
Checklist Terakhir Sebelum Hilang
Angin dingin bulan Desember menusuk tulang. Arka menarik kerah jaketnya, menatap rumah tua di depannya. Lumut tebal menempel di dinding batu, seolah waktu berhenti di sana. Ini rumah Dr. Wijoyo, seorang sejarawan eksentrik yang kini lenyap.
Pintu gerbang berderit pelan saat Arka mendorongnya. Bau apek dan lembap langsung menyergap. Beberapa hari lalu, keluarga Dr. Wijoyo menghubunginya. Tidak ada kabar, tidak ada jejak, hanya keheningan yang mencurigakan.
Arka adalah seorang detektif swasta. Kasus orang hilang adalah spesialisnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Intuisi Arka menjerit, mengatakan ini bukan sekadar pelarian biasa.
Ia melangkah masuk. Debu tebal menutupi segalanya, kecuali satu area kecil di meja belajar. Sebuah lingkaran bersih, seolah ada sesuatu yang baru saja diangkat dari sana. Jantung Arka berdegup pelan.
Di sampingnya, sebuah buku harian usang tergeletak. Halamannya terbuka pada sebuah daftar. Bukan daftar belanja biasa. Melainkan simbol-simbol aneh, tertulis rapi.
“Checklist terakhir,” bisik Arka, membaca judul yang ditulis tangan di atasnya. Tulisan itu bergetar, seolah tergesa-gesa atau ketakutan. Ada tiga item utama.
Yang pertama, tertulis dengan tinta merah darah: Mata Penjaga.
Arka menelusuri pandangannya ke sekeliling ruangan. Rak buku yang menjulang tinggi, penuh dengan manuskrip kuno. Lukisan-lukisan abstrak yang menatap kosong. Tidak ada yang menonjol.
Ia mendekati jendela, menyibak tirai beludru yang tebal. Di kusen, terukir samar sebuah simbol mata yang familiar. Sama persis dengan yang ada di buku harian. Di bawah ukiran itu, ada tombol kecil.
Arka menekannya. Sebuah bagian dinding bergeser, memperlihatkan lorong sempit yang gelap. Udara dingin keluar dari sana, membawa serta aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua. Bau kematian.
Ia menyalakan senternya. Lorong itu berakhir di sebuah ruangan kecil. Di tengahnya, sebuah monitor tua menyala redup. Layarnya menampilkan rekaman CCTV dari dalam rumah.
“Mata Penjaga,” gumam Arka. Dr. Wijoyo memantau rumahnya sendiri. Atau, seseorang yang dia takuti. Rekaman terakhir menunjukkan Dr. Wijoyo sendiri, tengah mondar-mandir panik.
Lalu, sebuah bayangan melintas di sudut layar. Terlalu cepat untuk diidentifikasi. Hanya sesosok siluet tinggi dan kurus. Rekaman itu tiba-tiba terputus, digantikan oleh noise statis.
Arka mematikan monitor. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dr. Wijoyo tidak pergi begitu saja. Dia diseret, atau dipaksa. Ia kembali ke buku harian.
Item kedua: Ular Berbisik.
Simbol ular melingkar, dengan lidah bercabang seolah mengeluarkan suara. Arka kembali menyapu pandangan ke sekeliling rumah. Di mana ada ular yang berbisik?
Ia teringat perpustakaan Dr. Wijoyo yang legendaris. Ribuan buku dari berbagai abad dan bahasa. Mungkin ada petunjuk di sana. Ia melangkah menuju ruangan itu.
Bau kertas tua dan tinta memenuhi hidungnya. Rak-rak kayu gelap menjulang tinggi, membentuk labirin. Arka mengikuti intuisi, menyusuri deretan buku-buku tebal.
Ia berhenti di bagian mitologi kuno. Sebuah buku berjudul “Legenda Serpent Naga” menarik perhatiannya. Sampulnya dihiasi ukiran ular bersayap. Arka membukanya.
Halaman demi halaman kosong. Kecuali satu. Di tengah buku, ada sebuah piringan hitam kecil yang tersembunyi. Piringan hitam tua, seukuran telapak tangan.
Arka menemukan pemutar piringan hitam kuno di sudut ruangan. Ia meletakkan piringan itu dengan hati-hati. Jarum menuruni alur, dan suara statis memenuhi ruangan.
Kemudian, sebuah bisikan muncul. Suara Dr. Wijoyo, serak dan penuh ketakutan. “Mereka datang… untuk permata… bukan mitos… ini nyata… Aku menyembunyikannya… di… di…”
Suara itu terputus oleh jeritan. Jeritan yang menusuk, singkat, lalu sunyi. Arka menelan ludah. Itu adalah rekaman saat Dr. Wijoyo menghilang. Sebuah pesan terakhir.
“Permata?” gumam Arka. “Bukan mitos? Apa yang telah kau temukan, Dokter?” Ia menatap piringan hitam itu. Ia harus segera menemukan item ketiga.
Item ketiga: Gema Abad.
Simbol sebuah menara, dengan garis-garis bergelombang di bawahnya, seperti suara atau riak waktu. Gema abad. Apa artinya?
Arka berpikir keras. Dr. Wijoyo adalah sejarawan. Abad. Gema. Pasti terkait dengan sesuatu yang sangat tua. Sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam rumah ini.
Ia teringat cerita-cerita tentang lorong bawah tanah rahasia di rumah-rumah kuno. Ia kembali ke lorong di balik “Mata Penjaga”. Mungkin ada jalan lain dari sana.
Ia meraba dinding lorong, mencari celah. Tangannya menyentuh sebuah batu yang longgar. Dengan sedikit usaha, batu itu bergeser, menampakkan celah sempit.
Di baliknya, ada tangga batu yang spiral, menurun ke kegelapan. Udara di bawah sana lebih dingin, lebih lembap. Bau tanah dan lumut semakin kuat. Aroma rahasia kuno.
Arka menuruni tangga itu perlahan. Langkahnya bergema di keheningan. Senternya menyinari dinding-dinding batu yang berlumut. Semakin dalam, semakin gelap.
Tangga itu berakhir di sebuah ruangan bawah tanah yang luas. Di tengahnya, berdiri sebuah monumen batu aneh. Bentuknya menyerupai menara kecil, diukir dengan simbol-simbol yang tak dikenal.
Itu adalah “Gema Abad.” Monumen itu bergetar samar, seolah memancarkan energi. Di puncaknya, ada sebuah cekungan kosong. Pasti tempat “permata” yang disebutkan Dr. Wijoyo.
Arka mendekat, jantungnya berpacu. Monumen itu tampak kuno, jauh melampaui usia rumah ini. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.
Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar dari kegelapan. “Kau menemukannya.”
Arka terkesiap, membalikkan badan. Di ambang pintu lorong, berdiri sesosok bayangan tinggi dan kurus. Siluet yang sama dengan yang terlihat di rekaman CCTV.
“Siapa kau?” tanya Arka, suaranya tercekat. Tangannya meraih pistol di balik jaketnya.
“Seseorang yang mengikuti jejak yang sama denganmu,” jawab suara itu, kering dan dingin. “Jejak yang ditinggalkan Wijoyo. Dia tahu kami akan datang.”
Bayangan itu melangkah maju, memperlihatkan sosok seorang pria kurus dengan mata yang tajam. Di tangannya, sebuah pisau berkilauan. “Permata itu adalah kunci. Wijoyo telah menyembunyikannya.”
“Apa yang kalian inginkan dari permata itu?” Arka mencoba mengulur waktu.
“Kekuatan,” jawab pria itu, seringai tipis terukir di wajahnya. “Kekuatan yang bisa mengubah dunia. Dan Wijoyo, dia hanya seorang penjaga bodoh yang menghalangi jalan.”
Pria itu melangkah cepat. Arka mengangkat pistolnya, namun terlalu lambat. Pria itu sudah berada di depannya. Sebuah tangan yang kuat mencengkeram lengannya.
Pisau itu berkilat. Arka merasakan sakit yang menusuk. Pistolnya terjatuh. Ia tersandung mundur, menabrak monumen “Gema Abad”.
Sebuah retakan terdengar. Monumen itu bergetar hebat. Pria itu menghentikan serangannya, menatap monumen dengan panik. “Apa yang kau lakukan?!”
Arka menatap monumen itu. Sebuah celah kecil terbuka di dasarnya. Dan di dalamnya, sebuah cahaya kebiruan berdenyut. Permata itu.
Pria itu mencoba meraihnya, namun monumen itu bergetar semakin kencang. Retakan-retakan menjalar di seluruh permukaannya. Suara gemuruh memenuhi ruangan.
“Tidak!” teriak pria itu. Ia berbalik, menatap Arka dengan mata penuh amarah. “Kau merusaknya!”
Arka merasakan sakit di lengannya, namun ia tahu ini adalah kesempatannya. Ia melihat ke arah celah di monumen itu. Cahaya biru itu semakin terang.
Monumen itu meledak. Bukan ledakan fisik, melainkan ledakan cahaya dan energi. Arka terlempar ke belakang, kepalanya membentur dinding. Pandangannya kabur.
Saat ia mencoba bangkit, ia melihat pria kurus itu. Pria itu berdiri kaku, matanya terbelalak. Tubuhnya mulai memudar, seperti debu yang tertiup angin.
Cahaya biru dari permata itu menyelimuti ruangan. Permata itu melayang di udara, berputar-putar. Monumen “Gema Abad” hancur berkeping-keping.
Pria itu benar-benar lenyap, hanya menyisakan bayangan kosong di tempatnya berdiri. Cahaya permata itu semakin menyilaukan.
Arka merasakan tarikan aneh. Kakinya terasa ringan, tubuhnya seolah terangkat. Ruangan itu berputar. Suara bisikan-bisikan kuno memenuhi telinganya.
Ia melihat bayangan Dr. Wijoyo, tersenyum samar di tengah cahaya. “Kau berhasil, Arka…” bisiknya.
Lalu, semua menjadi putih.
Ketika Arka membuka mata, ia tidak lagi berada di ruang bawah tanah. Ia berada di sebuah tempat yang aneh. Langit-langitnya adalah bintang-bintang, tanpa batas. Lantainya adalah kabut kebiruan.
Permata biru itu melayang di depannya, bersinar lembut. Di kejauhan, ia melihat siluet menara-menara aneh dan struktur yang tak masuk akal. Ini bukan bumi.
Ia tidak tahu berapa lama ia telah berada di sana. Ia tidak tahu bagaimana caranya kembali. Dr. Wijoyo telah meninggalkan checklist terakhirnya. Dan Arka, kini menjadi bagian dari daftar itu.
Ia telah menyelesaikan checklist itu. Dan kini, ia sendiri yang telah hilang.











