Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Siapa Sangka Burung Hitam Itu Menyimpan Kutukan Dukun Sepuh?

9
×

Siapa Sangka Burung Hitam Itu Menyimpan Kutukan Dukun Sepuh?

Share this article

Cerita Dukun Sepuh dan Burung Hitam

Cerita Dukun Sepuh dan Burung Hitam: Misteri di Balik Hutan Larangan

Desa Sukarasa, tersembunyi jauh di balik punggung gunung, adalah tempat di mana waktu seolah berhenti. Kabut sering memeluknya di pagi hari, menyembunyikan puncak-puncak pohon yang menjulang, dan bisikan angin membawa cerita-cerita lama. Namun, ketenangan itu hanyalah selubung tipis, menyembunyikan ketakutan yang kini mulai mencengkeram.

Penduduk desa mulai merasakan perubahan. Panen gagal, ternak mati mendadak, dan yang paling mengerikan, beberapa warga menghilang tanpa jejak. Mereka selalu percaya itu ulah Hutan Larangan, hutan gelap yang mengelilingi desa.

Di tengah kegelisahan itu, nama Mbah Joyo kembali disebut. Dukun sepuh itu tinggal di gubuk reot di tepi hutan, seorang sosok misterius yang dihormati sekaligus ditakuti. Konon, usianya melebihi ingatan siapapun, dan matanya menyimpan kebijaksanaan serta kegelapan ribuan tahun.

Ia adalah penjaga keseimbangan, kata mereka. Namun, kini, keseimbangan itu terancam. Dan ancaman itu, seringkali, datang bersamaan dengan kemunculan seekor burung hitam pekat.

Arif, seorang jurnalis muda dari kota, tiba di Sukarasa, didorong oleh laporan aneh tentang desa yang terisolasi ini. Ia seorang yang rasional, skeptis terhadap takhayul. Namun, aura desa yang mencekam dan tatapan mata para penduduk yang penuh ketakutan, perlahan menggoyahkan keyakinannya.

Malam pertama di Sukarasa, Arif terbangun oleh suara kepakan sayap yang ganjil. Dari jendela, ia melihat siluet besar, hitam kelam, bertengger di pohon beringin tua. Matanya merah menyala, memancarkan cahaya mengerikan di kegelapan. Itu adalah burung yang diceritakan penduduk.

Esoknya, seorang gadis kecil ditemukan hilang. Kepanikan merajalela. Arif mengikuti jejak para pencari, dan tanpa sadar, langkahnya membawanya lebih dekat ke gubuk Mbah Joyo. Udara di sana terasa dingin, bahkan di siang hari.

Mbah Joyo duduk di beranda, keriputnya bagai peta kuno. Ia tidak terkejut dengan kedatangan Arif. “Kau mencari jawaban, Nak,” suaranya serak, “tapi ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui.”

Arif memberanikan diri bertanya tentang burung hitam itu. Mbah Joyo menghela napas panjang. “Dia bukan sekadar burung,” katanya pelan, “dia adalah pembawa pesan. Pertanda dari sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, dan kini terbangun dari tidurnya.”

Mbah Joyo menjelaskan bahwa burung itu adalah manifestasi dari sebuah entitas kuno, terkunci di bawah tanah Sukarasa berabad-abad lamanya. Entitas itu, yang disebut “Sang Penjaga Kegelapan,” kini mencari jalan keluar, merenggut nyawa dan energi untuk membebaskan diri.

Burung hitam itu adalah matanya, sayapnya, dan seringkali, jemarinya. Ia mengintai, memilih korban, dan memimpin jalan bagi kekuatan yang lebih besar. Penduduk desa, tanpa sadar, telah mengganggu tempat tidurnya.

Arif merasa ngeri. Kisah-kisah yang awalnya ia anggap dongeng, kini terasa begitu nyata. Ia teringat tatapan tajam burung itu, seolah ia sedang diamati, dihakimi.

Mbah Joyo berdiri, tubuhnya yang ringkih memancarkan kekuatan aneh. “Sudah lama aku menahannya,” ucapnya, “tapi kekuatanku menipis. Dia semakin kuat setiap hari.”

Ia kemudian menceritakan ritual kuno yang harus dilakukan untuk kembali mengunci Sang Penjaga Kegelapan. Ritual itu membutuhkan pengorbanan, bukan nyawa, melainkan energi murni dari seorang penjaga. Mbah Joyo sendirilah yang harus melakukannya.

Arif menawarkan bantuan, merasa bertanggung jawab atas pengetahuannya yang baru. Mbah Joyo menatapnya dalam, seolah menguji jiwanya. “Ini bukan untuk yang lemah hati, Nak. Kegelapan akan mengintai setiap sudutmu.”

Malam puncaknya tiba. Langit di atas Sukarasa menghitam lebih pekat dari biasanya. Angin bertiup kencang, membawa bisikan-bisikan tak jelas dari Hutan Larangan. Semua penduduk desa bersembunyi di rumah, berdoa.

Arif dan Mbah Joyo menuju sebuah goa tersembunyi di kedalaman hutan, tempat yang konon menjadi portal bagi entitas itu. Udara di sana begitu dingin, seolah nafas kematian. Aroma tanah basah dan lumut bercampur dengan bau amis yang tak terjelaskan.

Burung hitam itu sudah menunggu di pintu goa. Ukurannya tampak membesar, bulu-bulunya berkilat di antara kegelapan. Matanya kini membara, bukan merah, tapi kuning keemasan, penuh dengan kebencian purba.

Mbah Joyo mulai melantunkan mantra kuno, suaranya bergetar namun penuh kekuatan. Ia menggambar simbol-simbol di tanah dengan kapur putih, asap kemenyan mengepul, membentuk tirai tipis yang menari-nari.

Saat mantra mencapai puncaknya, burung hitam itu mengeluarkan jeritan mengerikan, bukan suara burung, melainkan lolongan yang menyayat hati. Ia mengepakkan sayapnya, menciptakan badai kecil yang hampir merobohkan Arif.

Dari dalam goa, sebuah bayangan mulai terbentuk. Gelap pekat, tanpa wujud jelas, namun memancarkan aura dingin yang membekukan darah. Itu adalah Sang Penjaga Kegelapan, mencoba merangkak keluar dari dimensinya.

Mbah Joyo mengerahkan sisa-sisa kekuatannya. Tubuhnya bergetar hebat, keringat membasahi wajahnya yang tua. Simbol di tanah mulai berpendar, dan burung hitam itu tampak kesakitan, terikat pada kekuatan Mbah Joyo.

Burung itu meronta, menyerang Mbah Joyo dengan paruhnya yang tajam, namun sang dukun sepuh tak gentar. Ia tahu ini adalah pertarungan terakhirnya, pertarungan untuk melindungi desa yang ia cintai.

Dengan satu tarikan napas terakhir, Mbah Joyo mengucapkan mantra penutup. Cahaya putih terang menyembur dari tangannya, membungkus bayangan gelap dan burung hitam itu. Mereka berdua menjerit, suara mereka menyatu dalam kengerian yang tak terlukiskan.

Cahaya itu mereda. Goa kembali gelap, senyap, seolah tak pernah ada apa-apa. Namun, Mbah Joyo telah tiada. Ia tergeletak di tanah, wajahnya damai, namun tubuhnya dingin membeku. Ia telah mengorbankan dirinya.

Arif berdiri terpaku, jiwanya terguncang. Ia telah menyaksikan sesuatu yang melampaui akal sehat. Skeptismenya hancur berkeping-keping.

Pagi harinya, Desa Sukarasa kembali merasakan kedamaian. Kabut tipis masih memeluk, tapi kali ini, ada kehangatan yang kembali. Namun, ketiadaan Mbah Joyo terasa begitu nyata.

Arif meninggalkan Sukarasa dengan jiwa yang berbeda. Ia tahu, misteri tentang Sang Penjaga Kegelapan mungkin belum sepenuhnya berakhir. Burung hitam itu mungkin telah lenyap, tapi bisikan angin di Hutan Larangan masih menyimpan janji kembalinya.

Dan Arif tahu, ia tak akan pernah lagi melihat dunia dengan cara yang sama. Di balik setiap bayangan, di setiap kepakan sayap burung yang lewat, ia akan selalu teringat pada dukun sepuh dan burung hitam itu, serta kegelapan yang selalu mengintai. Kisah itu menjadi rahasia yang ia bawa selamanya, sebuah peringatan akan kekuatan yang tak terlukiskan.

Cerita Dukun Sepuh dan Burung Hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *