Angin Kencang Datang Bersama Lampor: Bisikan Kematian dari Kegelapan
Desa Purbakala, sebuah permata tersembunyi di kaki gunung yang diselimuti kabut abadi, selalu hidup dalam ketenangan. Suara angin yang membelai pepohonan pinus adalah melodi akrab, pengiring tidur malam dan pembangun semangat pagi. Namun, suatu malam, melodi itu berubah menjadi ratapan.
Bukan sekadar angin biasa yang datang menerpa. Ini adalah desiran yang membawa bisikan, hembusan yang terasa dingin menusuk tulang, jauh melampaui dinginnya malam pegunungan. Penduduk Desa Purbakala, yang telah lama hidup berdampingan dengan alam, merasakan ada yang tidak beres.
Hewan-hewan peliharaan mulai gelisah. Anjing-anjing melolong tanpa henti ke arah hutan yang gelap, sementara unggas-unggas di kandang berkerumun ketakutan. Udara dipenuhi aroma aneh, perpaduan bau tanah basah dan sesuatu yang amis, seperti karat dan kematian.
Pak Karta, sesepuh desa dengan rambut memutih dan mata yang sarat pengalaman, duduk di beranda rumahnya yang reyot. Kerutan di dahinya semakin dalam. Dia tahu, ini bukan sekadar pergantian musim, bukan pula badai biasa. Ada yang terbangun dari tidurnya.
"Lampor," bisiknya pelan, suaranya nyaris hilang ditelan raungan angin yang mulai menggila. Kata itu adalah momok, legenda kelam yang diceritakan turun-temurun, sebuah kisah yang seharusnya tetap terkubur dalam buku-buku kuno dan bisikan nenek moyang.
Lampor, konon, adalah arak-arakan arwah gentayangan, atau pasukan gaib yang membawa pertanda buruk, seringkali kematian. Mereka muncul bersama angin kencang yang memekakkan, membawa serta cahaya-cahaya misterius yang menari-nari di kegelapan malam.
Arini, seorang mahasiswi yang pulang dari kota untuk menjenguk neneknya, awalnya menertawakan ketakutan warga. Ia menganggapnya takhayul belaka, warisan masa lalu yang tak relevan dengan era modern. Angin kencang hanyalah fenomena alam, pikirnya.
Namun, keraguan mulai menggerogoti hatinya saat malam semakin larut. Jendela-jendela bergetar hebat, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencoba membukanya paksa. Suara-suara aneh mulai terdengar, bukan hanya deru angin, tapi juga erangan samar dan desisan yang mengerikan.
Dari balik tirai kamarnya, Arini memberanikan diri mengintip keluar. Di kejauhan, di antara pepohonan hutan yang melambai-lambai seperti penari gila, terlihat titik-titik cahaya berkedip-kedip. Mereka bergerak tak beraturan, terlalu cepat untuk kunang-kunang, terlalu banyak untuk lentera.
Cahaya itu bukan seperti api biasa; warnanya pucat, kebiruan, kadang kemerahan, seperti bara yang baru saja padam dari neraka. Mereka meliuk, membentuk pola-pola aneh, mendekat dan menjauh dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Itu adalah Lampor, menari di batas penglihatan.
Keesokan paginya, suasana desa diselimuti ketegangan. Beberapa warga melaporkan mimpi buruk yang sama: dikejar oleh bayangan gelap di tengah angin kencang, dengan mata merah menyala dan suara tawa yang memekakkan telinga. Mimpi itu terasa begitu nyata.
Malam kedua datang, lebih mengerikan dari sebelumnya. Angin berembus dengan kekuatan yang lebih dahsyat, merobohkan dahan-dahan pohon dan menerbangkan genteng rumah. Suara-suara dari luar semakin jelas, bukan lagi bisikan, melainkan lolongan yang menyayat hati.
Kali ini, Lampor tampak lebih berani. Cahaya-cahaya itu terlihat di sekitar pekarangan rumah, bahkan di jalanan desa yang sepi. Mereka menari-nari di antara bayangan, kadang membentuk sosok-sosok samar, tinggi dan kurus, seolah-olah mengamati setiap gerak-gerik warga.
Pak Karta menyuruh semua orang untuk mengunci diri di dalam rumah, tidak peduli apa yang mereka dengar atau lihat. "Jangan pernah membuka pintu," pesannya dengan suara bergetar. "Jangan pernah membalas panggilannya. Mereka hanya mencari jalan masuk."
Arini meringkuk di sudut kamar, memeluk lututnya erat-erat. Ia bisa mendengar suara neneknya berdoa tanpa henti di kamar sebelah, melafalkan ayat-ayat suci dengan gemetar. Jantungnya berdebar kencang, menabuh irama ketakutan yang mencekik.
Tiba-tiba, suara derit keras terdengar dari dapur. Seolah-olah ada sesuatu yang jatuh, atau lebih tepatnya, dilempar. Arini menahan napas. "Nenek?" bisiknya, namun tidak ada jawaban selain raungan angin yang semakin keras.
Ia memberanikan diri merangkak perlahan menuju dapur, jantungnya berdetak seperti genderang perang. Udara di sana terasa lebih dingin, aroma amis semakin kuat. Sebuah piring pecah berserakan di lantai, dan jendela dapur sedikit terbuka.
Dari balik jendela, samar-samar Arini melihat bayangan bergerak cepat. Sesuatu yang tinggi, kurus, dengan mata yang bersinar merah menyala dalam kegelapan. Itu bukan lagi cahaya yang menari, itu adalah mereka, para pengiring Lampor, yang kini mengintip ke dalam.
Arini menjerit, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mundur terhuyung-huyung, jatuh menimpa pecahan piring. Rasa sakit di telapak tangannya tidak sebanding dengan kengerian yang membeku di nadinya. Mereka sudah sangat dekat.
Malam itu, beberapa rumah di Desa Purbakala mengalami kejadian aneh. Pintu-pintu terkunci rapat namun engselnya copot, barang-barang berserakan, dan jendela-jendela pecah. Tidak ada yang hilang secara fisik, namun aura menakutkan itu terasa mencekam.
Beberapa warga juga jatuh sakit secara misterius. Demam tinggi, halusinasi, dan bisikan-bisikan menakutkan yang hanya mereka dengar. Para tabib desa kebingungan, ramuan herbal tidak mempan, seolah-olah penyakit itu datang dari dimensi yang berbeda.
Malam ketiga adalah puncaknya. Angin berputar-putar seperti pusaran raksasa, mengoyak atap dan mencabut pohon hingga ke akar. Suara-suara mengerikan memenuhi setiap sudut desa, gabungan rintihan, tawa sinis, dan teriakan yang tak manusiawi.
Lampor memenuhi langit Desa Purbakala. Ribuan cahaya kebiruan dan kemerahan menari-nari di udara, membentuk spiral raksasa yang seolah menarik desa ke dalam jurang kegelapan. Dari dalam pusaran cahaya itu, terdengar dentingan bel yang memekakkan telinga.
Arini melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Di antara cahaya-cahaya yang berputar, terlihat barisan sosok-sosok bayangan yang tinggi, seperti prajurit tanpa wajah. Mereka bergerak serentak, membawa lentera-lentera aneh yang memancarkan cahaya kematian.
Mereka bukan lagi hanya cahaya; mereka adalah entitas. Angin adalah pembawa pesan mereka, dan Lampor adalah wujud dari teror itu sendiri. Desa Purbakala seperti panggung sandiwara horor, dimainkan oleh kekuatan yang tidak dapat dipahami akal manusia.
Ketika fajar tiba, angin akhirnya mereda. Cahaya-cahaya Lampor menghilang, larut bersama kegelapan malam. Desa itu tampak luluh lantak, bukan oleh badai biasa, melainkan oleh kekuatan gaib yang mengerikan.
Beberapa warga ditemukan tidak sadarkan diri, lainnya hanya bisa menatap kosong ke kejauhan. Beberapa lagi menghilang tanpa jejak, seolah-olah ditelan oleh pusaran angin dan cahaya semalam. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
Desa Purbakala tidak pernah sama lagi. Ketenangan yang dulu mereka miliki telah direnggut, digantikan oleh ketakutan yang mencekam dan trauma yang mendalam. Mereka tahu, Lampor telah datang, dan ia telah meninggalkan jejak kehancuran.
Sejak saat itu, setiap kali angin kencang berhembus, penduduk Desa Purbakala akan mengunci pintu dan memanjatkan doa. Mereka tahu, di balik setiap deru angin yang tidak wajar, mungkin saja Lampor sedang mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
Dan di malam-malam yang paling gelap, jika kau berani mendengarkan, kau mungkin akan mendengar bisikan samar di antara desiran angin. Bisikan yang membawa nama, "Lampor," dan janji akan teror yang abadi, menunggu di batas pandangmu.





