Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Tangan Misterius Itu Terus Muncul dari Sumur… Hanya di Malam Hari

10
×

Tangan Misterius Itu Terus Muncul dari Sumur… Hanya di Malam Hari

Share this article

Tangan Misterius Itu Terus Muncul dari Sumur… Hanya di Malam Hari

Tangan dari Kedalaman: Misteri Sumur Tua di Dusun Senyap

Arka mencari kedamaian di Dusun Senyap, sebuah desa terpencil yang nyaris luput dari peta. Ia seorang penulis, dihantui kebuntuan kreatif, berharap kesunyian pedesaan akan membangkitkan kembali inspirasinya yang pudar. Rumah sewanya kecil, terbuat dari kayu lapuk, berdiri di tepi hutan pinus yang sunyi.

Di halaman belakang rumah itu, tersembunyi di balik semak belukar dan lumut tebal, terdapat sebuah sumur tua. Bibirnya terbuat dari batu-batu besar yang menghitam, diselimuti aura dingin yang aneh. Penduduk desa setempat selalu menghindarinya, bahkan menolak menatapnya, seolah ada rahasia kelam yang terkubur di dasarnya.

Arka, seorang rasionalis sejati, menganggapnya hanya takhayul belaka. Ia sering duduk di tepi sumur itu, memandang pantulan langit yang pecah di permukaan air gelap di kedalaman. Gema bisikan angin yang menembus celah-celah bebatuan sumur seringkali menciptakan ilusi suara-suara yang tak jelas, menambah kesan misteriusnya.

Suatu senja, saat kabut mulai merayap dari hutan, Arka kembali ke sumur. Ia merasakan desakan aneh untuk mendekat, seolah ada sesuatu yang memanggilnya dari kegelapan. Udara di sekitar sumur terasa dingin, jauh lebih dingin dari udara senja biasa.

Kemudian, sebuah riak kecil memecah ketenangan permukaan air. Arka mencondongkan tubuhnya, mengira itu hanya seekor katak atau serangga yang jatuh. Namun, yang muncul adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan, membuat jantungnya mencelos ke dasar perut.

Perlahan, dari kegelapan air yang pekat, sesosok tangan pucat muncul ke permukaan. Jari-jarinya kurus dan memanjang, kulitnya tampak keriput dan nyaris transparan, seolah telah lama terendam dalam air dingin. Kuku-kukunya hitam, seperti lumut yang menempel abadi.

Arka terkesiap, mundur terhuyung-huyung. Ia menggosok matanya, meyakini itu hanya halusinasi akibat kelelahan dan imajinasi liar seorang penulis. Tetapi tangan itu tidak menghilang, malah perlahan bergerak, seolah merangkak naik dari kedalaman, memanggilnya.

Ia panik, berlari kembali ke dalam rumah, mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Malam itu, ia tidak bisa tidur, dihantui bayangan tangan pucat yang muncul dari sumur. Setiap bayangan di dinding, setiap suara ranting patah, terasa seperti ancaman yang mendekat.

Pagi harinya, Arka mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi buruk yang sangat nyata. Ia memberanikan diri kembali ke sumur, berharap semua telah kembali normal. Sumur itu tampak sunyi, airnya tenang, seolah tak pernah ada yang terjadi.

Namun, saat ia mendekat, ia melihat jejak basah di bibir batu sumur. Jejak itu kecil, samar, tapi jelas berbentuk telapak tangan. Rasa dingin merayapi punggungnya, menegaskan bahwa apa yang ia lihat semalam bukanlah ilusi, melainkan kenyataan yang mengerikan.

Arka mulai bertanya-tanya. Apa atau siapa tangan itu? Mengapa ia muncul? Apakah ini pertanda? Ia merasakan dorongan kuat untuk mengungkap misteri di balik sumur tua ini, seolah takdir telah menempatkannya di sini untuk tujuan tertentu.

Ia mencoba bertanya pada beberapa penduduk desa tentang sejarah sumur itu. Setiap kali ia menyebutkan sumur itu, wajah mereka langsung berubah tegang, mata mereka memancarkan ketakutan yang mendalam. Mereka hanya menggelengkan kepala, menolak membicarakannya.

Seorang wanita tua bernama Mbah Darmi, yang dikenal sebagai penjaga cerita-cerita kuno desa, akhirnya mau bicara. Namun, kata-katanya penuh teka-teki, hanya bisikan-bisikan tentang “jiwa yang gelisah” dan “janji yang tak terpenuhi” di dasar sumur.

“Sumur itu,” bisik Mbah Darmi, matanya menerawang jauh, “adalah tempat peristirahatan yang tak tenang. Ada yang tertahan di sana, tak bisa pergi, tak bisa berdamai.” Ia menolak memberikan detail lebih lanjut, hanya memperingatkan Arka untuk tidak mengganggu.

Peringatan itu justru memicu rasa ingin tahu Arka. Ia mulai mencari literatur tua di perpustakaan desa, buku-buku catatan sejarah yang nyaris tak pernah dibuka. Ia berharap menemukan petunjuk tentang asal-usul sumur dan kisah kelam yang mungkin menyertainya.

Ia menemukan sebuah catatan kuno yang menyebutkan sumur itu adalah bagian dari sebuah rumah kuno yang dihuni oleh keluarga kaya raya ratusan tahun lalu. Catatan itu samar, hanya menyebutkan “tragedi” dan “hilangnya seorang gadis muda” tanpa detail lebih lanjut.

Malam berikutnya, Arka kembali ke sumur. Kegelapan telah menelan segalanya, hanya diterangi cahaya remang-remang bulan. Ia menunggu, jantungnya berdebar kencang, antara takut dan penasaran yang membara. Ia tahu tangan itu akan muncul lagi.

Dan benar saja, perlahan tapi pasti, tangan pucat itu kembali keluar dari air. Kali ini, ia tidak hanya diam. Jari-jarinya bergerak-gerak, seolah ingin meraih sesuatu, atau mungkin, ingin menyampaikan pesan. Arka memberanikan diri mendekat.

Tangan itu kini menunjuk ke arah hutan pinus, ke sebuah titik yang lebih gelap di antara pepohonan. Lalu, ia perlahan berputar, seolah mengundang Arka untuk mengikuti arah yang ditunjukkannya. Dinginnya malam semakin menusuk tulang.

Arka ragu, naluri bertahan hidupnya berteriak untuk lari. Namun, ada sesuatu dalam gerakan tangan itu, semacam keputusasaan dan kesedihan yang mendalam, yang membuatnya tak bisa berpaling. Ia memutuskan untuk mengikuti petunjuk bisu itu.

Ia berjalan hati-hati menembus semak belukar dan akar-akar pohon yang menjulur di kegelapan hutan. Setiap langkah terasa berat, daun-daun kering di bawah kakinya berderak, menciptakan suara yang memecah kesunyian malam. Udara semakin dingin.

Akhirnya, ia sampai di sebuah reruntuhan tua yang nyaris tak terlihat, tertutup tanaman merambat dan lumut tebal. Ini pasti sisa-sisa rumah kuno yang ia baca dalam catatan sejarah. Aroma tanah basah dan lapuk menyeruak kuat di udara.

Di tengah reruntuhan itu, terdapat sebuah batu nisan tanpa nama, nyaris terkubur dalam tanah. Arka berlutut, mencoba membersihkan lumut yang menutupi permukaannya. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah ada yang berdiri di sampingnya.

Ia menoleh, dan di depannya, tangan pucat itu muncul lagi, melayang di atas batu nisan. Kali ini, ia tidak menunjuk atau mengundang. Tangan itu perlahan terangkat, jari telunjuknya menelusuri ukiran samar di batu nisan yang nyaris tak terlihat.

Arka menyalakan senter ponselnya, menyoroti ukiran itu. Ada sebuah nama yang terukir samar: “Asih.” Di bawahnya, sebuah tanggal lahir dan kematian yang sangat singkat. Tanggal kematiannya sama dengan tanggal “tragedi” yang ia baca.

Tangan itu kini melayang di atas nama Asih, seolah ingin membelainya. Kemudian, jari-jarinya mulai bergerak lagi, bukan menunjuk, tapi seolah menulis di udara. Arka memfokuskan pandangannya, mencoba membaca pesan tak kasat mata itu.

Kata-kata samar mulai terbentuk di benaknya: “Pengkhianatan… sumur… kebohongan…” Pikiran Arka berpacu, menghubungkan potongan-potongan teka-teki ini. Asih, tragedi, sumur, pengkhianatan. Mungkinkah Asih adalah jiwa yang terperangkap?

Tiba-tiba, tangan itu bergerak cepat, menunjuk ke sebuah sudut reruntuhan. Di sana, tertutup tumpukan batu dan kayu lapuk, ada sebuah celah kecil. Dorongan misterius itu semakin kuat, mendesaknya untuk menggali.

Arka mulai menyingkirkan puing-puing itu dengan susah payah. Di bawahnya, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang sudah lapuk, terikat rantai besi berkarat. Kotak itu mengeluarkan aroma lembap dan tanah.

Ia berhasil membuka kotak itu dengan susah payah. Di dalamnya, ada sehelai kain sutra usang yang membungkus sesuatu. Arka membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah liontin perak tua, berkarat, dan sebuah gulungan perkamen yang menguning.

Tangan pucat itu muncul lagi, kini melayang tepat di atas liontin itu, bergetar hebat. Arka merasakan gelombang emosi yang kuat memancar dari tangan itu: kesedihan, kemarahan, dan kelegaan yang campur aduk.

Ia membuka gulungan perkamen itu dengan hati-hati. Tulisan tangan di dalamnya tampak kuno, pudar, tapi masih terbaca jelas. Itu adalah sebuah surat, pengakuan dosa dari seseorang bernama Bayu, kekasih Asih.

Bayu mengakui telah mendorong Asih ke dalam sumur karena cemburu dan fitnah dari pihak ketiga. Ia menyesali perbuatannya, namun ketakutan telah menguasainya, dan ia membiarkan Asih tewas di sana. Ia mengakhiri surat itu dengan harapan Asih akan memaafkannya.

Membaca pengakuan itu, Arka merasakan beban berat di dadanya. Kisah tragis Asih, terperangkap dalam sumur, jiwanya gelisah karena kebenaran tak pernah terungkap. Tangan itu, yang muncul dari kedalaman, adalah wujud kerinduan akan keadilan.

Arka kembali ke sumur, membawa kotak kayu dan surat pengakuan itu. Ia meletakkan semuanya di bibir sumur, di tempat tangan itu pertama kali muncul. Ia berharap ini akan membawa kedamaian bagi jiwa Asih.

Tangan pucat itu muncul untuk terakhir kalinya. Kali ini, gerakannya lebih lembut, seolah mengelus liontin dan surat itu. Ada semacam ketenangan yang terpancar darinya, sebuah kelegaan yang mendalam.

Perlahan, tangan itu mulai memudar, larut kembali ke dalam kegelapan air sumur. Bukan dengan panik atau desakan, melainkan dengan damai, seolah beban yang selama ini ditanggungnya telah terangkat. Air kembali tenang, pantulan bintang kembali utuh.

Sejak malam itu, tangan pucat itu tak pernah muncul lagi. Sumur tua itu kini terasa berbeda, tidak lagi memancarkan aura ketakutan, melainkan kesunyian yang sarat akan sejarah. Misteri telah terungkap, dan kebenaran telah menemukan jalannya.

Arka meninggalkan Dusun Senyap tak lama setelah itu, namun kenangan akan tangan dari kedalaman sumur itu tak pernah sirna. Ia membawa kisah Asih, sebuah tragedi yang nyaris terlupakan, kini menjadi bagian dari dirinya.

Ia menulis kisah itu, bukan sebagai horor, melainkan sebagai peringatan tentang kebeningan kebenaran yang, sekalipun terkubur dalam-dalam, akan selalu menemukan cara untuk muncul ke permukaan. Terkadang, keadilan datang dari tempat yang tak terduga, dari kedalaman sumur yang paling gelap.

Tangan Misterius Itu Terus Muncul dari Sumur… Hanya di Malam Hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *