Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Setiap Ikan Emas di Kolam Ini Selalu Menghilang Setelah Melihat Bayangan Itu

10
×

Setiap Ikan Emas di Kolam Ini Selalu Menghilang Setelah Melihat Bayangan Itu

Share this article

Bayangan Ikan Emas yang Bukan Ikan

Kediaman Hartono, sebuah warisan bisu dari abad lampau, berdiri angkuh di antara pepohonan rindang yang menjulur. Debu abad melayang di setiap sudut, menyimpan bisikan-bisikan masa lalu yang terkunci rapat. Arjun, seorang peneliti sejarah lokal, melangkah masuk, mencari jejak keluarga yang tiba-tiba lenyap tanpa kabar.

Tujuan utamanya adalah menemukan dokumen lama, namun aura misterius rumah itu segera mencengkeramnya. Hawa dingin merayap, bukan dari pendingin udara, melainkan dari waktu yang membeku. Jendela-jendela besar membiarkan cahaya samar menari di lantai marmer yang kusam.

Di sudut taman belakang, tersembunyi sebuah kolam koi yang kini kering dan retak. Lumut dan gulma tumbuh liar, menandakan tahun-tahun terabaikan. Saat Arjun membungkuk, meneliti retakan pada dasar kolam, sesuatu melintas di tepi pandangannya.

Bukan pantulan air, melainkan bayangan. Sebuah siluet ikan emas yang sempurna, melesat cepat di dinding kolam yang berlumut. Lalu lenyap, seolah tak pernah ada.

Otak Arjun mencoba merasionalisasi. Ilusi optik? Kelelahan mata setelah berjam-jam menelusuri naskah tua? Namun ada yang ganjil, sebuah kesan nyata yang terlalu kuat, tanpa substansi fisik yang mendukungnya.

Ia menggelengkan kepala, mencoba mengabaikannya, dan kembali fokus pada tugasnya. Namun, bayangan itu kembali. Kali ini di dinding lembab koridor panjang, di cermin buram di kamar tidur utama, bahkan di permukaan meja kerja yang berdebu.

Selalu siluet ikan emas yang sama, dengan gerakan anggun namun mendesak. Ia tidak pernah benar-benar ada, tidak pernah bisa disentuh. Hanya bayangan, mengikuti, mengintai, tanpa suara.

Obsesi merayapi benak Arjun. Ia mulai mencari bukan lagi dokumen keluarga Hartono, melainkan petunjuk tentang bayangan itu. Ia menyelami arsip, surat-surat lusuh, dan buku harian kusam yang ia temukan.

Nama Amelia Hartono, seorang gadis kecil, sering muncul dalam catatan-catatan lama. Kisahnya terangkai dari baris-baris tulisan tangan yang indah, menceritakan keceriaan dan kesepiannya di rumah besar itu. Dan obsesinya pada ikan emas peliharaannya.

Sebuah entri diari menarik perhatian Arjun. Tulisan tangan Amelia yang kini goyah, menceritakan kekecewaannya. “Emas, ikan kesayanganku, dia pergi… Papa bilang dia akan kembali, tapi dia tidak.”

Arjun meneliti lebih jauh. Emas, nama ikan emas peliharaan Amelia, mati secara tak terduga. Orang tua Amelia, yang terlalu sibuk dengan urusan mereka, berjanji akan menguburkannya dengan layak. Namun, entri selanjutnya menunjukkan janji itu tak pernah ditepati.

Amelia kecil, yang sangat mencintai Emas, merasa dikhianati. Ia terus menunggu, berharap Emas kembali, atau setidaknya dikuburkan seperti yang dijanjikan. Beberapa bulan setelah kematian Emas, Amelia sendiri jatuh sakit dan tak pernah pulih.

Sebuah pikiran menyeruak di benak Arjun. Mungkinkah bayangan ikan emas itu adalah manifestasi dari penantian Amelia? Sebuah penyesalan yang membeku dalam waktu, mencari penggenapan janji yang tak pernah terucap?

Malam itu, saat badai kecil melanda, bayangan itu melesat lebih gila dari biasanya. Bukan lagi hanya siluet. Ada kilatan keputusasaan di balik bentuknya, seolah memohon, menuntut sesuatu. Ia berputar mengelilingi Arjun, mendesak, hampir terasa seperti hembusan napas dingin.

Arjun merasakan tekanan yang luar biasa, bukan fisik, melainkan emosional. Ia merasa terhubung dengan kesedihan Amelia, dengan penantian yang tak kunjung usai. Ia tahu, bayangan ini bukanlah entitas jahat, melainkan jeritan hati yang terabaikan.

Ia teringat kata-kata terakhir diari Amelia, yang ditulis beberapa hari sebelum gadis itu meninggal. “Aku ingin Emas selalu bersamaku. Di tempat yang aman. Tempat yang Papa dan Mama janjikan.” Kata-kata itu berulang, bergema dalam pikirannya.

Bukan kematian Emas yang menghantui rumah ini. Melainkan janji yang terlupakan oleh orang tuanya. Janji yang membuat jiwa Amelia tak bisa beristirahat dengan tenang, terus menanti penggenapan yang tak kunjung tiba.

Arjun memutuskan untuk mencari “tempat yang dijanjikan” itu. Ia kembali ke kolam koi yang kering, pusat dari penampakan pertama. Ia memeriksa setiap ubin retak, setiap celah di dinding kolam yang dulunya megah.

Di bawah ubin yang paling retak, tersembunyi di balik lapisan lumut dan tanah, ia menemukan sebuah kotak perhiasan kecil yang terbuat dari kayu jati. Berdebu, namun terkunci rapat.

Dengan hati-hati, Arjun membukanya. Di dalamnya, terbaring sebuah liontin emas kecil, berbentuk ikan. Bentuknya sederhana, namun detailnya begitu halus, seperti ukiran seorang seniman. Di sebelahnya, secarik kertas lusuh.

“Untuk Emas. Agar kau selalu dekat dengan Amel. Mama dan Papa mencintaimu.” Tulisan tangan di kertas itu milik ibu Amelia, penuh penyesalan. Ini adalah janji yang terlambat, tak pernah sampai pada Amelia kecil.

Arjun meletakkan liontin itu di dasar kolam kering, tepat di tengahnya. Sebuah simbol penggenapan janji, sebuah pemakaman yang tertunda, bukan untuk jasad ikan, melainkan untuk kedamaian jiwa seorang gadis kecil. Ia menutup kotak itu, meletakkannya di atas liontin.

Bayangan ikan emas itu tak pernah muncul lagi di Kediaman Hartono. Tekanan yang mencekam perlahan lenyap, digantikan oleh ketenangan yang dalam. Rumah itu terasa lebih ringan, lebih damai, seolah beban berabad-abad telah terangkat.

Arjun menyelesaikan penelitiannya, namun kisah bayangan ikan emas itu terukir dalam ingatannya. Sebuah misteri yang bukan tentang hantu yang menakutkan, melainkan tentang janji yang tak terpenuhi. Tentang cinta dan penyesalan yang begitu kuat, hingga mampu menciptakan bayangan.

Bayangan ikan emas yang bukan ikan, tapi sebuah perwujudan dari penantian abadi. Sebuah pengingat bahwa terkadang, yang paling menghantui kita bukanlah apa yang terlihat, melainkan apa yang terasa. Sebuah kisah bisu tentang kedamaian yang akhirnya ditemukan.

Bayangan Ikan Emas yang Bukan Ikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *