Scroll untuk baca artikel
Provinsi Aceh

Nelayan Tua Itu Punya Rahasia — Tentang Perahu yang Tak Pernah Berlabuh

9
×

Nelayan Tua Itu Punya Rahasia — Tentang Perahu yang Tak Pernah Berlabuh

Share this article

Nelayan Tua Itu Punya Rahasia — Tentang Perahu yang Tak Pernah Berlabuh

Bisikan Lautan Mati: Misteri Perahu Gaib Sang Purnama

Laut adalah kanvas biru luas yang menyimpan ribuan rahasia. Bagi Ardi, seorang nelayan yang hidupnya terjalin erat dengan ombak, laut adalah sumber kehidupan, namun juga jurang tak berdasar yang bisa menelan segalanya. Sudah puluhan tahun ia melaut, namun misteri yang satu ini tak pernah ia duga akan menghantui setiap napasnya.

Desa pesisir tempat Ardi tinggal kaya akan cerita. Bisikan-bisikan tentang makhluk laut, badai tiba-tiba, dan yang paling menakutkan, kisah tentang “Perahu Gaib” yang berlayar tanpa nahkoda. Ardi selalu menganggapnya takhayul, bualan orang tua di kedai kopi.

Namun, musim penangkapan ikan kali itu sangatlah buruk. Jaring Ardi sering kosong, keluarganya kelaparan. Kebutuhan mendesak mendorongnya untuk melanggar batas, pergi lebih jauh dari biasanya, ke perairan yang dikenal berbahaya dan angker.

Malam itu, bulan sabit tipis menggantung di langit, nyaris tak memberi penerangan. Kapal Ardi sendirian di tengah samudra yang kelam. Suara ombak memecah keheningan, dan sesekali, rintihan angin yang terdengar seperti bisikan aneh.

Tiba-tiba, di kejauhan, sebuah titik cahaya muncul. Bukan lampu suar, bukan pula lampu kapal nelayan lain. Cahaya itu berkedip-kedip, berpendar kehijauan, seolah berasal dari dasar laut yang paling gelap.

Ardi memicingkan mata, jantungnya berdebar tak wajar. Cahaya itu bergerak, mendekat perlahan. Bentuknya mulai terlihat, siluet sebuah perahu layar kuno, dengan tiang-tiang patah dan layar compang-camping yang tak berkibar.

Perahu itu berlayar tanpa suara, tanpa riak di air. Tidak ada mesin, tidak ada dayung, dan yang paling mengerikan, tidak ada seorang pun di deknya. Hanya cahaya hijau yang memancar dari lambungnya yang lapuk.

Rasa dingin merayap di tulang Ardi, lebih pekat dari embun laut. Ini bukan mimpi, bukan halusinasi. Ini adalah “Perahu Gaib” yang diceritakan para tetua, dan kini, ia berada di hadapannya.

Ia mencoba menghindar, memutar kemudi kapalnya. Namun, perahu misterius itu seolah mengikutinya, menjaga jarak yang sama, cahayanya terus menembus kegelapan, mengawasi setiap gerakannya.

Ketakutan mencekiknya, namun ada rasa penasaran yang aneh menguasai Ardi. Ia memaksakan diri kembali ke desa, wajahnya pucat pasi, matanya menerawang. Penduduk desa terkejut melihat keadaannya.

Ardi akhirnya menceritakan pengalamannya. Para tetua menghela napas berat. “Itu Sang Purnama,” kata salah satu dari mereka, suaranya bergetar. “Kapal yang hilang berabad-abad lalu, bersama seluruh awaknya.”

Konon, Sang Purnama adalah kapal dagang yang membawa harta karun dan awak yang serakah. Mereka berlayar di bawah bulan purnama, berniat mengkhianati perjanjian. Badai tiba-tiba menerjang, menenggelamkan mereka semua.

“Arwah-arwah di dalamnya terperangkap,” lanjut tetua itu. “Mereka mencari sesuatu, mungkin penebusan, mungkin seseorang untuk ikut bersama mereka ke dasar lautan abadi.”

Kisah itu menghantui Ardi. Namun, keesokan harinya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Jaring Ardi, yang ia tebar di tempat ia bertemu Sang Purnama, penuh dengan ikan-ikan besar. Tangkapannya melimpah ruah.

Kejadian itu terulang beberapa kali. Setiap kali ia kembali ke perairan angker itu, perahu gaib Sang Purnama akan muncul, dan setelahnya, Ardi akan mendapatkan hasil tangkapan yang luar biasa. Sebuah perjanjian tak terucap.

Ardi mulai kecanduan. Ia mengabaikan peringatan, mengabaikan ketakutan. Hasil tangkapannya membuat ia kaya, namun jiwanya semakin kosong. Wajahnya kurus, matanya cekung, dipenuhi bayangan.

Setiap malam, di tengah laut, ia menanti kemunculan Sang Purnama. Cahaya kehijauan itu kini terasa akrab, bahkan seolah memanggilnya. Perahu gaib itu semakin dekat setiap kali muncul, seolah ingin menunjukkan sesuatu.

Suatu malam, badai hebat menerjang. Langit pecah, petir menyambar-nyambar. Ardi, yang sudah terlampau jauh, terjebak di tengah amukan alam. Kapalnya terombang-ambing seperti daun kering.

Di tengah kegilaan badai, Sang Purnama muncul. Lebih jelas dari sebelumnya. Tiang-tiangnya yang patah kini tampak utuh, layarnya yang robek berkibar penuh. Cahayanya semakin terang, menyilaukan mata.

Ardi melihatnya. Di dek kapal, siluet-siluet berkelebat. Bukan manusia, melainkan bayangan-bayangan samar, seperti kabut yang bergerak. Mereka menunjuk ke arahnya, mengulurkan tangan-tangan tak berbentuk.

Ia merasakan tarikan kuat, seolah ada tangan tak kasat mata yang menarik kapalnya mendekat. Suara bisikan-bisikan memenuhi telinganya, bukan kata-kata, melainkan rintihan dan erangan dari dasar laut.

Ardi melihat ke arah dek Sang Purnama. Di sana, di antara bayangan-bayangan, berdiri sesosok figur yang paling jelas. Sosok itu perlahan menoleh, dan Ardi terpaku.

Sosok itu adalah dirinya sendiri. Ardi, dengan wajah pucat dan mata kosong, berdiri di dek Sang Purnama, mengulurkan tangan ke arahnya, seolah memanggilnya untuk bergabung.

Ketakutan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya meledak dalam dirinya. Ini bukan janji kekayaan, ini adalah jebakan. Sang Purnama menginginkan jiwanya, menggantinya dengan salah satu dari mereka.

Dengan sisa tenaga terakhir, Ardi memutar kemudi, berteriak, melawan tarikan misterius itu. Ia memacu mesin kapal sekuat tenaga, membelah badai yang mengamuk, melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Entah bagaimana, Ardi berhasil selamat dari badai dan kembali ke pantai. Namun, ia bukanlah Ardi yang sama. Matanya selalu kosong, jiwanya seolah tertinggal di tengah lautan gelap itu.

Ia tak pernah lagi berani melaut jauh. Jaringnya tak pernah lagi penuh. Namun, ia tak menyesal. Ia tahu, ia telah melihat apa yang tidak seharusnya dilihat manusia.

Hingga kini, di malam-malam tanpa bulan, penduduk pesisir masih bercerita. Tentang Sang Purnama, perahu gaib yang berlayar tanpa awak, dan cahaya kehijauan yang terus mencari.

Beberapa nelayan beruntung masih menemukan ikan melimpah di perairan tertentu. Namun, mereka tahu, itu adalah bagian dari perjanjian yang tak terucap, dan suatu hari, Sang Purnama akan datang menjemput.

Laut menyimpan rahasianya sendiri. Dan terkadang, rahasia itu tidak hanya menunggu untuk ditemukan, tetapi juga aktif mencari mereka yang berani melangkah terlalu jauh ke dalam kegelapan.

Nelayan Tua Itu Punya Rahasia — Tentang Perahu yang Tak Pernah Berlabuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *