Scroll untuk baca artikel
DIY

Jangan Pernah Duduk di Kursi Bus Terakhir… Aku Tahu Alasannya Sekarang

9
×

Jangan Pernah Duduk di Kursi Bus Terakhir… Aku Tahu Alasannya Sekarang

Share this article

Jangan Pernah Duduk di Kursi Bus Terakhir… Aku Tahu Alasannya Sekarang

Malam itu, dingin menusuk kulit Ardi. Hujan baru saja reda, meninggalkan jejak basah di jalanan aspal yang berkilau di bawah lampu kota. Pukul sebelas malam, bus terakhir menjadi satu-satunya harapan untuk pulang.

Ardi melangkah masuk, kelelahan membebani pundaknya. Bus itu nyaris kosong, hanya ada beberapa penumpang yang terlelap di kursi depan. Ia memilih kursi paling belakang, di pojok, tempat yang paling gelap dan sunyi.

Begitu ia duduk, sensasi aneh langsung menyergapnya. Kursi itu terasa lebih dingin, seolah baru saja ditinggalkan oleh sesuatu yang beku. Sebuah aroma samar tercium, seperti bunga melati yang layu bercampur bau karat.

Ia mengernyit, mencoba mengabaikannya. Mungkin hanya sisa AC yang terlalu dingin, atau parfum penumpang sebelumnya. Namun, rasa tak nyaman itu tak kunjung hilang, justru merayap perlahan ke seluruh tubuhnya.

Ardi memejamkan mata, berharap kantuk segera merenggutnya. Namun, setiap kali ia melakukannya, bayangan hitam itu muncul di benaknya. Bukan bayangan biasa, melainkan siluet yang seolah menempel pada sandaran kursi di sampingnya.

Ia membuka mata lagi. Gelap di dalam bus membuat pandangannya tertipu, namun kali ini ia melihatnya. Samar, nyaris tak terlihat, sebuah noda kehitaman di kain jok kursi sebelah. Bentuknya tak beraturan, namun terasa ada “sesuatu” di sana.

Bukan noda kotor biasa. Noda itu seolah memiliki kedalaman, seperti lubang hitam kecil yang menyerap cahaya. Ardi mencoba menyentuhnya, namun tangannya ragu-ragu di udara.

Dingin dari kursi itu kini terasa lebih nyata, merembes ke telapak tangannya. Ia menarik kembali tangannya, merinding. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, irama tak lazim yang menggedor-gedor dadanya.

Bus melaju di jalanan sepi, suara mesinnya menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian. Di luar jendela, pemandangan kota berubah menjadi deretan pohon gelap yang melesat cepat. Ardi merasa sendirian, terisolasi.

Ia melirik ke depan, memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Penumpang lain masih terlelap, dan sopir fokus pada jalan. Hanya ia dan “sesuatu” di kursi itu.

Bayangan itu, yang tadinya hanya noda, kini tampak sedikit membesar. Seolah bernapas, perlahan-lahan mengembang. Ardi bisa merasakan aura dingin yang memancar darinya, menusuk hingga ke tulang.

Suara desisan halus terdengar, seperti bisikan angin yang terperangkap di antara celah jok. Terlalu samar untuk menjadi kata-kata, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya merinding.

Ardi mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanya halusinasi akibat kelelahan. Otaknya bermain-main dengannya, menciptakan ilusi dari kegelapan dan kesunyian. Ia harus tetap rasional.

Namun, indranya berteriak. Bau melati yang layu semakin kuat, bercampur aroma yang lebih pekat, seperti tanah basah dan sesuatu yang logam. Bau kematian.

Ia teringat sebuah cerita lama tentang bus ini. Bus nomor 13, yang pernah mengalami kecelakaan tragis beberapa tahun silam. Sebuah kecelakaan tunggal di tikungan tajam, menewaskan hampir semua penumpangnya.

Mungkinkah ini adalah jejaknya? Sebuah sisa energi, bekuan penderitaan yang tertinggal di kursi ini? Kursi yang mungkin menjadi tempat terakhir bagi seseorang.

Bayangan itu kini tampak sedikit lebih jelas, membentuk siluet samar. Bukan lagi sekadar noda, melainkan seperti lubang yang terhubung ke dimensi lain. Ardi merasa tatapan dingin yang tak terlihat mengawasinya.

Ia memberanikan diri, memicingkan mata. Di tengah kegelapan, ia melihat sesuatu berkilau samar di dalam bayangan itu. Sebuah kilatan kecil, seperti pantulan perak.

Terlalu takut untuk mendekat, Ardi hanya bisa terpaku. Bayangan itu seolah memanggilnya, menariknya masuk ke dalam kegelapan yang tak terhingga. Ia merasakan tekanan di dadanya, sesak napas.

Bus melaju melewati sebuah rumah sakit yang remang-remang. Sekilas, Ardi merasa bayangan di kursi itu bergetar. Sebuah tarikan napas terdengar, seperti isakan yang tertahan.

Ia tak bisa lagi menahan rasa penasaran bercampur ketakutan itu. Ardi mengulurkan tangan lagi, kali ini lebih mantap, menuju kilatan perak di dalam bayangan. Ia harus tahu.

Jari-jarinya menyentuh permukaan jok, bukan kain busa, melainkan sesuatu yang dingin dan licin. Sebuah kalung perak, tergeletak di sana, nyaris tak terlihat. Liontinnya berbentuk hati, sedikit penyok.

Saat jemarinya menyentuh kalung itu, sebuah suara bisikan yang jelas terdengar di telinganya. “Dia… Dia yang melakukannya…” Suara itu dingin, bergetar, penuh kesedihan dan dendam.

Ardi tersentak, menarik tangannya secepat kilat. Kalung itu jatuh kembali ke dalam bayangan, seolah ditarik ke dalamnya. Ia tak berani lagi menyentuhnya.

Bayangan itu kini seolah memadat, membentuk outline seorang wanita. Wajahnya kabur, namun Ardi bisa merasakan keputusasaan yang luar biasa memancar darinya. Ia merasa seolah arwah itu mencoba menceritakan sesuatu.

Bus melambat, mendekati halte berikutnya. Cahaya lampu jalan menembus jendela, sejenak menerangi kursi itu. Dalam sekejap, Ardi melihatnya.

Bukan bayangan lagi. Melainkan noda darah kering yang samar di jok, dan bekas goresan panjang di sandaran kursi. Seolah seseorang berjuang di sana, detik-detik terakhir hidupnya.

Wanita itu, arwahnya, seolah ada di depannya. Matanya yang tak terlihat memancarkan kesedihan mendalam. Bibirnya yang tak berwujud bergerak, mencoba mengucapkan sesuatu.

Ardi mengerti. Ini bukan halusinasi. Ini adalah jejak. Jejak penderitaan, jejak ketidakadilan. Wanita itu tewas bukan karena kecelakaan, tapi dibunuh. Dan pembunuhnya mungkin masih berkeliaran.

Bus berhenti di halte. Pintu terbuka dengan desisan. Ardi berdiri, kakinya gemetar. Ia harus keluar dari sini. Ia harus pergi dari tempat ini.

Ia melangkah turun, namun sebelum benar-benar keluar, ia menoleh kembali ke kursi paling belakang. Bayangan itu masih ada, kini lebih gelap dan pekat. Seolah mengawasinya, memohon padanya.

Pintu bus menutup, dan bus kembali melaju, menghilang di kegelapan malam. Ardi berdiri sendirian di halte, udara dingin terasa menusuk tulang. Bisikan “Dia… Dia yang melakukannya…” masih bergema di telinganya.

Ia tahu ia tak bisa mengabaikannya. Kalung perak itu, noda darah itu, bisikan itu. Itu semua adalah petunjuk. Petunjuk dari arwah yang terperangkap, mencari keadilan.

Malam itu, Ardi pulang dengan beban yang tak pernah ia duga. Sebuah misteri tersembunyi di kursi bus terakhir, menuntut untuk dipecahkan. Dan ia, seorang saksi tak sengaja, kini terlibat di dalamnya.

Apakah ia akan menemukan kebenaran di balik bayangan itu? Atau akankah ia menjadi korban berikutnya dari rahasia gelap yang disembunyikan oleh bus malam terakhir itu? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Jangan Pernah Duduk di Kursi Bus Terakhir… Aku Tahu Alasannya Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *