Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Guru-Guru Melarang Mendekat ke Tembok Itu… Sekarang Aku Tahu Alasannya

9
×

Guru-Guru Melarang Mendekat ke Tembok Itu… Sekarang Aku Tahu Alasannya

Share this article

Guru-Guru Melarang Mendekat ke Tembok Itu… Sekarang Aku Tahu Alasannya

Bisikan dari Tembok Sekolah

Sekolah Menengah Atas Bhakti Mulia berdiri kokoh di ujung kota, bangunannya tua dengan arsitektur kolonial yang megah. Dinding-dindingnya yang kusam menyimpan ribuan cerita, tawa, dan tangis siswa selama puluhan tahun. Namun, bagi Anya, murid kelas XI yang pendiam, dinding-dinding itu menyimpan sesuatu yang lain: bisikan.

Bisikan itu mulanya samar, seperti desiran angin yang melewati celah jendela. Namun, seiring waktu, ia menjadi lebih jelas, lebih mendesak, dan seringkali terdengar hanya saat Anya sendirian di lorong-lorong sepi setelah jam pelajaran usai. Bukan kata-kata yang jelas, melainkan gema dari sebuah kesedihan yang dalam.

Anya adalah gadis yang cenderung menyendiri, gemar membaca di perpustakaan lama yang jarang dikunjungi. Justru kesendirian inilah yang membuatnya lebih peka terhadap anomali di Bhakti Mulia. Ia sering merasa ada sepasang mata tak terlihat yang mengawasinya dari balik bayangan.

Suatu sore, saat ia sedang menyelesaikan tugas di ruang kelas yang kosong, bisikan itu berubah. Bukan lagi desiran, melainkan erangan panjang yang dingin, seolah datang dari inti bumi. Jantung Anya berdegup kencang, merayapi dadanya. Ia yakin itu bukan imajinasinya.

Bisikan itu seolah memanggil, membimbingnya menuju bagian sekolah yang paling usang: sayap timur yang kini tak terpakai. Jendela-jendela di sana pecah, ditumbuhi lumut, dan udaranya terasa pengap, dingin mencekam bahkan di siang bolong.

Dengan langkah ragu, Anya memasuki koridor gelap itu. Debu tebal menyelimuti lantai dan kursi-kursi yang terbalik. Aroma apak dan kelembapan menusuk hidungnya. Bisikan itu kini lebih kuat, seolah meratap dari setiap celah dinding yang retak.

Ia mengikuti suara itu, yang membawanya ke sebuah ruang kelas di ujung koridor. Papan tulisnya masih tertulis coretan kapur yang nyaris tak terbaca, bertuliskan inisial “R.S.” dan sebuah tanggal samar: “1987”.

Di sudut ruangan, sebuah meja guru terbalik. Di bawahnya, Anya melihat sesuatu yang berkilau. Itu adalah liontin perak berbentuk kunci, yang tersembunyi di balik tumpukan buku tua yang lapuk. Jantungnya berdebar, bukan hanya karena ketegangan, tetapi juga karena rasa ingin tahu yang tak tertahankan.

Malam harinya, Anya tak bisa tidur. Liontin kunci itu terasa dingin di telapak tangannya. Ia mencoba mencari tahu tentang inisial “R.S.” dan tahun 1987. Ia ingat pernah mendengar desas-desus lama tentang seorang siswi yang menghilang dari Bhakti Mulia.

Keesokan harinya, Anya mengunjungi perpustakaan kota. Ia mencari arsip koran lama. Setelah berjam-jam, ia menemukan sebuah berita kecil dari tahun 1987. “Rina Sari, Siswi SMA Bhakti Mulia, Diduga Kabur dari Rumah.”

Berita itu singkat dan tidak merinci. Rina Sari, seorang siswi berprestasi, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Pihak sekolah dan keluarga menduga ia kabur. Kasus itu dengan cepat ditutup, seolah tak pernah terjadi.

Anya kembali ke sekolah dengan pikiran kalut. Liontin kunci ini, inisial “R.S.”, dan bisikan yang tak henti-hentinya. Semua ini terlalu kebetulan untuk diabaikan. Ia merasa Rina Sari tidak kabur, melainkan ada sesuatu yang lebih gelap terjadi.

Ia memutuskan untuk mencari Pak Budi, penjaga sekolah yang sudah bekerja puluhan tahun di Bhakti Mulia. Pak Budi adalah sosok tua yang pendiam, sering terlihat menyapu halaman dengan tatapan kosong. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang masih hidup dan berada di sekolah sejak tahun 1987.

Anya menemukan Pak Budi di taman belakang, sedang memangkas semak mawar. Ia bertanya hati-hati tentang Rina Sari. Wajah Pak Budi menegang. Tangannya yang keriput berhenti memegang gunting. Matanya menatap Anya dengan campuran ketakutan dan kesedihan.

“Rina Sari… gadis pintar itu,” gumam Pak Budi, suaranya serak. “Jangan pernah mengungkit namanya, Nak. Dinding-dinding ini punya telinga. Dan mulut.”

Anya merasakan hawa dingin merayapi punggungnya. “Liontin ini, Pak,” katanya, menunjukkan liontin kunci. “Apakah ini milik Rina?”

Mata Pak Budi melebar. Ia mengambil liontin itu dengan gemetar, mengusapnya perlahan. “Ini… ini liontin yang selalu dipakainya. Dia bilang itu adalah kunci rahasianya.”

“Kunci rahasia apa, Pak?” desak Anya.

Pak Budi menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Sesuatu yang tersembunyi di balik dinding-dinding ini.”

“Apa yang dia lihat, Pak? Kenapa dia menghilang?”

“Mereka membungkamnya, Nak. Mereka tidak ingin kebenaran terungkap,” bisik Pak Budi, suaranya nyaris tak terdengar. “Dinding-dinding ini… mereka bersaksi, tapi tak ada yang mendengarkan.”

Ia mengembalikan liontin itu ke tangan Anya. “Pergilah, Nak. Jangan terlalu dalam menggalinya. Bahaya. Tapi jika kau harus tahu… cari tempat yang paling dingin. Yang paling gelap. Di sana, rahasia itu bersemayam.”

Kata-kata Pak Budi menghantui Anya. “Tempat yang paling dingin. Yang paling gelap.” Ia teringat bisikan yang selalu membawanya ke sayap timur yang terbengkalai. Dan ia teringat sebuah cerita kuno tentang ruang bawah tanah rahasia yang konon ada di bawah sayap itu.

Malam itu, dengan senter dan liontin kunci di tangan, Anya kembali ke sekolah. Udara terasa lebih berat, seolah dipenuhi oleh arwah-arwah yang bergentayangan. Bisikan-bisikan itu kini tak lagi meratap, melainkan mendesak, seolah membimbingnya.

Ia memasuki sayap timur yang gelap gulita. Bisikan itu membawanya ke bagian belakang ruang kelas yang dulu ditemukan inisial R.S. Di sana, di balik rak buku tua yang bergeser, Anya melihat celah kecil di dinding.

Celah itu terlalu sempit untuk dilewati, namun dari dalamnya mengalir udara dingin yang menusuk. Ia merasakan bisikan itu semakin kuat, seolah ingin menariknya masuk. Ia meraba-raba dinding, mencari sesuatu.

Tangan Anya menyentuh sebuah lekukan kecil. Dengan sedikit dorongan, sebuah batu bata bergeser, memperlihatkan sebuah lubang yang lebih besar. Di baliknya, ada sebuah ruang kosong yang gelap, berbau apek, dan lembap.

Ia menyalakan senternya. Cahaya menerangi sebuah tangga sempit yang menurun ke dalam kegelapan. Inilah tempat yang Pak Budi maksud. Inilah tempat yang paling dingin, paling gelap.

Anya memberanikan diri menuruni tangga. Setiap langkahnya menimbulkan gema yang menakutkan. Udara di bawah sana jauh lebih dingin, seolah ia sedang memasuki makam yang tak terjamah. Bisikan-bisikan itu kini mengelilinginya, lebih jelas, lebih mendesak.

Ia mencapai dasar. Ruangan itu kecil, hanya sekitar dua kali dua meter. Di tengah ruangan, tergeletak sebuah kotak kayu tua yang tertutup debu. Di atas kotak itu, terdapat sebuah tulisan yang diukir kasar: “R.S. – 1987”.

Jantung Anya berpacu. Ia membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ia menemukan sebuah buku harian lusuh dan beberapa lembar surat yang menguning. Inilah “kunci rahasia” Rina Sari.

Anya mulai membaca buku harian itu. Tulisan tangan Rina yang rapi menceritakan kegelisahannya. Ia mengetahui rahasia gelap yang melibatkan beberapa petinggi sekolah, termasuk kepala sekolah saat itu. Sebuah skandal keuangan yang besar, dan Rina secara tak sengaja menemukan buktinya.

Surat-surat itu berisi ancaman yang ia terima. Rina mencoba mengungkapkan kebenaran, namun tak ada yang percaya padanya. Ia mencoba kabur, tapi mereka terlalu cepat.

Paragraf terakhir dalam buku harian itu sangat mengerikan. Rina menulis bahwa ia disekap di ruang rahasia ini, di bawah sayap timur. Ia mendengar langkah kaki di atas, suara-suara yang merencanakan kepergiannya. “Mereka akan membungkamku selamanya,” tulisnya. “Dinding-dinding ini akan menjadi saksi bisu.”

Bisikan-bisikan di sekitar Anya kini berubah. Bukan lagi ratapan kesedihan, melainkan jeritan keputusasaan yang tertahan. Ia menyadari bahwa ia sedang berdiri di tempat di mana Rina Sari menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di atas. Bukan bisikan, melainkan langkah kaki yang nyata. Jantung Anya mencelos. Seseorang datang. Apakah mereka tahu ia ada di sini?

Ia bersembunyi di balik tumpukan kayu tua. Langkah kaki itu mendekat, lalu berhenti tepat di atasnya. Sebuah suara berat terdengar, “Sepertinya ada yang menyusup ke sini.” Itu suara Pak Arman, kepala sekolah saat ini.

Ketegangan mencengkeram Anya. Ia menahan napas. Ia mendengar suara-suara lain, beberapa guru dan seorang penjaga baru. Mereka sedang memeriksa sayap timur yang terbengkalai.

“Pak Budi bilang dia melihat ada yang sering berkeliaran di sini,” kata Pak Arman. “Kita harus pastikan tidak ada yang menemukan apapun.”

Anya mengerti. Pak Budi telah mencoba melindunginya, namun pada saat yang sama, ia juga mengirim sinyal bahaya. Dinding-dinding sekolah ini masih menyimpan rahasia, dan ada orang-orang yang bertekad untuk menjaganya tetap terkubur.

Dengan hati-hati, Anya menunggu hingga suara-suara itu menjauh. Ketika hening kembali, ia keluar dari persembunyiannya. Ia harus mengungkapkan kebenaran ini. Demi Rina Sari, dan demi semua siswa yang pernah melangkah di lorong-lorong Bhakti Mulia.

Anya menyelinap keluar dari ruang rahasia itu, membawa kotak kayu dan buku harian Rina. Bisikan-bisikan itu kini terasa berbeda. Bukan lagi bisikan kesedihan, melainkan bisikan terima kasih, dan harapan.

Keesokan harinya, dengan bantuan seorang jurnalis investigasi yang dihubungi Anya secara anonim, kisah Rina Sari akhirnya terungkap. Bukti dari buku harian dan surat-surat itu tak terbantahkan. Skandal keuangan sekolah di masa lalu, dan upaya keji untuk membungkam seorang siswi.

Kasus ini mengguncang kota. Beberapa mantan petinggi sekolah yang masih hidup ditangkap. Kepala sekolah saat itu, yang sudah pensiun, didakwa atas kejahatan yang tak termaafkan. Bhakti Mulia menjalani reformasi besar-besaran, membersihkan nama dan sejarahnya.

Dinding-dinding Bhakti Mulia kini terasa lebih ringan. Bisikan-bisikan itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi mereka tidak lagi membawa beban kesedihan. Terkadang, Anya masih mendengar desiran samar, namun kini terasa seperti napas lega, atau mungkin, bisikan damai dari arwah yang akhirnya menemukan ketenangan.

Kebenaran, betapapun pahitnya, selalu menemukan jalannya untuk terungkap. Dan kadang, kebenaran itu dibisikkan oleh dinding-dinding tua yang selama ini menjadi saksi bisu dari sebuah misteri yang terkubur dalam-dalam.

Guru-Guru Melarang Mendekat ke Tembok Itu… Sekarang Aku Tahu Alasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *