Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Ada yang Aneh di Buku Harian Tahun 1800-an Ini… Seperti Ramalan yang Jadi Nyata

9
×

Ada yang Aneh di Buku Harian Tahun 1800-an Ini… Seperti Ramalan yang Jadi Nyata

Share this article

Ada yang Aneh di Buku Harian Tahun 1800-an Ini… Seperti Ramalan yang Jadi Nyata

Dr. Anya Sharma menghirup aroma kertas tua, debu, dan sejarah yang melekat di Perpustakaan Nasional. Tangannya yang bersarung putih dengan hati-hati membalik halaman-halaman manuskrip yang rapuh. Ini adalah rutinitasnya, menyingkap cerita dari masa lalu.

Namun, hari itu berbeda. Di antara tumpukan arsip yang terlupakan, ia menemukan sebuah buku harian. Sampul kulitnya usang, tanpa judul, hanya sebuah kunci kuningan kecil yang tergantung longgar.

Buku harian itu milik Elara Vance, seorang pengasuh Inggris yang tiba di Hindia Belanda pada tahun 1888. Tulisannya anggun, namun semakin dalam Anya menyelam, semakin jelas kegelisahan yang merayap di setiap baris.

Elara mulanya menulis tentang keindahan eksotis koloni, tentang bunga-bunga tropis dan kehangatan matahari. Namun, nada itu segera berubah, digantikan oleh bisikan ketakutan yang samar.

Ia mulai mencatat keanehan di Kediaman Gubernur Thorne, tempatnya bekerja. Bisikan di malam hari, bayangan yang bergerak di sudut mata, dan hawa dingin yang tak wajar di tengah iklim tropis.

Gubernur Thorne, seorang pria yang dikenal kaku dan rasional, mulai menunjukkan perubahan perilaku. Ia menjadi penyendiri, tatapannya kosong, dan sering ditemukan berbicara sendiri dalam bahasa yang tidak dikenali Elara.

Elara mencurigai sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar demam tropis atau kegilaan. Ia menulis tentang ritual-ritual aneh yang dilakukan para pelayan pribumi di hutan terlarang dekat kediaman.

Anya merasakan dingin merayap di punggungnya. Elara tidak hanya mengamati, ia juga merasa terancam. Ada paragraf yang berulang kali menyebut “mereka” – siapa “mereka” ini?

Tanggal-tanggal mulai berantakan, tulisan Elara menjadi lebih tergesa-gesa, bahkan ada noda-noda yang tampak seperti air mata atau… darah kering. Jantung Anya berdebar kencang.

Elara mulai menggambarkan mimpi buruk yang aneh, tentang makhluk-makhluk bersisik yang merayap dari tanah, dan suara-suara kuno yang memanggil nama Gubernur Thorne.

Ia percaya bahwa Gubernur Thorne telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, mengusik kekuatan purba yang tertidur di tanah koloni itu. Sebuah kekuatan yang kini menuntut balas.

Buku harian itu kemudian beralih ke deskripsi tentang hilangnya pelayan, suara-suara jeritan di tengah malam, dan bau busuk yang menyengat yang datang dari sayap timur kediaman.

Anya menyadari bahwa buku harian ini bukan sekadar catatan pribadi. Ini adalah pengakuan, sebuah peringatan yang tersembunyi dalam kengerian yang terbungkus rapi.

Elara mencoba melarikan diri, namun ia merasa terperangkap. Setiap jalan keluar terhalang oleh “bayangan-bayangan” yang tak terlihat, atau tatapan kosong dari para pelayan yang tampaknya berada di bawah pengaruh.

Kemudian, sebuah bagian yang ditulis dengan terburu-buru, hampir tidak terbaca. Elara menyebutkan “Pintu Merah” di bawah tanah dan “simbol bintang lima” yang muncul di mana-mana.

Pintu Merah. Anya teringat legenda lokal tentang ruang bawah tanah rahasia di sebuah rumah kolonial tua yang kini menjadi museum. Rumah itu dulunya adalah kediaman Gubernur Thorne.

Obsesi Anya terhadap buku harian itu semakin dalam. Ia mulai melihat pola, menghubungkan simbol-simbol Elara dengan ukiran kuno yang ia temukan di catatan antropologis tentang suku-suku pedalaman.

Simbol bintang lima itu bukan hanya hiasan. Itu adalah kunci, sebuah peta, sebuah peringatan. Anya merasakan mata yang tak terlihat mengawasinya setiap kali ia membaca halaman-halaman itu.

Suatu malam, ia bermimpi. Mimpi tentang suara-suara aneh, tentang kegelapan yang menelan, dan Elara Vance yang berbisik padanya dari balik bayangan, “Jangan biarkan mereka menemukannya.”

Anya memutuskan untuk pergi ke museum, ke Rumah Kolonial Blackwood yang dulunya milik Gubernur Thorne. Ia harus menemukan Pintu Merah itu, apa pun risikonya.

Malam itu, di bawah cahaya bulan sabit, Anya menyelinap masuk. Udara di dalam museum terasa dingin dan berat, seolah-olah waktu berhenti berdetak di sana bertahun-tahun yang lalu.

Langkah kakinya menggema di lantai kayu yang rapuh. Setiap bayangan tampak menari, setiap desiran angin terdengar seperti bisikan peringatan dari Elara.

Ia menemukan peta tua Kediaman Thorne di arsip museum. Peta itu menunjukkan sebuah ruang bawah tanah yang tidak ada di cetak biru resmi bangunan. Itulah Pintu Merah.

Dengan senter di tangan, Anya menyusuri lorong-lorong gelap. Aroma apek bercampur dengan bau tanah basah dan sesuatu yang lebih mengerikan, sesuatu yang busuk dan manis.

Ia menemukan sebuah pintu kayu tua di balik tumpukan kotak. Pintu itu dicat merah tua yang kini mengelupas, dan di tengahnya, sebuah ukiran samar berbentuk bintang lima.

Kunci kuningan dari buku harian itu terasa dingin di tangannya. Dengan gemetar, ia memasukkannya ke lubang kunci. Terdengar bunyi klik pelan yang memecah keheningan.

Pintu terbuka dengan decitan menyeramkan, menyingkap kegelapan pekat dan udara yang menyesakkan. Anya menyalakan senternya, dan cahayanya menari di dinding batu yang lembab.

Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu yang aneh, diukir dengan simbol-simbol yang sama dengan yang digambar Elara. Dan di atas altar itu, sebuah buku, terikat dengan kulit manusia.

Anya mundur selangkah, jantungnya berdebar kencang. Itu bukan buku harian Elara, tapi sesuatu yang jauh lebih tua, lebih jahat. Ini adalah buku yang dicari Gubernur Thorne.

Tiba-tiba, sebuah suara parau memecah keheningan. “Kau sudah menemukannya.” Anya berbalik. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita tua dengan mata yang menusuk.

Wanita itu tersenyum tipis. “Elara Vance adalah nenek moyangku. Dia tidak pernah melarikan diri. Dia ditemukan, dan dia menulis buku harian itu sebagai pengalihan.”

“Pengalihan?” Anya berbisik, tenggorokannya tercekat.

“Ya. Untuk membuat orang percaya itu adalah kisah hantu. Padahal, itu adalah sebuah undangan. Undangan untuk menemukan apa yang dicari Gubernur Thorne.”

Wanita itu melangkah maju. “Kekuatan purba ini membutuhkan wadah baru setiap generasi. Gubernur Thorne mengira dia bisa mengendalikannya. Dia salah.”

“Dia tidak menghilang,” lanjut wanita itu, “Dia menjadi bagian darinya. Dan sekarang, kau juga akan menjadi bagian dari warisan ini, Dr. Sharma.”

Anya merasakan hawa dingin yang bukan dari udara. Bukan dari kematian, tapi dari kehidupan yang salah. Dari sesuatu yang kuno dan lapar.

Ia melihat bayangan-bayangan bergerak di belakang wanita tua itu, bayangan yang bukan disebabkan oleh senternya. Makhluk-makhluk bersisik yang Elara gambarkan dalam mimpi buruknya.

Anya tidak tahu bagaimana, tapi ia harus lari. Kekuatan yang disebutkan Elara bukan sekadar legenda. Itu nyata, dan kini mengejarnya.

Ia berbalik, melarikan diri dari ruangan bawah tanah itu, meninggalkan Pintu Merah terbuka di belakangnya. Suara langkah kaki wanita tua itu mengikutinya, disertai bisikan-bisikan asing.

Ia berhasil keluar dari museum, berlari tanpa henti hingga mencapai jalan raya. Napasnya terengah-engah, jantungnya berpacu seperti drum perang.

Anya tahu. Misteri buku harian Elara Vance belum berakhir. Itu baru saja dimulai. Dan dia, Dr. Anya Sharma, kini terikat pada takdir yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.

Buku harian itu kini terasa seperti beban yang membara di tasnya. Sebuah kutukan yang diturunkan melalui waktu, dan ia adalah pewaris berikutnya dari kengerian yang tak terlukiskan dari zaman kolonial itu.

Di bawah rembulan yang memudar, Anya tahu ia tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi. Bisikan-bisikan kuno dari Pintu Merah akan terus mengejarnya, selamanya.

Buku Harian dari Zaman Kolonial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *