Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Dukuh Semeru: Nyanyian Sunyi yang Mencekam

58
×

Dukuh Semeru: Nyanyian Sunyi yang Mencekam

Share this article

Dukuh Semeru: Nyanyian Sunyi yang Mencekam

Dukuh Semeru: Nyanyian Sunyi yang Mencekam

Panggilan itu datang dari sebuah nomor tak dikenal. Suara di seberang sana terdengar tegang, berbisik tentang sebuah anomali. Mereka bicara tentang Dukuh Semeru, sebuah desa terpencil di kaki pegunungan.

Konon, Dukuh Semeru adalah desa yang hidup, penuh tawa dan hiruk-pikuk. Namun kini, laporan terakhir menyebutkan keheningan total. Sebuah kesunyian yang terlalu dalam untuk menjadi normal.

Sebagai jurnalis investigasi, Arga Wiratama tergelitik. Naluri profesionalnya berteriak ada sesuatu yang tidak beres. Ia memutuskan untuk pergi, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Perjalanan menuju Dukuh Semeru terasa panjang dan berat. Jalan setapak yang sempit dan berliku, ditelan hutan lebat. Kabut tipis mulai turun, menambah kesan mistis pada sore hari itu.

Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basap dan lumut tua. Ponsel Arga kehilangan sinyal, memutusnya dari dunia luar. Ia sendirian, dengan rasa penasaran yang bercampur cemas.

Ketika mobilnya akhirnya sampai di batas desa, Arga menghentikan laju. Di depannya terhampar Dukuh Semeru, tampak damai dari kejauhan. Namun kedamaian itu terasa palsu, menyeramkan.

Tidak ada suara ayam berkokok, anjing menggonggong, atau anak-anak bermain. Hanya desiran angin yang memecah keheningan. Keheningan yang begitu pekat, seolah menelan semua suara.

Arga melangkah keluar dari mobil, menggenggam erat kameranya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena lelah, tapi karena firasat buruk. Ini bukan sekadar desa yang sepi.

Pintu-pintu rumah terbuka lebar, seolah baru saja ditinggalkan. Jemuran pakaian masih menggantung, bergoyang pelan ditiup angin. Sebuah pemandangan yang seharusnya normal, namun terasa begitu ganjil.

Ia memasuki salah satu rumah. Di meja dapur, piring-piring berisi sisa makanan tergeletak. Nasi yang mengering, sayuran layu. Seolah penghuninya pergi mendadak, di tengah santap siang.

Tidak ada tanda-tanda perlawanan atau huru-hara. Barang-barang berserakan secara alami, bukan karena diacak-acak. Semuanya rapi, namun kosong. Terlalu rapi untuk sebuah pelarian panik.

Arga berjalan ke rumah berikutnya. Di sana, sebuah radio masih menyala, memancarkan suara statis yang berisik. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, namun tidak ada siapa-siapa.

Ia memeriksa sumur desa. Ember masih menggantung di tali, siap untuk ditimba. Airnya jernih, tenang. Tidak ada jejak, tidak ada petunjuk. Hanya pantulan wajah Arga yang cemas.

Di balai desa, kursi-kursi tersusun rapi. Papan pengumuman masih menampilkan jadwal rapat yang seharusnya berlangsung kemarin. Pena tergeletak di atas buku catatan terbuka.

Ada tulisan tangan yang belum selesai, kalimatnya menggantung di tengah-tengah. "Kami merasakan…". Kalimat itu terputus, seolah penulisnya tiba-tiba menghilang di tengah aksara.

Arga merasakan bulu kuduknya merinding. Ini lebih dari sekadar pengosongan desa biasa. Ada kekuatan tak terlihat yang bekerja di sini, menyingkirkan setiap jiwa hidup.

Ia masuk ke mushola desa. Sajadah-sajadah masih terhampar rapi menghadap kiblat. Al-Qur’an terbuka di mimbar, namun tidak ada yang membaca. Aroma dupa masih samar tercium.

Di rumah warga lainnya, sebuah mainan anak-anak tergeletak di lantai. Sebuah boneka kain yang usang, dengan mata kancingnya menatap kosong ke langit-langit. Seolah menanti tuannya kembali.

Arga terus mencari, berharap menemukan seseorang. Setidaknya satu orang, yang bisa memberinya jawaban. Namun setiap rumah, setiap gang, setiap sudut desa, hanya menyisakan keheningan.

Keheningan yang kini mulai terasa mengancam. Seolah desa itu sendiri bernapas, dan napasnya adalah kesunyian. Udara terasa berat, menekan dada Arga.

Ia sampai di sekolah dasar desa. Pintu-pintu kelas terbuka. Di papan tulis, coretan kapur masih jelas. Pelajaran tentang alam semesta, bintang-bintang yang jauh.

Di meja guru, sebuah cangkir teh yang sudah mendingin. Pensil tergeletak di samping buku paket. Seolah guru itu baru saja akan memulai pelajaran, lalu lenyap begitu saja.

Arga melangkah ke pekarangan sekolah. Ayunan besi bergoyang pelan, menciptakan bunyi derit kecil yang memilukan. Suara itu, satu-satunya suara mekanis, terasa begitu nyaring dalam sepi.

Ia melihat ke langit. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya meredup. Sebentar lagi malam akan tiba, dan kegelapan akan menyelimuti Dukuh Semeru.

Firasatnya semakin buruk. Ia tidak boleh berlama-lama di sini. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Ini adalah teror yang tak berwujud.

Arga kembali ke jalan utama desa. Ia melihat ke sekeliling, mencoba menangkap detail terakhir. Sebuah bayangan melintas di ujung matanya, di antara pepohonan lebat.

Ia menoleh cepat, namun tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan yang bergoyang ditiup angin. Apakah itu hanya ilusi, atau ada sesuatu yang mengawasinya?

Rasa takut mulai merayap. Ini bukan lagi tentang berita eksklusif. Ini tentang bertahan hidup, tentang melarikan diri dari tempat terkutuk ini sebelum ia menjadi bagian dari keheningannya.

Arga mempercepat langkahnya menuju mobil. Setiap langkah terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menahannya. Jantungnya berdetak seperti genderang perang.

Saat ia mencapai mobilnya, ia mengunci pintu dengan tergesa-gesa. Tangannya gemetar saat memutar kunci kontak. Mesin mobil meraung, memecah kesunyian yang mencekam.

Ia melaju pergi, tak menoleh ke belakang. Bayangan Dukuh Semeru memudar di kaca spion. Namun keheningannya, rasa dingin yang menusuk, dan misteri yang tak terpecahkan, tetap membekas.

Laporan Arga kepada pihak berwenang hanya menghasilkan kebingungan. Polisi melakukan pencarian besar-besaran, namun tidak menemukan jejak. Dukuh Semeru tetap menjadi kota hantu.

Tidak ada mayat, tidak ada bukti kejahatan, tidak ada petunjuk. Hanya keheningan yang tersisa. Keheningan yang terus menghantui Arga dalam tidurnya.

Beberapa teori muncul: wabah tak dikenal, sekte rahasia, atau bahkan fenomena ghaib. Namun tidak ada yang bisa dibuktikan. Dukuh Semeru menjadi legenda urban yang menakutkan.

Arga tak pernah bisa melupakan desa itu. Ia sering terbangun di malam hari, dihantui oleh suara statis radio yang kosong. Atau oleh boneka dengan mata kancing yang menatapnya.

Ia tahu, ada sesuatu yang menunggu di sana. Sesuatu yang tak kasat mata, namun nyata. Sesuatu yang mungkin, suatu hari nanti, akan datang menjemput keheningan yang lain.

Misteri Dukuh Semeru tak pernah terpecahkan. Ia berdiri sebagai monumen keheningan, sebuah peringatan akan kekuatan tak dikenal yang bisa menelan sebuah kehidupan.

Dan Arga tak pernah lagi tidur nyenyak. Setiap desiran angin, setiap keheningan yang tiba-tiba, selalu mengingatkannya pada Dukuh Semeru. Desa yang tiba-tiba sunyi senyap.

Menyisakan pertanyaan: ke mana mereka pergi? Dan apakah mereka akan kembali? Atau adakah sesuatu yang masih menanti di balik kabut Dukuh Semeru, menunggu mangsa berikutnya?

Dukuh Semeru: Nyanyian Sunyi yang Mencekam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *