
Bisikan Hutan, Mata Sang Penuntun Cilik
Liam, seorang fotografer petualang, tiba di sebuah desa terpencil. Hutan di sekitarnya dikenal menyimpan legenda kuno. Ia mencari sebuah kuil tersembunyi, konon ditinggalkan ribuan tahun lalu. Penduduk lokal hanya menggelengkan kepala, ketakutan terpancar dari sorot mata mereka.
Malam itu, saat Liam mengamati peta lusuhnya, sebuah ketukan pelan terdengar. Di ambang pintu, berdiri seorang anak laki-laki. Tubuhnya kurus, rambutnya acak-acakan, dan matanya menatap tajam, jauh melampaui usianya yang mungkin baru tujuh tahun.
“Aku tahu jalan ke kuil itu,” bisik anak itu, suaranya nyaris tak terdengar. Ia memegang patung burung kayu yang usang. Liam terkejut. Bagaimana anak ini tahu apa yang ia cari?
Keraguan menyelimuti Liam. Namun, tatapan mata anak itu begitu meyakinkan, atau mungkin lebih tepatnya, mengancam. Ada sesuatu yang tak biasa darinya. Akhirnya, Liam setuju. Ia memperkenalkan dirinya, “Aku Liam. Siapa namamu?”
“Kian,” jawab anak itu singkat, tanpa senyum. Pagi buta, mereka memulai perjalanan. Hutan menyambut mereka dengan embun dingin yang menusuk. Pohon-pohon raksasa menjulang, membentuk kanopi gelap di atas kepala.
Liam, dengan peralatan fotografinya yang berat, merasa kesulitan. Namun Kian, dengan langkah ringan dan gesit, seolah melayang di antara akar-akar pohon. Ia tak pernah tersandung, tak pernah tergelincir.
Hanya bisikan angin dan suara serangga menemani mereka. Kian tak banyak bicara. Sesekali ia menunjuk dengan jari kecilnya, mengisyaratkan arah. Liam mencoba bertanya, “Sudah berapa lama kau menuntun orang di sini, Kian?”
Anak itu hanya menoleh, tatapannya kosong. Ia tak menjawab. Ketidaknyamanan mulai merayapi benak Liam. Anak ini terlalu aneh. Terlalu sunyi, terlalu cepat, terlalu tahu.
Mereka melewati jalur yang Liam yakin tak pernah ada di peta. Semak belukar yang lebat tiba-tiba terbuka, seolah memberi jalan bagi Kian. Udara menjadi lebih lembap, lebih berat. Bau tanah basah dan lumut tua menyeruak.
Liam merasa seperti sedang melangkah mundur dalam waktu. Cahaya matahari nyaris tak menembus dedaunan tebal. Bayangan-bayangan menari, seolah menyembunyikan sesuatu yang mengerikan di balik setiap batang pohon.
Beberapa kali, Liam bersumpah ia mendengar bisikan. Bukan suara Kian, melainkan desiran aneh, seperti ribuan daun kering bergesekan. Ia menoleh, namun tak ada apa-apa selain hutan yang senyap.
Kian tiba-tiba berhenti. Ia menunjuk ke sebuah pohon beringin raksasa. Di batangnya, terukir simbol-simbol aneh yang Liam belum pernah lihat. Kian mengusap ukiran itu dengan jemarinya.
“Ini… tanda kuno,” bisik Liam pada dirinya sendiri. “Kian, apa artinya ini?” Anak itu hanya menatapnya, bibirnya membentuk senyuman tipis yang tak sampai ke matanya. Senyum itu membuat bulu kuduk Liam merinding.
Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin dalam mereka masuk, semakin gelap hutan itu. Suara-suara alam seolah meredup, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Jantung Liam berdebar lebih kencang.
Ia mulai merasa terisolasi. Ponselnya tak memiliki sinyal. Kompasnya seolah berputar tak tentu arah. Liam merasa tersesat, meskipun Kian terus melangkah maju dengan keyakinan penuh.
Tiba-tiba, Kian menghilang. Satu detik ia ada di depan Liam, detik berikutnya ia lenyap begitu saja. Liam berteriak memanggil namanya. Hanya gema suaranya yang membalas.
Kepanikan melanda Liam. Ia berputar-putar, mencari jejak. Namun, tak ada apa-apa. Seolah Kian tak pernah ada di sana. Hutan itu mendadak terasa begitu luas, begitu mengancam.
“Kian! Ini tidak lucu!” teriak Liam, suaranya bergetar. Ia menunggu, jantungnya berdebar kencang. Lalu, sebuah sentuhan dingin mendarat di bahunya. Kian berdiri di belakangnya.
“Kau terlalu lambat,” bisik Kian, suaranya lebih serak dari sebelumnya. Wajahnya terlihat lebih pucat, seolah darahnya telah terkuras. Liam melonjak kaget. Ia tak mendengar langkah Kian sama sekali.
Perjalanan berlanjut, namun suasana menjadi lebih tegang. Liam tak lagi merasa seperti turis yang ditemani pemandu. Ia merasa seperti mangsa yang sedang digiring. Setiap bayangan, setiap suara, menjadi ancaman.
Kian semakin sering menghilang dan muncul kembali. Kadang ia muncul di samping Liam, kadang di depan, kadang di belakang. Gerakannya begitu halus, begitu tak terduga.
Liam mencoba memotret Kian, namun setiap kali ia mengangkat kamera, Kian bergerak, atau cahaya mendadak redup, atau lensanya berembun. Ia tak pernah mendapatkan gambar yang jelas.
Mereka mencapai sebuah tebing curam. Di bawahnya, kabut tebal bergulung, menyembunyikan dasar jurang. Kian menunjuk ke bawah. “Di sana,” katanya, suaranya berbisik. “Kuil itu.”
Liam mengintip ke dalam kabut. Ia tak melihat apa-apa. Hanya kehampaan putih. “Bagaimana kita bisa turun?” tanyanya, ragu. Kian melompat.
Ia melompat ke dalam kabut. Liam terkesiap. “Kian!” teriaknya, berlari ke tepi. Namun, kabut itu menelan Kian tanpa jejak. Tidak ada suara jatuh, tidak ada teriakan. Hanya keheningan.
Liam membeku di tempat. Otaknya berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Anak itu… ia melompat. Dan menghilang. Apakah ia terjatuh? Apakah ia… hantu?
Sebuah bisikan menusuk telinganya. “Ikuti aku.” Suara itu berasal dari dalam kabut, dingin dan menggema. Itu suara Kian. Liam merasa ketakutan yang mencekam.
Namun, rasa ingin tahu dan naluri petualangannya lebih kuat. Ia menghela napas, mengencangkan tasnya, dan dengan hati-hati, ia mulai menuruni tebing, mencari pijakan di antara akar-akar yang mencuat.
Kabut itu tebal dan menyesakkan. Liam nyaris tak bisa melihat tangannya sendiri. Ia terus mendengar bisikan Kian, menuntunnya, seolah anak itu berada tepat di depannya.
Setelah perjuangan yang terasa seperti selamanya, kakinya menyentuh tanah yang rata. Kabut perlahan menipis. Di depannya, berdiri sebuah kuil. Bukan kuil yang megah, melainkan reruntuhan kuno yang ditelan lumut.
Batu-batu yang runtuh membentuk labirin. Patung-patung tanpa kepala berdiri di antara semak belukar. Aroma tanah dan kematian menyeruak. Tempat itu memiliki aura yang menakutkan.
“Kita sampai,” bisik Kian. Ia berdiri di ambang pintu kuil, patung burung kayunya dipegang erat. Wajahnya kini terlihat sangat tua, seolah semua kebijaksanaan dan penderitaan zaman terukir di sana.
Liam menatapnya. “Kian… siapa sebenarnya kau?” tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar. Anak itu tersenyum lagi, senyum yang sama sekali tak menenangkan.
“Aku… penjaga,” jawab Kian. “Penjaga tempat ini. Dan aku sudah menuntun banyak orang. Sama sepertimu.” Matanya berkilat aneh. Liam merasakan sebuah hawa dingin menjalar di punggungnya.
“Menuntun… ke mana?” tanya Liam. Kian mengangkat patung burung kayunya. “Ke tempat di mana mereka bisa menemukan apa yang mereka cari.” Suaranya kini terdengar seperti gema, berlapis-lapis.
“Apa yang aku cari?” tanya Liam, bingung. Kian menunjuk ke dalam kuil yang gelap. “Kebenaran. Kebenaran yang tak semua orang berani hadapi.”
Liam melangkah maju, kakinya terasa berat. Setiap langkah membawa sensasi aneh. Udara di dalam kuil terasa dingin membeku, seolah waktu berhenti di sana ribuan tahun lalu.
Di tengah kuil, ada sebuah altar batu. Di atasnya, sebuah cawan perak kosong. Tidak ada harta, tidak ada patung berharga. Hanya cawan itu, dan keheningan yang memekakkan.
Liam merasa kecewa. “Ini saja?” tanyanya. Kian muncul di sampingnya, lebih dekat dari yang seharusnya. Wajahnya kini nyaris transparan.
“Ini adalah tempat di mana keinginan terpenuhi,” bisik Kian. “Kau ingin kuil tersembunyi. Kau sudah menemukannya. Apa lagi yang kau inginkan?”
Liam terdiam. Ia ingin kebenaran. Ia ingin misteri. Ia ingin sesuatu yang lebih. Kian seolah membaca pikirannya. “Ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui, Liam.”
Tiba-tiba, kuil itu bergetar. Debu-debu kuno berjatuhan dari langit-langit. Dinding-dinding retak. Kian mundur perlahan, bayangannya memudar.
“Kau harus pergi,” bisik Kian, suaranya kini seperti bisikan angin. “Cepat! Sebelum semuanya runtuh.” Liam merasakan bahaya yang nyata. Ia berbalik dan berlari.
Ia berlari keluar dari kuil, menembus kabut, menaiki tebing dengan kecepatan yang tak pernah ia sangka. Hutan di sekelilingnya seolah berteriak. Ia tak peduli, yang penting adalah keluar.
Ia terus berlari, tak melihat ke belakang. Saat ia akhirnya mencapai pinggir hutan, di mana cahaya matahari kembali menyentuhnya, ia ambruk. Terengah-engah, tubuhnya gemetar.
Ia menoleh ke belakang, ke arah hutan yang gelap. Kuil itu sudah tak terlihat. Kabut tebal kembali menyelimutinya. Seolah-olah kuil itu tak pernah ada.
Liam kembali ke desa. Ia mencoba menceritakan kisahnya. Penduduk desa hanya menatapnya dengan tatapan kosong, atau menganggapnya gila. “Tidak ada anak bernama Kian di sini,” kata seorang tetua. “Tidak ada yang berani masuk hutan itu sendirian.”
Liam tahu ia tak akan pernah melupakan Kian. Anak kecil dengan mata tua, penuntun misterius dari hutan yang terkutuk. Ia melihat ke tangannya. Patung burung kayu yang usang, yang tadi dipegang Kian, kini ada di genggamannya.
Ia tak tahu bagaimana patung itu berpindah. Sebuah pengingat akan pengalaman mengerikan itu. Ia tak pernah lagi berani masuk ke hutan itu. Setiap kali ia melihat patung burung itu, ia mendengar bisikan.
Bisikan Kian, bisikan hutan. “Kebenaran… ada di dalam dirimu.” Dan Liam tahu, misteri tentang Kian, dan kuil itu, akan menghantuinya selamanya. Beberapa hal, memang lebih baik tidak diketahui.






