Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Jangan Berdiri Terlalu Dekat Air Terjun Ini, Suara Itu Bisa Membuatmu Lupa Jalan Pulang

9
×

Jangan Berdiri Terlalu Dekat Air Terjun Ini, Suara Itu Bisa Membuatmu Lupa Jalan Pulang

Share this article

Jangan Berdiri Terlalu Dekat Air Terjun Ini, Suara Itu Bisa Membuatmu Lupa Jalan Pulang

Bisikan dari Air Terjun Cibeureum: Misteri Suara-suara yang Memanggil Jiwa

Desas-desus tentang Air Terjun Cibeureum selalu menggema.
Bukan hanya keindahan alamnya yang memukau.
Konon, air terjun itu menyimpan sebuah rahasia kelam.
Sebuah bisikan tak kasat mata yang mampu menarik jiwa.

Arif, seorang jurnalis investigasi berpengalaman.
Pria pragmatis yang tak percaya takhayul atau mitos.
Justru tertarik pada legenda Cibeureum yang misterius.
Ia ingin membongkar kebenaran di baliknya.

Ia telah mendengar kisah-kisah aneh.
Tentang para pendaki yang menghilang tanpa jejak.
Atau kembali dengan tatapan kosong penuh ketakutan.
Semua selalu dikaitkan dengan bisikan dari air terjun.

Peralatan lengkap ia siapkan.
Kamera, perekam suara, dan perlengkapan mendaki.
Tekadnya bulat untuk mengungkap misteri ini.
Meskipun ada rasa cemas yang tak bisa ia sangkal.

Perjalanan menuju Cibeureum tak mudah.
Hutan lebat menyelimuti jalur setapak.
Udara lembap dan sunyi mencekam.
Hanya suara gesekan daun dan serangga.

Pohon-pohon tua menjulang tinggi perkasa.
Akar-akar raksasa melilit tanah basah.
Seolah alam sendiri enggan dilewati siapa pun.
Bayangan menari-nari di setiap sudut pandang.

Semakin dalam Arif melangkah.
Semakin pekat pula aura misterius yang menyelimuti.
Sinar matahari sulit menembus kanopi hutan.
Menciptakan kegelapan yang abadi.

Arif merasakan bulu kuduknya meremang.
Sensasi aneh merayapi kulitnya perlahan.
Seolah ada yang mengawasinya dari kejauhan.
Pandangan samar dari balik pepohonan tua.

Ia mengabaikan perasaan itu.
Menganggapnya hanya efek psikologis.
Akibat sugesti dari cerita-cerita yang ia dengar.
Ia terus melangkah maju tanpa ragu.

Namun, semakin dekat ke tujuan.
Suara gemuruh air terjun mulai terdengar jelas.
Tetapi di antara gemuruh itu, sesuatu lain muncul.
Bisikan tipis, nyaris tak terdengar oleh telinga.

Seperti hembusan angin yang membentuk kata-kata.
Arif menghentikan langkahnya tiba-tiba.
Ia mencoba memfokuskan pendengarannya.
Apakah hanya imajinasinya saja yang bermain?

Atau ada yang benar-benar berbicara padanya?
Bisikan itu datang lagi, lebih jelas kini.
Sebuah melodi lembut yang memikat hati.
Seolah memanggil namanya berulang kali.

“Datanglah… datanglah…”
Suara itu bergema di telinganya.
Seolah berasal dari dalam pikirannya sendiri.
Bukan dari luar, tapi langsung ke dalam jiwa.

Arif menggelengkan kepalanya keras-keras.
Ia mencubit lengannya, mencoba menyadarkan diri.
“Ini pasti kelelahan,” gumamnya pelan.
“Atau hanya suara air yang menyerupai bisikan.”

Ia mempercepat langkahnya, ingin segera tiba.
Mencapai sumber suara yang membingungkan itu.
Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.
Ia merasa tertarik oleh kekuatan tak terlihat.

Kabut tipis mulai menyelimuti jalur.
Udaranya dingin dan menusuk tulang.
Kelembapan menempel di pakaiannya.
Hingga napasnya pun terasa berat.

Bisikan itu semakin jelas kini.
Mengajak, memanggil, seperti melodi kuno.
Nama-nama asing, janji-janji manis.
Terdengar dari segala arah, membingungkan.

Ia mulai merasa pusing dan mual.
Keringat dingin membasahi punggung Arif.
Napasnya mulai memburu tak beraturan.
Perasaan takut bercampur rasa penasaran yang aneh.

Ia merasa dipaksa untuk melangkah maju.
Seolah ada tali tak kasat mata yang menariknya.
Menuju ke arah gemuruh air yang semakin keras.
Menuju ke dalam jantung misteri Cibeureum.

Akhirnya, ia tiba di hadapan Cibeureum.
Air terjun raksasa itu menjulang perkasa.
Deru airnya memekakkan telinga.
Kabut tebal menyelimuti dasarnya.

Pelangi samar menari di atas air.
Menciptakan pemandangan yang sureal.
Namun, keindahannya memudar di mata Arif.
Tergeser oleh kengerian yang menyelimuti.

Bisikan itu kini seperti raungan.
Ribuan suara bersahutan di benaknya.
Membentuk paduan suara yang mengerikan.
Memenuhi setiap rongga otaknya.

Suara-suara memohon, merayu, dan mengancam.
Menceritakan kisah-kisah tragis.
Tentang mereka yang pernah tersesat di sini.
Dan tak pernah kembali lagi ke dunia nyata.

“Bergabunglah bersama kami,” bisik suara itu.
“Lepaskan bebanmu, temukan kedamaian.”
“Keindahan abadi menanti di sini.”
“Jadilah bagian dari keabadian air.”

Arif merasakan kepalanya berdenyut hebat.
Pandangannya mulai kabur tak jelas.
Bisikan itu menuntut satu hal saja.
Agar ia menyerahkan dirinya seutuhnya.

Merasakan keinginan tak tertahankan.
Untuk melompat ke dalam pusaran air di bawah.
Bergabung dengan para arwah tersesat.
Menjadi bagian dari bisikan abadi air terjun.

Bayangan-bayangan melintas di matanya.
Wajah-wajah pucat, mata kosong tanpa kehidupan.
Mereka mengulurkan tangan ke arahnya.
Mengajaknya masuk ke dalam kegelapan.

Dengan sisa-sisa kesadarannya yang terakhir.
Arif berusaha melawan tarikan itu sekuat tenaga.
Ia menggigit bibirnya hingga berdarah segar.
Memaksakan kakinya untuk berbalik dan lari.

Setiap langkah terasa berat sekali.
Seperti ada beban tak terlihat yang menahannya.
Bisikan itu semakin keras, menjerit-jerit.
Mencoba menariknya kembali ke jurang maut.

Langkah gontai, pandangan kosong, ia berlari.
Menjauh dari gemuruh yang memanggilnya.
Keluar dari kabut yang menyesakkan.
Menjauh dari bisikan yang menghantui.

Ia berlari sekuat tenaga menjauh dari sana.
Bisikan itu masih mengejarnya tanpa henti.
Menggema di setiap sudut pikirannya yang kalut.
Hingga ia berhasil keluar dari hutan gelap.

Mencapai jalan setapak yang aman.
Melihat sinar matahari kembali menyapa.
Namun, ia tahu ada sesuatu yang berubah.
Di dalam dirinya, selamanya dan tak akan kembali.

Arif kembali ke peradaban manusia.
Tapi ia bukan Arif yang dulu lagi.
Matanya kini menyimpan kengerian yang dalam.
Dan telinganya selalu mendengar bisikan.

Bisikan lembut, memanggil-manggil namanya.
Terutama saat malam tiba menyelimuti.
Suara-suara dari Cibeureum yang mengerikan.
Yang tak akan pernah hilang dari benaknya.

Ia tak pernah lagi menulis artikel.
Tentang misteri Air Terjun Cibeureum yang mengerikan.
Tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan.
Kengerian yang ia alami sendirian di sana.

Ia mencoba menjelaskan kepada rekan-rekannya.
Tentang suara-suara yang menghantuinya.
Namun, mereka hanya menatapnya dengan iba.
Mengira ia telah kehilangan akal sehatnya.

Beberapa orang melihatnya berjalan sendirian.
Menatap kosong ke arah timur yang jauh.
Seolah ingin kembali ke tempat itu.
Ke tempat bisikan itu berasal.

Cibeureum tetap berdiri megah seperti biasa.
Menyimpan rahasia yang dalam di balik tirai airnya.
Dan sesekali, para pendaki yang nekat.
Melaporkan mendengar bisikan aneh dari sana.

Sebuah melodi yang memikat jiwa yang rapuh.
Membisikkan nama-nama mereka satu per satu.
Mengajak mereka untuk bergabung selamanya.
Dengan kumpulan arwah di dasar air terjun.

Misteri Cibeureum tak pernah terpecahkan.
Ia hanya menjadi peringatan bagi siapa pun.
Bahwa ada kekuatan di luar nalar manusia.
Yang sebaiknya tak pernah diganggu sama sekali.

Dan bisikan itu, ia masih ada di sana.
Menunggu mangsa selanjutnya yang berani.
Di antara gemuruh air dan kabut tebal.
Mengajak siapa pun yang berani mendekat untuk mati.

Bisikan dari Air Terjun Cibeureum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *