Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Desa Nglanggeran Menyimpan Fenomena Aneh yang Tak Bisa Dijelaskan

8
×

Desa Nglanggeran Menyimpan Fenomena Aneh yang Tak Bisa Dijelaskan

Share this article

Desa Nglanggeran Menyimpan Fenomena Aneh yang Tak Bisa Dijelaskan

Bisikan Gunung Api Purba: Misteri yang Hilang di Nglanggeran

Nglanggeran, sebuah permata tersembunyi di Yogyakarta. Keindahan alamnya memukau setiap mata. Gunung Api Purba menjulang megah, saksi bisu ribuan tahun. Namun, di balik pesonanya, tersimpan misteri.

Kisah-kisah kelam berbisik di angin. Cerita tentang hilangnya pendaki tanpa jejak. Atau suara-suara aneh yang memanggil di malam hari. Nglanggeran bukan hanya indah, ia juga menyimpan rahasia purba.

Arka, seorang jurnalis investigasi, tiba di sana. Ia mencari cerita unik, bukan sekadar keindahan. Bisikan aneh telah memanggilnya ke sini. Sebuah obsesi baru merasuki benaknya.

Ia ingin mengungkap kebenaran di balik desas-desus. Fenomena mistis yang tak terjelaskan. Penduduk lokal yang tertutup, namun menyimpan ketakutan. Ada sesuatu yang tidak beres di Nglanggeran.

Malam pertama, sunyi mencekam. Hanya suara jangkrik yang memecah keheningan. Aroma kemenyan samar menusuk hidung. Udara dingin tiba-tiba menyergap, padahal hari tidak hujan.

Ia mencoba berbicara dengan beberapa warga. Wajah-wajah mereka menyimpan rahasia. Tatapan mereka menyimpan ketakutan mendalam. Mereka enggan bicara, menghindar dari pertanyaan.

“Jangan mengusik, Nak,” bisik seorang ibu tua. “Ada yang menjaga di sana. Mereka tidak suka diganggu.” Matanya memancarkan peringatan. Arka hanya tersenyum tipis, skeptis.

Namun, di dalam hatinya, rasa penasaran membuncah. Peringatan itu justru memicunya. Ia merasa ada benang merah yang harus ditarik. Sebuah kebenaran yang terkubur dalam tanah kuno.

Arka mencari Mbah Karto, sesepuh desa. Ia tinggal di pondok terpencil, jauh dari keramaian. Rambutnya memutih, punggungnya membungkuk. Tatapan matanya sarat pengalaman.

Mbah Karto menyambutnya dengan senyuman. Namun, ada kesedihan mendalam di balik itu. Arka menceritakan tujuannya. Mbah Karto hanya mengangguk pelan, seolah sudah tahu.

“Gunung ini punya penunggu,” kata Mbah Karto perlahan. Suaranya serak, penuh wibawa. “Mereka sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Jauh sebelum manusia pertama tiba.”

Ia bercerita tentang entitas purba yang tak terlihat mata biasa. Makhluk yang menjaga keseimbangan alam. Ia menuntut penghormatan dan ketaatan. Jika terusik, ia akan mengambil.

“Apa yang mereka ambil, Mbah?” tanya Arka. Tangannya gemetar, mencatat. Mbah Karto menatapnya tajam. “Jiwa, Nak. Mereka mengambil jiwa yang berani melanggar batas.”

Beberapa pendaki dan warga hilang tanpa jejak. Pencarian besar-besaran nihil hasil. Hanya menyisakan keputusasaan dan tanda tanya. Mereka seperti ditelan bumi.

Desa ini pernah dilanda kepanikan hebat. Setelah tiga orang pemuda nekat mendaki puncak terlarang. Mereka ingin membuktikan tidak ada apa-apa di sana. Mereka salah besar.

Sejak itu, kejadian aneh sering terjadi. Suara tangisan dari puncak gunung di malam hari. Cahaya-cahaya misterius berkelebat. Atau bisikan nama seseorang di telinga.

Arka tak gentar, justru makin penasaran. Ia mulai mendaki puncak, mencari petunjuk. Setiap langkahnya penuh kewaspadaan. Perasaannya campur aduk: takut dan berani.

Ia membawa perlengkapan lengkap. Kamera, perekam suara, dan senter yang terang. Ia ingin mendokumentasikan setiap hal. Bahkan jika itu adalah hal yang tak masuk akal.

Di jalur menuju puncak, ia menemukan anomali. Sebuah formasi batu aneh, diselimuti lumut tebal. Aura dingin terpancar kuat darinya. Seperti pintu menuju dimensi lain.

Ia mencoba menyentuhnya. Rasa dingin menusuk sampai ke tulang. Ada sensasi aneh. Seolah ada energi kuno yang terpancar dari batu itu. Ia segera menarik tangannya.

Malam itu, ia mendirikan tenda tak jauh dari sana. Suara-suara hutan terdengar lebih dekat. Angin berdesir, membawa bisikan yang tidak jelas. Ia merasa tidak sendiri.

Tiba-tiba, senternya berkedip-kedip. Padahal baterainya baru. Lalu padam sepenuhnya. Kegelapan menyelimutinya. Hanya cahaya bulan samar yang menerobos dedaunan.

Ia menyalakan korek api. Dalam remang-remang, ia melihat sesuatu. Bayangan bergerak di antara pepohonan. Bentuknya samar, seperti wujud manusia. Namun, terlalu tinggi dan kurus.

Jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba menenangkan diri. “Ini hanya halusinasi,” bisiknya. “Aku terlalu lelah.” Tapi bayangan itu terasa sangat nyata.

Esok paginya, ia menemukan jejak kaki aneh. Terlalu besar untuk manusia biasa. Dan terlalu dalam untuk hewan. Jejak itu menuju ke arah tebing yang curam.

Arka mengikuti jejak itu. Sampai ia tiba di sebuah gua kecil. Tersembunyi di balik semak belukar lebat. Pintunya sempit, hanya cukup untuk satu orang.

Ada aroma aneh keluar dari gua. Aroma tanah basah bercampur amis. Rasa takut merayap di punggungnya. Namun, rasa penasaran jauh lebih besar. Ia harus masuk.

Ia menyalakan senter lagi. Baterainya entah bagaimana kembali penuh. Ia merangkak masuk perlahan. Gua itu terasa sangat lembap dan gelap. Udaranya pengap.

Dindingnya dipenuhi ukiran purba yang tak dikenal. Bentuk-bentuk abstrak dan simbol-simbol aneh. Seperti tulisan kuno yang sudah lama terlupakan. Ia memotretnya.

Di tengah gua, sebuah altar batu kuno berdiri. Ada sesajen di atasnya. Bunga-bunga kering, beras, dan sehelai kain putih. Sesajen itu terlihat masih baru.

Tiba-tiba, suara gemuruh rendah menggetarkan gua. Lantai bergetar di bawah kakinya. Debu berjatuhan dari langit-langit. Arka menahan napas, panik.

Lalu, cahaya redup muncul dari altar. Berkedip-kedip, membesar perlahan. Aroma amis semakin kuat. Arka merasakan kehadiran kuat di sekitarnya. Dingin mencekam.

Ia mencoba mundur, tapi kakinya terpaku. Seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahannya. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ketakutan nyata menyergapnya.

Bayangan hitam mulai terbentuk di hadapannya. Tinggi, gelap, dengan mata menyala merah. Bukan makhluk hidup, bukan pula hantu. Ini adalah entitas penjaga.

Wujudnya seperti siluet manusia, namun tak berdimensi. Seperti asap pekat yang membentuk diri. Ia merasakan energi dingin yang memancar darinya. Kekuatan purba.

Sebuah suara berat dan kuno bergema di benaknya. Bukan suara yang didengar telinga. Tapi suara yang langsung menusuk pikiran. “Kau telah melanggar batas, wahai manusia.”

Arka jatuh berlutut. Tubuhnya lemas tak berdaya. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Mata merah itu menatapnya tajam, menusuk jiwanya.

“Kau mencari kebenaran, tapi kau melampaui. Ada harga yang harus dibayar,” suara itu melanjutkan. Gua terasa berputar. Arka mulai kehilangan kesadaran.

Ia merasakan cengkeraman tak terlihat di pergelangan tangannya. Dingin seperti es. Ia ditarik ke arah altar. Rasa panik memuncak. Ini adalah akhirnya.

Dalam keputusasaan, ia teringat pesan Mbah Karto. “Hormati mereka. Jangan menantang.” Ia memejamkan mata. Berbisik permohonan maaf dalam hati.

Tiba-tiba, cengkeraman itu mengendur. Cahaya merah meredup. Suara berat itu menghilang. Arka terbatuk-batuk, berusaha bernapas. Ia selamat.

Ia bangkit dengan susah payah. Tubuhnya gemetar hebat. Ia lari sekuat tenaga, tanpa menoleh. Menjauh dari gua, menjauh dari gunung. Pikirannya kosong.

Ia tersandung, berguling menuruni bukit. Tubuhnya penuh luka lecet dan memar. Namun, rasa takut lebih mendominasi. Ia selamat, tapi jiwanya terguncang.

Pagi menjelang, Arka tiba kembali di desa. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong. Penduduk desa menatapnya dengan prihatin. Mereka tahu apa yang terjadi.

Ia tak lagi sama. Pandangannya kosong, tatapannya menerawang. Kisah yang ia cari kini menjadi trauma. Nglanggeran menyimpan rahasia abadi.

Arka meninggalkan desa tanpa banyak bicara. Ia tak menulis artikel tentang pengalamannya. Tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan. Atau orang yang akan percaya.

Namun, bisikan gunung itu terus mengikutinya. Peringatan agar tak lagi mengusik. Bahwa ada batas yang tak boleh dilampaui. Sebuah rahasia yang harus tetap tersembunyi.

Sampai kini, Nglanggeran tetap indah dan misterius. Fenomena aneh masih sesekali terjadi. Penduduknya hidup dalam penghormatan. Menjaga keseimbangan dengan penjaga tak kasat mata.

Kisah Arka menjadi legenda baru. Peringatan bagi siapa pun yang berani. Bahwa di balik pesona alam, ada kekuatan purba yang menanti. Sebuah misteri abadi Gunung Api Purba.

Ia akan selalu menjadi bagian dari Nglanggeran. Dengan kisahnya yang tak terucap. Sebuah misteri yang hanya diketahui oleh mereka yang berani. Atau yang terlalu jauh melangkah.

Gunung Api Purba itu masih berdiri kokoh. Menjaga rahasianya erat-erat. Menunggu siapa lagi yang akan datang. Untuk mencari kebenaran yang tak seharusnya terungkap.

Dan bisikan angin di Nglanggeran akan terus berlanjut. Memanggil mereka yang penasaran. Menarik mereka ke dalam pelukan misteri. Hingga mereka menjadi bagian dari rahasia itu sendiri.

Cerita Desa Nglanggeran tentang Fenomena Mistis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *