Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Tak Ada di Peta! Desa Ini Tersembunyi di Balik Bukit Sunyi…

9
×

Tak Ada di Peta! Desa Ini Tersembunyi di Balik Bukit Sunyi…

Share this article

Tak Ada di Peta! Desa Ini Tersembunyi di Balik Bukit Sunyi…

Desa Senyap di Balik Bukit Tandus

Angin musim kemarau berbisik di telinga, membawa aroma tanah kering dan janji sebuah misteri. Arka, seorang fotografer petualang, mengikuti jejak peta kuno yang ditemukannya di sebuah pasar loak. Peta itu menunjuk ke sebuah titik di balik rangkaian bukit tandus yang tak pernah terjamah.

Rumor tentang desa yang menghilang, tentang kabut abadi yang menyelimuti, telah lama menghantui imajinasinya. Dengan kamera tergantung di leher dan ransel penuh perbekalan, ia memulai pendakian yang melelahkan. Setiap langkah adalah perjuangan melawan semak belukar dan bebatuan licin.

Matahari mulai condong ke barat saat ia mencapai puncak terakhir. Di bawahnya, terhampar sebuah lembah tersembunyi yang seharusnya tidak ada. Sebuah desa, sunyi dan kuno, bersembunyi di balik kabut tipis yang anehnya tidak terpengaruh oleh panasnya siang.

Rumah-rumah kayu berdiri kokoh, berjejer rapi mengelilingi sebuah lapangan luas. Tidak ada asap mengepul dari cerobong, tidak ada suara tawa anak-anak, bahkan kicauan burung pun absen. Hening mencekam menyelimuti desa itu, seolah waktu berhenti di sana.

Arka perlahan menuruni lereng, jantungnya berdegup kencang. Udara menjadi lebih dingin, lebih padat, seolah ada sesuatu yang menekan di setiap sudut. Gerbang desa, sebuah lengkungan kayu berlumut, terbuka seolah mengundangnya masuk.

Langkah kakinya terasa asing di atas tanah berumput yang terlalu hijau. Bangunan-bangunan itu tampak terawat, namun usianya jelas ribuan tahun. Jendela-jendela tanpa tirai menatap kosong, seperti mata yang buta.

Tiba-tiba, sebuah bayangan bergerak di sudut mata Arka. Seorang wanita tua muncul dari balik pintu, wajahnya keriput dalam senyum tipis. Matanya, meski dipenuhi kerutan, tampak terlalu jernih, terlalu fokus.

“Selamat datang, Pengembara,” bisiknya, suaranya kering seperti dedaunan gugur. “Kami sudah lama menanti.” Perkataan itu membuat bulu kuduk Arka meremang. Menanti siapa? Bagaimana mereka tahu ia datang?

Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Nyai Ratih, sesepuh desa. Ia mengajak Arka masuk ke salah satu rumah. Interiornya sederhana namun bersih, dengan perabotan kayu gelap yang diukir rumit.

Beberapa penduduk desa lain mulai muncul, semuanya orang tua. Mereka bergerak lambat, nyaris tanpa suara. Tatapan mereka mengikuti setiap gerakan Arka, ramah namun mengunci, seolah ia adalah satu-satunya objek yang menarik perhatian mereka di dunia ini.

Nyai Ratih menyajikan teh herbal hangat dan kue-kue kering. Arka mencoba bertanya tentang sejarah desa, tentang mengapa tersembunyi, namun jawabannya selalu samar. “Kami hidup dalam damai,” kata Nyai Ratih, “jauh dari hiruk pikuk dunia luar.”

Malam tiba dengan cepat, membawa serta kegelapan yang pekat. Arka diberi kamar tamu di rumah Nyai Ratih. Dari jendelanya, ia bisa melihat bulan sabit menggantung di atas atap-atap yang sunyi.

Ia mencoba mengambil beberapa foto, namun setiap kali ia mengangkat kamera, tangannya terasa kaku. Ada sesuatu yang menghalangi, sebuah tekanan tak terlihat yang membuatnya enggan menangkap gambar.

Di tengah malam, Arka terbangun oleh suara bisikan. Suara-suara itu samar, tumpang tindih, seperti gumaman ratusan orang yang terkubur di bawah tanah. Mereka datang dari luar, dari pusat desa.

Ia menyelinap keluar, mengikuti suara yang memanggil. Penduduk desa berkumpul di lapangan, membentuk lingkaran di sekitar sebuah patung batu hitam besar. Patung itu aneh, menyerupai sosok manusia dengan tangan terentang, namun wajahnya abstrak.

Mereka bernyanyi. Nyanyian itu bukan lagu, melainkan rangkaian nada panjang yang monoton, menusuk hingga ke tulang. Tidak ada instrumen, hanya suara manusia yang bergetar. Aroma aneh, seperti bunga melati yang membusuk, menyelimuti udara.

Arka bersembunyi di balik pohon besar, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat Nyai Ratih berdiri di depan patung, tangannya terangkat. Cahaya redup kebiruan mulai memancar dari patung itu, perlahan menyelimuti seluruh lingkaran.

Para penduduk desa tampak semakin kuyu, wajah mereka pucat di bawah cahaya aneh. Seolah-olah ada sesuatu yang ditarik dari dalam diri mereka, diserap oleh patung hitam itu. Arka merasakan hawa dingin yang menusuk, bukan dari suhu, melainkan dari kehadiran.

Keesokan paginya, suasana desa kembali seperti semula, senyap dan tenang. Para penduduk desa tampak lebih tua dari sebelumnya, namun mereka menyambut Arka dengan senyum yang sama. Mereka tidak membicarakan kejadian semalam.

Arka mencoba menjelajahi desa lebih jauh. Ia menemukan sebuah sumur tua yang ditutupi oleh lempengan batu berat. Di sampingnya, terukir simbol-simbol aneh yang belum pernah ia lihat. Simbol itu terasa familier, seperti mimpi buruk yang terlupakan.

Ia juga menemukan sebuah bangunan kecil yang terkunci rapat. Dari celah-celah kayunya, tercium bau apak dan sesuatu yang lebih mengerikan, seperti daging yang membusuk. Sebuah ketukan pelan dari dalam membuat Arka melompat mundur.

Ketukan itu berulang, ritmis, seolah ada seseorang yang terperangkap di dalamnya. Arka mencoba membuka pintu, namun terkunci dengan rantai tebal. Suara bisikan kembali terdengar di benaknya, bukan dari luar, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.

“Jangan ikut campur,” bisik suara itu, dingin dan tanpa emosi. “Ini bukan tempatmu.” Arka merasakan kepalanya pusing, seolah ada energi yang menariknya ke dalam.

Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Selama di desa itu, ia belum melihat satu pun anak-anak, atau bahkan remaja. Hanya orang-orang tua. Seolah generasi muda tak pernah ada, atau telah lenyap.

Malam itu, Arka tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk melarikan diri. Desa ini terlalu aneh, terlalu menyeramkan. Ia harus keluar, apapun yang terjadi.

Ia mengendap-endap keluar dari rumah Nyai Ratih. Bulan telah tenggelam, digantikan oleh kegelapan yang menusuk. Bisikan-bisikan dari lapangan kembali terdajengar, lebih keras, lebih mendesak.

Ketika ia melewati rumah-rumah, ia melihat pintu-pintu yang terbuka sedikit. Dari celah itu, mata-mata kosong mengintip, mengikutinya. Mereka tahu ia pergi. Mereka tidak menghentikannya, hanya mengamati.

Arka berlari menuju gerbang desa. Udara terasa berat, menahannya. Seolah setiap langkahnya diperlambat oleh kekuatan tak kasat mata. Bau melati yang membusuk semakin kuat, mencekik.

Tepat sebelum ia mencapai gerbang, ia melihatnya. Sosok-sosok samar, seperti bayangan yang melayang, muncul dari balik pohon. Mereka tidak memiliki wujud yang jelas, hanya gumpalan kegelapan yang bergerak.

Mereka tidak menghalangi jalannya, hanya mengelilinginya, berputar-putar. Bisikan-bisikan itu kini terdengar jelas: “Satu lagi… Energi baru… Bergabunglah…”

Arka merasakan tubuhnya melemah. Kekuatan ditarik keluar dari dirinya, seperti air yang disedot dari sumur. Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal.

Dengan sisa tenaga, ia merangkak menuju gerbang. Ia berhasil keluar, jatuh terjerembap di tanah kering di luar batas desa. Kegelapan di balik gerbang tetap diam, mengawasinya.

Ia tidak menoleh ke belakang. Ia terus merangkak, lalu berjalan terpincang-pincang, menjauh dari lembah terkutuk itu. Matahari terbit, namun Arka merasa dingin hingga ke tulang.

Ia berhasil kembali ke peradaban, namun desa itu tak pernah lepas dari pikirannya. Ia tidak bisa melupakan tatapan kosong para penduduk desa, bisikan di malam hari, dan patung hitam yang menyerap kehidupan.

Kini, setiap kali angin berbisik, ia mendengar nyanyian monoton itu. Ia merasa energinya terkuras, seolah ada benang tak kasat mata yang masih terhubung ke desa senyap di balik bukit tandus.

Desa itu, sebuah anomali yang tak terpecahkan, tetap tersembunyi. Menanti pengunjung berikutnya, untuk menyerap kehidupan baru ke dalam keabadiannya yang mengerikan. Dan Arka tahu, ia adalah salah satu yang beruntung bisa lolos, membawa serta kutukan bisikan abadi.

Desa Tersembunyi di Balik Bukit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *