Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Legenda Penari Reog Itu Sempat Dilupakan… Sampai Malam Itu Datang

11
×

Legenda Penari Reog Itu Sempat Dilupakan… Sampai Malam Itu Datang

Share this article

Legenda Penari Reog Itu Sempat Dilupakan… Sampai Malam Itu Datang

Dendam Penari Reog yang Terlupakan: Simfoni Kegelapan di Tanah Purbasari

Angin malam di Desa Purbasari selalu membawa bisikan. Bukan bisikan biasa, melainkan desah kuno yang merayap, membawa aroma tanah basah dan melati layu. Bagi warga desa, itu adalah napas Reog, kesenian sakral yang menjadi jantung kehidupan mereka.

Namun, belakangan ini, bisikan itu terasa berbeda. Lebih berat, lebih dingin, seolah menyimpan rahasia kelam. Sebuah bayangan menari di antara pepohonan beringin tua, bukan bayangan penari Reog yang gagah, melainkan siluet hantu.

Arjun, seorang peneliti budaya muda dari kota, tiba di Purbasari dengan ambisi besar. Ia ingin mendokumentasikan setiap detail Reog, memahami akarnya, dan mengungkap cerita-cerita tersembunyi yang belum terjamah publik.

Ia tidak tahu, bahwa ia baru saja melangkah ke dalam sarang misteri. Ke dalam kisah dendam yang telah lama terkubur, menunggu saat untuk bangkit. Dendam seorang penari yang terlupakan.

Hari-hari pertamanya di desa berjalan lancar. Arjun bertemu para sesepuh, menyaksikan latihan, dan mengagumi topeng Singa Barong yang megah. Namun, ada satu nama yang selalu dihindari, satu sosok yang tak pernah disebut dengan lantang.

Nama itu adalah Ki Broto. Setiap kali Arjun mencoba bertanya, raut wajah mereka mengeras. Mata mereka memancarkan ketakutan yang dalam, seolah menyebut nama itu saja sudah mengundang bahaya.

Suatu malam, saat bulan purnama menggantung tinggi, sebuah insiden ganjil terjadi. Topeng Singa Barong utama di sanggar desa, yang konon berusia ratusan tahun, tiba-tiba jatuh dari tempatnya.

Bukan hanya jatuh, tetapi juga retak di bagian mata. Retakan itu membentuk pola aneh, menyerupai tetesan air mata darah yang mengering. Suara gemuruh kecil terdengar, seolah topeng itu sendiri merintih.

Para sesepuh langsung mengadakan ritual. Aroma kemenyan dan bunga-bunga memenuhi udara, namun ketakutan tak kunjung sirna. Arjun merasakan energi aneh, dingin dan menusuk, yang menguar dari topeng retak itu.

Beberapa hari kemudian, Ketua Paguyuban Reog, Mbah Karso, jatuh sakit misterius. Tubuhnya kurus kering, matanya cekung, dan ia terus menggumamkan nama “Ki Broto” dalam tidurnya yang gelisah.

Dokter dari kota tak menemukan penyakit fisik. Mbah Karso seolah disedot energinya, jiwanya ditarik paksa. Penduduk desa berbisik, ini adalah ulah “roh penari yang tak tenang.”

Arjun mulai merasa tergelitik. Ia mendatangi Mbah Kismo, sesepuh paling tua di desa, yang tinggal terpencil di ujung perkampungan. Wajah Mbah Kismo dipenuhi kerutan, namun matanya menyimpan kebijaksanaan sekaligus kesedihan.

Dengan berat hati, dan setelah Arjun berjanji untuk merahasiakannya, Mbah Kismo mulai bercerita. Kisah Ki Broto, penari Reog terhebat yang pernah ada di Purbasari, puluhan tahun silam.

Ki Broto adalah maestro. Gerakannya lincah, ekspresinya memukau. Ia bisa membuat topeng Singa Barong seolah hidup, berdenyut dengan roh purba. Konon, ia memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan dunia spiritual Reog.

Namun, Ki Broto bukanlah orang kaya. Ia hidup sederhana, mengabdikan diri pada seni. Beberapa tokoh desa, yang kini telah tiada atau sudah sangat tua, merasa iri pada popularitas dan kekuatan spiritualnya.

Mereka adalah Mbah Karso, pemilik tanah yang tamak; Pak Lurah di masa itu, yang haus kekuasaan; dan seorang pengusaha kaya dari kota, yang ingin menjadikan Reog sebagai komoditas bisnisnya.

Mereka bersekongkol. Mereka menuduh Ki Broto melakukan praktik klenik sesat, merusak citra desa, dan menyalahgunakan kekuatan spiritualnya untuk tujuan pribadi. Sebuah fitnah keji yang meruntuhkan nama baiknya.

Ki Broto diusir dari desa, dilarang menari, bahkan topeng Singa Barong kesayangannya disita. Ia pergi dengan hati hancur, mata penuh air mata, dan sumpah yang terucap di bibir: “Aku akan kembali.”

“Dia menghilang,” bisik Mbah Kismo. “Tak ada yang tahu ke mana. Tubuhnya tak pernah ditemukan. Tapi arwahnya… arwahnya tetap di sini, bersemayam di antara tiang-tiang bambu dan napas Singa Barong.”

Sejak Ki Broto menghilang, berbagai musibah menimpa para penuduhnya. Ladang mereka kering, bisnis mereka bangkrut, dan beberapa di antaranya meninggal secara misterius. Namun, seiring waktu, kisah itu memudar, menjadi legenda yang terlupakan.

Hingga kini. Hingga topeng itu retak. Hingga Mbah Karso terbaring sakit. Arjun merasa bulu kuduknya berdiri. Dendam Ki Broto, setelah puluhan tahun, kini bangkit kembali.

Arjun mulai menyusun kepingan teka-teki. Ia mengunjungi sisa-sisa rumah Ki Broto yang kini tak berpenghuni. Di sana, ia menemukan sebuah kotak kayu lapuk, terkubur di bawah lantai yang runtuh.

Di dalamnya, ada sebuah buku harian lusuh dan sebuah kalung kecil berukiran simbol Reog kuno. Buku harian itu berisi tulisan tangan Ki Broto, catatan latihannya, pemikirannya, dan penderitaannya.

Di halaman terakhir, tertulis dengan tinta yang memudar: “Mereka mengira bisa menghancurkan jiwaku. Mereka salah. Jiwaku akan menjadi satu dengan Reog itu sendiri. Dan Reog akan menuntut balas.”

Kalung itu, yang dulunya milik Ki Broto, kini terasa dingin di genggaman Arjun. Ia merasa seolah energi kuno, seolah roh penari itu sendiri, mulai merasuki topeng-topeng Singa Barong di seluruh desa.

Kejadian aneh terus berlanjut. Suara gamelan yang dimainkan tanpa pemain terdengar di malam hari, melodi sendu yang menusuk hati. Bayangan Ki Broto menari di batas pandang, sekilas terlihat lalu menghilang.

Seorang pengusaha kaya dari kota, yang dulunya adalah anak dari pengusaha yang bersengkokol dengan Mbah Karso, datang ke desa untuk membeli tanah. Ia berencana membangun resor mewah di area yang dulunya milik Ki Broto.

Malam ia tiba, ia mengalami mimpi buruk yang mengerikan. Ia melihat Ki Broto menari di depannya, dengan mata menyala dan topeng Singa Barong yang meraung. Pagi harinya, ia ditemukan tak sadarkan diri, tubuhnya kaku dan dingin.

Arjun menyadari, dendam Ki Broto bukan hanya tentang kematian. Ini tentang pengembalian kehormatan, tentang memutar balik roda takdir yang telah memfitnahnya. Ia tidak mencari korban, melainkan keadilan.

Keadilan versi Ki Broto, adalah ketakutan yang merayap, kehilangan yang menyakitkan, dan pengakuan atas keberadaannya yang tak pernah mati. Reog, kesenian yang dicintainya, kini menjadi medium balas dendamnya.

Topeng Singa Barong di sanggar kini mengeluarkan suara dengungan rendah. Retakan di matanya seolah membesar, berdenyut seirama dengan detak jantung Arjun yang berpacu kencang.

Arjun tahu, ia tidak bisa menghentikan ini. Ini bukan tentang mengusir hantu, melainkan memahami kesedihan yang tak terucap. Ia harus menceritakan kisah Ki Broto, mengembalikan namanya, agar arwahnya menemukan kedamaian.

Ia menulis artikelnya dengan tergesa-gesa, setiap kata terasa seperti bisikan dari masa lalu. Ia ingin dunia tahu, tentang penari Reog yang terlupakan, yang dendamnya kini menjadi simfoni kegelapan di Purbasari.

Saat fajar menyingsing, dan artikel itu selesai, sebuah perasaan aneh menyelimuti Arjun. Udara di sekitarnya terasa lebih ringan, bisikan angin tak lagi mengandung ancaman, melainkan kesyahduan.

Retakan di topeng Singa Barong yang retak, entah bagaimana, tampak sedikit memudar. Apakah arwah Ki Broto telah menemukan kedamaian? Atau hanya bersembunyi, menunggu giliran berikutnya?

Arjun tidak tahu. Yang ia tahu, Purbasari kini hidup dengan legenda baru. Legenda dendam seorang penari yang tak akan pernah lagi terlupakan. Dan setiap malam, bisikan angin di desa itu akan membawa kisahnya, selamanya.

Ia menatap topeng itu. Di matanya yang kini tak lagi sepenuhnya retak, ia melihat pantulan bayangannya sendiri. Dan untuk sesaat, ia merasa seolah mata itu berkedip, seolah Ki Broto mengawasinya, dari balik tirai kegelapan.

Dendam Penari Reog yang Terlupakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *