Misteri Tersembunyi Onan Runggu: Lembah Kesunyian yang Memanggil Jiwa
Pada setiap jengkal tanah yang kita pijak, terukir kisah-kisah yang tak terucap. Ada yang memudar bersama waktu, namun ada pula yang mengakar kuat, menanti untuk ditemukan. Salah satunya adalah Desa Onan Runggu, sebuah nama yang berbisik dari kedalaman hutan Sumatra Utara, menyimpan rahasia kelam yang tak seorang pun berani menguraikannya.
Aku adalah Ardi, seorang peneliti independen yang terobsesi dengan cerita-cerita rakyat yang hilang. Rumor tentang Onan Runggu sampai padaku melalui celah-celah arsip kuno: sebuah desa yang terisolasi, di mana waktu seolah berhenti, dan penduduknya hidup dalam bayangan ketakutan yang tak bernama. Aku merasa terpanggil.
Perjalanan menuju Onan Runggu adalah sebuah odyssey. Jalanan berbatu yang berkelok-kelok, diselimuti kanopi hutan tropis yang lebat, terasa seperti labirin tanpa ujung. Sinyal ponsel lenyap, digantikan oleh bisikan angin yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan membusuk. Aku semakin yakin, tempat ini bukan sekadar desa biasa.
Setibanya di sana, suasana mencekam langsung menyergap. Onan Runggu terhampar sunyi, rumah-rumah kayu tua berdiri kaku seolah menatapku dengan mata kosong. Tak ada riuh anak-anak bermain, tak ada tawa, hanya keheningan yang mematikan, dipecah sesekali oleh kokok ayam yang terdengar sumbang.
Penduduk desa menyambutku dengan tatapan waspada, bahkan cenderung dingin. Mereka tampak kurus, dengan mata cekung dan sorot cemas yang tak bisa disembunyikan. Setiap pertanyaan yang kuajukan tentang sejarah desa atau keanehan yang kudengar, selalu dijawab dengan gumaman singkat atau pengalihan topik.
Malam pertama di Onan Runggu adalah permulaan kegelisahan yang mendalam. Tidurku terganggu oleh suara-suara aneh dari luar gubuk yang kusewa. Desir angin seolah membawa bisikan-bisikan tak jelas, diiringi suara ketukan samar yang tak memiliki ritme, kadang pelan, kadang mendadak cepat.
Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah suara binatang hutan atau imajinasiku yang terlalu liar. Namun, dingin yang menjalar ke tulangku bukan sekadar suhu malam. Ada kehadiran tak kasat mata yang mengintai, sebuah aura berat yang membuat bulu kuduk merinding.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri menjelajahi desa. Di sudut-sudut jalan, aku melihat simbol-simbol aneh terukir di batang pohon dan pintu rumah. Bentuknya abstrak, seperti perpaduan antara huruf kuno dan gambaran makhluk tak dikenal, seolah menjadi jimat pelindung atau peringatan.
Aku mencoba bertanya pada Pak Tua Ranto, seorang sesepuh desa yang tampak paling terbuka, meskipun masih menyimpan keraguan. Dengan suara berbisik, dia mengatakan bahwa simbol-simbol itu adalah “penjaga” yang melindungi mereka dari “yang di luar sana,” sebuah kekuatan purba yang mendiami hutan terlarang.
“Ada perjanjian,” bisiknya, matanya menerawang jauh. “Sudah turun-temurun. Untuk menjaga keseimbangan. Kalau dilanggar… hancur kita semua.” Dia menolak menjelaskan lebih lanjut, bahkan menunjuk ke arah hutan dengan ekspresi ketakutan yang nyata, melarangku mendekati area tersebut.
Rasa penasaranku semakin membuncah. Hutan yang dimaksud Pak Ranto membentang gelap di sisi timur desa, diselimuti kabut tipis bahkan di siang hari. Pohon-pohonnya menjulang tinggi, dahan-dahannya saling bertautan membentuk kanopi yang nyaris tak tertembus cahaya matahari.
Aku menyadari bahwa beberapa rumah di desa tampak kosong dan terbengkalai. Jendela-jendela pecah, pintu terbuka menganga, seolah ditinggalkan terburu-buru. Ketika kutanyakan tentang penghuninya, para penduduk hanya menggelengkan kepala, wajah mereka semakin pucat pasi. “Mereka pergi,” jawab salah satu, tanpa menjelaskan kemana atau mengapa.
Selama beberapa hari berikutnya, aku mengamati pola hidup penduduk. Mereka jarang keluar rumah setelah senja. Pintu dan jendela dikunci rapat, dan lentera redup menyala di setiap teras, seolah menjadi perisai dari kegelapan yang merayap. Mereka tampak hidup dalam penantian, menanti sesuatu yang tak terhindarkan.
Suatu sore, aku mengikuti seorang ibu muda yang tampak sangat cemas. Dia membawa sebuah bungkusan kecil berisi sesaji ke tepi hutan. Dengan wajah menunduk dan tangan gemetar, dia meletakkannya di bawah sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjulur seperti tentakel raksasa.
Ketika dia pergi, aku mendekat. Sesaji itu berupa nasi kuning, bunga tujuh rupa, dan sehelai kain batik tua. Ada yang aneh dari pohon beringin itu. Walaupun siang hari, di bawah kanopinya terasa dingin dan gelap, seolah menyerap seluruh kehangatan di sekitarnya. Aku merasakan tatapan, seolah ada sesuatu yang mengawasiku dari balik dedaunan lebat.
Malam itu, ketukan di gubukku semakin sering dan keras. Kali ini, aku mendengar suara menyeret, seolah ada sesuatu yang berat bergerak di luar. Suara itu berhenti tepat di depan pintu, disusul keheningan total yang jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun. Aku tak berani bergerak.
Keesokan paginya, aku menemukan jejak kaki aneh di tanah lembap dekat gubuk. Bukan jejak manusia, juga bukan binatang yang kukenal. Bentuknya besar, dengan tiga jari yang panjang dan cakar yang tajam, menancap dalam tanah seolah beban tubuhnya sangat berat. Jejak itu menuju ke arah hutan terlarang.
Aku memutuskan untuk melanggar peringatan Pak Ranto. Rasa ingin tahuku telah berubah menjadi dorongan tak terkendali. Berbekal senter dan kamera, aku menyusup masuk ke dalam hutan yang mencekam itu, mengikuti jejak misterius yang menghilang di antara semak belukar.
Semakin dalam aku melangkah, semakin pekat kegelapan menyelimuti. Suara-suara hutan lenyap, digantikan oleh keheningan yang menusuk telinga. Udara menjadi lebih dingin, dan aku bisa merasakan aroma tanah yang bercampur dengan bau amis yang samar, seolah ada sesuatu yang membusuk di dekatku.
Akhirnya, aku sampai di sebuah area terbuka yang aneh. Di tengahnya, berdiri sebuah monumen batu yang sangat tua, ditumbuhi lumut dan akar-akar pohon. Bentuknya menyerupai sebuah altar, dengan ukiran simbol-simbol aneh yang sama dengan yang kulihat di desa, namun di sini, ukirannya tampak lebih kuno dan mendalam.
Di sekitar altar, aku melihat tumpukan tulang-tulang binatang. Tapi ada yang berbeda. Beberapa di antaranya tampak seperti tulang manusia yang telah mengering, sebagian masih diselimuti sisa-sisa kain lusuh. Jantungku berdebar kencang. Ini bukan sekadar tempat pemujaan biasa.
Senterku menyapu sekeliling, dan mataku terpaku pada sebuah gua kecil di belakang altar. Mulut gua itu ditutupi oleh akar-akar besar, seolah menyembunyikan sesuatu yang mengerikan. Dari dalam gua, terasa hembusan angin dingin yang membawa bau busuk yang lebih kuat.
Aku mendekati gua itu dengan langkah gemetar. Dari celah-celah akar, aku bisa melihat ke dalam. Kegelapan di dalamnya begitu absolut, seolah menyerap semua cahaya. Namun, aku merasa ada sesuatu di sana, sesuatu yang sangat besar, bernapas dengan irama lambat dan berat.
Kemudian, aku mendengar suara. Itu bukan suara bisikan atau ketukan, melainkan dengungan rendah yang membuat tanah bergetar. Suara itu memanggil, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan resonansi yang menembus jiwaku, sebuah panggilan purba yang tak bisa ditolak.
Aku merasakan dorongan kuat untuk masuk, untuk menyerahkan diri pada kegelapan itu. Ketakutan dan rasa ingin tahu bercampur aduk, menciptakan sensasi pusing yang memualkan. Tubuhku terasa berat, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata dari dalam gua.
Dalam kilasan singkat, aku melihat bayangan. Sebuah siluet raksasa di dalam gua, bentuknya samar, namun auranya memancarkan kekuatan yang tak terlukiskan. Itu bukan makhluk hidup dalam arti konvensional, melainkan entitas primordial, penjaga Onan Runggu, yang menuntut tumbal.
Aku teringat tulang-tulang di altar, teringat wajah cemas penduduk desa, dan rumor tentang orang-orang yang “pergi.” Inilah “perjanjian” yang dimaksud Pak Ranto. Desa ini makmur dan terlindungi karena mereka membayar harga yang mengerikan: jiwa-jiwa yang dipersembahkan secara berkala.
Dengan kekuatan terakhir, aku memutus ikatan dorongan itu. Aku berbalik, berlari sekuat tenaga, tak peduli pada ranting-ranting yang menggores kulitku atau akar-akar yang menjerat kakiku. Suara dengungan itu mengejarku, beresonansi di kepalaku, seolah tak rela aku pergi.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa keluar dari hutan itu. Aku hanya berlari dan berlari, hingga akhirnya aku melihat cahaya redup lentera desa. Penduduk desa tampak berkumpul, menatapku dengan campuran terkejut dan ketakutan, seolah mereka tahu ke mana aku pergi.
Aku tidak lagi bertanya. Aku mengerti mengapa mereka begitu pendiam, mengapa mereka hidup dalam bayangan. Mereka adalah tawanan dari sebuah perjanjian kuno yang tak bisa dipecahkan, korban dari sebuah entitas yang tak bisa dilawan. Onan Runggu adalah sebuah penjara, bukan sebuah desa.
Tanpa berkata sepatah kata pun, aku mengemasi barang-barangku. Malam itu juga, di bawah tatapan bintang-bintang yang dingin, aku meninggalkan Onan Runggu. Suara dengungan masih berputar di benakku, dan bayangan siluet raksasa di gua itu tak pernah hilang dari ingatanku.
Hingga kini, Onan Runggu tetap menjadi misteri yang menghantui. Sebuah desa yang tersembunyi di kedalaman hutan, hidup dalam bayangan perjanjian kuno yang menuntut tumbal tak berkesudahan. Aku adalah saksi, pembawa pesan dari lembah kesunyian yang memanggil jiwa, dan aku tahu, entitas itu masih menunggu di sana.





