Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Jeritan Aneh Terdengar dari Kawah Sinabung — Apakah Fenomena Alam atau Sesuatu Lain?

12
×

Jeritan Aneh Terdengar dari Kawah Sinabung — Apakah Fenomena Alam atau Sesuatu Lain?

Share this article

Jeritan Aneh Terdengar dari Kawah Sinabung — Apakah Fenomena Alam atau Sesuatu Lain?

Jeritan dari Dasar Kawah Sinabung

Gunung Sinabung, raksasa yang bernapas api. Megah, namun menyimpan ancaman abadi. Di puncaknya, kawahnya menganga, laksana mulut jurang neraka. Sebuah portal menuju ketidakpastian yang mengerikan.

Dr. Ardi, seorang vulkanolog terkemuka, tak gentar. Baginya, gunung adalah objek studi, bukan entitas mistis. Ia datang membawa peralatan canggih, logika ilmiahnya teguh. Siap memecahkan misteri geologis apa pun yang ada.

Timnya terdiri dari lima ahli dan dua pemandu lokal. Mereka mendirikan pos pengamatan tak jauh dari bibir kawah. Udara dingin pegunungan menusuk tulang, diselingi bau belerang yang menyengat. Sinabung tampak tenang, namun kewaspadaan tak pernah pudar.

Malam pertama berlalu tanpa insiden berarti. Hanya gemuruh rendah dari perut bumi, detak jantung gunung yang normal. Ardi merekam data, menganalisis pola seismik. Semuanya berjalan sesuai ekspektasi ilmiahnya.

Namun, pada suatu malam hening, di pos pengamatan. Sebuah nada aneh melayang dari kedalaman kawah. Bukan gemuruh magma, bukan desisan gas belerang. Melainkan desah samar, seperti rintihan yang tertahan.

Ardi mengabaikannya, mengira itu hanya angin pegunungan. Atau mungkin, kelelahan yang mulai menggerogoti. Tetapi, rintihan itu kembali, lebih jelas, lebih mendesak. Sebuah jeritan bisu yang merobek kesunyian malam.

Ia memeriksa monitor, tidak ada aktivitas seismik aneh. Rekaman audio hanya menangkap suara lingkungan. Namun, telinganya tak bisa berbohong. Suara itu nyata, bergetar di batas pendengarannya.

Keesokan harinya, Ardi bertanya pada tim. Tak ada yang mengaku mendengar hal serupa. Ia menyimpan keraguan, menganggapnya halusinasi pribadi. Namun, benih kecemasan mulai tertanam di benaknya.

Malam kedua, suara itu datang lagi. Kali ini lebih kuat, lebih jelas. Seperti lolongan tertahan, penuh keputusasaan. Ardi merekamnya dengan mikrofon sensitif, lalu memutarnya kembali.

Suara yang terekam adalah kekosongan. Hanya desiran angin dan statis. Namun, ketika ia mendengarkannya langsung, jeritan itu ada. Seolah suara itu hanya bisa didengar oleh telinga manusia, bukan mesin.

Seorang pemandu lokal, Pak Tua Sardi, mendekatinya. Wajahnya keriput dan penuh kearifan. “Jangan dekati kawah setelah gelap, Nak,” bisiknya dengan suara serak. “Ada yang tak suka diganggu di sana.”

Ardi mencoba tersenyum, meremehkan. “Hanya aktivitas gunung biasa, Pak Sardi.” Namun, tatapan mata Pak Sardi yang penuh makna membuatnya bergidik. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar legenda.

Peralatan seismiknya mulai mendeteksi anomali non-geologis. Gelombang suara yang tak biasa, bukan dari pergerakan lempeng. Spektogram menunjukkan pola yang membingungkan, tak dikenal. Seolah ada sesuatu yang beresonansi di inti bumi.

Ketegangan di antara tim mulai terasa. Beberapa anggota melaporkan mimpi buruk yang sama. Mereka melihat bayangan-bayangan di kawah, mendengar bisikan-bisikan tak jelas. Semangat ilmiah mereka mulai terkikis oleh ketakutan.

Dr. Lina, ahli geokimia, tiba-tiba demam tinggi. Ia meracau tentang tangan-tangan yang menariknya ke dalam. Matanya nanar, penuh ketakutan yang mendalam. Ardi mencoba memberinya obat penenang, namun tak banyak membantu.

Lina harus dievakuasi, meninggalkan lubang di tim. Ardi merasa bertanggung jawab, namun juga makin terdorong. Ia harus mencari tahu apa yang terjadi. Logika ilmiahnya berteriak, namun intuisinya membisikkan hal lain.

Ia mulai meneliti legenda lokal tentang Sinabung. Penduduk desa berbicara tentang “Penunggu Kawah,” jiwa-jiwa kuno. Mereka yang dikorbankan, atau terjebak dalam siksaan abadi di perut gunung. Sebuah mitos yang kini terasa menakutkan.

Setiap malam, jeritan itu makin nyata. Bukan lagi rintihan, melainkan lolongan keputusasaan. Suara-suara pilu, seperti ratapan jutaan jiwa yang disiksa. Menggema dari dasar kawah yang berasap pekat.

Ardi menghabiskan berjam-jam mencoba merekam suara itu. Ia mencoba berbagai frekuensi, berbagai filter. Namun, hasilnya selalu sama: kehampaan di rekaman. Suara itu hanya ada di alam pendengaran langsung.

Rasa penasaran Ardi berubah menjadi obsesi dingin. Ia harus tahu sumber suara-suara mengerikan itu. Logikanya berjuang melawan ketakutan yang merayap. Sinabung kini bukan lagi objek, melainkan tantangan personal.

Ia memutuskan untuk melakukan misi solo, mendekati bibir kawah lebih jauh. Pak Sardi memohon agar ia tidak melakukannya. “Ada batas yang tidak boleh dilewati, Nak Ardi,” ujarnya memelas. “Itu bukan tempat manusia.”

Namun, Ardi tak tergoyahkan. Dengan peralatan minimal dan tekad membara. Ia memulai pendakian berbahaya menuju kawah. Udara makin tipis, bau belerang makin kuat, menusuk hidung dan paru-paru.

Asap tebal mengepul dari kawah, menutupi pandangan. Setiap langkah terasa seperti menapaki ambang neraka. Tanah di bawah kakinya terasa hangat, bergetar samar. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena kelelahan.

Jeritan itu kini menggelegar, membakar gendang telinga. Bukan lagi lolongan, melainkan raungan amarah dan penderitaan. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik tenggorokannya. Membuatnya sulit bernapas.

Ia mencapai titik pengamatan terakhirnya. Hanya beberapa meter dari bibir kawah. Pemandangan di bawahnya adalah jurang kegelapan. Diselimuti asap pekat yang bergerak seperti makhluk hidup.

Tiba-tiba, jeritan itu mencapai puncaknya. Sebuah gelombang suara yang tak tertahankan. Ardi jatuh berlutut, memegangi kepalanya. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk otaknya.

Dalam kilatan sesaat, ia melihatnya. Bukan dengan mata, tapi dengan pikiran. Bayangan-bayangan bergerak di dalam asap. Siluet-siluet berputar, menjerit dalam lahar pijar yang samar.

Mereka bukan manusia, bukan hewan. Bentuk mereka kabur, mengerikan. Seperti hantu-hantu yang terbakar abadi. Tangan-tangan kurus terulur ke arahnya, seolah memohon, seolah menarik.

Sebuah suara dingin, tanpa kata, merasuki benaknya. “Datanglah… Bergabunglah…” Itu bukan suara yang ia dengar, melainkan resonansi langsung di dalam jiwanya. Sebuah undangan ke jurang penderitaan.

Ardi mundur, terhuyung, nyaris kehilangan pijakan. Ia merangkak menjauhi bibir kawah. Ketakutan murni mencengkeramnya, melumpuhkan setiap ototnya. Ia tak pernah merasakan kengerian seperti ini.

Ia berlari menuruni gunung, tak peduli bahaya. Otaknya dipenuhi bayangan dan suara. Jeritan itu merasuk ke dalam jiwanya, tak terhapuskan. Ia hanya ingin menjauh, sejauh mungkin.

Timnya menemukannya di tengah jalan, pucat pasi, terguncang hebat. Ardi tak bisa bicara, hanya menunjuk ke arah kawah. Mereka membawanya kembali ke pos, memberinya pertolongan pertama.

Ardi demam tinggi selama berhari-hari. Ia meracau tentang “mereka yang di bawah.” Tentang suara-suara yang tak pernah berhenti. Timnya menganggapnya syok dan kelelahan ekstrem.

Laporan resminya hanya mencatat anomali seismik tak biasa. Namun, di lubuk hatinya, ia tahu yang sebenarnya. Jeritan itu bukan dari bumi, bukan dari gas. Melainkan dari sesuatu yang lebih kuno, lebih jahat.

Ia meninggalkan Sinabung tak lama setelah pulih. Ia mencoba kembali ke kehidupan normal, namun tak pernah sama. Suara-suara itu masih menghantuinya dalam keheningan malam.

Setiap kali ia melihat berita tentang Sinabung yang meletus. Ia tak lagi melihatnya sebagai fenomena alam semata. Ia melihatnya sebagai luapan amarah, atau mungkin penderitaan.

Dr. Ardi tak pernah kembali ke Sinabung dengan tenang. Setiap malam, dalam mimpinya, kawah itu menganga. Dan dari dasarnya, jeritan itu terus memanggilnya. Sebuah melodi neraka yang takkan pernah padam.

Konon, hingga kini, pada malam-malam tertentu. Penduduk sekitar Sinabung masih mendengar suara itu. Jeritan-jeritan pilu yang melayang dari dasar kawah. Sebuah misteri abadi yang tersembunyi di perut gunung berapi.

Dan Ardi tahu, jeritan itu bukan hanya sekadar suara. Itu adalah peringatan. Peringatan dari jiwa-jiwa yang terperangkap. Menarik siapa saja yang berani mendekati rahasia kelam Sinabung.

Kawah Sinabung terus mengepulkan asap. Menyimpan rahasianya rapat-rapat di bawah tanah. Menanti korban berikutnya, yang mungkin terlalu penasaran. Untuk mendengar jeritan dari dasarnya.

Jeritan dari Dasar Kawah Sinabung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *