Malam itu, jam dinding menunjuk angka dua belas. Layar laptop memancarkan cahaya biru, menerangi wajah lelah kami berempat. Ardi, Bima, Clara, dan Dani.
Tugas kuliah menumpuk, memaksa kami untuk rapat virtual tengah malam. Suasana hening, hanya ditemani suara keyboard dan tegukan kopi pahit.
Bima, yang biasanya ceria, mendadak bergidik. “Kalian sadar tidak?” suaranya rendah, nyaris berbisik. “Ada filter baru di Zoom.”
Kami saling pandang, bingung. Filter apa? Biasanya hanya ada filter konyol seperti telinga kelinci atau kacamata.
“Bukan yang itu,” Bima menggeleng. “Ini… aneh. Namanya ‘Filter Malam’.”
Clara tertawa kecil. “Paling juga filter gelap-gelapan, Bim. Biar dramatis.”
Dani hanya menguap, “Sudah, fokus saja. Deadline besok pagi.”
Namun, rasa penasaran Bima tak hilang. Ia mengklik sesuatu di layarnya, dan seketika, suasana berubah.
Wajah Bima di layar kami mendadak terlihat lain. Bukan gelap, melainkan seperti bayangan yang merayap dari sudut-sudut.
Matanya tampak lebih cekung, hidungnya sedikit bengkok. Bibirnya… melengkung ke atas dalam senyum yang terlalu lebar.
Bukan senyum Bima yang kami kenal. Ini senyum yang dingin, kaku, dan penuh perhitungan.
“Astaga, filter apa itu?” Clara terkesiap. Wajah Bima terlihat mengerikan, seperti topeng hidup yang baru saja dipahat dari kegelapan.
“Ini bukan filter biasa,” suara Bima terdengar tegang. “Aku tidak memilihnya. Tiba-tiba saja muncul di daftar.”
Ardi mencoba mencari filter itu di menunya. Tidak ada. Hanya filter standar yang biasa kami gunakan.
Lalu, hal aneh lainnya terjadi. Lampu di kamar Bima berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari di dinding.
“Ada apa itu, Bim?” Dani bertanya, mulai merasa tidak nyaman. “Jaringanmu jelek?”
“Tidak, ini bukan jaringanku!” Bima hampir berteriak. Wajahnya di layar kami semakin terdistorsi.
Senyum mengerikan itu semakin lebar, menampilkan gigi-gigi yang terlalu banyak, terlalu tajam.
Matanya yang cekung seolah menatap langsung ke dalam jiwa kami, bukan sekadar ke layar.
Kemudian, suara aneh mulai merayap dari mikrofon Bima. Suara desisan, seperti udara yang keluar dari celah sempit.
Disusul bisikan, samar-samar, seperti banyak suara yang tumpang tindih. Bahasa yang tidak kami pahami, namun terdengar sangat kuno dan kejam.
“Matikan, Bim! Matikan filternya!” Ardi berseru, jantungnya mulai berdetak tak karuan.
Bima terlihat panik, tangannya bergerak-gerak di keyboard dan mouse. Namun, tak ada yang berubah. Wajah iblis itu tetap di sana.
Malah, secara perlahan, wajah Bima yang asli mulai memudar, tergantikan sepenuhnya oleh sosok menakutkan itu.
Kulitnya menjadi keabu-abuan, retakan-retakan muncul di dahi dan pipinya. Mata hitam itu membesar, nyaris tanpa kelopak.
“Aku tidak bisa!” suara Bima terdengar parau, tercekik. “Tidak bisa dilepas! Seperti… menempel!”
Ketegangan di udara semakin pekat. Dingin merayap dari layar, menusuk hingga ke tulang kami.
Bukan dingin AC, melainkan dingin yang lembap, seperti napas dari kuburan yang baru dibuka.
Lalu, sebuah kejutan lain. Tiba-tiba, wajah serupa muncul di layar Clara.
Bukan Clara yang memilihnya. Wajahnya yang cantik perlahan ditelan oleh distorsi yang sama.
Senyum iblis itu kini ada di dua layar. Mata-mata hitam itu menatap kami bergiliran, seolah menilai, seolah memilih.
Clara menjerit, tangannya terangkat menutupi mulutnya. Namun, di layar, wajahnya tetap diam, menyeringai.
Bahkan, ada gema samar dari jeritan Clara yang terdengar dari mikrofonnya sendiri, seolah suaranya terperangkap di dalam filter itu.
Dani gemetar, menatap layar dengan mata melotot. Ia mencoba mematikan kameranya, tapi tombol itu seperti tidak berfungsi.
“Ini bukan filter, ini sesuatu!” Ardi berteriak, panik mulai menguasai. “Ini bukan lagi Bima atau Clara!”
Bisikan-bisikan dari mikrofon Bima semakin jelas, semakin mendesak. Kali ini, seolah ada nama yang disebut.
Nama-nama kami. Terucap dalam bahasa asing yang mengerikan, namun kami tahu itu nama kami.
Dani mencoba menutup laptopnya, tapi layarnya menolak untuk padam. Cahaya iblis itu semakin kuat.
Wajah di layar Bima dan Clara mulai bergerak serempak. Kepala mereka sedikit miring, mata hitam itu berkedip lambat.
Sebuah tangan, bukan tangan manusia, muncul samar-samar dari bahu Bima di layar. Kuku-kuku panjang dan runcing.
“Putuskan koneksinya! Sekarang!” Ardi berteriak, tangannya gemetar mencoba mengklik tombol “End Call”.
Namun, kursornya bergerak sangat lambat, seperti ada kekuatan tak terlihat yang menahannya.
Layar kami berkedip-kedip. Tiba-tiba, wajah iblis itu muncul di layar Dani juga.
Ketiga layar kini menampilkan wajah yang sama, tiga pasang mata hitam legam menatap Ardi.
Senyum iblis itu kini sempurna di ketiga wajah. Sebuah bisikan yang lebih keras terdengar, seperti tawa tanpa suara.
Tawa itu menusuk telinga, memenuhi ruangan Ardi. Udara menjadi berat, menyesakkan.
Ardi merasa ada sesuatu yang mendekat di belakangnya. Dingin yang menusuk kini berubah menjadi hawa panas yang membakar.
Ia menoleh cepat, namun tak ada apa-apa di kamar gelapnya. Hanya bayangan-bayangan yang menari.
Ketiga wajah di layar bergerak lagi. Mereka mengangguk pelan, seolah setuju akan sesuatu.
Kemudian, suara yang lebih dalam, lebih berat, keluar dari mikrofon Bima. “Kalian tidak bisa pergi.”
Itu bukan suara Bima. Itu suara yang membuat bulu kuduk berdiri, suara yang bergetar dengan kekuatan kuno.
“Kalian sudah masuk ke dalam.” Suara itu melanjutkan, seperti gema dari jurang tak berdasar.
Ardi menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia harus keluar dari sini.
Ia mendorong kursornya sekuat tenaga ke tombol “End Call”. Jari-jarinya gemetar, namun ia mengerahkan seluruh tenaganya.
Dengan sebuah jeritan nyaring dari speaker, dan kilatan cahaya merah dari layar, tombol itu akhirnya terklik.
Layar mendadak gelap. Senyap. Hanya ada detak jantung Ardi yang memekakkan telinga.
Ia terengah-engah, memeluk dirinya sendiri. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
Laptopnya mati total. Bukan sekadar layar padam, melainkan benar-benar mati, seolah daya listriknya habis seketika.
Ardi duduk terpaku dalam kegelapan, otaknya berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.
Apakah itu mimpi? Halusinasi karena kurang tidur? Atau… sesuatu yang nyata?
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Tangannya gemetar saat mencoba menghubungi Bima, Clara, dan Dani.
Tidak ada jawaban. Panggilan langsung masuk ke kotak suara. Berulang kali, tetap sama.
Fajar mulai menyingsing di luar jendela, namun kegelapan di hati Ardi tak kunjung sirna.
Filter setan. Sebuah pintu yang terbuka di tengah malam. Entitas yang mengintai dari dunia lain.
Apa yang terjadi pada Bima, Clara, dan Dani? Apakah mereka berhasil lepas? Atau apakah mereka… terjebak?
Ardi menatap layar laptopnya yang gelap. Ia tahu, meskipun mati, sesuatu telah melewati batas.
Dan di suatu tempat, di antara jutaan filter digital, “Filter Malam” mungkin masih mengintai. Menunggu panggilan Zoom tengah malam berikutnya.









