dia tak bergerak, hanya menatapku. Tatapan itu menusuk, bukan dengan kemarahan, tapi dengan kesedihan yang tak terhingga, dan juga peringatan. Sebuah peringatan yang tak terucapkan.
Aku merasa ada pesan yang mencoba disampaikan, namun aku terlalu takut untuk bergerak, terlalu terpaku oleh keanehan keberadaannya. Dia adalah paradoks yang hidup, gadis yang tua.
Tiba-tiba, ribuan kelelawar di sekitarnya mengepakkan sayap secara bersamaan. Suaranya memekakkan telinga, menciptakan pusaran udara yang kuat. Mataku berkedip karena terkejut.
Ketika aku membuka mata, dia sudah tak ada. Ceruk itu kosong, hanya kelelawar yang kembali bergelantungan. Seolah dia tak pernah ada, hanya ilusi yang tercipta dari kegelapan.
Aku mundur perlahan, ketakutan mencengkeramku. Perasaan dingin itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Itu bukan hanya dingin gua, tapi dingin yang datang dari kedalaman waktu dan keberadaan yang tak wajar.
Aku berlari keluar dari gua, napasku tersengal-sengal. Cahaya matahari terasa seperti penyelamat. Aku tak pernah merasa begitu lega melihat dunia luar yang familiar.
Sejak hari itu, aku tak pernah kembali ke Goa Lawah. Aku tak bisa. Bayangan Gadis Tua itu menghantuiku, tatapan matanya yang kuno dan sedih terukir di benakku.
Misteri tentang siapa dia, mengapa dia ada di sana, dan apa yang dia jaga, tetap tak terpecahkan. Aku hanya tahu satu hal: ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
Dan di kedalaman Goa Lawah, di antara ribuan kelelawar dan kegelapan abadi, Gadis Tua itu masih menunggu. Menjaga perbatasan yang tak terlihat, abadi dalam kesendiriannya yang mengerikan.
Dia adalah legenda yang hidup, penjaga rahasia yang tak terungkap. Dan setiap kali malam tiba, aku bisa membayangkan matanya yang kuno itu menatap keluar dari kegelapan, menunggu.
Menunggu apa? Aku tak tahu. Mungkin menunggu seseorang yang memahami bebannya, atau hanya menunggu akhir dari waktu itu sendiri, yang bagi Gadis Tua itu, mungkin tak akan pernah tiba.






