Fenomena Mistis di Waduk Mrica: Jeritan Arwah dari Kedalaman yang Terlupakan
Waduk Mrica, hamparan air raksasa di Banjarnegara, Jawa Tengah. Kilauan permukaannya yang luas seringkali menipu mata para pelancong. Di balik pesonanya yang menawan, tersimpan kisah-kisah kelam yang membuat bulu kuduk merinding.
Bukan sekadar bendungan pembangkit listrik, Mrica adalah kuburan raksasa. Sebuah mausoleum air yang menyembunyikan cerita-cerita mengerikan. Konon, jeritan arwah dari masa lalu masih bergema, menuntut perhatian dari dunia yang telah melupakan mereka.
Pembangunan waduk ini pada era 80-an adalah proyek ambisius. Ribuan warga harus direlokasi, kampung-kampung indah ditenggelamkan. Rumah-rumah, ladang, hingga makam leluhur, semuanya lenyap di dasar air yang gelap dan dingin.
Penduduk setempat memperingatkan, tanah itu tidak rela. Arwah-arwah yang terusik tidak pernah benar-benar pergi. Mereka terperangkap di antara dua dunia, abadi dalam penderitaan di dasar waduk yang kini menjadi makam mereka.
Andi, seorang jurnalis investigasi yang skeptis, tiba di Mrica dengan misi. Ia ingin membongkar mitos, mencari logika di balik cerita-cerita seram. Baginya, semua hanyalah takhayul, bualan orang-orang tua yang terlalu banyak berkhayal.
Ia percaya pada fakta, pada bukti yang nyata. Namun, Mrica punya cara sendiri membungkam keraguan. Sebuah kekuatan tak kasat mata yang akan segera ia rasakan, menusuk hingga ke tulang sumsum.
Wawancara pertamanya adalah dengan seorang nelayan tua, Pak Karto. Pria itu menatap Andi dengan mata penuh peringatan. “Nak, Mrica itu punya nyawa sendiri,” katanya, suaranya serak. “Jangan pernah coba-coba mengganggu tidurnya.”
Pak Karto bercerita tentang suara-suara aneh di malam hari. Bisikan-bisikan yang memanggil nama, tawa melengking dari tengah waduk yang kosong. Kadang, ada bayangan melintas di atas air, menghilang begitu saja dalam kegelapan.
Andi mencatat semua itu, menganggapnya sebagai folklore belaka. Ia menghabiskan malam pertamanya di sebuah penginapan kecil di tepi waduk. Keheningan malam diselimuti hawa dingin yang menusuk, bukan dingin biasa, tapi dingin yang terasa aneh.
Dingin yang merayapi kulitnya, seolah ada kehadiran tak terlihat. Andi merasa diawasi, seolah ada mata tak kasat mata menatapnya tajam. Bulu kuduknya berdiri, meski ia berusaha keras menepis perasaan itu.
Malam kedua, Andi memutuskan untuk menjelajah lebih jauh. Ia menyewa sebuah perahu kecil, bertekad untuk berlayar ke tengah waduk. Mengabaikan peringatan Pak Karto, ia ingin membuktikan bahwa semua itu hanyalah khayalan.
Mesin perahu menderu pelan, memecah kesunyian malam. Langit gelap tanpa bintang, hanya rembulan sabit yang samar-samar menerangi. Waduk Mrica membentang luas, hitam dan misterius di bawah cahaya rembulan yang redup.
Di tengah waduk, Andi mematikan mesin. Keheningan mencekam langsung menyelimuti. Hanya suara air beriak pelan, memecah kesunyian yang menyesakkan. Ia menatap sekeliling, merasakan kekosongan yang amat sangat.
Tiba-tiba, ia mendengar suara bisikan. Samar-samar, seperti rintihan tertahan yang dibawa angin. “Pulanglah… pulanglah…” suara itu berulang, pelan namun jelas di telinganya. Andi menajamkan pendengaran, mencari sumber suara.
Tidak ada siapa pun di sana. Hanya dirinya dan hamparan air yang gelap. Namun, bisikan itu semakin jelas, seolah ada yang berenang di dekat perahunya. Jantung Andi mulai berdegup kencang.
Kemudian, sebuah riak aneh muncul di kejauhan. Bukan riak dari ikan, atau angin. Riak itu terlalu besar, terlalu teratur, seolah ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan air. Sesuatu yang sangat besar.
Andi menyalakan senternya, mengarahkan cahayanya ke arah riak. Cahaya senter menembus kegelapan, memperlihatkan gumpalan kabut tipis yang tiba-tiba muncul di atas air. Kabut itu berbentuk aneh, seperti bayangan manusia.
Bayangan itu bergerak perlahan, mendekat ke arah perahu Andi. Ia bisa melihat siluet samar, seolah ada sosok tinggi kurus berdiri di tengah kabut. Suhu udara di sekitarnya mendadak turun drastis, menusuk tulang.
Andi merasakan hawa dingin yang mencekik, bukan dingin biasa, tapi dingin yang menembus jiwa. Dingin yang mematikan, seperti berada di alam lain. Tangannya gemetar saat memegang kemudi perahu.
Bisikan itu kini berubah menjadi tangisan. Tangisan pilu yang terdengar dari segala arah, seolah ratusan suara meratap bersamaan. Tangisan yang penuh kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan yang mendalam.
Andi mencoba menyalakan mesin perahu, namun mesin itu mati. Berkali-kali ia mencoba, namun tak ada respons. Ia terperangkap, sendiri di tengah waduk yang gelap, dikelilingi oleh suara-suara aneh.
Tiba-tiba, ia mencium aroma aneh. Bau tanah basah yang bercampur lumut, disusul bau amis yang sangat menyengat. Bau yang mengingatkannya pada sesuatu yang busuk, sesuatu yang sudah lama mati.
Ia mengarahkan senter ke bawah perahu, ke dalam air yang hitam pekat. Sekilas, ia melihat bayangan-bayangan bergerak di kedalaman. Bukan ikan, melainkan siluet-siluet yang menyerupai manusia, berenang perlahan di dasar.
Itu adalah pemandangan yang tak pernah ia lupakan. Bayangan-bayangan itu semakin jelas, mereka adalah arwah-arwah. Wajah-wajah pucat dengan mata kosong, rambut panjang terurai dalam air, dan pakaian yang compang-camping.
Mereka menatapnya, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tangan-tangan kurus mereka terulur, berusaha menggapai permukaan. Wajah-wajah sedih, marah, dan putus asa terpancar jelas di mata mereka yang hampa.
Andi terhuyung mundur, jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia tahu, ia telah melampaui batas yang tak seharusnya dilanggar. Ia telah membangunkan mereka, arwah-arwah yang terperangkap di dasar Mrica.
Tiba-tiba, perahu Andi terguncang hebat. Bukan karena ombak, melainkan seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menariknya. Air di sekelilingnya bergolak, membentuk pusaran hitam yang mengerikan.
Pusaran itu menarik perahunya semakin dalam, menuju inti kegelapan. Andi berusaha berpegangan erat, namun tarikan itu terlalu kuat. Ia merasa seolah ada tangan-tangan dingin yang menarik kakinya.
Ia melihat ke bawah, ke dalam pusaran air. Sebuah lubang hitam yang tak berdasar. Di dalamnya, ia melihat sekilas gambaran kota mati. Rumah-rumah tanpa atap, pepohonan tanpa daun, jalan-jalan sepi yang dipenuhi lumpur.
Itu adalah desa-desa yang tenggelam. Dunia bawah air yang seharusnya tetap terkunci. Namun, kini terbuka di hadapannya, memperlihatkan kengerian yang tak terbayangkan.
Andi berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia merasakan sentuhan dingin di bahunya. Ia menoleh, dan di sana, berdiri di sampingnya, adalah sosok wanita berambut panjang basah. Wajahnya pucat pasi, matanya merah menyala.
Wanita itu tersenyum, senyum yang mengerikan. Giginya tajam, matanya memancarkan kesedihan dan kemarahan yang mendalam. “Kau datang… ke rumah kami,” bisiknya, suaranya seperti desiran angin di kuburan.
Andi merasakan cengkeraman tangan dingin di pergelangan tangannya. Sosok itu mencoba menariknya, menyeretnya ke dalam pusaran. Ia berjuang sekuat tenaga, berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mendengar.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul dari kejauhan. Cahaya dari senter Pak Karto. Pria tua itu, entah bagaimana, datang mencarinya. Sosok wanita itu melepaskan cengkeramannya, dan menghilang dalam kabut.
Pusaran air mereda, dan mesin perahu Andi tiba-tiba hidup kembali. Ia langsung memacu perahu sekuat tenaga, menjauh dari tempat terkutuk itu. Ia kembali ke daratan, kelelahan dan gemetar hebat.
Pak Karto menatapnya dengan tatapan tahu. “Sudah kubilang, Nak,” katanya pelan. “Mrica itu tidak suka diganggu.” Andi hanya bisa mengangguk, lidahnya kelu tak mampu berkata-kata.
Sejak malam itu, Andi tak lagi sama. Skeptisisme-nya hancur lebur, digantikan oleh kengerian mendalam. Matanya memancarkan ketakutan abadi, seolah ia telah melihat sesuatu yang tak seharusnya dilihat manusia.
Waduk Mrica, bukan hanya sekadar bendungan raksasa. Ia adalah gerbang menuju dimensi yang tak terjamah akal. Sebuah tempat di mana masa lalu berteriak dari kedalaman air, dan arwah-arwah penasaran terus mencari kedamaian mereka.
Hingga kini, kisah-kisah seram itu terus beredar di kalangan nelayan dan warga sekitar Mrica. Peringatan bagi siapa saja yang berani menantang misterinya. Bahwa di setiap riak airnya, ada bisikan dari dunia lain.
Menanti, mengawasi, dan tak pernah benar-benar tidur. Arwah-arwah yang terusik itu akan selalu ada. Menunggu di kedalaman gelap Waduk Mrica, abadi dalam kesunyian dan kemarahan mereka.





