
Aku Disapa Kru yang Sudah Lama Meninggal
Gelap merayap, menelan siluet KRI Samudra Raya yang megah. Kapal penelitian itu, kini terbengkalai, berdiri sunyi di dermaga tua. Aku, Arif, seorang sejarawan maritim, datang untuk mendokumentasikan masa lalunya.
Udara di dalam kapal terasa lembap dan dingin, berbau besi tua dan garam laut. Setiap langkah kakiku di geladak yang berkarat menciptakan gaung panjang. Aku membawa senter, sinarnya menari di antara bayangan.
Samudra Raya memiliki reputasi kelam. Belasan tahun lalu, sebuah kebakaran misterius menewaskan beberapa kru. Kisah-kisah horor tentang arwah gentayangan sering terdengar. Aku, seorang rasionalis, hanya menganggapnya bualan.
Malam itu, aku sendirian. Penjaga kapal, Pak Hadi, sudah pamit pulang. Aku ingin merasakan atmosfer otentik kapal ini, jauh dari keramaian siang. Keheningan yang pekat justru terasa mencekam.
Aku memeriksa ruang mesin, jantung kapal yang kini mati. Mesin-mesin raksasa itu tampak seperti monster tidur. Debu tebal menyelimuti setiap sudut, seolah waktu berhenti di sini.
Tiba-tiba, sebuah bisikan samar menyusup ke telingaku. “Arif… Arif…” Suara itu rendah, serak, seperti desisan angin yang terjebak. Aku menoleh cepat, senterku menyapu kegelapan.
Tidak ada siapa-siapa. Jantungku berdebar tak karuan. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi. Kelelahan, mungkin, atau hanya suara kapal yang berderit.
Aku melanjutkan langkah, masuk ke koridor sempit. Bau apek semakin kuat, bercampur dengan aroma hangus yang tipis. Aroma itu, anehnya, terasa akrab, seperti pernah tercium sebelumnya.
Lalu, sekali lagi, suara itu. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. “Jangan pergi… Arif…” Ada nada memohon di dalamnya, sebuah keputusasaan yang menusuk. Bulu kudukku meremang.
Aku berhenti, mematung. Ini bukan halusinasi. Ini nyata. Aku tidak sendirian di Samudra Raya. Siapa yang memanggil namaku? Bagaimana ia tahu namaku?
Aku bergegas kembali ke ruang kontrol utama. Papan-papan tombol usang, layar monitor yang pecah, semua menyisakan jejak kehancuran. Di sana, aku menemukan sebuah logbook tua yang terbuka.
Halamannya menguning, tulisannya pudar. Aku membacanya. Itu adalah catatan harian seorang kepala mekanik, bernama Budi. Ia menulis tentang rutinitas, cuaca, dan beberapa masalah mesin.
Tiba-tiba, suhu ruangan menurun drastis. Embun tipis terbentuk di udara. Di sudut ruangan, sebuah bayangan hitam pekat mulai terbentuk, samar namun jelas.
Bayangan itu perlahan memadat, membentuk siluet seorang pria. Ia mengenakan seragam mekanik yang lusuh, wajahnya kusam dan mata cekung. Ada noda hitam pekat di seragamnya.
Jantungku berpacu gila. Aku tahu siapa dia. Pak Budi, kepala mekanik yang tewas dalam kebakaran. Dia, yang dicatat dalam logbook itu. Dia, yang seharusnya sudah lama meninggal.
“Kamu kembali, Nak,” suara Pak Budi terdengar bergetar, namun lebih jelas kini. “Sudah lama aku menunggumu. Kamu harus tahu.” Ia menunjuk ke arah ruang mesin.
Kakiku terasa lumpuh, namun rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku mengangguk, isyarat agar dia melanjutkan. Tubuhnya transparan, hampir tak terlihat, namun kehadirannya sangat kuat.
“Bukan kecelakaan,” katanya, suaranya kini penuh kesedihan. “Ada yang sengaja melakukannya. Mereka ingin menutupi sesuatu. Dokumennya… ada di sana.”
Ia menunjuk ke sebuah panel kontrol di ruang mesin. Panel itu tampak biasa saja, tidak ada yang aneh. Namun, ada urgensi yang mendesak di mata kosong Pak Budi.
Aku memberanikan diri, melangkah kembali ke ruang mesin. Aku mencoba mencari panel yang ditunjuk Pak Budi. Jantungku berdebar kencang, antara takut dan rasa ingin tahu.
Di balik sebuah panel yang longgar, tersembunyi sebuah laci kecil. Tanganku gemetar saat membukanya. Di dalamnya, ada sebuah kotak kayu tua, berbau apak.
Aku membuka kotak itu. Di dalamnya, tersimpan sebuah flash drive dan beberapa lembar kertas yang terbakar sebagian. Kertas itu adalah laporan internal tentang uji coba mesin yang gagal.
Laporan itu mengungkap adanya cacat fatal pada salah satu mesin. Cacat itu sudah diketahui jauh sebelum pelayaran terakhir. Namun, demi alasan efisiensi dan biaya, mereka tetap melayarkannya.
Kebakaran itu bukan kecelakaan. Itu adalah konsekuensi dari kelalaian yang disengaja, bahkan mungkin disembunyikan. Api itu, menurut catatan, justru dimulai di bagian mesin yang bermasalah.
Tiba-tiba, senterku berkedip, lalu padam. Ruangan kembali gelap gulita. Aku bisa merasakan embusan napas dingin di leherku. “Kamu sudah tahu,” suara Pak Budi terdengar puas.
Aku menyalakan kembali senterku. Bayangan Pak Budi sudah tidak ada. Ruang mesin kembali sunyi, hanya menyisakan derit kapal dan suara ombak di luar. Aku sendirian lagi.
Aku memegang erat kotak kayu itu. Ini adalah bukti. Bukti bahwa kematian Pak Budi dan kru lainnya bukan sekadar tragedi. Ini adalah kejahatan yang tersembunyi.
Aku segera meninggalkan Samudra Raya, membawa serta kotak itu. Cahaya fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Kapal itu kini tampak berbeda di mataku.
Bukan lagi sekadar bangkai besi tua, melainkan sebuah makam raksasa. Makam yang menyimpan kebenaran pahit, dan arwah yang tak pernah tenang. Hingga kini, kebenaran itu terungkap.
Kini, setiap kali aku melihat kapal, bayangan Pak Budi muncul. Ia tidak lagi menakutkan, melainkan sebuah pengingat. Pengingat bahwa beberapa rahasia, bahkan kematian pun tak sanggup menyembunyikannya.
Aku tahu tugasku belum usai. Kebenaran ini harus terungkap ke publik. Dan aku, Arif, adalah saksi bisu dari pesan yang disampaikan oleh arwah yang sudah lama meninggal.
Mungkin Samudra Raya akan selamanya menyimpan bisikan. Bisikan tentang keadilan yang tertunda. Dan aku, selamanya akan mengingat disapa oleh kru yang sudah lama meninggal.











