Jejak Kecil di Pasir Nusa Penida: Misteri yang Mengintai
Angin laut membelai wajahku saat perahu merapat. Nusa Penida menyambutku dengan pesona purba, tebing kapur menjulang. Birunya samudra seolah tak berujung, menjanjikan ketenangan. Aku datang mencari inspirasi, namun menemukan sesuatu yang lain.
Hari-hari pertama berlalu dalam kedamaian semu. Aku menjelajahi pantai-pantai tersembunyi, mengagumi formasi batu alami. Suara debur ombak menjadi melodi pengantar tidur. Keindahan Nusa Penida memang membius, namun ada bisikan yang belum kutangkap.
Pagi ketiga, saat fajar baru menyingsing, aku berjalan di Pantai Atuh. Pasir putihnya masih murni, belum terjamah banyak kaki. Lalu, aku melihatnya: jejak-jejak kaki kecil, sangat kecil, seolah milik anak-anak.
Namun, ada yang aneh. Jejak itu terlalu dalam, seolah pemiliknya memiliki bobot tak wajar. Mereka muncul entah dari mana, tanpa jejak kedatangan atau keberangkatan yang jelas. Hanya serangkaian jejak, lalu menghilang begitu saja.
Rasa penasaran menguasai diriku. Aku mencoba mengikuti jejak itu, berharap menemukan pemiliknya. Namun, seperti fatamorgana, jejak-jejak itu berhenti tiba-tiba di tengah hamparan pasir. Tidak ada tanda-tanda anak kecil di sekitar sana.
Aku bertanya pada beberapa nelayan tua di desa terdekat. Wajah mereka berubah tegang saat mendengar ceritaku. Ada yang menggelengkan kepala, ada yang berpaling. Seorang nenek hanya berbisik, “Jangan mencari yang tidak ingin ditemukan.”
Perkataan itu menggantung di udara, dingin dan menakutkan. Sejak saat itu, setiap senja, setiap fajar, aku kembali ke pantai. Dan jejak-jejak itu selalu ada. Terkadang di Atuh, terkadang di Kelingking, bahkan di pasir tersembunyi dekat Angel’s Billabong.
Kehadiran jejak-jejak itu terasa mengintai. Aku mulai merasakan sepasang mata mengawasi. Angin yang semula lembut, kini terasa membawa bisikan aneh. Nusa Penida yang indah mulai menunjukkan sisi gelapnya.
Malam-malamku menjadi gelisah. Suara ombak yang dulu menenangkan, kini terdengar seperti desahan panjang. Aku sering terbangun, merasa dingin menusuk tulang, meskipun suhu udara normal. Ada sesuatu yang tidak beres.
Suatu sore, aku menemukan jejak-jejak itu menanjak ke tebing karang. Mustahil bagi anak kecil, atau bahkan orang dewasa, untuk naik ke sana tanpa alat bantu. Namun, jejak-jejak itu ada, seolah menembus bebatuan.
Aku memberanikan diri mendekat. Di sana, di antara lumut dan batu, aku menemukan sebuah ukiran kuno. Simbol yang tak kukenal, terpahat rapi namun terasa menyeramkan. Energi dingin memancar dari ukiran itu.
Seorang pemuda lokal bernama Wayan, yang sempat kuajak bicara, akhirnya buka suara. “Beberapa cerita lama,” katanya dengan suara bergetar. “Ada yang bilang itu ‘anak penunggu’, yang lain menyebutnya roh pengelana.”
Wayan menceritakan desas-desus tentang anak-anak yang hilang tanpa jejak di masa lalu. Atau tentang makhluk halus yang meniru wujud anak-anak. Semua cerita itu terdengar seperti mitos kuno, namun kini terasa begitu nyata.
Aku semakin terobsesi. Aku membawa kamera, mencoba mendokumentasikan jejak-jejak itu. Namun, setiap kali aku mengabadikannya, fotonya selalu buram, atau jejaknya tidak terlihat jelas. Seolah ada kekuatan yang menolak diabadikan.
Suatu malam, aku memutuskan untuk berkemah di dekat sebuah gua tersembunyi. Jejak-jejak kecil itu sering berakhir di sana. Udara di sekitar gua terasa berat, dipenuhi aura misterius. Aku membawa senter dan tekad.
Saat kegelapan menyelimuti, aku mendengar suara. Suara langkah-langkah kecil, berderap di pasir di luar tendaku. Bukan suara anak kecil berlari, melainkan langkah berat, namun tetap kecil, aneh. Jantungku berpacu kencang.
Aku mengintip dari celah tenda. Sebuah bayangan melintas. Samar, tidak jelas, namun ukurannya memang kecil. Bayangan itu bergerak cepat, melesat menuju mulut gua. Aku merasakan hawa dingin yang menusuk.
Dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku merangkak keluar. Senterku menyala, menembus kegelapan. Jejak-jejak kecil itu kini sangat jelas, mengarah langsung ke dalam gua yang gelap gulita.
Aku melangkah masuk, napasku tertahan. Udara di dalam gua terasa pengap, bau tanah basah bercampur aroma aneh yang tak kukenal. Senterku menyapu dinding-dinding gua yang basah. Tiba-tiba, suara itu kembali.
Sebuah bisikan. Bukan bahasa manusia, melainkan gumaman aneh, serak, namun terasa begitu dekat. Kemudian, sebuah pantulan cahaya dari ujung gua. Aku melihat sepasang mata. Kecil, namun bersinar tajam dalam kegelapan.
Mata itu memancarkan rasa ingin tahu, namun juga kedinginan. Ada sesuatu yang sangat kuno di baliknya. Bukan mata anak-anak. Aku merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Itu bukan manusia.
Bayangan kecil itu bergerak lagi. Kali ini, lebih cepat. Aku melihat sekilas wujudnya. Bukan anak kecil. Bukan hewan. Sesuatu yang ramping, dengan anggota tubuh yang terlalu panjang, dan kulit yang aneh.
Aku menjatuhkan senter. Suara napas tersengal-sengal. Aku berbalik, berlari sekuat tenaga. Keluar dari gua, menembus kegelapan. Tidak peduli ke mana, asalkan jauh dari mata itu, dari wujud itu.
Aku tidak berhenti berlari sampai napasku habis. Ketika aku sampai di penginapan, tubuhku gemetar hebat. Malam itu, aku tidak tidur. Setiap bayangan, setiap suara, terasa seperti wujud itu kembali mengintai.
Keesokan paginya, aku berkemas. Tanpa ragu, tanpa menoleh lagi. Keindahan Nusa Penida kini terasa mengerikan. Misteri jejak-jejak kecil itu belum terpecahkan, namun aku tidak lagi ingin mengetahuinya.
Aku meninggalkan pulau itu dengan perasaan hampa. Nusa Penida tetap indah, namun kini menyimpan rahasia gelap bagiku. Jejak-jejak kecil itu, yang terlalu dalam, terlalu aneh, akan selalu menghantuiku.
Mereka adalah pengingat bahwa di balik keindahan alam yang menawan, ada hal-hal yang lebih tua dari waktu. Hal-hal yang tidak seharusnya diganggu. Dan terkadang, jejak terkecil bisa membawa kita pada kegelapan terbesar.






