Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Kamera Menangkap Gerakan Aneh dari Boneka Tua di Museum Ini

9
×

Kamera Menangkap Gerakan Aneh dari Boneka Tua di Museum Ini

Share this article

 

Tirai malam menyelimuti Museum Van Der Burgh, kuno dan megah. Hanya napas Rian, penjaga malam, yang mengisi keheningan lorong-lorong gelap. Setiap sudut menyimpan sejarah, setiap etalase membisikkan cerita. Namun, ada satu cerita yang tak pernah ia inginkan.

Di sayap barat, tersembunyi dari hiruk pikuk siang, berdiri etalase khusus. Di dalamnya, duduklah Isolde, boneka porselen berambut pirang keemasan. Gaun renda putihnya tampak lusuh dimakan usia, dan mata biru kosongnya menatap lurus ke depan.

Rian selalu merasa ada yang aneh pada Isolde. Bukan hanya tatapannya yang tak berkedip, tapi juga aura dingin yang terpancar. Ia sering merasa diawasi setiap kali melintas di depannya. Sebuah perasaan yang tak bisa ia jelaskan, namun nyata.

Malam itu, hembusan angin dingin menyelinap dari celah jendela. Rian melakukan patroli rutinnya, senter di tangan, membelah kegelapan. Saat ia tiba di sayap barat, bulu kuduknya merinding tanpa sebab.

Ia berhenti di depan etalase Isolde. Dalam cahaya senter, ia bersumpah melihat sesuatu yang berbeda. Kepala boneka itu sedikit miring ke kiri, padahal tadi pagi ia yakin posisinya lurus. Ia menggosok matanya, mengira itu hanya fatamorgana lelah.

“Mungkin aku hanya terlalu lama sendirian di sini,” bisiknya pada diri sendiri. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran aneh itu. Malam masih panjang, dan ia punya banyak lantai untuk diperiksa.

Pagi berikutnya, saat Rian memeriksa laporan, ia kembali ke etalase. Kerudung renda Isolde kini bergeser. Sedikit, hampir tak terlihat, namun jelas bukan posisi semula. Jantungnya berdebar, sedikit lebih cepat dari biasanya.

Ia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin getaran dari jalanan? Atau draf angin yang kuat? Ia bahkan memeriksa kunci etalase, memastikan tidak ada yang masuk. Semuanya aman, terkunci rapat.

Rian mulai merasa gelisah. Malam-malam berikutnya, keanehan Isolde semakin menjadi-jadi. Suatu kali, sebuah miniatur jam kuno yang diletakkan di samping boneka itu, ditemukan tergeletak di lantai etalase. Pecah berkeping-keping.

Ia memeriksa rekaman CCTV. Tidak ada apa-apa. Hanya etalase yang kosong, dan tiba-tiba, jam itu jatuh dengan sendirinya. Sebuah ilusi optik? Atau mungkin ada gangguan teknis pada kamera?

Rian memutuskan untuk berbicara dengan Kepala Kurator, Bapak Anton. Anton adalah pria skeptis, berpegang teguh pada logika dan fakta. Rian menceritakan apa yang ia alami, mencoba terdengar sesantai mungkin.

Anton hanya tersenyum tipis. “Rian, museum ini tua. Banyak suara, banyak angin. Dan mungkin kau terlalu banyak menonton film horor,” katanya sambil tertawa ringan. Rian merasa frustrasi, namun tak bisa membantah.

Namun, kejadian-kejadian itu terus menghantuinya. Ia mulai mencari tahu tentang sejarah Isolde. Sebuah pencarian yang membawanya ke arsip museum yang berdebu. Di sana, di antara gulungan kertas kuning dan buku-buku usang, ia menemukan sesuatu.

Isolde bukan sekadar boneka biasa. Ia adalah peninggalan keluarga Van Der Burgh, pemilik asli museum ini. Boneka itu dibuat khusus untuk Elara, putri tunggal keluarga, yang meninggal muda secara tragis.

Catatan kuno itu menyebutkan, setelah kematian Elara, Isolde mulai menunjukkan keanehan. Benda-benda di kamar Elara sering bergeser. Suara-suara tangisan terdengar di malam hari, dan semua menunjuk pada boneka itu.

Keluarga Van Der Burgh percaya Isolde dirasuki oleh roh Elara yang kesepian. Atau mungkin, sesuatu yang lebih gelap. Mereka akhirnya mengunci Isolde di sebuah peti dan menyimpannya di gudang bawah tanah. Sampai museum dibuka, dan Isolde kembali dipamerkan.

Rian merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Kisah ini tidak masuk akal, namun menjelaskan kegelisahannya. Ia mulai menghubungkan titik-titik, dan sebuah pola menakutkan terbentuk di benaknya.

Malam itu, langit di luar gelap gulita, tanpa bintang. Hujan turun deras, memukul atap museum dengan irama monoton. Rian, dengan senter di tangan, melangkah ragu menuju sayap barat.

Udara di sana terasa lebih dingin, seolah panas tubuhnya disedot habis. Lampu-lampu di lorong berkedip-kedip, menciptakan bayangan menari yang menakutkan. Jantung Rian berdegup tak beraturan, memukul-mukul dadanya.

Ia berhenti di depan etalase Isolde. Senter menyorot langsung ke boneka itu. Dan saat itu juga, ia melihatnya. Isolde tidak duduk seperti biasanya. Ia berdiri tegak, di tengah-tengah etalase.

Gaun renda putihnya tampak sedikit berkibar, seolah ada angin di dalam kotak kaca. Mata biru kosong itu, yang selalu menatap lurus, kini terasa menatap langsung ke arah Rian. Sebuah kilatan aneh muncul di sana, seperti pantulan cahaya yang tak seharusnya ada.

Keringat dingin membasahi pelipis Rian. Kakinya terasa kaku, terpaku di lantai. Ia ingin lari, namun tubuhnya menolak untuk bergerak. Ketakutan yang mencekam melumpuhkannya.

Sebuah suara lirih, seperti bisikan angin di antara dedaunan, mengisi ruangan. Bukan kata-kata yang jelas, hanya desahan panjang. Namun, Rian bersumpah ia mendengar namanya disebut. Berulang kali, dengan nada yang begitu menyayat hati.

Tiba-tiba, kaca etalase bergetar. Retakan-retakan halus mulai muncul, menyebar seperti sarang laba-laba. Seolah ada tekanan besar dari dalam, mencoba memecahkan penghalangnya. Rian mundur selangkah, terhuyung.

Ia melihatnya lagi. Tangan porselen Isolde, yang selalu terlipat rapi di pangkuannya, kini perlahan terangkat. Jari-jari mungilnya bergerak, seolah melambai atau menggapai sesuatu. Atau, seseorang.

Rian merasakan sentuhan dingin di pergelangan kakinya. Seperti jari-jari es yang mencengkeram. Ia menjerit, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia jatuh terduduk, senter terlempar dari genggamannya.

Dalam kegelapan yang kembali merayap, ia mendengar langkah-langkah kecil. Bukan langkah manusia, melainkan suara ketukan ringan yang perlahan mendekat. Setiap ketukan bagai palu godam di kepalanya.

Ia merangkak mundur, menjauh dari etalase. Suara itu semakin dekat, dan ia bisa merasakan napas dingin di wajahnya. Ia mencoba meraba-raba senter, mencari cahaya di tengah teror.

Saat jemarinya menyentuh benda dingin itu, ia segera menyalakannya. Cahaya senter menyorot ke depan. Dan Rian melihatnya. Isolde berdiri tepat di depannya. Hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.

Mata biru boneka itu kini bersinar terang, memancarkan kebencian. Senyum tipis terukir di bibir porselennya, sebuah senyum yang bukan milik boneka. Kengerian yang tak terlukiskan mencengkeram jiwa Rian.

Ia berteriak sekuat tenaga. Suara teriakannya memecah kesunyian museum, bergema di lorong-lorong kosong. Ia memejamkan mata, memohon agar ini semua hanya mimpi buruk.

Ketika ia memberanikan diri membuka mata, Isolde sudah kembali ke dalam etalase. Duduk manis di tempatnya, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Gaunnya rapi, matanya kosong, dan senyum itu telah lenyap.

Namun, retakan di kaca etalase masih ada. Bukti nyata dari kengerian yang baru saja ia alami. Jantung Rian berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ia terengah-engah, tubuhnya gemetar tak terkendali.

Sejak malam itu, Rian tak pernah lagi sama. Setiap malam, ia melakukan patroli dengan rasa takut yang konstan. Ia tahu Isolde mengawasinya, menanti kesempatan. Boneka itu adalah rahasia hidup museum.

Ia tak pernah menceritakan kejadian itu lagi pada siapa pun. Anton akan mengira ia gila. Tapi Rian tahu yang sebenarnya. Ia telah melihatnya, merasakan sentuhannya, mendengar bisikannya.

Museum Van Der Burgh tetap berdiri, bisu dan kuno. Namun, di dalam lorong-lorongnya, sebuah rahasia hidup. Sebuah boneka porselen yang menari di kegelapan. Menanti malam berikutnya, untuk sebuah pertunjukan horor yang hanya ia dan boneka itu yang tahu.

Boneka yang Bergerak Sendiri di Museum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *