Aroma Kematian di Balik Melati Malam
Anya tiba di rumah tua itu, mencari ketenangan. Sebuah pondok terpencil, dikelilingi hutan lebat, jauh dari hiruk pikuk kota. Malam-malam awal berlalu damai, ditemani suara jangkrik dan embusan angin sejuk.
Ia seorang penulis, butuh inspirasi. Kesunyian adalah sahabat terbaiknya. Udara segar mengisi paru-paru, pikiran terasa jernih. Hari-hari berlalu tanpa insiden berarti, hanya rutinitas menulis dan membaca.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Sebuah anomali mulai merayap, perlahan tapi pasti. Seolah ada sesuatu yang terjaga, menunggu saat yang tepat untuk menampakkan diri.
Malam kelima, ia merasakannya. Aroma itu menyeruak, mengisi setiap sudut rumah. Wangi melati, terlalu pekat, terlalu memabukkan. Bukan wangi melati segar yang menenangkan, melainkan semerbak yang menyesakkan.
Anya memeriksa jendela. Di luar hanya kegelapan hutan yang pekat, tak ada pohon melati di kebunnya yang gersang. Aroma itu seolah muncul dari dalam dinding, dari udara itu sendiri.
Ia mencoba mengabaikannya, mungkin hanya imajinasi. Tapi wangi itu tak mau pergi. Ia menempel, mengendap di indra penciumannya, menembus sampai ke alam mimpi, jika ia bisa tidur.
Malam kedua aroma itu datang, lebih kuat. Anya mulai gelisah. Ia keluar rumah, mencari sumbernya. Senter menyapu semak-semak, menembus kegelapan. Tidak ada bunga melati di mana pun.
Hanya ada tanah basah dan dedaunan kering. Namun, aroma itu justru terasa paling kuat saat ia berdiri di tengah halaman. Seolah-olah tanah itu sendiri yang memancarkan wangi kematian.
Ketakutan mulai merayap. Ini bukan sekadar wangi bunga. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak wajar. Jantungnya berdebar, setiap bayangan pohon terasa seperti ancaman.
Ia kembali masuk, mengunci pintu dan jendela. Aroma itu tetap ada, menembus celah-celah terkecil. Anya mencoba membaca, tapi setiap kalimat buyar, digantikan semerbak melati yang terus menghantui.
Tidur menjadi kemewahan yang dicuri. Setiap malam, teror wangi itu berulang. Ia mulai merasa lelah, pikirannya kacau. Garis tipis antara realitas dan halusinasi mulai memudar.
Anya mulai mencatat. Waktu munculnya aroma, intensitasnya, dampaknya pada dirinya. Sebuah pola mulai terbentuk: selalu menjelang tengah malam, memuncak pada pukul tiga, lalu perlahan mereda menjelang subuh.
Ia mencoba mencari tahu sejarah rumah itu. Pergi ke perpustakaan desa terdekat, yang sepi dan berdebu. Nenek tua penjaga perpustakaan menatapnya dengan mata kosong saat Anya bertanya tentang rumah tersebut.
“Rumah itu… ada penunggunya,” bisik nenek tua itu, suaranya serak. “Seorang wanita, katanya. Hilang bertahun-tahun lalu. Tak pernah ditemukan.”
Anya merinding. “Hilang bagaimana?” tanyanya, tenggorokannya tercekat.
Nenek itu hanya menggeleng. “Tidak ada yang tahu pasti. Hanya ada cerita tentang wangi melati yang tiba-tiba muncul di malam hari setelah ia menghilang. Wangi kesukaannya.”
Informasi itu menusuk Anya. Ia mencari arsip lama, koran usang. Akhirnya, ia menemukan sebuah artikel lusuh. Seorang wanita bernama Nirmala, menghilang tanpa jejak dari rumah itu, lima puluh tahun silam.
Deskripsi tentang Nirmala: seorang seniman yang mencintai keindahan, terutama bunga melati. Ia digambarkan sebagai sosok yang ceria, namun juga misterius dan penyendiri.
Tidak ada petunjuk penyebab hilangnya Nirmala. Polisi menutup kasusnya sebagai “orang hilang tanpa jejak.” Namun, di desa itu, desas-desus beredar tentang kejadian aneh setelahnya.
Penduduk desa menghindari rumah itu. Mereka bilang, setiap malam tertentu, wangi melati akan tercium dari sana, bahkan dari jarak jauh. Sebuah pertanda bahwa Nirmala belum benar-benar pergi.
Anya kembali ke rumah dengan hati kalut. Informasi itu tidak menenangkan, malah menambah ketakutan. Apakah wangi melati ini adalah arwah Nirmala? Mencari apa dia?
Malam itu, aroma melati terasa lebih kuat dari sebelumnya. Bukan lagi hanya di dalam rumah. Ia terasa di setiap jengkal kulit Anya, merasuk ke dalam pori-pori.
Anya merasa diawasi. Setiap sudut gelap seolah menyembunyikan sesuatu. Ia melihat bayangan bergerak di tepi pandangannya, namun ketika ia menoleh, tak ada apa pun.
Suara-suara samar mulai terdengar. Bisikan lembut, seperti desahan angin. Terkadang, ia seperti mendengar nama “Nirmala” disebut, namun terlalu samar untuk dipastikan.
Ia tidak bisa lagi membedakan mimpi dan kenyataan. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat kebun melati yang tak terhingga, dengan sosok wanita samar berdiri di tengahnya, melambai.
Anya mencoba melawan. Ia menyalakan semua lampu, memutar musik keras-keras. Tapi wangi itu tetap menembus, suara-suara itu tetap berbisik, dan bayangan itu tetap menari.
Ketakutan itu kini berubah menjadi obsesi. Anya tidak lagi tidur, hanya menunggu malam tiba. Menunggu aroma itu, seolah ia harus menghadapi apa pun yang datang bersamanya.
Malam paling gelap tiba. Angin bertiup kencang, pohon-pohon di luar melolong. Jendela berderit, seolah ada yang mencoba masuk. Listrik padam, rumah itu gelap gulita.
Aroma melati itu kini mencekik. Terlalu kuat, seperti ia sedang menghirup kelopak bunga yang membusuk. Anya terbatuk, napasnya terengah-engah. Ia merangkak di kegelapan.
Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin menusuk. Bukan dinginnya angin malam, melainkan dingin yang lembab, seperti sentuhan mayat. Wangi melati itu kini di puncaknya, memekakkan.
Ada langkah kaki. Sangat pelan, menyeret, datang dari koridor. Anya membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak kencang, memukul-mukul rusuknya. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan.
Bayangan hitam menjulang di ambang pintu kamarnya. Tinggi, kurus, dengan aura kesedihan yang pekat. Aromanya, wangi melati yang memabukkan, berasal dari sana.
Anya mencoba menyalakan senter ponselnya. Cahaya redup itu menyorot sosok tersebut. Seorang wanita, bergaun putih usang, rambut panjang terurai menutupi wajahnya yang pucat.
Matanya cekung, bibirnya membiru. Namun, yang paling menakutkan adalah senyumnya. Sebuah senyum pilu, penuh kerinduan dan keputusasaan, namun juga janji yang mengerikan.
Ia mengulurkan tangan. Jari-jarinya kurus, kuku-kuku panjang dan kotor. Di antara jari-jarinya, kelopak melati yang layu berjatuhan. Aroma itu semakin kuat, hampir memualkan.
“Kau datang…” bisiknya, suaranya seperti desiran daun kering. “Kau akhirnya datang.”
Anya mencoba mundur, tapi tubuhnya tak mau bergerak. Ia terpaku, terhipnotis oleh sosok Nirmala. Roh yang terperangkap oleh wangi kesukaannya, kini mencari teman.
Tangan dingin itu menyentuh bahunya. Bukan sentuhan yang kasar, melainkan sentuhan merayu, memohon. Wangi melati itu kini bukan hanya di hidungnya, tapi di dalam dirinya.
Ia merasakan dirinya tertarik, terhisap. Kekuatan tak kasat mata menarik jiwanya. Aroma melati itu, yang tadinya hanya pengganggu, kini menjadi bagian dari dirinya, mengikatnya.
Nirmala tersenyum. Senyum itu melebar, menampakkan kegelapan di dalamnya. Ia tidak lagi sendirian. Anya kini adalah bagian dari kesunyian abadi rumah itu.
Pagi datang, membawa mentari yang cerah. Rumah itu tampak tenang, seolah tak ada yang terjadi. Namun, di dalam, segalanya telah berubah.
Rumah itu kini menyimpan dua jiwa yang terperangkap. Dua aroma melati yang berbeda, namun menyatu. Aroma kesukaan Nirmala, dan aroma keputusasaan Anya.
Tak ada lagi suara ketukan keyboard. Tak ada lagi langkah kaki di koridor. Hanya kesunyian yang menyesakkan, ditemani semerbak melati yang kini abadi.
Dan setiap malam, jika kau cukup berani mendekat, kau akan menciumnya. Wangi melati yang terlalu pekat, terlalu manis. Sebuah pertanda bahwa mereka tidak pernah pergi.
Mereka hanya menunggu. Menunggu korban berikutnya yang mencari ketenangan di rumah tua itu. Menunggu jiwa lain yang akan selamanya terperangkap dalam aroma kematian melati malam.





