Ladang jagung Pak Harjo membentang luas. Hijau pekat di bawah langit senja. Setiap batang adalah saksi bisu. Ribuan rahasia tersembunyi di dalamnya.
Sore itu, saat mentari berpamitan. Sebuah bayangan melintas cepat. Kecil, tak lebih dari sebatang jagung. Hanya sekilas pandang, lalu sirna.
Pak Harjo mengernyitkan dahi tuanya. “Mungkin cuma tupai,” gumamnya. Namun, ada getaran aneh. Sebuah rasa yang tak biasa.
Beberapa hari kemudian, bayangan itu muncul lagi. Lebih jelas, lebih lama. Berdiri di antara barisan jagung tinggi. Sosok pendek, gelap, nyaris tak berbentuk.
Ia tak bergerak, hanya mengamati. Pak Harjo merasakan tatapan itu. Dingin, tanpa emosi. Seolah menembus jiwanya.
Jantungnya berdebar kencang. Ia mengusap matanya, mencoba meyakinkan diri. Ketika ia membuka mata, sosok itu sudah lenyap.
Malam-malam berikutnya, tidur Pak Harjo tak lagi nyenyak. Ia sering terbangun. Merasa ada yang mengawasinya. Dari balik jendela, dari kegelapan ladang.
Suatu subuh, saat kabut masih tebal. Pak Harjo menemukan jejak kaki aneh. Kecil, ramping, namun jelas bukan manusia. Melingkar-lingkar di tanah basah.
Jejak itu menuju ke tengah ladang. Lalu menghilang begitu saja. Seolah makhluk itu terbang, atau lenyap ditelan udara.
Kecurigaan Pak Harjo berubah jadi ketakutan. Ia mulai bercerita pada istrinya. Istrinya hanya tersenyum maklum. “Kau terlalu lelah, Harjo.”
Tetangga-tetangga pun tak percaya. Mereka menganggap Pak Harjo mulai pikun. Atau terlalu banyak melamun di ladang sunyi.
Pak Harjo merasa sendirian. Terjebak dalam misteri yang tak terpecahkan. Sosok pendek itu semakin sering menampakkan diri. Kadang di kejauhan, kadang begitu dekat.
Ia tak pernah berbicara. Tak pernah membuat suara. Hanya berdiri, mengamati, lalu menghilang. Gerakannya sunyi, nyaris tak terlihat.
Suatu senja, Pak Harjo memberanikan diri. Ia membawa sabit dan senter. Bertekad mencari tahu apa sebenarnya itu.
Ia berjalan perlahan, menyusuri lorong jagung. Setiap hembusan angin membuat bulu kuduknya merinding. Setiap bayangan seolah menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba, ia merasakannya. Tatapan dingin itu. Berbalik, ia melihatnya. Sosok itu berdiri tak jauh. Di antara dua barisan jagung.
Ukurannya tak lebih dari satu meter. Tubuhnya ramping, diselimuti bayangan pekat. Namun, ia bisa merasakan sepasang mata. Menatap tajam ke arahnya.
Pak Harjo mencoba berteriak. Namun suaranya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba bergerak. Kakinya seolah terpaku di tanah.
Sosok itu melangkah maju. Satu langkah. Lalu yang kedua. Gerakannya aneh, sedikit tersentak. Seolah tidak terbiasa berjalan.
Rasa dingin merayapi tulang Pak Harjo. Ini bukan hewan. Bukan manusia. Ini adalah sesuatu yang asing. Sesuatu yang tak seharusnya ada.
Sosok itu kini hanya berjarak beberapa meter. Pak Harjo bisa melihat detailnya. Siluetnya memang mirip manusia. Tapi proporsinya salah.
Kepalanya terlalu besar untuk tubuhnya. Lengannya terlalu panjang. Dan yang paling mengerikan, ia tidak memiliki wajah yang jelas. Hanya bayangan.
Namun, matanya ada. Dua titik cahaya redup. Menyorotinya dari kegelapan. Seolah memindai setiap inci keberadaannya.
Pak Harjo merasakan pikirannya kalut. Ini mimpi buruk. Ini halusinasi. Ia harus bangun. Tapi ia tak bisa.
Sosok itu mengangkat tangannya. Perlahan, tak tergesa-gesa. Jarinya panjang, kurus. Seperti ranting pohon mati.
Jantung Pak Harjo berdetak kencang. Apakah ini akan menyerang? Apakah ini adalah akhir hidupnya? Ia bersiap untuk apapun.
Namun, tangan itu hanya menunjuk. Ke arah ladang. Lalu ke langit. Sebuah gerakan yang tak bisa ia pahami.
Kemudian, sosok itu berbalik. Tanpa suara, tanpa jejak. Ia menghilang ke dalam labirin jagung. Seolah ditarik oleh bayangan.
Pak Harjo terdiam lama. Napasnya terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia baru saja menyaksikan sesuatu. Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan.
Sejak hari itu, Pak Harjo tak lagi sama. Ia tak lagi berani sendirian di ladang. Ketakutan itu terus menghantuinya.
Ia memasang kamera pengawas. Berharap bisa merekam sosok itu. Namun, kamera hanya menangkap hembusan angin. Atau bayangan daun jagung.
Ladang jagungnya tetap subur. Hasil panennya tetap melimpah. Namun, bagi Pak Harjo, ladang itu kini adalah penjara. Sebuah tempat misteri.
Ia sering menemukan keanehan. Batang jagung yang patah secara tidak wajar. Pola aneh di tanah. Seolah ada yang sengaja membuatnya.
Suatu pagi, ia menemukan sebuah simbol. Terukir di batang jagung yang paling tinggi. Sebuah lingkaran dengan garis di tengahnya.
Ia tak pernah melihat simbol seperti itu. Bukan ukiran manusia. Terlalu presisi. Terlalu asing. Ia merasakan makna tersembunyi di baliknya.
Setiap malam, ia masih merasakan tatapan itu. Meskipun sosoknya tak lagi muncul secara langsung. Kehadirannya tetap terasa. Mengisi setiap sudut ladang.
Pak Harjo mencoba mencari tahu. Membaca buku-buku kuno. Mencari kisah-kisah rakyat tentang makhluk pendek. Namun tak ada yang cocok.
Misteri itu tetap menjadi misteri. Sosok pendek di tengah ladang jagung. Sebuah entitas yang datang tanpa diundang. Pergi tanpa penjelasan.
Dan meninggalkan Pak Harjo. Dengan pertanyaan yang tak terjawab. Ketakutan yang abadi. Dan ladang jagung yang kini menyimpan rahasia kelam.
Ladang jagung itu tak lagi hanya ladang. Ia adalah ambang batas. Antara dunia yang diketahui dan dunia yang tak terjamah.
Pak Harjo tahu, ia takkan pernah bisa melupakan. Bayangan itu. Mata yang mengamati. Simbol yang ditinggalkan.
Setiap hembusan angin di ladang jagung. Setiap bisikan dedaunan. Kini terasa seperti sebuah pesan. Dari sosok yang tak terlihat.
Ia tahu, entitas itu masih ada. Mengawasinya. Menunggu. Untuk alasan yang tak pernah ia pahami.
Ladang jagung Pak Harjo. Bukan lagi hanya sumber penghidupan. Ia adalah kuburan bagi ketenangan jiwanya.
Dan tempat di mana misteri abadi bersemayam. Di bawah langit luas. Di antara ribuan batang jagung. Menanti waktu untuk menampakkan diri lagi.






