Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Selatan

Anak Kecil Berbaju Merah yang Menghilang Saat Diajak Bicara di Tepi Sawah

59
×

Anak Kecil Berbaju Merah yang Menghilang Saat Diajak Bicara di Tepi Sawah

Share this article

Anak Kecil Berbaju Merah yang Menghilang Saat Diajak Bicara di Tepi Sawah

Misteri Gadis Berbaju Merah: Jejak yang Menghilang di Tepi Sawah

Angin sore berbisik lembut, membawa aroma tanah basah dan padi yang mulai menguning. Arya, seorang penulis lepas yang mencari inspirasi, duduk termangu di tepi pematang sawah. Langit jingga memudar perlahan, melukis siluet pepohonan kelapa di kejauhan. Suasana itu begitu damai, nyaris sempurna.

Namun, kedamaian itu pecah oleh sebuah anomali. Di tengah hamparan hijau yang luas, tak jauh dari tempatnya duduk, muncul sesosok kecil. Seorang anak perempuan, mungkin berusia lima atau enam tahun, berdiri membelakanginya. Dia mengenakan gaun merah cerah, kontras mencolok dengan hijaunya sawah.

Arya mengernyitkan dahi. Ia belum pernah melihat anak sekecil itu berkeliaran sendirian di area persawahan yang cukup terpencil ini. Tidak ada rumah penduduk yang terlihat dalam jarak pandang. Gadis itu berdiri diam, seolah patung.

Rasa penasaran menguasai Arya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Gadis itu tidak bergerak, bahkan ketika angin menerbangkan beberapa helai rambutnya. Rambutnya hitam legam, tergerai panjang menutupi punggung kecilnya.

"Halo?" sapa Arya pelan, mencoba tidak mengagetkan. Suaranya terdengar terlalu keras di keheningan senja.

Perlahan, sangat perlahan, gadis berbaju merah itu menoleh. Wajahnya mungil, putih pucat, dengan mata hitam yang bulat dan bening. Sebuah senyuman tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Senyuman itu bukan senyuman riang anak-anak.

Ada semacam ketidaknyamanan yang merayap di benak Arya. Mata gadis itu terlalu dalam, terlalu tenang untuk anak seusianya. Seolah ada kebijaksanaan purba di sana. Senyumannya, entah mengapa, terasa dingin dan hampa.

Arya mencoba tersenyum balik. "Kamu sendirian di sini?" tanyanya lagi, kali ini lebih lembut.

Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Arya, senyum tipisnya masih bertengger. Tidak ada rasa takut, tidak ada kecanggungan. Hanya tatapan yang menembus, seolah melihat jauh ke dalam diri Arya.

Tiba-tiba, sebuah suara burung hantu memecah kesunyian dari kejauhan. Arya sempat terperanjat sesaat, pandangannya beralih ke arah suara itu, hanya sepersekian detik. Ketika ia kembali menatap ke depan, tempat gadis itu berdiri…

Gadis berbaju merah itu tidak ada.

Seketika itu juga, jantung Arya berdegup kencang. Ia mengedipkan mata beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Apakah ia salah lihat? Tidak mungkin. Ia baru saja berbicara dengannya.

Arya bangkit berdiri, matanya menyapu sekeliling. Hamparan sawah terbentang luas, kosong. Tidak ada jejak. Tidak ada bayangan merah yang berlari. Seolah gadis itu lenyap ditelan udara.

"Halo?" panggil Arya, suaranya kini dipenuhi kepanikan. "Gadis kecil?"

Tidak ada jawaban. Hanya desiran angin yang semakin dingin. Bulu kuduk Arya merinding. Ia melangkah maju, menyusuri pematang sawah ke tempat gadis itu berdiri. Tidak ada apapun. Rumput pun tidak terinjak.

Kejadian itu terasa seperti mimpi buruk. Arya mulai meragukan kewarasannya sendiri. Apakah ia berhalusinasi? Namun, sensasi melihat mata gadis itu, senyum tipisnya, terasa begitu nyata.

Ia terus mencari, menjelajahi area sawah hingga kegelapan benar-benar menyelimuti. Panggilan-panggilannya hanya dijawab oleh suara jangkrik. Rasa dingin yang aneh mulai menusuk tulang. Ia tidak menemukan apa-apa.

Keesokan harinya, dengan pikiran yang masih kalut, Arya mendatangi desa terdekat. Ia bertanya kepada beberapa petani dan warga setempat. "Apakah ada anak kecil perempuan berbaju merah yang tinggal di sekitar sini?" tanyanya, suaranya serak.

Pak Karta, seorang petani tua yang sudah puluhan tahun menggarap sawah itu, menggelengkan kepala. Matanya menyiratkan kebingungan. "Anak kecil berbaju merah? Tidak pernah terlihat, Nak. Apalagi yang sendirian di sawah saat senja."

Ibu Ani, pemilik warung kopi di ujung desa, juga mengiyakan. "Tidak ada anak yang sering bermain sejauh itu. Semua anak di sini kami kenal. Tidak ada yang punya gaun merah seperti itu."

Jawaban-jawaban itu justru membuat misteri semakin dalam. Tidak ada yang pernah melihat gadis itu sebelumnya. Seolah ia muncul entah dari mana, lalu lenyap tanpa jejak. Arya mencoba menjelaskan detail pertemuannya, namun tatapan ragu dari warga semakin membuatnya frustrasi.

Beberapa warga desa bahkan terlihat tidak nyaman. Mereka mulai berbisik-bisik, meliriknya dengan tatapan aneh. Ada yang menyebut tentang "penunggu sawah" atau "anak-anak yang dijaga" oleh makhluk tak kasat mata. Arya mencoba mengabaikan cerita-cerita takhayul itu, namun rasa takutnya semakin besar.

Arya melaporkan kejadian itu ke polisi setempat, meskipun ia tahu ceritanya akan terdengar tidak masuk akal. Polisi mencatat laporannya, namun tanpa bukti fisik, tanpa saksi lain, dan tanpa jejak, penyelidikan tidak bisa berlanjut. Mereka menyarankan Arya untuk beristirahat dan mungkin berkonsultasi dengan profesional.

Namun, Arya tidak bisa melupakan tatapan mata gadis itu. Setiap malam, bayangan gaun merah itu menghantuinya. Ia mulai mencari informasi tentang kejadian serupa, legenda lokal, atau kasus orang hilang di area tersebut. Ia tidak menemukan apapun yang cocok.

Semakin ia mencari, semakin ia merasa terisolasi. Teman-temannya mulai mengkhawatirkannya. Mereka pikir Arya terlalu banyak bekerja dan mungkin sedang mengalami stres. Arya tahu ia tidak gila. Ia tahu apa yang dilihatnya.

Beberapa minggu berlalu. Arya sering kembali ke tepi sawah itu, terutama saat senja. Ia berdiri di tempat yang sama, berharap gadis itu muncul kembali. Berharap ada penjelasan. Namun, sawah itu tetap sunyi, kosong, hanya menyisakan desiran angin dan bayangan masa lalu.

Suatu sore, ketika ia kembali lagi, ia melihat sesuatu di kejauhan. Sekilas, hanya sekilas, ada kilatan merah di antara hijaunya padi. Jantungnya berdebar kencang. Ia berlari, napasnya tersengal. Namun, saat ia sampai di lokasi, tidak ada apa-apa. Hanya ilusi, mungkin.

Atau bukan?

Arya mulai mendengar bisikan-bisikan halus saat ia sendirian. Terkadang, ia merasa ada sentuhan dingin di punggungnya. Bau melati, yang tidak ada sumbernya di sawah itu, tiba-tiba tercium samar. Semua ini adalah pengingat akan pertemuannya yang tak terjelaskan.

Ia tidak lagi menulis. Pikiran dan jiwanya diselimuti misteri gadis berbaju merah. Ia tahu bahwa ia telah menjadi bagian dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Sebuah pertemuan singkat yang mengubah hidupnya, meninggalkan pertanyaan yang takkan pernah terjawab.

Siapa gadis itu? Mengapa ia muncul? Dan bagaimana ia bisa menghilang begitu saja, seolah tidak pernah ada?

Sampai hari ini, Arya masih sering mengunjungi sawah itu. Ia tidak lagi mencari jawaban, melainkan hanya merenung. Dalam setiap embusan angin, dalam setiap bayangan di senja hari, ia merasa kehadiran gadis berbaju merah itu masih ada. Menjaga rahasianya, terkubur di antara hamparan padi yang tak berujung. Dan Arya tahu, ia telah membawa pulang bukan inspirasi, melainkan sebuah misteri abadi yang akan menghantuinya selamanya.

Anak Kecil Berbaju Merah yang Menghilang Saat Diajak Bicara di Tepi Sawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *