Desa Kabut Abadi: Misteri yang Ditelan Keheningan
Bagi Ardi, kartografer yang haus misteri, legenda Desa Kabut Abadi adalah obsesi. Bukan sekadar kisah usang dari mulut ke mulut penduduk gunung. Ini adalah titik kosong di peta, sebuah anomali yang menantang nalar.
Dikatakan desa itu hanya muncul sesaat, di tengah lembah terpencil. Lalu ditelan kembali oleh kabut tebal, seolah tak pernah ada. Sebuah teka-teki yang memanggil Ardi untuk membuktikan keberadaannya.
Perjalanannya menembus hutan rimba memakan waktu berhari-hari. Semak belukar yang lebat dan jalur setapak yang hampir tertelan lumut. Setiap langkah adalah perjuangan melawan alam yang enggan berbagi rahasianya.
Peringatan penduduk desa terakhir yang ia temui masih terngiang. "Jangan cari yang tak ingin ditemukan, Nak." Mata tua mereka sarat akan ketakutan purba, sebuah kengerian yang tak bisa dijelaskan kata-kata.
Namun obsesi Ardi jauh lebih kuat. Ia membawa peta-peta kuno, catatan-catatan tak jelas, dan keyakinan teguh. Keyakinan bahwa di balik kabut, ada kebenaran yang menunggu untuk diungkap.
Akhirnya, setelah berjam-jam menelusuri punggung bukit, lembah tersembunyi itu terbuka. Di bawahnya, terhampar Desa Kabut Abadi, seperti diukir dari dongeng. Rumah-rumah kayu sederhana, asap mengepul dari cerobong batu.
Sebuah kedamaian yang terasa palsu menyelimuti desa. Udara dipenuhi aroma tanah basah dan kayu bakar. Ardi melangkah hati-hati, seolah takut mengganggu keheningan yang rapuh itu.
Penduduknya menyambut dengan senyum tipis, namun mata mereka sarat akan rahasia kuno. Mereka ramah, tapi sangat pendiam. Setiap pertanyaan Ardi tentang sejarah desa selalu dijawab dengan samar.
Mereka enggan membicarakan kabut. Seolah itu adalah kutukan yang tak terucap, sebuah perjanjian bisu dengan kekuatan tak terlihat. Ardi merasakan ketegangan aneh di balik keramahan mereka.
Ardi segera menyadari keanehan kabut di sana. Bukan kabut biasa yang menutupi pandangan di pegunungan. Ini bergerak dengan kesadaran tersendiri, seperti entitas hidup yang bernapas di lembah.
Kabut itu datang dan pergi dengan pola aneh, tak terduga. Kadang ia menutupi seluruh lembah, kadang hanya menari-nari di pinggir hutan. Setiap kali datang, ia membawa dingin yang menusuk.
Penduduk desa akan bergegas masuk ke rumah mereka. Mengunci pintu dan jendela, menyalakan lentera. Seolah mereka sedang bersembunyi dari sesuatu yang tak terlihat namun mengerikan.
Ardi mencoba mencari tahu, namun tak ada yang mau bicara. Ia membaca setiap ukiran di dinding rumah, setiap simbol di batu nisan kuno. Mencoba menemukan petunjuk tentang misteri kabut itu.
Malam kelima Ardi di desa, dingin yang menusuk tulang mulai meresap. Kabut tebal, berwarna kelabu keunguan, merayap turun dari puncak bukit. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar.
Menelan pepohonan di tepi lembah, lalu menyentuh atap-atap desa. Bukan lagi desiran lembut, melainkan dengung rendah yang menggetarkan udara. Udara dipenuhi bau tanah basah dan sesuatu yang asing, seperti ozon.
Suara-suara desa mulai mereda, bukan senyap biasa karena tidur. Lebih seperti suara yang diserap, ditarik ke dalam kehampaan. Ardi bergegas ke luar pondoknya, jantungnya berdegup kencang.
Ia melihat siluet warga berdiri terpaku di halaman, menatap kosong ke arah kabut. Mereka tidak berteriak, tidak berlari. Hanya berdiri, seperti patung-patung yang menunggu takdir.
Kabut itu menari-nari, seperti makhluk hidup raksasa yang lapar. Menyelimuti satu per satu rumah-rumah kayu sederhana. Bukan ilusi optik, bukan pandangan yang tertutup.
Bangunan itu benar-benar lenyap di balik tirai kelabu. Seolah dihapus dari keberadaan itu sendiri, tanpa meninggalkan jejak. Sebuah kehampaan mengerikan mulai mengisi ruang yang sebelumnya terisi.
Jeritan tertahan tercekat di tenggorokan Ardi. Ia melihat seorang wanita paruh baya, yang tadi pagi menyapanya, melayang. Bukan melompat, tapi terangkat perlahan ke dalam kabut.
Wanita itu lenyap, seolah tak pernah ada di sana. Cahaya dari lentera-lentera di jendela padam satu per satu. Bukan mati, melainkan ikut sirna bersama objeknya.
Udara menjadi sangat dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum. Ardi merasa seolah ruang itu sendiri sedang terkoyak, direnggut oleh kekuatan tak kasat mata. Panik mencengkeram jiwanya.
Ia mundur, terhuyung-huyung, kakinya terasa lemas. Kabut itu terus meluas, mendekatinya dengan lambat, mengancam untuk menelannya juga. Ia bisa merasakan tarikan halus.
Seperti bisikan kuno yang memanggilnya, sebuah undangan. Undangan untuk ikut lenyap bersamanya, menjadi bagian dari misteri yang tak terpecahkan. Untuk selamanya menghilang.
Dengan sisa kekuatan, Ardi berbalik dan berlari menjauh. Menembus batas hutan, tanpa menoleh ke belakang. Suara dengungan kabut mengikuti langkahnya yang panik.
Hingga ia jatuh terjerembap, kelelahan, jauh dari lembah itu. Tubuhnya gemetar, pikirannya kacau balau. Ia bersembunyi di balik semak, menunggu fajar menyingsing.
Fajar menyingsing, membawa cahaya pucat yang menembus dedaunan. Ardi kembali ke lembah itu, tubuhnya masih gemetar. Tidak ada Desa Kabut Abadi.
Hanya hamparan tanah basah, bekas genangan air dari embun malam. Seolah mimpi buruk yang terukir di kenyataan. Tidak ada puing, tidak ada jejak, tidak ada sisa.
Bahkan bekas api unggun yang ia nyalakan semalam pun telah tiada. Hanya keheningan absolut yang mencekam jiwa. Dan aroma kabut yang masih tertinggal samar di udara.
Ardi kembali ke peradaban, membawa kisah yang mustahil dipercaya. Orang-orang menatapnya dengan pandangan iba atau skeptis. Ia dicap gila, seorang yang tersesat dan berhalusinasi di hutan.
Namun Ardi tahu kebenaran yang mengerikan itu. Ia menghabiskan sisa hidupnya mencari jawaban, membaca manuskrip kuno, legenda yang terlupakan. Desa Kabut Abadi menjadi kutukan sekaligus obsesinya.
Sebuah misteri yang menari-nari di balik tirai kabut. Hingga kini, terkadang ia merasakan tarikan itu. Panggilan samar dari kabut yang tak pernah benar-benar pergi.
Menunggu saat yang tepat untuk kembali menampakkan diri. Dan menelan lagi apa pun yang berani mendekat. Sebuah desa yang lenyap, sebuah legenda hidup, sebuah misteri abadi.




