Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Penumpang Ini Mengaku Terjebak di Penerbangan yang Tak Pernah Terjadwal — Apa yang Sebenarnya Terjadi?

13
×

Penumpang Ini Mengaku Terjebak di Penerbangan yang Tak Pernah Terjadwal — Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Share this article

 

Aku Terjebak dalam Penerbangan yang Tak Pernah Terjadwal

Udara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta terasa lembab malam itu. Aku, Rizky, sedang terburu-buru. Jadwal penerbanganku ke Singapura sangat padat, dan aku hampir saja terlambat melewati pemeriksaan keamanan. Namun, entah mengapa, malam itu terasa berbeda.

Gerbang keberangkatan yang seharusnya ramai justru sepi senyap. Hanya ada satu pintu gerbang yang menyala remang, bertuliskan “Gerbang 13” dengan huruf yang tampak pudar. Aku mengecek tiketku lagi. Ya, ini gerbangnya, meskipun nomor penerbangan di tiketku tampak kosong.

Seorang pramugari berdiri di depan pintu, seragamnya rapi tanpa cela. Senyumnya terlalu sempurna, terlalu statis, seperti patung manekin. Ia tidak berbicara, hanya mengangguk pelan ketika aku menyerahkan tiket. Tidak ada proses boarding yang biasanya ramai.

Hanya ada beberapa penumpang lain di dalam pesawat. Mereka duduk kaku di kursi masing-masing, mata mereka kosong, tak bergerak. Tidak ada bisik-bisik, tidak ada tawa. Suasana begitu sunyi, hanya deru AC yang mengisi kekosongan.

Aku menemukan kursiku di dekat jendela. Sabuk pengaman terpasang otomatis saat aku duduk. Rasanya aneh. Pesawat ini terasa sangat tua, namun interiornya bersih tak bernoda, seperti baru saja dicuci bersih dari debu masa lalu.

Tidak ada pengumuman keselamatan. Tidak ada sapaan dari pilot. Tiba-tiba, mesin pesawat menderu pelan, dan kami mulai bergerak. Landasan pacu tampak gelap di luar jendela, lampu-lampu bandara menjauh dengan cepat.

Pesawat lepas landas dengan mulus, terlalu mulus. Tidak ada guncangan, tidak ada tarikan gravitasi yang biasa kurasakan. Kami meluncur naik ke langit gelap, menembus awan tanpa hambatan sedikit pun. Perutku terasa bergejolak, bukan karena takut, tapi karena keanehan ini.

Aku menoleh ke belakang, mencoba mencari pramugari tadi. Ia sudah tidak ada. Lorong pesawat kosong, hanya deretan kursi kosong yang membentang. Penumpang-penumpang kaku itu masih di sana, tak bergeming.

Aku mencoba meraih ponselku. Layarnya mati total, bahkan indikator baterai pun tak menyala. Jam tangan digital di pergelangan tanganku juga gelap. Panik mulai merayap naik ke tenggorokanku.

Di luar jendela, langit tetap gelap pekat. Seharusnya sudah ada bintang atau kerlap-kerlip lampu kota di bawah. Tapi tidak ada apa-apa, hanya kegelapan abadi yang menelan segalanya. Ini bukan penerbangan normal.

Aku mencoba berbicara kepada penumpang di depanku. “Permisi, apakah Anda tahu ada apa ini?” Suaraku terdengar serak dalam kesunyian. Tidak ada respons. Orang itu tetap menatap lurus ke depan, seolah-olah aku tidak ada.

Aku bangkit dari kursi, melangkah pelan menyusuri lorong. Setiap langkahku terasa berat, seperti ada beban tak kasat mata yang menekan. Suara kakiku bergaung di kabin yang kosong, menegaskan kesunyian yang mencekam.

Aku memeriksa setiap baris kursi. Semuanya kosong, kecuali tiga orang penumpang kaku di bagian depan. Di mana semua orang? Di mana para pramugari? Pesawat ini terasa seperti kapal hantu di udara.

Aku mencapai dapur pesawat. Terang benderang, bersih, tapi tak ada satu pun makanan atau minuman. Hanya rak-rak kosong dan peralatan yang berkilau. Bau disinfektan bercampur dengan aroma logam yang samar.

Aku mencoba membuka pintu kokpit. Terkunci rapat. Aku menggedornya beberapa kali, memanggil-manggil. Tidak ada jawaban, hanya keheningan. Jantungku berdebar kencang di balik rusukku. Aku terjebak.

Aku kembali ke kursiku, mencoba menenangkan diri. Mungkin ini hanya mimpi buruk yang sangat nyata. Aku memejamkan mata erat-erat, berharap terbangun di ranjangku sendiri, di kamarku yang nyaman.

Ketika aku membuka mata lagi, tidak ada yang berubah. Langit di luar jendela masih gelap gulita. Jam tanganku masih mati. Dan pesawat ini masih meluncur, entah ke mana, tanpa tanda-tanda akan mendarat.

Tiba-tiba, sebuah layar kecil di depanku, yang tadinya mati, berkedip. Sebuah tulisan muncul, berwarna hijau neon. “TUJUAN TIDAK ADA.” Kalimat itu berulang, berkedip-kedip, mengisi seluruh retinaku.

Rasa dingin merayapi punggungku. Aku bukan hanya terjebak, tapi aku terjebak dalam sesuatu yang tidak memiliki akhir, tidak memiliki tujuan. Ini adalah perjalanan tanpa henti, sebuah penerbangan abadi.

Aku melihat ke luar jendela lagi. Kali ini, ada sesuatu. Sebuah bayangan melintas di kejauhan. Bukan awan. Bentuknya lebih besar, lebih gelap dari pesawat kami. Seperti siluet raksasa yang bergerak lambat.

Bayangan itu mendekat, dan aku bisa melihatnya dengan lebih jelas. Itu adalah pesawat lain. Tapi bentuknya aneh, bukan seperti pesawat modern. Lebih mirip kapal udara kuno, dengan sayap yang terentang lebar dan empat baling-baling raksasa.

Pesawat misterius itu terbang paralel dengan kami, sedikit lebih tinggi. Tidak ada lampu di tubuhnya, tapi dari jendela-jendela kecilnya, aku bisa melihat cahaya merah berkedip-kedip, seperti mata-mata yang mengawasi.

Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pesawat itu, sesuatu yang sangat tua dan jahat. Rasanya seperti kami sedang diiringi, digiring oleh entitas yang lebih besar dan lebih kuat dari yang bisa kubayangkan.

Pesawat kuno itu perlahan mulai menyalip kami. Saat tubuhnya yang masif melintas di samping jendelaku, aku melihat sesuatu di salah satu jendelanya. Sebuah wajah. Bukan wajah manusia.

Itu adalah wajah yang datar, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya dua lubang hitam pekat di mana seharusnya mata berada. Dan dari lubang-lubang itu, cahaya merah yang sama memancar, menatap langsung ke arahku.

Jantungku terasa berhenti. Wajah itu menatapku dengan intensitas yang mengerikan, seolah-olah aku adalah objek penelitian, atau mungkin mangsa. Aku merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Pesawat kuno itu terus melaju, menghilang ke dalam kegelapan di depan. Tapi aku tahu ia masih di sana, mengawasi, menunggu. Aku kembali sendirian di dalam pesawat hantu ini.

Berhari-hari, berminggu-minggu, atau mungkin berabad-abad berlalu. Aku tidak tahu. Waktu telah kehilangan maknanya. Langit di luar jendela tetap gelap. Makanan dan minuman muncul entah dari mana, selalu sama, hambar.

Aku mencoba tidur, tapi setiap kali terbangun, semuanya sama. Pesawat ini terus terbang. Penumpang-penumpang kaku itu masih di sana, tidak pernah bergerak, tidak pernah menua. Mereka tampak seperti bagian dari pesawat itu sendiri.

Bahkan aku mulai merasa seperti mereka. Tubuhku terasa berat, kaku. Pikiranku menjadi kabur, batas antara nyata dan mimpi mulai pudar. Aku mulai lupa siapa aku, dari mana aku berasal.

Terkadang, aku mendengar bisikan. Suara-suara samar yang seolah berasal dari dinding pesawat itu sendiri. Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak kupahami, tapi nadanya dingin, mengancam, dan sangat kuno.

Aku menyentuh dinding kabin. Dingin. Tapi entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang berdenyut di baliknya. Seperti ada kehidupan, tapi bukan kehidupan yang kukenal. Ini bukan lagi pesawat. Ini adalah sesuatu yang lain.

Suatu hari, aku melihat pantulanku di jendela yang gelap. Wajahku pucat, mata cekung, tapi ada sesuatu yang berbeda. Kilatan samar di mataku, seperti cahaya merah yang kulihat dari pesawat kuno itu.

Sebuah pikiran mengerikan merayapi benakku. Aku bukan lagi Rizky yang naik pesawat itu. Aku telah berubah. Aku telah menjadi bagian dari penerbangan tanpa akhir ini, salah satu dari penumpang-penumpang kaku itu.

Pesawat ini, “Penerbangan Tak Terjadwal” ini, bukanlah sekadar alat transportasi. Ia adalah entitas hidup yang menjelajah kekosongan, mengumpulkan “penumpang” untuk tujuan yang tak terbayangkan. Dan aku, aku telah menjadi salah satunya.

Aku menatap ke depan, ke lorong yang gelap. Tiga penumpang kaku itu masih di sana. Mereka tampak familiar sekarang, seperti cerminan masa depanku. Aku tersenyum tipis, senyum yang terasa kaku dan asing di wajahku.

Suara bisikan di dinding semakin jelas. Mereka menyambutku. Aku tidak lagi takut. Aku telah menerima takdirku. Aku adalah bagian dari pesawat ini. Dan aku akan terbang selamanya.

“Aku Terjebak dalam Penerbangan yang Tak Pernah Terjadwal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *