Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Kawah Ijen Menyembunyikan Gadis Berbaju Putih — Dan Suara Itu Mengikutiku Pulang

9
×

Kawah Ijen Menyembunyikan Gadis Berbaju Putih — Dan Suara Itu Mengikutiku Pulang

Share this article

Kawah Ijen Menyembunyikan Gadis Berbaju Putih — Dan Suara Itu Mengikutiku Pulang

Gadis Putih di Kawah Ijen: Bisikan Dari Jurang Abadi

Ijen, permata timur Jawa, memanggil dengan pesona sekaligus ancaman. Api biru menari di kegelapan abadi, danau toska menyembunyikan maut. Namun, di balik keindahan buasnya, ada bisikan yang lebih dingin. Kisah tentang “Gadis Putih,” hantu atau kenyataan, menghantui puncak.

Para pendaki dan penambang belerang menceritakan kisah itu. Seorang gadis bergaun putih, melayang di antara asap belerang. Wajahnya pucat, matanya kosong, menatap danau beracun seolah mencari sesuatu. Kehadirannya selalu dibarengi hawa dingin yang menusuk tulang.

Rendra, seorang jurnalis investigasi yang ambisius, tiba dengan skeptisisme kental. Ia mencari kebenaran di balik urban legend, meremehkan ketakutan lokal. Berbekal kamera dan perekam, ia siap membongkar mitos Ijen. Ia tak tahu Ijen akan membongkar kewarasannya sendiri.

Pendakian pertama terasa biasa, dingin dan berat, namun tanpa anomali. Hanya kelelahan dan bau belerang yang menyelimuti langkahnya. Namun, di tepi kawah, ia merasakan hembusan yang bukan angin. Bau melati tipis, samar, menembus tajam aroma sulfur yang pekat.

Ia bertanya pada pemandu dan penambang tua. Sebagian enggan bicara, lainnya berbisik tentang penampakan singkat. “Jangan mencari yang tidak ingin ditemukan,” kata seorang penambang dengan mata nanar. Rendra menganggapnya takhayul, namun benih kegelisahan tertanam.

Malam kedua, Rendra memutuskan berkemah lebih dekat ke kawah. Dinginnya menusuk, namun adrenalinnya mengalahkan itu. Ia ingin menangkap bukti, mengabadikan misteri yang telah memikatnya. Ia merasa dekat dengan sesuatu yang tak kasat mata.

Di bawah rembulan pucat, ia melihatnya. Siluet putih melayang di antara asap, di dekat danau kawah. Terlalu jauh, terlalu samar untuk dipastikan, hanya sekelebat ilusi. Jantung Rendra berdebar, bukan karena takut, melainkan antusiasme yang membakar.

Ia kembali, lebih sering, lebih lama, menunggu dengan sabar. Ia mulai merasa Ijen mengamatinya, napas dinginnya menyelimuti. Suhu udara terasa turun drastis setiap kali ia mendekat ke danau. Sebuah perasaan aneh merayap di benaknya.

Pada suatu subuh, saat api biru menari memukau, ia berdiri di tepi kawah. Sebuah sosok putih muncul dari kabut tebal, perlahan. Gaun putih lusuh, rambut hitam panjang menjuntai tak beraturan. Jantung Rendra seolah berhenti berdetak.

Wajahnya putih pasi, matanya gelap, kosong, tanpa pantulan cahaya. Ia berdiri tanpa bergerak, menatap kosong ke arah danau beracun. Tidak ada suara, tidak ada isyarat, hanya kehadiran yang menghimpit. Udara di sekitarnya terasa beku, membekukan napas Rendra.

Rendra mencoba mengambil gambar, namun kameranya mati mendadak. Baterainya penuh, namun layar gelap total, seolah energinya diserap. Ia mencoba menyalakan perekam suara, hasilnya sama, tak ada respon. Ia merasa terisolasi, hanya berdua dengan sosok itu.

Setiap kali ia berusaha mendekat, hawa dingin menusuk lebih dalam. Kaki Rendra terasa berat, seperti terikat oleh sesuatu tak terlihat. Sebuah ketakutan primordial mencengkeramnya. Ini bukan sekadar mitos, ini adalah kenyataan yang mengerikan.

Obsesi menguasainya, ingin tahu siapa dia, apa yang ia inginkan. Ia lupa mengapa ia datang, hanya ingin memecahkan teka-teki ini. Sebuah suara melengking tipis, seperti ratapan jauh, terdengar di telinganya. Itu bukan suara dari dunia ini.

Malam-malam berikutnya semakin mengerikan, kabut tebal menyelimuti. Bayangan gadis itu muncul di tendanya, di balik kelopak matanya. Bisikan samar terdengar, nama Rendra disebut, berulang, di angin. Ia tak bisa lagi tidur nyenyak.

Kewarasannya terkikis, batas antara mimpi dan nyata mengabur. Ia melihatnya di setiap sudut, di balik setiap batu. Bau melati yang mematikan kini tak lagi samar, menusuk hidungnya. Ia merasa jiwanya ditarik perlahan menuju kegelapan.

Para pemandu mulai khawatir melihat kondisinya. Mata Rendra cekung, kulitnya pucat, ia berbicara sendiri. “Ada yang mengikutiku,” bisiknya, “Dia ingin aku bersamanya.” Mereka mencoba membujuknya turun, namun Rendra menolak keras.

“Aku harus tahu,” katanya dengan tatapan kosong, “Aku harus memahami.” Ia yakin, Gadis Putih itu adalah kunci, jawaban dari sesuatu yang lebih besar. Ia tak peduli lagi pada laporan, pada kariernya, hanya pada misteri ini.

Pada malam terakhirnya, Rendra memutuskan untuk menunggu hingga fajar, sendirian di tepi kawah. Angin bertiup kencang, membawa serpihan belerang. Ia tahu, ini adalah puncaknya, akhir dari pencariannya. Atau, akhir dari dirinya.

Gadis Putih itu muncul, lebih dekat dari sebelumnya, di depannya. Jaraknya hanya beberapa meter, siluetnya kini jelas. Gaunnya robek di sana-sini, kotor oleh debu gunung. Sebuah keheningan mencekam menyelimuti mereka berdua.

Wajahnya kini jelas, ekspresinya pilu, matanya penuh kesedihan abadi. Air mata hitam seperti belerang mengalir dari matanya. Ia tak lagi terlihat seperti hantu, melainkan jiwa yang tersiksa, terperangkap dalam penderitaan.

Sebuah tangan pucat terulur, menunjuk ke danau kawah yang mematikan. Jari-jarinya panjang dan kurus, kukunya menghitam. Rendra merasa dorongan tak tertahankan untuk melangkah maju, untuk mengikuti arah yang ditunjuknya.

Dinginnya menyebar ke tulang, seperti jiwa yang ditarik paksa. Ia merasa paru-parunya sesak, napasnya terhenti. Suara melodi yang menyayat hati memenuhi udara, lagu perpisahan, lagu duka. Apakah ia memanggilnya, atau memperingatkan akan bahaya yang sama?

Dalam kesadarannya yang terakhir, Rendra melihat bayangan lain di belakang Gadis Putih. Sosok-sosok tak jelas, berdesakan, mengintip dari kegelapan. Mereka seolah menunggu, menanti kehadiran baru. Sebuah kengerian yang tak terlukiskan.

Dengan kekuatan terakhir, Rendra mundur, terjatuh, dan melarikan diri. Ia berlari menuruni gunung, meninggalkan Ijen dan misterinya di belakang. Ia tak menoleh, tak peduli pada apapun. Hanya ingin menjauh, sangat jauh dari kawah itu.

Tubuhnya ditemukan di pos pendakian oleh para pemandu, menggigil hebat. Matanya kosong, bibirnya berbusa, ia meracau tak jelas. Ia selamat secara fisik, namun sesuatu dalam dirinya telah direnggut paksa. Jiwanya tercemar oleh apa yang ia lihat.

Rendra tak pernah lagi menulis, tak pernah lagi berbicara tentang Ijen. Ia hanya menatap kosong, terkadang berbisik tentang “bau melati” dan “mata kosong.” Ia menjadi salah satu kisah peringatan, salah satu korban Ijen.

Kisah Gadis Putih di Kawah Ijen tetap menjadi legenda yang hidup. Sebuah peringatan bagi mereka yang terlalu berani. Bahwa ada batas yang tak boleh dilanggar, antara dunia hidup dan dunia mati. Antara akal sehat dan kegilaan.

Dan Ijen, dengan keindahan buasnya, terus menyimpan rahasia. Api birunya tetap menyala, danau toskanya tetap mematikan. Dan di antara asap belerang, bisikan Gadis Putih masih terdengar. Menunggu, memanggil, menjebak jiwa-jiwa yang penasaran.

Gadis Putih di Kawah Ijen: Bisikan Dari Jurang Abadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *