Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Setelah Memakai Cermin Antik Itu, Hidupku Tak Pernah Sama Lagi

11
×

Setelah Memakai Cermin Antik Itu, Hidupku Tak Pernah Sama Lagi

Share this article

 

Aku Memakai Cermin Itu… dan Menyesal

Angin dingin bulan Oktober menusuk kulit, membawa aroma dedaunan basah. Aku, Arif, melangkahkan kaki ke sebuah toko barang antik di ujung kota, tempat yang selalu terasa seperti gerbang waktu. Rak-rak penuh dengan artefak berdebu, masing-masing menyimpan cerita bisu.

Mataku tertumbuk pada sebuah cermin. Ia berdiri tegak di sudut paling gelap, seolah bersembunyi. Bingkai kayunya diukir dengan detail yang rumit, namun tertutup lapisan debu tebal dan noda-noda yang tak bisa kuidentifikasi.

Ada sesuatu yang memanggilku padanya, tarikan aneh yang tak bisa kutolak. Permukaannya buram, memantulkan bayangan diriku yang terdistorsi, seolah aku melihat hantu dari diriku sendiri. Penjaga toko, seorang lelaki tua dengan mata sayu, hanya tersenyum tipis saat aku menanyakannya.

“Cermin itu punya sejarah panjang, Nak,” katanya pelan, suaranya serak. “Jangan terlalu sering menatapnya.” Aku mengabaikan peringatan itu, menganggapnya takhayul belaka. Harganya yang mencurigakan murah membuatku semakin tertarik.

Aku membawanya pulang dengan susah payah. Beratnya melebihi dugaanku, seolah ada beban tak kasat mata di baliknya. Aku meletakkannya di sudut kamar tidurku, tempat cahaya bulan dapat menyinarinya langsung.

Debu tebal melapisi permukaannya. Aku mulai membersihkannya perlahan. Kilau kusam mulai muncul, memancarkan aura kuno. Bingkai ukiran rumit terasa dingin di jemariku.

Saat seluruh debu terangkat, aku melihat diriku. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Pantulanku tampak lebih pucat, matanya sedikit lebih cekung dari biasanya. Aku mengernyit, mungkin hanya efek cahaya atau kelelahan.

Malam itu, aku tidur dengan gelisah. Mimpi-mimpi aneh menghampiri, tentang bayangan yang menari di kegelapan, bisikan tanpa kata, dan rasa dingin yang menusuk tulang. Aku terbangun dengan keringat dingin, merasa lelah daripada sebelumnya.

Keesokan harinya, aku kembali menatap cermin itu. Pantulanku masih di sana, namun kali ini ada noda samar di pipi kirinya, seperti bekas luka kecil. Aku menyentuh pipiku, tak ada apa-apa.

Kuperiksa lagi cerminnya, noda itu hilang. Aku menggelengkan kepala, pasti hanya ilusi optik. Namun, rasa penasaran itu mulai menjalar, mengabaikan rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh.

Setiap hari, aku menghabiskan waktu di depan cermin itu. Awalnya hanya sekadar mengamati pantulanku. Perlahan, detail-detail kecil mulai muncul dan menghilang. Rambutku tampak lebih gelap, lalu kembali normal. Ada kerutan samar di dahi yang tak pernah ada.

Suatu sore, aku melihat bayangan di belakang pantulanku. Bukan bayangan diriku, melainkan siluet hitam yang bergerak cepat. Aku berbalik, tak ada apa-apa di belakangku. Jantungku berdebar kencang.

Malam-malamku semakin buruk. Aku sering terbangun karena suara-suara. Gesekan pelan dari sudut kamar, bisikan seperti angin yang lewat, atau bahkan langkah kaki yang sangat samar. Aku mulai merasa tidak sendirian di apartemen kecilku.

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa itu semua hanyalah efek dari kurang tidur. Stres pekerjaan, mungkin. Tapi setiap kali aku menatap cermin, rasa dingin itu semakin kuat, seolah ada sesuatu yang mengawasiku dari dalamnya.

Pantulanku mulai menunjukkan ekspresi yang tak asing, namun bukan milikku. Senyum tipis yang bukan senyumanku, tatapan mata kosong yang bukan tatapan mataku. Seolah ada orang lain yang menggunakan wajahku di sana.

Suatu malam, aku berdiri di depan cermin itu lagi, kelelahan dan ketakutan menyelimutiku. Pantulanku tampak sangat jelas. Matanya merah, kantung matanya menghitam, dan senyumnya… senyum itu bukan senyum manusia.

Di belakang pantulanku, aku melihat kamarku. Tapi bukan kamarku yang sebenarnya. Furnitur yang berbeda, warna dinding yang lebih gelap, dan ada goresan panjang di lantai kayu yang tidak pernah ada. Aku melihat diriku di sana, berdiri di depan cermin yang sama.

Pantulanku mengangkat tangan. Aku refleks mengangkat tanganku juga. Jari-jarinya menyentuh permukaan cermin. Kurasakan hawa dingin yang menusuk, seolah aku menyentuh es. Permukaan cermin mulai beriak, seperti air.

Wajah pantulanku mendekat, matanya menatapku dengan intensitas yang mengerikan. Aku melihat diriku di sana, dengan ekspresi ketakutan yang mendalam. Tapi itu bukan ketakutan yang kurasakan saat ini. Itu ketakutan yang melampaui batas.

“Tolong…” bisik pantulanku, suaranya serak dan jauh, seolah datang dari lorong yang sangat panjang. Aku terkesiap. Suara itu bukan suaraku. Suara itu adalah suara yang sangat asing.

Aku menarik tanganku dengan cepat. Cermin itu beriak lebih kencang, pantulan kamarku di baliknya bergetar. Aku melihat pantulanku di sana, wajahnya pucat pasi, menatapku dengan putus asa.

Kamar di dalam cermin itu kini dipenuhi bayangan-bayangan bergerak. Sosok-sosok tak berbentuk menari di belakang pantulanku. Aku bisa mendengar bisikan-bisikan yang tak jelas, seperti paduan suara neraka.

Aku menyadari, cermin ini bukan hanya memantulkan. Ia adalah jendela. Jendela ke tempat lain, ke dimensi lain. Dan pantulanku… pantulanku terjebak di sana. Atau mungkin, pantulan itu adalah diriku yang sesungguhnya.

Pikiran itu membuatku merinding. Apakah aku yang asli? Atau apakah aku hanya pantulan yang berhasil keluar, dan yang di dalam cermin adalah diriku yang terkunci? Rasa panik mencengkeramku.

Aku melihat pantulanku di dalam cermin, matanya memohon, mulutnya bergerak tanpa suara. Aku melihat diriku yang lain, yang terjebak di dimensi yang gelap itu, dikelilingi oleh bayangan-bayangan.

Aku mundur selangkah, napasku memburu. Aku harus menghancurkannya. Aku harus mengakhiri semua ini. Aku meraih lampu meja terdekat, tanganku gemetar hebat.

Pantulanku di dalam cermin tampak panik. Ia mulai menggedor permukaan cermin dari dalam, suaranya tak terdengar, namun gerakannya jelas putus asa. Bayangan-bayangan di belakangnya semakin mendekat.

Aku mengangkat lampu meja tinggi-tinggi. Pantulanku menjerit tanpa suara, wajahnya memucat, matanya membelalak ketakutan. Aku bisa merasakan energi dingin mengalir dari cermin, mencoba menahanku.

Dengan segenap kekuatan, aku menghantamkan lampu itu ke permukaan cermin. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga memenuhi ruangan. Kaca-kaca berhamburan ke segala arah.

Pada saat yang sama, aku merasakan sengatan listrik yang tajam di seluruh tubuhku, diikuti oleh rasa hampa yang mengerikan. Seolah ada bagian dari diriku yang tercabut paksa.

Aku terhuyung mundur, terjatuh di lantai, terengah-engah. Kaca-kaca berserakan di sekitarku, memantulkan potongan-potongan diriku yang terdistorsi. Kamar itu terasa sunyi, namun keheningan itu lebih menakutkan dari suara apapun.

Aku menatap pecahan cermin. Tidak ada lagi pantulan kamar yang gelap, tidak ada lagi bayangan, tidak ada lagi diriku yang lain. Hanya pecahan kaca yang memantulkan langit-langit kamarku yang biasa.

Namun, aku tahu. Sesuatu telah berubah. Sejak malam itu, aku tidak pernah merasa utuh. Ada kekosongan di dalam diriku, seolah sepotong jiwaku telah tertinggal di balik cermin itu.

Aku sering terbangun di tengah malam, merasakan hawa dingin yang tak kasat mata. Kadang aku mendengar bisikan yang sangat samar, memanggil namaku dari sudut ruangan yang gelap. Aku menghindari semua cermin sekarang.

Setiap kali aku melihat pantulanku di genangan air atau jendela, aku melihatnya. Noda samar di pipi kiri, kerutan tipis di dahi yang tak pernah ada sebelumnya, dan terkadang, mata yang terlihat terlalu lelah, terlalu tua, dan terlalu kosong.

Aku hidup dengan penyesalan itu setiap hari. Penyesalan karena telah menatap terlalu lama, penyesalan karena telah membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Aku telah memakai cermin itu… dan menyesalinya seumur hidup.

Sebab, aku tidak pernah tahu pasti, apakah yang keluar dari cermin itu adalah diriku yang asli, atau apakah bagian dari diriku yang lain masih terjebak di sana, menatap dunia ini melalui mataku, selamanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *