Dunia maya, sebuah ranah tanpa batas, acap kali melahirkan fenomena aneh. Namun, tak ada yang sebanding dengan kengerian video ‘Aura Farming’. Sebuah rekaman singkat yang kini menjadi legenda urban, menghantui setiap sudut internet.
Video itu menampilkan seorang gadis kecil bernama Laras, usianya tak lebih dari lima tahun. Wajahnya polos, namun matanya memancarkan ketenangan yang tak wajar, seolah menyimpan rahasia alam semesta.
Ia duduk di tengah lingkaran aneh, dikelilingi simbol-simbol kuno yang tak dikenal. Cahaya samar berwarna kebiruan mengelilinginya, berdenyut pelan, seirama dengan napasnya yang teratur.
Narasi video itu, suara berat seorang pria yang tak pernah terlihat, mengklaim Laras adalah sumber ‘aura’ murni. Sebuah energi spiritual yang langka, kini tengah ‘dipanen’ untuk tujuan misterius.
Rekaman itu begitu hening, hanya diisi suara angin dan bisikan samar dari narator. Laras tak bergerak, tak berkedip, hanya menatap kosong ke depan, seolah jiwanya telah lama meninggalkan raganya.
Kemudian, kejadian tak terduga itu terjadi. Di tengah rekaman yang hening, siluet Laras mulai memudar, seperti lukisan yang ditiup angin. Bukan buram, bukan kesalahan teknis video.
Ia seolah larut ke dalam udara tipis, perlahan menghilang dari pandangan. Detik demi detik, wujud mungilnya kian transparan, menembus batas antara ada dan tiada.
Hingga akhirnya, hanya lingkaran kosong yang tersisa di layar. Simbol-simbol kuno itu masih terpahat, cahaya biru samar masih berdenyut, namun Laras telah lenyap sepenuhnya.
Seketika, dunia maya gempar. Jutaan pasang mata menyaksikan rekaman mengerikan itu berulang kali, mencoba mencari celah, kesalahan, atau trik sulap yang tersembunyi.
Ketidakpercayaan bercampur ketakutan melanda netizen. Bagaimana mungkin seseorang, seorang anak kecil, bisa menghilang begitu saja dari sebuah rekaman video yang jelas?
Pihak berwenang menepisnya sebagai tipuan digital yang canggih. Namun, rekaman asli tak menunjukkan manipulasi apa pun, tak ada editan, tak ada potongan yang mencurigakan.
Keluarga Laras, tentu saja, diliputi duka dan kebingungan tak berujung. Mereka bersumpah Laras ada, nyata, dan menghilang dari rumah mereka pada hari video itu diunggah.
Pencarian fisik tak membuahkan hasil. Laras tak ditemukan, seolah tak pernah ada. Rumahnya digeledah, tetangga diinterogasi, namun jejaknya lenyap bak ditelan bumi.
Berbagai teori bermunculan: penculikan dengan modus operandi baru, ilusi optik tingkat tinggi, hingga sihir gelap yang memanfaatkan teknologi modern.
Namun, aura misterius video itu terus menghantui. Beberapa mengaku merasakan dingin yang menusuk tulang saat menontonnya, seolah ada entitas tak kasat mata di balik layar.
Ada pula yang bersumpah mendengar bisikan lirih, seolah memanggil nama Laras, melayang dari speaker saat rekaman itu diputar di tengah malam yang sunyi.
Para ahli forensik digital menyerah. Mereka tak menemukan anomali yang bisa menjelaskan hilangnya Laras. Video itu murni, namun kejadian di dalamnya tak masuk akal.
Kemudian, kasus serupa mulai dilaporkan. Anak-anak kecil dengan ‘aura’ istimewa, yang sering dianggap “anak indigo” atau “bermata batin,” menghilang tanpa jejak.
Selalu diawali dengan rekaman samar, mirip ‘Aura Farming’ Laras. Mereka ditampilkan dalam ritual-ritual aneh, sebelum akhirnya lenyap secara misterius.
Seolah ada pola mengerikan yang tersembunyi. Sebuah entitas tak kasat mata yang haus energi spiritual murni, menjadikannya target di seluruh penjuru dunia.
Mungkinkah ini adalah ritual kuno yang bangkit kembali di era digital? Sebuah praktik terlarang yang menemukan medium baru untuk operasinya?
Para ahli spiritual dan parapsikolog mulai angkat bicara. Mereka menyebutnya ‘panen jiwa’, atau ‘ekstraksi esensi’, sebuah praktik yang sangat dilarang dalam tradisi mana pun.
Bukan untuk kebaikan, melainkan untuk memperkuat kekuatan gaib. Untuk membuka gerbang dimensi lain, atau bahkan untuk memperpanjang usia seseorang yang telah usang.
Konon, aura anak-anak murni adalah kunci paling ampuh. Energi yang tak ternoda dosa, tak terkontaminasi oleh dunia fana, menjadikannya target utama.
Sebuah harga yang teramat mahal untuk kekuatan yang tak terbayangkan. Mengorbankan kemurnian dan masa depan seorang anak demi ambisi gelap yang tak terbatas.
Video Laras kini menjadi semacam peringatan. Sebuah mantra visual yang terus beresonansi, menarik perhatian mereka yang penasaran, sekaligus mengundang kengerian.
Siapa pun yang mengunggahnya, atau mencoba meniru ritualnya, dilaporkan mengalami hal aneh. Mulai dari gangguan tidur, mimpi buruk yang realistis, hingga penampakan bayangan di sudut mata.
Beberapa bahkan mengaku mendengar suara Laras memanggil, atau melihat kilasan cahaya biru di ruangan gelap, persis seperti yang terlihat di dalam video.
Seolah-olah, Laras tidak benar-benar pergi. Ia hanya berpindah, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah entitas yang kini terikat dengan dunia maya.
Misteri ini tak pernah terpecahkan. Keberadaan Laras tetap menjadi tanda tanya besar, sebuah lubang hitam dalam realitas yang tak bisa dijelaskan.
Apakah ia terjebak di dimensi lain? Terkunci dalam ruang antara dunia kita dan alam gaib, menjadi sumber energi abadi bagi sang pemanen?
Atau ia telah menjadi bagian dari kekuatan yang memanennya? Menjelma menjadi entitas tanpa raga, bergentayangan dalam bentuk energi di sela-sela gelombang digital?
Setiap kali video itu muncul di linimasa, rasa dingin merayapi. Mengingatkan kita pada batas tipis antara realitas dan ilusi, antara yang terlihat dan tak kasat mata.
Dan pada anak-anak lain, yang mungkin kini tengah ‘dipanen’ di suatu tempat yang tak kita ketahui. Jiwa-jiwa murni yang menjadi korban ambisi gelap.
Kisah Laras dari video Aura Farming adalah legenda urban masa kini. Sebuah kisah yang tak hanya menghantui, namun juga memperingatkan.
Tentang kekuatan yang melampaui pemahaman manusia. Tentang keindahan yang bisa menjadi kutukan, dan teknologi yang menjadi mediumnya.
Dan tentang anak-anak tak bersalah, yang mungkin kini hanya menjadi energi. Berdenyut dalam kegelapan abadi, menunggu untuk dibebaskan.
Video itu terus beredar, sebuah monumen bisu bagi hilangnya kemurnian. Sebuah misteri yang menolak untuk mati, dan terus mencari jawaban.
Apakah kita, para penonton, juga menjadi bagian dari ritual ini? Apakah setiap kali kita menekan tombol putar, kita ikut memberi makan entitas itu?
Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung di udara, tanpa jawaban pasti. Hanya menyisakan ketakutan, dan bisikan angin yang kadang menyerupai tawa seorang anak kecil.
Tawa yang kini mungkin hanya bergema dari dimensi lain, terperangkap dalam jaring-jaring aura yang tak kasat mata, di tengah ritual abadi yang tak pernah usai.
Dan setiap kali kita melihat cahaya biru samar, atau mendengar bisikan aneh, kita bertanya: apakah itu Laras? Ataukah itu hanya imajinasi kita yang mulai terkikis oleh kengerian?
Misteri Laras adalah pengingat. Bahwa di balik layar, ada dunia yang tak terlihat. Dan beberapa hal, sebaiknya tetap menjadi rahasia, tersembunyi dari pandangan manusia.








