Bisikan Memanggil Dari Lembah
Arga, seorang etnobotanis muda dengan ketertarikan pada legenda kuno, selalu tergelitik oleh kisah Lembah Sunyi. Bersembunyi jauh di jantung hutan hujan Kalimantan, lembah itu bukan hanya rumah bagi flora endemik, tetapi juga bisikan-bisikan misterius. Penduduk setempat menghindari tempat itu, menyebutnya terkutuk, sarang bagi roh-roh yang haus.
Legenda turun-temurun mengisahkan suara-suara aneh, seperti gumaman dari kedalaman bumi, yang konon menarik orang masuk dan tak pernah melepaskan mereka. Arga, dengan pikiran ilmiahnya, menganggap itu hanya cerita rakyat, hasil imajinasi liar dari isolasi dan ketakutan. Namun, rasa penasaran itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Setelah berbulan-bulan persiapan dan meneliti naskah-naskah tua, Arga akhirnya memulai ekspedisinya. Ia ditemani oleh Pak Budi, seorang pemandu lokal yang enggan, yang terus-menerus memperingatkan tentang "penghuni" lembah. Pak Budi hanya mau menemani sampai batas luar, menolak melangkah lebih jauh.
Langkah pertama Arga ke dalam Lembah Sunyi terasa seperti memasuki dunia lain. Udara di sana lebih dingin, lebih lembap, dan sunyi yang mencekam. Pepohonan menjulang tinggi, kanopinya menutupi langit, menciptakan senja abadi di bawahnya.
Jalur setapak yang samar-samar nyaris tak terlihat, ditelan oleh lumut dan akar-akar raksasa. Arga berjalan perlahan, telinganya waspada, merasakan setiap hembusan angin yang lewat. Ada perasaan aneh, seolah ia tidak sendirian.
Kemudian, bisikan itu datang. Awalnya, samar, seperti desauan angin yang melewati dedaunan. Namun, Arga tahu itu bukan angin. Ada irama di dalamnya, sebuah pola yang terlalu kompleks untuk sekadar alam.
Bisikan itu semakin jelas saat ia melangkah lebih dalam, seolah lembah itu sendiri mulai berbicara. Kata-kata yang tidak ia pahami, namun mengandung nada yang aneh, seperti memanggil. Itu adalah suara yang merayap di kulitnya, membuat bulu kuduknya merinding.
Malam pertama di lembah adalah siksaan. Api unggun kecilnya adalah satu-satunya sumber kehangatan di tengah kegelapan pekat. Bisikan itu kini lebih kuat, lebih pribadi, seolah tepat di samping telinganya.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya kelelahan atau imajinasi. Namun, suara itu terlalu nyata, terlalu jelas. Kadang-kadang, ia bahkan bersumpah mendengar namanya disebut, dieja dengan aksen asing yang mengerikan.
Siang berikutnya, Arga melanjutkan eksplorasinya, bertekad menemukan sumber bisikan itu. Ia berjalan menuju bagian lembah yang ditunjukkan dalam peta kuno, area yang ditandai dengan simbol peringatan. Semakin dekat, semakin kuat bisikan itu.
Ia menemukan reruntuhan batu kuno, nyaris tertelan oleh vegetasi. Itu adalah struktur megalitikum yang aneh, ukiran-ukiran yang tidak dikenal menghiasi permukaannya. Seolah-olah peradaban yang terlupakan pernah hidup di sini.
Di antara reruntuhan itu, bisikan itu mencapai puncaknya. Sekarang terdengar seperti paduan suara, ribuan suara yang berbisik sekaligus, dalam bahasa yang tidak dikenal. Namun, ada urgensi yang tidak salah lagi dalam setiap gumaman.
Arga merasakan sakit kepala yang menusuk, seolah bisikan itu mencoba menembus pikirannya. Ia mencoba merekamnya dengan alatnya, tetapi yang terdengar hanyalah desisan statis, seolah perangkat itu menolak menangkap suara itu.
Malam kedua membawa kengerian yang lebih besar. Bisikan itu tidak lagi hanya suara, tetapi terasa seperti kehadiran. Arga merasa diawasi, setiap gerakannya diamati oleh sesuatu yang tak terlihat di antara pepohonan.
Ia tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan bergerak di kegelapan, mendengar gumaman-gumaman yang kini terdengar seperti ancaman. Bisikan itu seolah mencoba memecah kewarasannya.
Ia memutuskan untuk mengikuti bisikan itu. Dorongan yang tak tertahankan, sebuah rasa ingin tahu yang menakutkan, menariknya ke jantung reruntuhan. Bisikan itu kini lebih fokus, menunjuk ke sebuah gua sempit yang tersembunyi.
Gua itu gelap, lembap, dan berbau tanah serta sesuatu yang busuk. Arga menyalakan senternya, sinarnya menari di dinding batu. Bisikan itu berdengung di telinganya, seolah ia telah mencapai ambang batas sesuatu.
Di dinding gua, ada lebih banyak ukiran aneh, tetapi kali ini, ada simbol yang lebih besar, lebih dominan. Sebuah spiral yang berputar-putar, dikelilingi oleh garis-garis yang menyerupai tentakel atau akar.
Saat ia menatap simbol itu, bisikan itu berubah. Tidak lagi hanya gumaman, tetapi teriakan melengking, penuh kemarahan dan keputusasaan. Itu adalah suara yang tidak manusiawi, dan itu menusuk ke dalam jiwanya.
Udara di dalam gua menjadi dingin, sangat dingin, dan Arga melihat embusan napasnya sendiri. Tiba-tiba, senternya berkedip, lalu padam. Ia terjerumus ke dalam kegelapan total, hanya ditemani oleh suara-suara mengerikan itu.
Bisikan itu kini seperti lolongan, diiringi oleh suara menyeret yang berat. Arga merasakan kehadirannya, sangat dekat, bernapas di lehernya. Ia bukan lagi ilusi; itu adalah sesuatu yang nyata, sesuatu yang hidup.
Panik menguasainya. Ia tersandung mundur, meraba-raba dinding gua yang licin. Bisikan itu memerintahkannya, mengancamnya, dalam bahasa yang ia mulai pahami, bukan dengan otaknya, tetapi dengan ketakutannya.
"Kau milik kami," bisik suara-suara itu. "Kau akan tinggal di sini."
Arga berteriak, suaranya tenggelam oleh raungan dari bisikan itu. Ia menemukan celah, sebuah lubang kecil yang ia kira adalah pintu masuk. Dengan kekuatan terakhirnya, ia merangkak keluar, tanpa peduli pada goresan di tubuhnya.
Ia tidak melihat apa yang ada di dalam gua, hanya merasakan kehadirannya yang dingin dan berat. Begitu ia keluar, ia berlari, tidak pernah menoleh ke belakang, suara-suara itu masih mengejarnya.
Ia tersandung di akar-akar pohon, jatuh berkali-kali, namun ia bangkit kembali. Darah mengalir dari luka-luka di lengannya, tetapi ia tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah teror murni.
Ia tidak berhenti sampai ia mencapai batas luar lembah, tempat ia bertemu kembali dengan Pak Budi yang ketakutan. Pria tua itu menatapnya dengan mata terbelalak, melihat Arga yang pucat pasi dan gemetaran.
Arga tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk dan memberi isyarat untuk pergi. Mereka berjalan kembali dalam keheningan yang mencekam, suara-suara lembah itu masih terngiang di telinga Arga.
Beberapa minggu kemudian, Arga berada di rumah sakit, didiagnosis dengan gangguan stres pasca-trauma berat. Ia tidak bisa tidur tanpa mimpi buruk, dan bisikan itu… bisikan itu masih ada.
Mereka tidak lagi berteriak, tetapi menggumam. Bisikan itu kini menjadi bagian dari dirinya, suara-suara yang menariknya kembali, yang memanggilnya kembali ke lembah.
Ia tahu ia tidak akan pernah kembali. Namun, ia juga tahu bahwa bagian dari dirinya telah tertinggal di Lembah Sunyi, dan bagian dari Lembah Sunyi telah datang bersamanya.
Misteri bisikan itu tetap tak terpecahkan. Apa yang ada di dalam gua? Makhluk apa yang bersembunyi di balik suara-suara itu? Apakah itu roh kuno, entitas tak dikenal, atau hanya ilusi yang mematikan?
Arga tidak memiliki jawaban. Ia hanya memiliki bisikan itu, pengingat abadi akan panggilan mengerikan dari lembah, panggilan yang mungkin suatu hari nanti, akan ia jawab.





