Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Pengantin Itu Hilang di Laut — Tapi Suaranya Masih Diperdengarkan

12
×

Pengantin Itu Hilang di Laut — Tapi Suaranya Masih Diperdengarkan

Share this article

Pengantin Itu Hilang di Laut — Tapi Suaranya Masih Diperdengarkan

Berikut adalah artikel misteri berjudul “Tangisan Pengantin Laut” dengan panjang sekitar 1.200 kata, dengan setiap paragraf maksimal 4 baris, dan bahasa yang menumbuhkan rasa penasaran serta ketegangan.

Tangisan Pengantin Laut

Desa Nelayan Samudra adalah noktah kecil di peta, tersembunyi di balik tebing curam dan hutan bakau purba. Udara di sana selalu asin, dipenuhi bisikan angin laut dan rahasia yang tak pernah terucap. Namun, ada satu suara yang tak pernah bisa diabaikan penduduknya.

Suara itu adalah tangisan. Sebuah ratapan pilu yang kadang terdengar samar, kadang begitu jelas, seolah merobek selubung malam. Mereka menyebutnya Tangisan Pengantin Laut, sebuah legenda yang lebih tua dari karang di lepas pantai.

Aku datang ke sana, seorang peneliti folklore yang haus akan kisah-kisah gaib. Rumor tentang tangisan itu telah menarikku dari hiruk pikuk kota, menjanjikan misteri yang belum terpecahkan. Penduduk desa memandangku dengan curiga, namun mata mereka menyimpan ketakutan yang dalam.

Malam pertama di gubuk sewaku, aku mendengarnya. Sebuah nada melengking, disusul isak tangis samar yang terbawa angin. Dingin menusuk tulang, bukan karena suhu, tapi karena aura kesedihan yang tak tertahankan.

Keesokan paginya, aku mencoba bertanya. Para nelayan hanya menggeleng, menatap laut dengan pandangan kosong. “Itu bukan urusan kita,” kata seorang tua, tangannya gemetar saat menyulut rokok. Mereka tahu sesuatu, namun enggan berbagi.

Hanya Nenek Siti, perempuan tertua di desa dengan mata setajam elang, yang bersedia bicara. “Dia tak pernah tenang,” bisiknya, suaranya serak. “Sejak malam ia pergi, laut tak pernah diam.” Ia menunjuk ke arah teung karang yang menjulang di kejauhan.

Legenda Larasati, begitu nama pengantin itu, mulai terkuak sedikit demi sedikit. Seorang gadis jelita yang dipaksa menikah dengan saudagar kaya dari seberang pulau. Hatinya telah terpaut pada seorang nelayan miskin, namun nasib berkata lain.

Pada hari pernikahannya, di saat perayaan memuncak, Larasati menghilang. Mereka mencarinya berhari-hari, namun yang ditemukan hanyalah selendang sutranya yang tersangkut di tebing Tanjung Mistik. Sejak itu, tangisan mulai terdengar.

Aku mengunjungi Tanjung Mistik. Angin di sana terasa lebih dingin, membawa aroma garam dan sesuatu yang lain, sesuatu yang pahit. Di bawah tebing curam, ombak memecah dengan suara gemuruh, seolah menyembunyikan rahasia gelap.

Pernahkah ada yang mencoba mencari tahu lebih dalam? Nenek Siti mengatakan beberapa orang pernah mencoba. Mereka kembali dengan demam tinggi, mimpi buruk, atau bahkan kehilangan akal. “Dia tak suka diganggu,” katanya.

Namun, rasa ingin tahuku lebih kuat dari rasa takut. Aku mulai mencari catatan lama, ukiran di batu nisan kuno, apa pun yang bisa memberiku petunjuk. Beberapa di antaranya menyebutkan sebuah gua tersembunyi di bawah Tanjung Mistik, dikenal sebagai Gua Ratapan.

Konon, itu adalah tempat Larasati terakhir terlihat. Atau setidaknya, tempat arwahnya bersemayam, terperangkap antara dunia hidup dan mati. Sebuah tempat yang hanya terbuka pada saat pasang surut tertentu, di bawah cahaya bulan purnama.

Malam itu adalah purnama. Langit gelap pekat, hanya diterangi oleh pendaran bulan. Tangisan itu jauh lebih jelas malam ini, menusuk, mengoyak batin. Aku membawa senter dan tekad, melangkah menuju Tanjung Mistik.

Jalan setapak terasa licin dan berbahaya. Setiap langkah terasa diawasi. Suara ombak yang memecah di bawah tebing terdengar seperti bisikan peringatan. Udara menjadi dingin, dan bulu kudukku merinding.

Akhirnya, aku menemukan celah sempit di tebing. Pintu masuk ke Gua Ratapan. Udara dingin dan lembap menerpaku, membawa bau amis laut dan sesuatu yang busuk, seperti lumut yang mati. Aku menyalakan senter.

Di dalam, kegelapan terasa begitu pekat, seolah menelan semua cahaya. Suara tangisan bergema di dinding-dinding gua, kini bukan lagi isakan, melainkan lolongan panjang yang memilukan. Itu adalah suara penderitaan yang tak berujung.

Aku melangkah maju, senterku menyorot ke sekeliling. Dinding gua basah, dihiasi formasi batu aneh yang menyerupai wajah-wajah meringis. Di tengah gua, ada genangan air payau yang memantulkan cahaya bulan yang masuk dari celah di atas.

Tiba-tiba, bayangan putih melintas di sudut mataku. Aku menoleh cepat, namun tak ada apa-apa. Jantungku berdebar kencang. Tangisan itu semakin keras, seolah tepat di samping telingaku.

Kemudian, aku melihatnya. Di genangan air, pantulan cahaya bulan mulai beriak. Perlahan, sesosok bayangan mulai terbentuk. Transparan, namun jelas terlihat. Seorang wanita mengenakan gaun pengantin putih yang basah kuyup.

Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dan rambut hitam panjangnya terurai berantakan. Dari bibirnya yang membiru, terdengar lolongan pilu itu. Itu Larasati, pengantin laut yang tak pernah tenang.

Dia mengulurkan tangan kurusnya ke arahku, seolah memohon atau mengancam. Rasa dingin yang menusuk tulang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasa seperti ada es yang mencengkeram hatiku.

Lalu, sebuah gambaran melintas di benakku, bukan sekadar penglihatan, tapi seperti ingatan yang dipaksakan. Aku melihat hari pernikahannya. Kegembiraan palsu di wajah para tamu, dan ketakutan yang jelas di mata Larasati.

Aku melihatnya berlari. Gaun pengantinnya berkibar ditiup angin, seperti bendera putih menyerah. Dia berlari menuju tebing, dikejar oleh beberapa pria berwajah keras. Wajah mereka penuh amarah.

Ia mencapai ujung tebing, menatap ke bawah ke arah laut yang bergejolak. Di belakangnya, pria-pria itu semakin mendekat. Salah satu dari mereka, dengan wajah bengis, menarik tangannya.

Bukan, itu bukan kecelakaan. Dia tidak melompat. Dia didorong. Dorongan kasar, disertai tawa jahat. Aku melihatnya jatuh, gaun putihnya mengembang sesaat sebelum menghantam keras karang di bawah.

Ombak merah oleh darah. Sebuah jeritan terakhir yang tertelan gemuruh laut. Dan kemudian, kegelapan. Penglihatan itu lenyap, digantikan oleh suara tangisan yang kini dipenuhi bukan hanya kesedihan, tapi juga kemurkaan.

Larasati tidak menangis karena cinta yang hilang, atau karena dia melompat. Dia menangis karena pengkhianatan, karena didorong, karena dibunuh. Pengantin laut itu adalah korban, bukan kekasih yang patah hati.

Sosoknya di genangan air mulai memudar, seperti asap yang terbawa angin. Tangisan itu pun perlahan mereda, menyisakan keheningan yang lebih menyeramkan dari lolongan mana pun. Aku berdiri terpaku, kaget dan ngeri.

Aku kembali dari Gua Ratapan dengan tubuh gemetar dan jiwa yang terguncang. Kebenaran yang kutemukan jauh lebih mengerikan dari sekadar legenda romantis. Larasati tidak memilih mati, ia dipaksa.

Siapa para pria itu? Saudagar kaya yang tak terima ditolak? Keluarganya yang terhina? Atau ada rahasia lain yang terkubur di bawah gelombang? Desa Nelayan Samudra menyimpan lebih dari sekadar legenda.

Keesokan harinya, aku mencoba menanyakan ke Nenek Siti. Wajahnya berubah pucat pasi. “Jangan sebut nama mereka,” bisiknya, matanya memancarkan ketakutan. “Ada kegelapan yang lebih tua dari kita di sini.”

Tangisan Pengantin Laut masih terdengar di malam-malam tertentu, namun bagiku, maknanya telah berubah. Itu bukan lagi sekadar ratapan pilu. Itu adalah jeritan keadilan, tuntutan dari arwah yang teraniaya.

Aku menulis kisah ini, bukan untuk mencari sensasi, tetapi untuk memberikan suara kepada Larasati. Untuk memberitahu dunia bahwa di balik legenda indah, tersembunyi sebuah kejahatan yang kejam.

Desa Nelayan Samudra masih dihantui oleh suara itu. Setiap ombak yang memecah di Tanjung Mistik, setiap bisikan angin di Gua Ratapan, adalah pengingat. Pengantin laut itu takkan pernah tenang.

Sampai kebenaran sepenuhnya terungkap, dan keadilan menemukan jalannya, tangisan Larasati akan terus bergema. Sebuah misteri yang terpecahkan, namun kesedihannya abadi, terukir di hati laut yang luas.

Dan setiap malam, ketika angin bertiup kencang dari Tanjung Mistik, aku masih bisa mendengarnya. Tangisan Pengantin Laut, sebuah melodi pilu dari kedalaman samudra, abadi dalam misteri.

Tangisan Pengantin Laut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *