Bayangan Pemuda di Desa Berastagi Lama
Kabut tebal memeluk Berastagi Lama. Dingin menusuk tulang Risa, seolah setiap napasnya menarik partikel masa lalu. Desa ini, warisan leluhurnya, terasa lebih seperti makam sunyi daripada rumah. Rumah-rumah tua berlumut berdiri kaku, diselimuti keheningan yang mencekam.
Risa datang untuk menenangkan diri, mencari ketenangan dari hiruk pikuk kota. Namun, Berastagi Lama menawarkan sesuatu yang lain. Sebuah bisikan, sebuah kehadiran yang samar. Sejak hari pertama, ia merasakan tatapan.
Ia sering menangkap bayangan di sudut mata. Sosok ramping, melintas cepat di antara pepohonan. Terlalu cepat untuk dikenali, terlalu sering untuk diabaikan. Penduduk desa yang tersisa, beberapa orang tua renta, hanya menggelengkan kepala.
“Jangan mencari tahu yang tak perlu, Nona,” ujar Nenek Tua dengan mata kosong. Suaranya serak, bagai gesekan daun kering. “Beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur.”
Peringatan itu justru memicu rasa ingin tahu Risa. Bisikan dan bayangan itu semakin sering muncul. Terkadang, ia mendengar langkah kaki di koridor rumahnya yang kosong, padahal ia sendirian. Pintu-pintu tua berderit sendiri.
Suatu malam, Risa terbangun oleh hawa dingin yang menusuk. Di ambang pintu kamarnya, sebuah siluet berdiri. Jelas. Tinggi, mengenakan pakaian kuno, dan menatap lurus padanya. Jantung Risa berdegup kencang.
Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat. Sosok itu tak bergerak, hanya menatap. Mata Risa menangkap detail samar: rambut gondrong, wajah yang seolah diliputi kesedihan. Lalu, seperti embun, sosok itu lenyap.
Risa yakin itu bukan mimpi. Ia bangkit, menyalakan lampu minyak. Ruangan itu kosong, namun aura dingin masih terasa. Ketakutan itu bercampur dengan sebuah dorongan. Sosok itu mencoba berkomunikasi.
Ia mulai bertanya pada penduduk desa. Mereka enggan bicara, selalu mengalihkan pandangan. Kecuali Pak Karta, seorang kakek tua yang dulunya penjelajah gunung. Ia menatap Risa dengan sorot mata iba.
“Itu Bayangan Harun,” bisik Pak Karta, suaranya nyaris tak terdengar. “Pemuda yang hilang puluhan tahun lalu. Dicari, tapi tak pernah ditemukan. Jiwanya terikat di sini.”
Harun. Nama itu terasa familiar, seolah pernah mendengarnya dalam cerita masa kecil yang samar. Risa teringat sebuah jurnal usang di loteng rumahnya, milik nenek buyutnya. Mungkin ada jawabannya di sana.
Malam itu, ditemani cahaya senter, Risa membuka jurnal. Halaman-halaman menguning dipenuhi tulisan tangan rapi. Semakin dalam ia membaca, semakin merinding bulu kuduknya. Kisah Berastagi Lama bukan hanya tentang keindahan.
Jurnal itu menceritakan tentang sebuah tragedi. Hilangnya Harun, pemuda yang dicintai banyak orang. Ia adalah pemuda pemberani, sering menjelajah hutan dan gunung Sinabung. Namun, suatu hari, ia tak kembali.
Pencarian besar-besaran dilakukan, namun nihil. Desa dilanda duka dan kebingungan. Namun, ada satu bagian yang membuat Risa terdiam: sebuah catatan tentang “sesuatu yang tersembunyi” di balik hilangnya Harun.
“Beberapa orang tahu kebenaran,” tulis nenek buyutnya. “Kebenaran pahit yang dikubur bersama ketakutan. Harun tahu terlalu banyak. Ia melihat apa yang tidak seharusnya dilihat.”
Apa yang dilihat Harun? Jurnal itu tidak merincinya. Hanya petunjuk samar tentang sebuah rahasia besar desa, terkait dengan “harta tersembunyi” dan “pengkhianatan”. Sebuah kalimat terakhir terukir jelas: “Jiwa Harun tak akan tenang sebelum kebenaran terungkap.”
Risa menutup jurnal, napasnya tersengal. Jadi, bayangan itu adalah Harun. Ia ingin kebenaran terungkap. Tapi kebenaran apa? Dan mengapa ia memilih Risa? Mungkin karena Risa adalah satu-satunya keturunan yang kembali, yang memiliki akses ke masa lalu.
Keesokan harinya, Risa merasakan kehadiran Harun lebih kuat. Bayangan itu muncul di depannya, tidak lagi sekilas. Ia menatap Risa, lalu mengulurkan tangannya, seolah mengundang. Tangannya menunjuk ke arah hutan di belakang desa.
Rasa takut bercampur penasaran mendorong Risa. Ia mengikuti arah yang ditunjuk bayangan. Langkahnya terasa berat, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Kabut semakin tebal, menelan pandangan.
Bayangan Harun melayang di depannya, sesekali berhenti menunggu. Mereka menembus semak belukar, melintasi sungai kecil. Udara semakin dingin, dan suara alam terasa hening, digantikan bisikan angin yang misterius.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah area terpencil. Di sana, di bawah sebuah pohon beringin tua yang menjulang, terdapat reruntuhan kecil. Dinding-dinding batu tertutup lumut, membentuk seperti sebuah pondasi.
Bayangan Harun berhenti di tengah reruntuhan. Ia menatap sebuah batu besar yang retak di tengahnya. Ada sesuatu yang janggal pada batu itu. Risa mendekat, jantungnya berpacu kencang.
Di balik batu, terselip sebuah kotak kayu lapuk. Risa ragu, namun dorongan Harun terasa kuat. Ia membuka kotak itu. Debu tebal beterbangan. Di dalamnya, sebuah gulungan perkamen yang menguning.
Perkamen itu berisi peta kuno dan surat-surat. Peta menunjukkan lokasi sebuah gua rahasia di perut Sinabung. Surat-surat itu mengungkap kebenaran mengerikan: Harun menemukan sebuah tambang emas ilegal.
Tambang itu dioperasikan secara sembunyi-sembunyi oleh beberapa tokoh desa berpengaruh. Harun, dengan kejujurannya, berniat membongkar praktik ilegal ini. Namun, ia ketahuan.
Surat-surat itu merinci bagaimana Harun dijebak. Ia diculik, disiksa, lalu tubuhnya dibuang ke dalam tambang itu sendiri. Agar tidak ada jejak, pintu masuk tambang diledakkan. Selama ini, Harun tidak hilang. Ia dibunuh.
Para pelaku menutupi kejahatan mereka dengan kisah “hilang di gunung”. Mereka bahkan mengadakan upacara palsu. Desa Berastagi Lama hidup di atas kebohongan dan darah Harun.
Risa merasakan kemarahan dan kesedihan yang mendalam. Ia menatap bayangan Harun. Sosok itu kini tampak lebih jelas, namun juga lebih transparan. Ada air mata yang mengalir dari matanya.
Sebuah bisikan tak bersuara memenuhi pikiran Risa: “Kebenaran… sudah terungkap.” Bayangan Harun perlahan memudar. Semakin tipis, semakin samar, hingga akhirnya lenyap sepenuhnya, seolah terlarut dalam kabut.
Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang dingin. Risa memegang perkamen dan surat-surat itu erat-erat. Beban kebenaran kini ada di pundaknya. Berastagi Lama tak lagi sunyi. Ia menyimpan rahasia kelam.
Risa tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Namun satu hal pasti: jiwa Harun kini telah menemukan kedamaian. Atau setidaknya, awal dari kedamaian.
Namun, apakah desa ini akan pernah benar-benar damai? Bayangan Harun mungkin telah pergi, tetapi bayangan kebenaran yang mengerikan itu akan selamanya menghantui Berastagi Lama.
Kabut kembali menebal, menyelimuti reruntuhan dan rahasia yang baru terungkap. Risa berdiri sendirian di tengah hutan, memegang bukti sebuah kejahatan yang tersembunyi puluhan tahun. Berastagi Lama akan terus bernapas dengan cerita-cerita yang belum usai.





