Scroll untuk baca artikel
DIY

Jangan Datang ke Museum Ullen Sentalu Sendirian — Ini Alasannya

9
×

Jangan Datang ke Museum Ullen Sentalu Sendirian — Ini Alasannya

Share this article

Jangan Datang ke Museum Ullen Sentalu Sendirian — Ini Alasannya

Bisikan Abadi di Kaki Merapi: Cerita Penunggu Museum Ullen Sentalu

Ullen Sentalu, permata budaya Jawa yang tersembunyi. Berdiri megah di lereng Gunung Merapi, diselimuti kabut abadi. Museum ini menyimpan koleksi seni dan budaya Jawa kuno yang memesona. Namun, di balik keagungannya, tersimpan bisikan masa lalu.

Bisikan yang tak pernah benar-benar mati, merayapi setiap lorong gelap. Sebuah cerita misteri yang telah lama menjadi rahasia. Kisah tentang para penjaga tak kasat mata yang bersemayam. Menjaga Ullen Sentalu dari gangguan dunia luar.

Arif, seorang penjaga malam baru, adalah pria skeptis. Baginya, museum hanyalah bangunan tua dengan benda-benda antik. Tugasnya adalah menjaga keamanan, bukan berburu hantu. Ia sering mencibir cerita-cerita seram yang beredar.

Namun, malam-malam di Ullen Sentalu memiliki bahasanya sendiri. Sunyi yang terlalu pekat, gelap yang terlalu dalam. Dinginnya bukan hanya udara Merapi, tetapi juga aura lain. Perlahan, keraguan Arif mulai terkikis oleh pengalaman.

Malam pertamanya terasa aneh. Ia merasakan tatapan dingin dari patung-patung kuno. Bisikan samar terdengar, seolah percakapan kuno. Arif mengira itu hanya kelelahan atau imajinasinya. Ia mencoba mengabaikan sensasi tak nyaman itu.

Di Ruang Putri Djiwa, tempat koleksi busana dan perhiasan bangsawan. Suhu mendadak turun drastis, menusuk tulang. Aroma melati kuno yang kuat tiba-tiba memenuhi udara. Padahal tak ada bunga segar di ruangan itu malam itu.

Lalu di Sasana Sekar Jagad, ruangan dengan potret-potret bangsawan Mataram. Mata pada lukisan-lukisan itu seolah mengikutinya. Mereka berkedip, atau sekadar ilusi cahaya senternya. Arif menggigil, merinding tanpa sebab jelas.

Beberapa kali, ia mendengar langkah kaki halus di lorong. Langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Saat Arif berbalik, tak ada siapa-siapa di sana. Hanya kegelapan yang menertawakannya, dan sunyi yang mencekam.

Ia mulai bertanya pada Pak Karto, penjaga senior. Pak Karto hanya tersenyum tipis penuh makna. “Museum ini punya ‘penjaga’nya sendiri, Nak,” ujarnya. “Mereka tak mengganggu, asalkan kita menghormati tempat ini.”

Arif tak percaya sepenuhnya, namun rasa penasarannya memuncak. Ia mulai memperhatikan detail-detail kecil. Bayangan yang melintas cepat di ujung mata. Pantulan di kaca yang menunjukkan siluet sekejap.

Suatu malam, ia tengah berpatroli di Ruang Batik. Kain-kain batik kuno tersimpan rapi dalam lemari kaca. Tiba-tiba, salah satu kain seolah bergerak pelan. Motifnya berkelebat, menari di bawah cahaya senternya.

Arif mendekat, memastikan penglihatannya. Kain itu kembali diam, tak bergerak sedikit pun. Namun, ia bersumpah melihat sebuah bayangan tipis. Sosok seorang wanita dengan rambut panjang terurai. Ia lenyap di antara lemari.

Kejadian serupa berulang, semakin sering dan jelas. Aroma melati menjadi lebih pekat di lorong tertentu. Suara tangisan pilu terdengar sayup-sayup. Seolah dari ruangan yang terkunci rapat dan tak pernah dibuka.

Arif mulai mencari tahu tentang sejarah museum. Ia menemukan catatan tentang Nyai Gadung Melati. Seorang abdi dalem setia yang mengabdi pada Keraton. Konon, ia sangat mencintai pusaka-pusaka keraton.

Bahkan setelah meninggal, arwahnya tetap bersemayam di sana. Melindungi setiap jengkal museum dari gangguan. Arif mulai merasa tak sendiri di setiap patrolinya. Ia merasa diawasi, namun bukan dengan ancaman.

Lebih seperti pengawasan dari seorang pengasuh yang ketat. Di salah satu sudut museum, terdapat sebuah pintu kayu tua. Pintu itu selalu terkunci, dan Pak Karto melarang keras Arif mendekatinya. “Itu Ruang Pusaka, Nak.”

“Hanya beberapa orang yang diizinkan masuk,” lanjutnya. “Dan di sana, ‘penjaga’nya sangat kuat.” Rasa ingin tahu Arif tak terbendung lagi. Suatu malam, ia membawa senter dan mencoba mengintip dari celah pintu.

Dingin menusuk langsung ke sumsum tulang. Aroma kemenyan dan melati begitu kuat di sana. Ia mendengar suara gamelan samar, seolah dimainkan dari kejauhan. Lalu, ia melihatnya, di balik kegelapan ruangan.

Sosok wanita tinggi ramping dengan kebaya tradisional. Rambutnya terurai panjang, menutupi sebagian wajahnya. Ia berdiri di depan sebuah keris kuno yang tersimpan. Keris yang terkenal dengan nama “Kyai Naga Runting”.

Wanita itu perlahan menoleh ke arah pintu. Matanya bersinar redup di kegelapan, menatap Arif. Bukan tatapan marah, melainkan peringatan. Sebuah pesan tanpa kata untuk tidak melewati batas.

Arif mundur perlahan, jantungnya berdegup kencang. Ini bukan lagi bisikan atau bayangan semu. Ini adalah penampakan yang jelas, nyata. Sosok Nyai Gadung Melati yang selama ini ia dengar.

Sejak malam itu, pandangan Arif berubah total. Ia tak lagi skeptis, justru penuh hormat. Ia menjaga museum dengan keseriusan yang berbeda. Setiap langkahnya penuh kesadaran akan kehadiran lain.

Terkadang, ia masih merasakan kehadiran Nyai Gadung Melati. Aroma melati yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Bisikan lembut yang seolah menuntun langkahnya. Atau bayangan yang melintas sekilas di depannya.

Ia tahu, Nyai Gadung Melati tak berniat mengganggu. Justru sebaliknya, ia adalah pelindung abadi museum. Penjaga yang tak kenal lelah, memastikan warisan budaya tetap lestari. Bahkan dalam bentuk spiritualnya.

Ullen Sentalu tetap berdiri megah di tengah kabut. Menarik ribuan pengunjung dengan pesona budayanya. Namun, hanya sedikit yang tahu rahasia di baliknya. Bahwa mereka tak pernah benar-benar sendirian di sana.

Di setiap sudut lorong, di setiap artefak kuno. Bisikan masa lalu terus hidup, dijaga oleh arwah setia. Nyai Gadung Melati dan para penjaga tak kasat mata lainnya. Menanti siapa lagi yang akan merasakan kehadirannya.

Dan bagi Arif, setiap malam adalah pengingat. Bahwa di Ullen Sentalu, sejarah tak hanya diceritakan. Tetapi juga dirasakan, dipeluk oleh kehadiran abadi. Sebuah misteri yang terus bernapas di kaki Merapi.

Cerita Penunggu Museum Ullen Sentalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *