Di jantung Jawa Timur, terhampar luas Perkebunan Kopi Kalibendo. Hijau royo-royo, dengan udara pegunungan yang sejuk. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan kisah-kisah yang membekukan darah. Bisikan kuno tentang sebuah bayangan tanpa wajah.
Ardi, seorang manajer muda yang ambisius, tiba dengan semangat membara. Ia ditugaskan mengelola sektor perkebunan yang paling terpencil. Optimismenya membentengi diri dari desas-desus yang beredar. Kisah-kisah horor hanyalah mitos pekerja tua, pikirnya.
Minggu-minggu pertama berjalan normal, atau setidaknya begitu ia mencoba percaya. Namun, keanehan mulai merayap pelan. Bau tanah basah bercampur melati, padahal tak ada melati di sana. Suhu ruangan tiba-tiba anjlok tanpa sebab jelas.
Seringkali, Ardi merasa diawasi. Dari balik jendela kantornya, dari sela-sela pohon kopi yang rapat. Perasaan itu begitu kuat, seolah ada mata tak terlihat menatapnya. Ia mencoba menepisnya sebagai halusinasi akibat kelelahan.
Pak Budi, mandor perkebunan yang sudah sepuh, sering menatapnya prihatin. “Hati-hati, Den Ardi,” bisiknya suatu sore. “Perkebunan ini punya penunggu. Dia tidak suka diganggu.” Ardi hanya tersenyum maklum.
Suatu malam, badai besar melanda Kalibendo. Listrik padam, menyisakan kegelapan pekat. Ardi terjaga oleh suara ketukan pelan di pintu kamarnya. Satu, dua, tiga kali, berirama lambat.
Ia menahan napas, jantungnya berpacu. Ketukan itu terdengar lagi, kini lebih dekat, seolah di ambang pintu. Ardi meraih senter, tangannya gemetar. Ia mencoba berpikir logis, mungkin dahan pohon tertiup angin.
Dengan keberanian yang dipaksakan, Ardi membuka pintu. Gelap. Hanya siluet pohon-pohon yang menari diterpa angin. Namun, sekelebat pandangan menangkap sesuatu. Sebuah bentuk tinggi, gelap pekat, berdiri di ujung koridor.
Bentuk itu tidak bergerak, hanya berdiri diam. Ardi mengarahkan senternya, namun cahaya seolah tertelan oleh kegelapannya. Yang paling mengerikan, bentuk itu tidak memiliki wajah. Hanya rongga kosong yang menghisap cahaya.
Napas Ardi tercekat. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tak bisa berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan. Dalam sekejap mata, bayangan itu lenyap, seolah ditarik kembali ke dalam kegelapan.
Pagi harinya, Ardi mencoba menceritakan kejadian itu kepada Pak Budi. Mandor tua itu hanya mengangguk pelan, tatapan matanya sarat kesedihan. “Dia menampakkan diri lagi, Den?” tanyanya lirih.
Pak Budi kemudian bercerita tentang legenda setempat. Bertahun-tahun lalu, seorang pekerja kebun, sebut saja bernama Marni, meninggal secara tragis di perkebunan itu. Ia dituduh mencuri dan dihakimi massa.
Jasadnya ditemukan tergantung di pohon kopi tertua, tanpa ada yang berani mendekat. Konon, arwahnya tidak tenang. Ia terus gentayangan, mencari keadilan, atau sekadar pengakuan atas penderitaannya.
Sejak saat itu, Ardi tak lagi bisa tidur nyenyak. Bayangan tanpa wajah itu mulai sering muncul. Kadang di balik pohon, kadang di sudut gudang penyimpanan. Selalu hanya siluet hitam, tanpa detail, tanpa ekspresi.
Kehadirannya selalu diiringi dingin yang menusuk. Bukan dingin alami pegunungan, melainkan dingin yang membekukan jiwa. Ardi mulai merasa tertekan, produktivitasnya menurun drastis. Ia merasa hampir gila.
Ia mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Marni. Menggali arsip lama, bertanya kepada penduduk desa. Namun, setiap kali nama Marni disebut, wajah-wajah berubah pucat, dan percakapan terhenti.
Ada semacam ketakutan kolektif yang menyelimuti nama itu. Seolah menyebutnya saja sudah mengundang malapetaka. Ardi merasa ada sesuatu yang disembunyikan, sebuah kebenaran yang terkubur dalam-dalam.
Suatu siang, saat Ardi memeriksa area perkebunan, ia menemukan sebuah gubuk tua yang tersembunyi. Bangunannya reot, dikelilingi semak belukar. Aura suram begitu pekat di sana.
Ada sebuah lubang di tanah, ditutupi batu-batu. Ardi merasa dorongan aneh untuk menggali. Setelah beberapa usaha, ia menemukan sebuah kotak kayu lapuk di dalamnya. Debu tebal menyelimutinya.
Di dalam kotak itu, Ardi menemukan beberapa barang pribadi. Sebuah sisir tua, jepit rambut dari tulang, dan sehelai kain batik yang sudah lusuh. Ada juga secarik kertas kuning dengan tulisan tangan yang hampir pudar.
“Aku bersumpah tidak mencuri. Aku difitnah. Semoga kebenaran terungkap.” Tulisan itu milik Marni. Hati Ardi mencelos. Rasa bersalah dan penderitaan Marni terpancar jelas dari tulisan itu.
Malam harinya, Ardi memutuskan kembali ke gubuk tua itu. Ia membawa lilin dan sebuah keranjang kecil berisi bunga melati. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menenangkan arwah Marni.
Ia duduk di depan lubang, menyalakan lilin, dan menaburkan bunga. “Marni,” katanya pelan, suaranya bergetar. “Aku tahu kau tidak bersalah. Aku percaya padamu. Semoga kau tenang.”
Tiba-tiba, suhu di sekelilingnya anjlok drastis. Lilin-lilin berkedip liar, nyaris padam. Sebuah bayangan hitam pekat muncul dari balik pohon, bergerak mendekat dengan kecepatan yang menakutkan.
Bayangan itu berhenti tepat di depannya. Lebih besar, lebih gelap dari sebelumnya. Rongga wajahnya seolah menatapnya, meskipun tak ada mata. Ardi merasakan ketakutan luar biasa, namun ia tidak lari.
Ia memejamkan mata, menggenggam erat kain batik Marni. “Aku percaya padamu,” bisiknya lagi, air mata menetes. “Kau tidak sendirian lagi.” Ia merasakan sentuhan dingin, seperti embun pagi, di tangannya.
Ketika Ardi membuka mata, bayangan itu masih ada. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Gelapnya tidak lagi menghisap, melainkan memancarkan kesedihan yang mendalam. Seolah ada beban yang terangkat.
Perlahan, bayangan itu mulai memudar. Bukan lenyap secara tiba-tiba, melainkan meluruh, seperti asap yang terbawa angin. Tinggal hanya dingin yang perlahan menghangat.
Sejak malam itu, Ardi tak pernah lagi melihat bayangan tanpa wajah di Kalibendo. Dingin yang menusuk berganti dengan kesejukan alami. Perasaan diawasi pun menghilang, digantikan oleh ketenangan.
Namun, Ardi tahu, Marni mungkin belum sepenuhnya pergi. Ia hanyalah beristirahat, atau mungkin telah menemukan sedikit kedamaian. Kisahnya menjadi pengingat pahit tentang ketidakadilan dan penderitaan.
Ardi menyelesaikan masa tugasnya di Kalibendo dengan hati yang berbeda. Ia tak lagi seorang skeptis. Ia telah menyaksikan sendiri bahwa ada hal-hal di dunia ini yang melampaui logika.
Perkebunan Kalibendo kembali tenteram, setidaknya di permukaan. Namun, bagi Ardi, setiap embusan angin, setiap bayangan pohon yang menari, selalu membawa bisikan dari masa lalu. Kisah Marni, si bayangan tanpa wajah, akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwa Kalibendo.
Dan ia tahu, di antara rimbunnya pohon kopi, di bawah selimut kabut pagi, mungkin saja ada mata tak terlihat yang masih mengawasi. Menunggu keadilan yang sejati, di Perkebunan Kalibendo yang misterius.




