Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Konon Ada Gadis Menangis di Petilasan Itu… Tapi Tak Pernah Tua

9
×

Konon Ada Gadis Menangis di Petilasan Itu… Tapi Tak Pernah Tua

Share this article

Konon Ada Gadis Menangis di Petilasan Itu… Tapi Tak Pernah Tua

Di antara rerimbunan pepohonan tua, tersembunyi sebuah petilasan. Ia adalah jejak Syeikh Jangkung, ulama legendaris. Bapak Ardi, seorang sejarawan skeptis, tiba di sana. Misi akademisnya adalah menyingkap tabir masa lalu.

Udara di sekitar petilasan terasa aneh. Dingin menusuk, meski matahari bersinar terik. Aroma tanah lembap dan lumut tua menyeruak kuat. Seolah waktu membeku di tempat itu, menelan setiap suara.

Bangunan petilasan itu sendiri kusam. Batu-batu pualamnya ditumbuhi lumut tebal, retakan merayap di dindingnya. Sebuah aura kuno terpancar kuat dari setiap sudut. Mengundang sekaligus menggentarkan siapa saja yang melintas.

Saat Ardi melangkah lebih jauh ke dalam kompleks, sebuah bayangan melintas. Sekilas, ia melihat sosok perempuan muda. Rambutnya panjang terurai, mengenakan kebaya putih kusam. Namun, ia lenyap secepat kilat, meninggalkan Ardi bertanya-tanya.

Ia mengira itu hanya ilusi optik, atau kelelahan. Ardi mengabaikannya, fokus pada catatannya. Mengukur dimensi, mengambil sampel, dan mendokumentasikan setiap ukiran yang ada. Namun, perasaan diawasi terus menghantuinya.

Penduduk desa sekitar enggan mendekat ke petilasan. Mereka berbisik tentang “Gadis Penunggu”. Konon, ia adalah roh yang terikat pada petilasan, penjaga rahasia abadi. Sebuah kutukan atau berkah yang tak terucap.

Ardi, yang rasional, menertawakan takhayul itu. Ia yakin semua itu hanya mitos turun-temurun. Sebuah cara masyarakat lokal menjelaskan hal-hal tak terjangkau nalar. Namun, ada keraguan kecil mulai menyusup.

Malam pertama Ardi di penginapan desa, ia mendengar bisikan. Suara tawa lirih, tangisan samar. Terkadang, ia mencium aroma melati yang kuat, lalu menghilang begitu saja. Dinding kamar seolah bergetar pelan, menari dalam kegelapan.

Pagi harinya, ia kembali ke petilasan. Kali ini, ia melihat gadis itu lagi. Ia berdiri di dekat sebuah pohon beringin tua, menatap Ardi tanpa ekspresi. Wajahnya cantik, namun pucat pasi, matanya kosong dan gelap.

Gadis itu mengenakan kebaya putih yang sama, rambutnya tergerai panjang menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bergerak, tidak bicara. Hanya menatap, dan tatapan itu terasa menusuk ke dalam relung jiwa Ardi.

Ardi mencoba memanggilnya, “Nona? Apa Anda baik-baik saja?” Suaranya bergetar. Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, lalu melayang pergi, menghilang di antara pilar-pilar batu.

Jantung Ardi berdegup kencang. Itu bukan halusinasi. Gadis itu nyata, namun tidak seperti manusia biasa. Rasa penasaran akademisnya kini bercampur dengan ketakutan yang dingin. Ia harus mencari tahu.

Ia mulai mewawancarai sesepuh desa. Mereka enggan bicara banyak, wajah mereka pucat setiap kali nama “Gadis Penunggu” disebut. Mereka hanya menyebutkan kisah tragis, tentang seorang gadis yang hilang di masa lalu.

“Ia adalah bagian dari petilasan,” kata seorang nenek tua, matanya berkaca-kaca. “Rohnya terikat. Jangan pernah mencoba mengganggunya. Ia menjaga sesuatu yang tak boleh terungkap.” Kata-katanya penuh peringatan.

Ardi menyelami manuskrip kuno di perpustakaan desa. Ia mencari kaitan Syeikh Jangkung dengan legenda lokal. Setiap baris teks menambah teka-teki. Namun, tak satu pun menyebut tentang seorang gadis penjaga secara eksplisit.

Hanya ada samar-samar kisah tentang “Penjaga Rahasia” atau “Kekuatan Tak Terlihat”. Seolah para penulis masa lalu pun takut untuk mengungkapkannya secara terang-terangan. Ini semakin memicu rasa penasaran Ardi.

Gadis itu mulai menampakkan diri lebih sering. Ia tak lagi menghilang begitu cepat. Kadang, ia terlihat duduk di altar utama petilasan, menyisir rambut panjangnya dengan jemari kurus. Sebuah keindahan yang mematikan, terbalut aura kesedihan mendalam.

Ardi merasa ada daya tarik aneh padanya. Bukan ketertarikan romantis, melainkan rasa ingin tahu yang tak tertahankan. Apa yang gadis itu jaga? Mengapa ia terikat pada tempat ini? Sebuah misteri yang memanggilnya.

Suatu sore, saat Ardi sedang menggambar sketsa petilasan, ia merasa hawa dingin menusuk. Gadis itu berdiri di belakangnya, begitu dekat hingga Ardi bisa merasakan embusan napasnya yang dingin. Ia tidak berbalik.

“Siapa kau?” bisik Ardi tanpa menoleh. Hening. Hanya desiran angin yang menjawab. Namun, Ardi merasakan jari-jari dingin menyentuh bahunya. Bukan sentuhan yang menyakitkan, melainkan sentuhan yang meresap ke tulang.

Ardi berbalik perlahan. Gadis itu masih di sana, matanya kini sedikit lebih hidup. Sebuah kesedihan yang tak terhingga terpancar dari sana. Lalu, ia menunjuk ke sebuah sudut petilasan, di bawah akar beringin raksasa.

Ada sebuah batu nisan tanpa nama, tertutup lumut tebal. Ardi tidak pernah memperhatikannya. Ia mendekat, membersihkan lumut itu. Sebuah ukiran samar terlihat: simbol kuno yang ia kenal dari manuskrip.

Simbol itu adalah segel. Segel kuno yang dipercaya mengikat kekuatan besar, atau jiwa yang tak tenang. Jantung Ardi berdegup kencang. Apakah ini yang dijaga gadis itu? Sebuah jiwa yang terperangkap?

Malam itu, Ardi kembali ke petilasan. Ia membawa peralatan untuk menggali. Rasa takutnya tertelan oleh dorongan untuk mengungkap kebenaran. Ia yakin, di bawah batu nisan itu, tersimpan jawaban.

Ia mulai menggali. Tanah terasa lembap dan padat. Setiap ayunan sekop, ia merasa hawa dingin semakin intens. Aroma melati menusuk hidungnya, kali ini sangat pekat, seolah ribuan bunga melati bermekaran di sekitarnya.

Suara-suara bisikan mulai menggema di telinganya. Bukan bisikan yang jelas, melainkan desahan, erangan, dan tawa samar yang silih berganti. Semakin dalam ia menggali, semakin kuat suara itu.

Tiba-tiba, Ardi mendengar suara tawa melengking. Bukan tawa manusia. Tawa yang dingin, memilukan, dan penuh amarah. Seketika itu juga, tanah yang ia gali mulai bergetar hebat.

Gadis itu muncul. Ia berdiri di tepi galian, rambutnya berkibar tak beraturan. Wajahnya kini bukan lagi pucat, melainkan membiru. Matanya memerah, memancarkan amarah yang tak terkendali.

“Hentikan!” Suara itu bukan suara gadis, melainkan gabungan dari ratusan suara. Menggema, memekakkan telinga, dan memenuhi seluruh alam sadar Ardi. Ia menjatuhkan sekopnya.

Gadis itu mengangkat tangannya. Bukan sentuhan fisik, tapi sebuah kekuatan tak kasat mata mendorong Ardi. Ia terpental, membentur dinding keras petilasan. Rasa sakit menjalar, bukan hanya fisik.

Ardi merasakan pikirannya diserang. Ingatan-ingatan asing menyerbu otaknya. Sebuah tragedi masa lalu, pengkhianatan, dan jiwa yang terperangkap. Ia melihat bayangan Syeikh Jangkung, berjuang mengikat sesuatu.

“Kau membangunkan yang terlarang!” Suara itu menggelegar, namun kini terasa lebih personal. “Ia adalah penjara. Aku adalah kuncinya. Jika kau pecahkan segel, ia akan bebas.”

Ardi terbatuk, mencoba bernapas. Ia melihat gadis itu semakin mendekat. Wajahnya kembali pucat, namun matanya masih memerah. Ada air mata yang mengalir di pipinya, namun air mata itu hitam.

“Pergi,” bisik gadis itu, suaranya kembali melirih, penuh kepedihan. “Sebelum terlambat. Ini bukan tempatmu. Jangan coba menyingkap takdir yang telah terkunci.”

Ardi merasakan tubuhnya ditarik, seolah ada tangan tak terlihat yang menyeretnya keluar dari petilasan. Ia meronta, namun tak berdaya. Ia terlempar keluar, ke rerumputan basah di luar pagar.

Ia terengah-engah, memegangi kepalanya yang pening. Ketika ia menoleh ke petilasan, gadis itu berdiri di pintu masuk. Ia menatap Ardi untuk terakhir kalinya, tatapan penuh peringatan dan kesedihan.

Lalu, ia melangkah masuk, menghilang ke dalam kegelapan. Pintu petilasan seolah menutup sendiri, meninggalkan Ardi sendirian di bawah rembulan. Ia tidak kembali ke sana lagi.

Ardi kembali ke kota, tubuhnya lelah, jiwanya terguncang. Ia tak lagi skeptis. Petilasan Syeikh Jangkung masih berdiri di sana, diselimuti misteri. Gadis Penunggu itu masih di sana.

Misteri itu tetap tak terpecahkan, menggantung abadi di antara pepohonan tua. Sebuah rahasia kuno yang dijaga oleh jiwa yang terperangkap. Dan Ardi, kini, adalah saksi bisu dari kekuatan yang tak boleh terungkap.

Gadis Penunggu Petilasan Syeikh Jangkung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *