Gending Terlarang di Puncak Guntur: Sebuah Kisah Misteri
Gunung Guntur, menjulang angkuh di Garut, bukan sekadar gundukan batu dan pepohonan. Ada aura purba menyelimutinya, bisikan-bisikan angin membawa cerita lama. Konon, di antara kabut tebal dan jurang curam, tersembunyi sebuah melodi.
Melodi yang bukan berasal dari dunia manusia. Gamelan mistis, gending purba yang hanya terdengar di malam-malam tertentu. Iramanya mengundang, memikat, namun juga mematikan.
Arya, seorang etnomusikolog muda yang skeptis. Ia menganggap cerita-cerita itu hanya bualan belaka. Tujuan utamanya penelitian budaya murni. Bukan mencari hantu atau legenda di sana.
Namun, desas-desus tentang gamelan itu tak henti menghampirinya. Para penduduk lokal berbisik tentang suara gaib yang muncul tanpa sumber. Suara yang seringkali diikuti oleh hilangnya pendaki atau warga yang nekat.
“Itu adalah panggilan, Nak,” ujar Mbah Karta, sesepuh desa dengan mata nanar. “Panggilan dari Penunggu Guntur. Gamelan itu, adalah tirai antara dua dunia.”
Arya hanya tersenyum tipis, menganggapnya takhayul belaka. Ia percaya pada logika, pada data, pada apa yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Namun, ada sesuatu yang berbeda di mata Mbah Karta.
Malam itu, kabut turun begitu pekat, menelan desa dalam selimut kelabu. Hawa dingin menusuk tulang, membawa aroma lumut basah dan tanah lembap. Sunyi mencekam, hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian.
Tiba-tiba, dari kejauhan, sebuah suara mengalun. Awalnya samar, seperti bisikan angin yang membawa melodi. Lalu semakin jelas, semakin nyata. Gending itu, gamelan itu.
Arya menegang, jantungnya berpacu liar. Itu bukan suara musik biasa. Ada getaran aneh di dalamnya, sebuah resonansi yang langsung menyentuh relung jiwanya. Melodi itu memanggil, tak terbantahkan.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi. Mungkin kelelahan, atau imajinasi yang terlalu terpengaruh cerita. Namun, telinganya tak bisa berbohong.
Suara gamelan itu adalah kombinasi antara kemegahan dan kengerian. Tabuhan kendang yang menggelegar seperti detak jantung raksasa. Alunan saron dan bonang yang meliuk, membelai sekaligus mencekik.
Semakin larut, melodi itu semakin kuat. Arya merasa seolah ada kekuatan tak kasat mata menariknya. Menariknya ke arah sumber suara, ke kedalaman hutan yang gelap gulita.
Keesokan harinya, ia memutuskan untuk mencari tahu. Dengan membawa peralatan rekam dan kamera, Arya memulai pendakiannya. Ia ingin membuktikan bahwa semua ini hanya fenomena alam biasa, atau setidaknya, menemukan sumber suara itu.
Jalur pendakian yang biasa ia lewati terasa berbeda. Pohon-pohon tua tampak lebih menyeramkan. Bayangan menari-nari di tepian penglihatan, seolah ada sesuatu yang mengawasi dari balik semak.
Ia bertemu beberapa penduduk lokal yang sedang mengumpulkan kayu bakar. Mereka memandangnya dengan tatapan khawatir. “Jangan terlalu jauh, Den Arya,” ujar salah seorang dari mereka. “Gunung ini punya penunggu.”
Arya hanya mengangguk, namun tetap melanjutkan perjalanan. Semakin tinggi ia mendaki, udara semakin dingin dan kabut semakin tebal. Ia merasa terisolasi, hanya dirinya dan gunung.
Sore menjelang, dan belum ada tanda-tanda sumber suara. Ia mendirikan tenda di sebuah dataran kecil, di antara pepohonan pinus yang menjulang. Malam akan tiba, dan ia siap menunggu.
Saat senja menipis, langit berubah warna menjadi ungu tua dan oranye. Hawa dingin merayap perlahan, dan kesunyian kembali menyelimuti. Arya menyalakan api unggun, mencoba menghalau rasa sepi dan sedikit ketakutan yang mulai muncul.
Kemudian, suara itu kembali. Lebih dekat, lebih nyata, lebih memikat. Gamelan itu, kini terdengar seperti sedang dimainkan tepat di depannya. Setiap nada menusuk, menggetarkan gendang telinga.
Arya meraih alat perekamnya, tangannya sedikit gemetar. Ia merekam setiap detiknya, mencoba menangkap esensi suara itu. Namun, ia tahu, rekaman ini tak akan pernah bisa menangkap kekuatan magisnya.
Gamelan itu seperti memanggilnya secara personal. Sebuah undangan yang tak bisa ditolak. Arya merasa seolah tubuhnya bukan miliknya lagi, kakinya bergerak sendiri, mengikuti irama.
Ia berjalan menembus kabut, melangkah ke arah timur laut. Jalur yang ia lalui semakin curam, semak belukar mencakar kulitnya. Namun, ia tak merasakan sakit, hanya dorongan untuk terus maju.
Melodi itu kini menguasai pikirannya. Mengisi setiap celah, menghapus keraguan, dan hanya menyisakan rasa ingin tahu yang tak tertahankan. Apa yang ada di ujung sana? Siapa yang memainkan gamelan ini?
Ia sampai di sebuah cekungan luas, dihiasi oleh bebatuan besar yang ditumbuhi lumut tebal. Di tengah cekungan itu, berdiri sebuah pohon beringin raksasa, akarnya menjuntai seperti tirai.
Di bawah pohon beringin itulah, sumber suara berasal. Namun, tidak ada gamelan yang terlihat. Tidak ada pemain. Hanya kabut yang berputar-putar, dan sebuah cahaya redup yang berdenyut pelan.
Cahaya itu berasal dari sebuah portal, atau celah dimensi. Gamelan itu bukan dimainkan oleh tangan manusia. Ia adalah getaran dari dimensi lain, sebuah manifestasi suara dari entitas purba.
Tiba-tiba, melodi itu mencapai puncaknya. Menggila, memekakkan telinga, namun tetap memikat. Arya merasa seolah ditarik ke dalam cahaya itu, ke dalam portal yang berdenyut.
Ia melihat bayangan-bayangan melintas di sana. Sosok-sosok tak jelas, berkelebat seperti ilusi. Apakah mereka para pendaki yang hilang? Ataukah penjaga gamelan itu sendiri?
Sebuah bisikan, lebih halus dari angin, menyusup ke telinganya. Bukan kata-kata, melainkan sebuah pemahaman. Gamelan itu adalah jembatan, sebuah pintu gerbang. Ia memanggil jiwa-jiwa yang selaras.
Ia adalah melodi dari Penunggu Guntur, sebuah entitas yang menjaga keseimbangan gunung. Gamelan itu dimainkan untuk memanggil mereka yang dianggap layak, atau yang tersesat terlalu jauh.
Rasa ngeri mencengkeramnya. Arya tahu, jika ia melangkah lebih jauh, ia mungkin tidak akan pernah kembali. Ia akan menjadi bagian dari bayangan-bayangan yang menari di dalam portal.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia memaksa dirinya mundur. Melawan daya tarik melodi yang membius. Setiap langkah terasa berat, seolah ada tangan tak kasat mata yang menahannya.
Ia berlari, menjauhi cekungan itu, menjauhi pohon beringin raksasa. Gamelan itu masih mengejarnya, suaranya menusuk dari belakang. Namun, kini ia berlari bukan karena penasaran, melainkan karena ketakutan murni.
Ia tidak berhenti sampai menemukan kembali tendanya. Terengah-engah, dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Gamelan itu, perlahan memudar di kejauhan, kembali menjadi bisikan samar.
Arya tidak tidur malam itu. Ia duduk di samping api unggun yang mulai meredup, menatap kegelapan hutan. Rekaman di alatnya tidak menunjukkan apa-apa. Hanya suara angin dan derik ranting.
Gamelan itu hanya ada bagi mereka yang dipanggil. Hanya terdengar oleh telinga yang peka. Atau, mungkin, hanya terlihat oleh mata yang sudah terlanjur terbuka.
Keesokan paginya, ia turun gunung dengan tubuh lemas dan jiwa yang terguncang. Arya bukan lagi etnomusikolog yang skeptis. Ia adalah saksi, seorang yang telah mendengar melodi dari dunia lain.
Ia mencoba menceritakan pengalamannya kepada Mbah Karta. Sesepuh itu hanya mengangguk pelan, seolah sudah tahu. “Guntur tidak suka diganggu, Nak. Ia hanya memanggil yang ia inginkan.”
Misteri Gamelan Mistis Gunung Guntur tetap tak terpecahkan. Arya tidak lagi mencari bukti ilmiah. Ia tahu ada hal-hal di dunia ini yang melampaui logika dan pemahaman manusia.
Sesekali, di malam-malam tertentu, ia masih bisa mendengar bisikan samar. Alunan gending purba yang terbawa angin dari puncak Guntur. Sebuah pengingat akan batas tipis antara kenyataan dan dunia gaib.
Dan ia tahu, di kedalaman gunung itu, melodi terlarang itu akan terus dimainkan. Menunggu korban berikutnya, atau jiwa yang selaras. Gamelan Mistis Gunung Guntur, misteri yang abadi.





