Bayangan Hitam di Kawah Putih Saat Senja
Kawah Putih, danau kawah vulkanik di Bandung, selalu memancarkan aura misterius. Hamparan putih keabu-abuan dan air belerang yang kehijauan menciptakan lanskap surealis. Bagi Ardi, seorang fotografer lanskap, tempat ini adalah surga sekaligus tantangan.
Ia datang untuk menangkap keindahan surga yang terselubung kabut. Ardi selalu percaya bahwa keindahan sejati seringkali bersembunyi di balik tabir. Dan senja, dengan cahaya emasnya yang memudar, adalah waktu terbaik untuk itu.
Namun, senja itu, tirai keindahan mulai tersibak. Ia tidak lagi melihat surga, melainkan sebuah lorong menuju sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin dan tidak seharusnya ada.
Ardi tiba di Kawah Putih saat matahari masih tinggi, namun ia sengaja menunggu. Ia ingin menangkap momen ketika keramaian sirna. Saat pengunjung terakhir meninggalkan lokasi, menyisakan dirinya dan lanskap sunyi.
Udara dingin mulai menyelimuti, membawa serta aroma belerang yang pekat. Pohon-pohon mati yang menjulang di tepi kawah tampak seperti siluet hantu. Mereka adalah penjaga gerbang keheningan yang mencekam.
Ardi menyiapkan kameranya, lensa terpasang sempurna. Ia mengambil beberapa bidikan awal, puas dengan komposisi dan cahaya. Gradasi warna langit mulai berubah, dari oranye keemasan menjadi ungu tua yang melankolis.
Saat lensa kameranya membidik ke arah ceruk paling dalam kawah, sebuah siluet samar melintas. Cepat, nyaris tak terlihat. Ia mengira itu hanya pantulan kabut, ilusi optik karena kelelahan mata.
Ardi mengerjap, memfokuskan pandangan. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya permukaan kawah yang tenang dan kabut tipis yang mulai merayap. Ia kembali ke viewfinder, melanjutkan pekerjaannya.
Namun, dinginnya udara terasa menusuk, lebih dari biasanya. Bukan dingin yang biasa di dataran tinggi. Ini adalah dingin yang merayap ke tulang, membawa serta firasat buruk yang samar.
Ia mencoba mengabaikannya, fokus pada seni. Ardi selalu menganggap dirinya rasional. Semua fenomena pasti ada penjelasannya. Kabut, suhu, kelelahan, itu semua adalah penyebabnya.
Sesaat kemudian, saat ia menggeser posisi, pandangannya menangkapnya lagi. Lebih jelas kali ini. Di antara pepohonan mati yang keriput, ada bayangan hitam pekat. Bentuknya tinggi, langsing, dan tidak bergerak.
Jantung Ardi berdesir aneh. Ini bukan ilusi. Ini adalah sesuatu. Sebuah anomali di tengah lanskap putih. Ia menurunkan kamera, memicingkan mata, mencoba memahami apa yang ia lihat.
Bayangan itu tidak memiliki bentuk yang jelas. Bukan siluet manusia, bukan hewan. Lebih seperti gumpalan asap hitam yang memadat, namun dengan kontur yang tegas. Ia berdiri diam, seperti mengamati.
Ardi merasakan bulu kuduknya meremang. Ia sendirian di sini. Penjaga pos sudah kembali ke pondoknya di gerbang utama. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan cahaya remang-remang.
Ia mengangkat kameranya lagi, tangannya sedikit gemetar. Ia mencoba membidik bayangan itu. Mungkin lensa akan mengungkap lebih banyak detail. Mungkin itu hanya pohon yang aneh atau formasi batu.
Namun, saat ia menekan tombol rana, bayangan itu bergerak. Perlahan, seperti merayap di atas tanah. Bukan berjalan, bukan meluncur. Lebih seperti tetesan tinta hitam yang menyebar di atas kertas putih.
Ardi membeku. Kakinya terasa lengket di tanah belerang. Ia tidak pernah merasakan ketakutan sedalam ini. Bukan ketakutan yang disebabkan oleh bahaya fisik, melainkan ketakutan primordial.
Bayangan itu mulai mendekat. Tanpa suara, tanpa jejak. Hanya keberadaannya yang terasa. Udara di sekitarnya mendadak terasa berat, seperti tekanan tak kasat mata. Sulit bernapas.
Aroma belerang seolah bercampur dengan bau aneh, seperti tanah basah yang dingin. Atau mungkin itu hanya imajinasinya. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi.
Ardi mundur selangkah, lalu dua. Tubuhnya bereaksi sendiri. Naluri bertahan hidup mengambil alih. Ia harus pergi. Harus keluar dari tempat ini secepatnya.
Bayangan itu kini hanya berjarak beberapa puluh meter. Ia bisa merasakan hawa dingin yang memancar darinya. Dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Dingin yang membuat jiwanya bergetar.
Ia berbalik, bergegas. Langkahnya terhuyung di tanah yang tidak rata. Kameranya berguncang di tangannya. Ia tidak peduli lagi tentang foto-foto. Ia hanya ingin selamat.
Di tengah kepanikan, Ardi mendengar sesuatu. Sebuah bisikan. Bukan kata-kata, tapi lebih seperti desahan angin yang bergegas, namun terdengar jelas di telinganya. Seperti memanggil namanya.
“Ardi…”
Suara itu terdengar sangat dekat, seperti berembus tepat di belakang lehernya. Ia memejamkan mata sesaat, jantungnya berpacu gila. Ini tidak mungkin. Ia pasti berhalusinasi.
Ia mempercepat langkah, nyaris berlari. Kabut kini semakin tebal, menyelimuti pandangannya. Pohon-pohon mati tampak seperti tangan-tangan raksasa yang mencoba meraihnya.
Setiap langkah terasa berat, seperti ada beban tak terlihat yang menahannya. Ia bisa merasakan kehadirannya di belakangnya, semakin dekat. Tekanan di punggungnya semakin kuat.
Ia menoleh sekilas. Bayangan itu kini sangat dekat. Lebih besar dari sebelumnya, menutupi sebagian besar jalur. Bentuknya mulai menyerupai siluet yang membungkuk, seperti siap menerkam.
Ardi menjerit, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tersandung akar pohon yang menonjol, jatuh tersungkur. Kameranya terlepas dari genggamannya, terlempar ke samping.
Napas Ardi tercekat, kakinya mendadak lumpuh. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya tidak mau menurut. Panik menguasai akal sehatnya. Ia berbalik, merangkak mundur, menjauh dari bayangan.
Bayangan itu berhenti. Hanya beberapa langkah di depannya. Ardi bisa merasakan aura dinginnya, bahkan tanpa menyentuh. Ia melihat ke atas, mencoba mencari tahu apa itu.
Ia tidak punya mata, tidak punya wajah. Hanya kegelapan pekat yang menyerap semua cahaya. Sebuah kehampaan yang menakutkan. Sebuah ketiadaan yang memiliki keberadaan.
Sebuah sensasi aneh menjalar di kulit Ardi. Seperti ribuan jarum es yang menusuk. Ia merasakan energinya terkuras, seolah bayangan itu menyedot kehidupannya.
Dalam ketakutan yang mencekam, ia melihat bayangan itu perlahan mengangkat sesuatu. Sebuah lengan? Sebuah tentakel? Sulit untuk dijelaskan. Bentuknya samar, namun gerakannya disengaja.
Ia mengarahkannya ke Ardi. Udara bergetar. Sebuah suara berdesir lagi, lebih jelas kali ini. Bukan nama Ardi, melainkan sebuah seruan yang tidak ia pahami. Bahasa kuno yang menakutkan.
Ardi tahu ia harus lari. Sekarang atau tidak sama sekali. Dengan segenap kekuatan, ia memutar badan, mendorong tubuhnya bangkit. Kakinya yang gemetar akhirnya menemukan kekuatan.
Langkah paniknya terasa berat, menembus kabut. Ia tidak berani menoleh lagi. Ia hanya berlari, berlari sekuat tenaga. Menuju gerbang, menuju keselamatan.
Ia mendengar suara di belakangnya. Bukan langkah kaki, tapi semacam gesekan. Seperti kain basah yang terseret di tanah. Atau mungkin bayangan itu meluncur di belakangnya.
Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Paru-parunya terasa terbakar. Ia terus berlari, menembus kegelapan senja yang kini sepenuhnya menyelimuti Kawah Putih.
Akhirnya, ia melihat cahaya redup di kejauhan. Pos penjaga. Sebuah mercusuar harapan di tengah lautan ketakutan. Ia mengerahkan sisa tenaganya, melaju ke arahnya.
Saat ia mencapai gerbang, dengan napas terengah-engah dan tubuh gemetar, ia menoleh ke belakang. Kawah Putih kini gelap gulita, diselimuti kabut tebal. Tidak ada apa-apa.
Bayangan itu lenyap. Atau mungkin ia tidak bisa melihatnya lagi di tengah kegelapan. Penjaga pos, seorang pria paruh baya, keluar dengan raut wajah khawatir.
“Pak Ardi, Bapak tidak apa-apa? Kami sudah mau menutup gerbang.” Suaranya terdengar cemas. Ardi hanya bisa menggelengkan kepala, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Ia menunjuk ke arah kawah yang gelap. “Di sana… ada… ada sesuatu…” Suaranya bergetar. Penjaga itu menatapnya bingung. “Apa yang Bapak lihat?”
Ardi tidak bisa menjelaskan. Bagaimana ia bisa menjelaskan bayangan tak berbentuk yang menyedot energi? Penjaga itu hanya tersenyum maklum, menganggap Ardi terlalu lelah.
“Kawah Putih memang kadang ‘berbicara’ saat senja, Pak. Banyak yang merasakan hal aneh.” Kata penjaga itu, mencoba menenangkan. Tapi Ardi tahu, ini bukan “berbicara” biasa.
Ia naik ke mobilnya, tangannya masih gemetar saat memutar kunci. Ia menoleh ke kursi penumpang. Kameranya ada di sana, tergeletak di samping tasnya. Ia tidak ingat bagaimana bisa mengambilnya.
Ardi pulang dengan perasaan campur aduk. Ketakutan masih melilit, namun ada juga rasa ingin tahu yang dalam. Apa yang sebenarnya ia lihat? Apa itu?
Malam itu, ia tidak bisa tidur. Bayangan hitam itu terus menari di benaknya. Bisikan aneh itu masih terngiang. Ia memutuskan untuk memeriksa foto-foto yang ia ambil.
Dengan tangan gemetar, ia menyalakan laptop dan mengunduh gambar dari kamera. Ia menggulir setiap bidikan, mencari jejak. Sebagian besar adalah lanskap kawah yang indah.
Lalu, ia menemukannya. Sebuah bidikan yang diambil sesaat sebelum ia jatuh. Di antara pepohonan mati, ada gumpalan hitam. Samar, namun jelas bukan bagian dari alam.
Ardi memperbesar gambar itu. Jantungnya berdebar kencang. Gumpalan itu tidak memiliki detail, namun ia bisa merasakan kehampaan yang terpancar darinya. Sebuah kekosongan yang mengerikan.
Dan di salah satu sudut gambar, nyaris tak terlihat, ada sebuah anomali. Seperti distorsi kecil pada cahaya. Sebuah lingkaran kecil, lebih gelap dari sekitarnya. Seolah ada sesuatu yang menyerap cahaya di titik itu.
Ia menggulir ke bidikan berikutnya. Bidikan yang ia ambil saat bayangan itu mulai mendekat. Di sana, gumpalan hitam itu lebih besar, lebih pekat. Mengambil lebih banyak ruang di kanvas putih kawah.
Ardi mematikan laptopnya. Ia tidak berani melihat lebih jauh. Ia telah melihat cukup. Bukti yang ia butuhkan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak gila.
Sejak hari itu, Ardi tidak pernah kembali ke Kawah Putih saat senja. Ia tidak pernah bisa melupakan bayangan hitam itu. Ia sering terbangun di malam hari, merasa hawa dingin menusuk.
Misteri bayangan hitam di Kawah Putih tetap menjadi rahasia, terkubur dalam kabut dan bisikan angin. Sebuah peringatan bahwa di balik keindahan yang menawan, terkadang ada kegelapan yang menunggu.
Dan Ardi tahu, beberapa tempat sebaiknya dibiarkan sendiri. Terutama saat senja, ketika tirai antara dunia ini dan dunia lain menipis. Dan sesuatu yang tak terjelaskan dapat merayap keluar dari bayang-bayang.





