Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Arwah Wanita di Pantai Karangsong Saat Senja

10
×

Arwah Wanita di Pantai Karangsong Saat Senja

Share this article

Arwah Wanita di Pantai Karangsong Saat Senja

Bisikan Senja di Karangsong: Misteri Arwah Malamina

Senja di Pantai Karangsong adalah mahakarya alam yang selalu memukau. Langit membias jingga, emas, dan ungu, mencium lembut permukaan laut yang beriak. Perahu-perahu nelayan berjejer rapi di tepian, siluetnya menjadi saksi bisu keindahan yang tak terlukiskan.

Namun, di balik pesona itu, tersembunyi sebuah kisah kelam. Sebuah bisikan yang dibawa angin senja, cerita tentang arwah wanita bergaun putih yang kerap menampakkan diri. Ia dikenal sebagai Malamina, sosok yang terperangkap antara dua dunia di ufuk Karangsong.

I. Sang Saksi Mata dan Desas-Desus Awal

Namaku Arif, seorang fotografer lepas yang sering menghabiskan waktu di Karangsong. Aku terpikat oleh keindahan pantainya, terutama saat matahari terbenam. Aku telah mendengar desas-desus tentang hantu wanita, namun selalu menganggapnya sebagai bualan nelayan tua.

Mereka bercerita tentang sosok bergaun putih yang muncul di antara perahu-perahu, atau berdiri di ujung dermaga saat senja. Konon, ia adalah arwah seorang gadis yang mengalami nasib tragis di pantai itu. Aku, dengan segala keraguan ilmiahku, hanya tersenyum skeptis.

II. Petanda Awal yang Mengusik

Suatu sore, saat aku sedang mengatur tripod, kurasakan hembusan angin dingin yang menusuk. Padahal, hari itu udara cukup hangat. Bulu kudukku merinding, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata lewat di dekatku.

Aku menoleh, namun tak ada siapa pun. Hanya riak ombak yang memecah kesunyian. Aku mencoba mengabaikannya, mungkin hanya sugesti, pikirku. Namun, rasa tak nyaman itu terus merayap dalam benak.

Malam berikutnya, saat senja kembali merayap, aku mendengar suara nyanyian samar. Melodi itu begitu sendu, seperti lantunan duka yang tertahan. Suaranya datang dari arah dermaga tua yang jarang terjamah.

Aku melangkah mendekat, namun suara itu lenyap begitu saja saat kakiku menginjak pasir basah. Dermaga itu kosong, hanya tiang-tiang kayu lapuk yang berdiri tegak. Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya.

III. Penampakan yang Semakin Jelas

Beberapa hari kemudian, saat kabut tipis mulai menyelimuti pantai di kala senja, aku melihatnya. Sebuah siluet putih berdiri di ujung dermaga, membelakangiku. Rambutnya panjang, tergerai diterpa angin laut.

Sosok itu tampak rapuh, memancarkan aura kesedihan yang mendalam. Aku terpaku, kamera di tanganku terasa beku. Ini bukan halusinasi, ini nyata. Aku bisa merasakan tatapannya, meskipun ia tak menoleh.

Tiba-tiba, sosok itu berbalik perlahan. Namun, sebelum wajahnya terlihat jelas, kabut tebal menyelimutinya. Dalam sekejap, ia menghilang, seolah larut bersama hembusan angin. Aku ditinggalkan dengan napas terengah-engah dan kaki lemas.

Sejak kejadian itu, aku tak lagi skeptis. Aku mulai mencari tahu lebih dalam tentang Malamina. Para nelayan dan warga lokal enggan bercerita banyak, mata mereka memancarkan ketakutan yang dalam.

IV. Mengungkap Kisah Pilu Malamina

Akhirnya, seorang kakek tua bernama Pak Harun, penjaga mercusuar yang sudah sepuh, mau berbagi cerita. Dengan suara parau dan mata menerawang, ia memulai kisahnya tentang Malamina.

Malamina adalah gadis cantik dari desa seberang, tunangan seorang nelayan tampan bernama Ardi. Mereka berjanji akan menikah saat musim ikan tiba. Pantai Karangsong adalah saksi bisu cinta mereka yang tulus.

Suatu malam badai menerjang, Ardi tak kunjung pulang dari melaut. Malamina menunggu dengan cemas di tepi pantai, hingga fajar menyingsing. Kapal Ardi ditemukan hancur, namun jasadnya tak pernah kembali.

Malamina tak pernah bisa menerima kenyataan itu. Setiap senja, ia datang ke pantai, berdiri di dermaga yang sama, menanti kembalinya Ardi. Ia menolak makan, menolak bicara, hanya menunggu.

Akhirnya, Malamina ditemukan tak bernyawa di tempat ia selalu menunggu, tepat di ujung dermaga. Sejak saat itu, arwahnya dikatakan gentayangan, terikat pada penantian abadi di Pantai Karangsong.

V. Pencarian Kebenaran yang Menegangkan

Kisah Pak Harun membuatku merinding. Aku merasa iba pada Malamina, namun juga penasaran. Mengapa arwahnya masih bergentayangan? Apa yang sebenarnya ia inginkan?

Aku memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu di pantai saat senja. Aku ingin memahami, mungkin bahkan membantu arwah yang tersesat itu. Setiap sore, aku duduk di pasir, menunggu.

Sore itu, suasana pantai terasa lebih dingin. Udara beraroma melati, bunga kesukaan Malamina, menurut cerita Pak Harun. Gelombang laut berdesir pelan, seolah berbisik sesuatu.

Aku merasakan kehadiran yang kuat di dekatku. Hawa dingin menyelimutiku, dan aku melihatnya lagi. Sosok Malamina berdiri tak jauh dariku, di antara perahu-perahu yang tertambat.

Kali ini, ia menoleh padaku. Wajahnya samar, namun aku bisa merasakan kesedihan yang tak terhingga di matanya. Bibirnya bergerak, seolah ingin menyampaikan sesuatu, namun tak ada suara yang keluar.

Tiba-tiba, ia mengulurkan tangannya yang tembus pandang, menunjuk ke arah batu karang besar di ujung pantai. Lalu, sosoknya kembali memudar, meninggalkan aroma melati yang semakin kuat.

Rasa takutku bercampur dengan rasa ingin tahu yang membara. Aku bergegas menuju batu karang yang ditunjuknya. Semakin dekat, aroma melati itu semakin menusuk hidung, bercampur dengan bau amis laut.

Di celah-celah batu karang, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil yang lapuk. Kotak itu terkubur sebagian oleh pasir dan lumut. Jantungku berdegup kencang saat aku meraihnya.

VI. Rahasia yang Terungkap

Dengan tangan gemetar, aku membuka kotak itu. Di dalamnya, terdapat sehelai saputangan bordir dengan inisial "A" dan "M", sebuah kalung kerang laut yang sudah usang, dan sebuah surat.

Surat itu ditulis dengan tinta yang hampir pudar, isinya membuatku terhenyak. Itu adalah surat dari Ardi untuk Malamina, yang seharusnya menjadi surat terakhirnya sebelum ia melaut.

Dalam surat itu, Ardi menulis bahwa ia harus pergi jauh untuk sementara, mencari nafkah lebih baik, namun ia berjanji akan kembali untuk Malamina. Ia berpesan agar Malamina menunggunya di dermaga setiap senja.

Namun, yang paling mengejutkan adalah kalimat terakhirnya. Ardi meminta maaf karena tak bisa memenuhi janji, karena ia dipaksa ikut rombongan kapal dagang yang diam-diam menyelundupkan barang. Ia tahu ini berbahaya, dan ia mungkin tak akan kembali.

Ternyata, Ardi tidak tewas karena badai. Ia dipaksa pergi dan mungkin dibunuh di tengah laut agar rahasia penyelundupan itu aman. Badai hanyalah alibi yang sempurna. Malamina menunggu janji yang tak akan pernah ditepati.

VII. Perpisahan yang Menyakitkan

Aku kembali ke pantai, surat itu kugenggam erat. Senja telah mencapai puncaknya, langit berubah menjadi ungu gelap. Angin berhembus kencang, membawa bisikan yang kali ini terasa berbeda.

Aku melihat Malamina lagi. Kali ini, ia tidak lagi di dermaga, melainkan berdiri di depanku. Wajahnya terlihat lebih jelas, dan aku bisa melihat air mata di pipinya. Namun, kali ini, air mata itu bukan kesedihan.

Ada kelegaan di matanya, dan sedikit senyum tipis. Aku menunjukkan surat itu padanya. Ia mengangguk pelan, seolah berkata "terima kasih." Beban yang selama ini membelenggunya kini terangkat.

Perlahan, sosoknya mulai memudar, bukan menghilang karena kabut, melainkan larut menjadi cahaya keperakan yang indah. Cahaya itu terbang tinggi ke langit, menyatu dengan bintang-bintang pertama yang muncul.

VIII. Karangsong yang Berubah

Sejak malam itu, Malamina tak pernah lagi menampakkan diri. Pantai Karangsong masih mempesona saat senja, namun bagiku, ada makna baru di setiap hembusan anginnya.

Aku menyimpan surat Ardi dan barang-barang itu. Aku tak tahu harus bagaimana, namun aku tahu aku telah menjadi bagian dari kisah abadi mereka. Misteri Malamina terpecahkan, namun kisahnya akan selalu hidup.

Setiap senja, saat aku berdiri di tepi Pantai Karangsong, aku merasakan kedamaian. Mungkin Malamina telah menemukan ketenangan, atau mungkin ia akhirnya bersatu dengan kekasihnya di alam lain.

Dan setiap kali aroma melati terbawa angin laut, aku tahu Malamina tidak sepenuhnya pergi. Ia adalah penjaga abadi Pantai Karangsong, sebuah pengingat bahwa di balik keindahan, selalu ada cerita yang menunggu untuk ditemukan.

Arwah Wanita di Pantai Karangsong Saat Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *