Scroll untuk baca artikel
DIY

Suara Misterius Itu Hanya Muncul di Sungai Opak Saat Tengah Malam

9
×

Suara Misterius Itu Hanya Muncul di Sungai Opak Saat Tengah Malam

Share this article

Suara Misterius Itu Hanya Muncul di Sungai Opak Saat Tengah Malam

Fenomena Suara Misterius: Bisikan Kelam dari Dasar Sungai Opak

Sungai Opak, urat nadi peradaban Yogyakarta, biasanya mengalir tenang, menyimpan kisah-kisah purba dalam setiap riaknya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ketenangan itu telah terkoyak. Sebuah fenomena aneh, suara misterius yang tak terdefinisikan, mulai menyelimuti bantaran sungai, mengusik tidur warga dan mengikis kewarasan.

Bukan suara gemericik air, bukan pula desauan angin yang biasa. Ini adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap. Awalnya hanya dengungan rendah, seolah gumaman bumi yang terpendam, berbisik dari kedalaman yang tak terjangkau.

Penduduk lokal, terutama para nelayan yang menghabiskan malam di tepian Opak, adalah saksi pertama. Mereka mengira itu hanya kelelahan, halusinasi dari dinginnya malam dan kesunyian yang mencekam. Namun, suara itu kian nyata, kian jelas.

Malam-malam berikutnya, dengungan itu berubah. Kadang menyerupai rintihan panjang, seperti seseorang yang tersiksa di dasar sungai. Kadang pula seperti bisikan samar, mengeja kata-kata yang tak bisa dipahami, namun terasa begitu kuno dan mengancam.

Kisah-kisah mulai menyebar dari mulut ke mulut. Para nelayan enggan melaut setelah senja. Anak-anak dilarang bermain di dekat sungai saat petang tiba. Ketakutan merayap perlahan, menggerogoti rasa aman yang telah lama berakar.

Seorang jurnalis muda, Aris, yang skeptis namun haus akan cerita, mendengar desas-desus ini. Ia memutuskan untuk menyelidiki, membawa kamera dan perekam suara, berniat membongkar “takhayul” yang melanda warga desa.

Malam pertama Aris di tepian Opak, ia merasakan dingin yang menusuk tulang, bukan hanya dari suhu udara. Ada aura aneh yang menyelimuti sungai, seolah Opak itu sendiri adalah makhluk hidup yang sedang menahan napas.

Saat tengah malam mendekat, suara itu muncul. Sebuah dengungan rendah, beresonansi dalam dadanya, bukan hanya di telinganya. Itu bukan suara alam. Itu adalah sesuatu yang disengaja, sebuah panggilan dari kedalaman yang tak terjamah.

Aris merekamnya, tangannya sedikit gemetar. Perekam digitalnya menangkap frekuensi yang aneh, grafik gelombang yang tak lazim. Ada sesuatu yang tak beres, jauh melampaui imajinasinya.

Ia mencari Mbah Karto, sesepuh desa yang dikenal sebagai penjaga tradisi dan kisah-kisah kuno. Mbah Karto menyambutnya dengan tatapan penuh kearifan, seolah sudah tahu tujuan Aris datang.

“Opak menyimpan rahasia, Nak,” Mbah Karto memulai, suaranya serak namun penuh wibawa. “Jauh sebelum kita ada, ada yang tertidur di dasarnya. Sebuah kekuatan kuno.”

Mbah Karto bercerita tentang legenda lama, tentang masa ketika Opak bukan hanya sungai, melainkan gerbang menuju alam lain. Gerbang yang disegel oleh para leluhur, untuk menjaga keseimbangan antara dua dunia.

“Suara itu… itu adalah bangunnya mereka,” lanjut Mbah Karto, matanya menerawang jauh ke kegelapan sungai. “Atau mungkin, itu adalah tangisan dari yang terjebak di sana.”

Aris mendengarkan, merinding. Ia telah datang untuk membongkar mitos, namun kini ia dihadapkan pada kebenaran yang lebih mengerikan. Suara itu bukan sekadar fenomena, melainkan pertanda.

Setelah pertemuannya dengan Mbah Karto, Aris memutuskan untuk lebih mendalami misteri ini. Ia menghabiskan malam-malamnya di dekat sungai, merekam setiap perubahan suara, setiap intensitas yang meningkat.

Dengungan itu kini semakin kuat, tak lagi samar. Itu berubah menjadi semacam melodi yang aneh, seolah bahasa yang tak dikenal, diucapkan oleh entitas tak kasat mata. Kadang terdengar seperti gumaman ratusan suara, kadang hanya satu suara yang berat dan dalam.

Bukan hanya manusia yang terpengaruh. Hewan-hewan di sekitar sungai mulai menunjukkan perilaku aneh. Ikan-ikan mati mengambang, burung-burung tak lagi berkicau di siang hari, dan anjing-anjing melolong ketakutan setiap malam.

Tanaman di tepian sungai layu, seolah energi kehidupan mereka disedot. Air Opak, yang biasanya jernih, mulai terlihat keruh, terkadang memancarkan kilau kehijauan aneh di bawah sinar bulan.

Beberapa warga desa mulai sakit. Demam tanpa sebab, mimpi buruk yang berulang tentang suara-suara aneh dan kegelapan yang menelan mereka. Ada yang melaporkan melihat bayangan melintas di permukaan air saat suara itu mencapai puncaknya.

Aris merasakan tekanan yang sama. Kepalanya sering pening, dan ia mulai mendengar bisikan bahkan saat jauh dari sungai. Suara itu merayap ke dalam mimpinya, menghantui setiap sudut pikirannya.

Suatu malam, Aris bersama Mbah Karto memberanikan diri mendekat ke titik di mana suara itu paling intens. Lokasinya berada di sebuah tikungan sungai yang jarang dijamah, dikelilingi pohon-pohon tua yang menjulang tinggi.

Udara di sana terasa lebih berat, lebih dingin. Bau amis yang aneh bercampur dengan bau tanah basah yang membusuk. Senter Aris hanya mampu menembus kegelapan seadanya.

Suara itu kini tak lagi dengungan, melainkan raungan yang menusuk, seolah jeritan dari dasar bumi. Raungan yang membuat tulang-belulang bergetar, memekakkan telinga, dan mengoyak sanubari.

Tiba-tiba, permukaan air di depan mereka bergejolak hebat. Bukan karena angin atau ikan besar, melainkan seolah ada sesuatu yang bergerak di bawah sana, memutar air dengan kekuatan dahsyat.

Sebuah pusaran mulai terbentuk, di tengahnya memancarkan cahaya redup, kehijauan gelap, yang berdenyut seirama dengan raungan. Cahaya itu bukan cahaya biasa; ia tampak menyerap cahaya lain di sekitarnya, menciptakan kegelapan yang lebih pekat.

Mbah Karto mencengkeram lengan Aris. “Itu… itu adalah retakan, Nak!” bisiknya, suaranya penuh ketakutan. “Dinding antara dunia kita dan mereka melemah.”

Dari dalam pusaran cahaya gelap itu, suara raungan menjadi semakin jelas. Bukan lagi sekadar suara, melainkan semacam desakan, tekanan yang tak terlihat, seolah ada sesuatu yang mencoba keluar.

Aris merasakan sakit yang menusuk di kepalanya. Perekamnya berderit, layarnya berkedip-kedip, tak mampu menangani frekuensi aneh itu. Ia melihat bayangan samar, bergerak-gerak di balik cahaya kehijauan itu.

Bukan bentuk yang jelas, melainkan semacam bayangan cair, bergerak tak beraturan, seolah entitas yang belum sepenuhnya terbentuk, namun memancarkan kekuatan yang mengerikan. Itu bukan makhluk fisik. Itu adalah manifestasi energi.

“Kita harus pergi!” Mbah Karto menarik Aris mundur. “Jangan biarkan mereka melihatmu!”

Mereka lari menjauhi sungai, suara raungan itu terus mengejar di belakang mereka, menembus kegelapan malam. Aris tak pernah berlari secepat itu dalam hidupnya, jantungnya berdegup tak karuan.

Ketika mereka akhirnya tiba di desa, keheningan menyelimuti segalanya. Raungan itu mereda, kembali menjadi dengungan rendah yang menghantui, seolah puas setelah menunjukkan kekuatannya.

Aris tahu, apa yang ia saksikan bukan sekadar fenomena alam. Itu adalah bukti dari sesuatu yang lebih tua, lebih gelap, dan tak dapat dijelaskan oleh sains modern. Sungai Opak menyimpan rahasia mengerikan.

Laporan Aris tak pernah diterbitkan sepenuhnya. Kisah tentang cahaya gelap dan bayangan cair dianggap terlalu fantastis, bahkan untuk sebuah surat kabar lokal. Ia menyimpan rekaman suara itu, bukti bisu dari horor yang ia saksikan.

Hingga kini, suara misterius itu tak pernah benar-benar hilang dari Sungai Opak. Kadang meredup, kadang menguat, terutama saat bulan purnama atau setelah hujan deras. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari sungai itu.

Penduduk desa hidup dalam ketakutan yang konstan, tahu bahwa di bawah permukaan air yang tenang, ada sesuatu yang terus berdenyut. Sesuatu yang mencoba mencari jalan keluar, sebuah entitas yang menunggu saatnya tiba.

Sungai Opak, kini bukan hanya sekadar aliran air. Ia adalah penjara bagi sesuatu yang tak terkatakan, sebuah gerbang yang retak, dan sumber bisikan abadi dari kegelapan yang siap menyelimuti dunia. Misteri itu tetap terjaga, menunggu untuk bangkit sepenuhnya.

Fenomena Suara Misterius di Sungai Opak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *