Scroll untuk baca artikel
DIY

Gedung Tua di Pinggir Kali Code Itu Masih Berdiri… Tapi Kenapa Tak Ada yang Berani Masuk?

9
×

Gedung Tua di Pinggir Kali Code Itu Masih Berdiri… Tapi Kenapa Tak Ada yang Berani Masuk?

Share this article

 

Di jantung Yogyakarta, tempat Kali Code membelah kota seperti urat nadi, tersembunyi sebuah rahasia yang terbungkus lumut dan kesunyian. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan sebuah entitas yang bernapas, mengawasi dengan jendela-jendela kosongnya. Sebuah gedung yang bisu, namun berteriak dalam setiap hembusan angin yang melintasinya.

Aku pertama kali melihatnya bertahun-tahun lalu, saat menelusuri tepian sungai yang sepi. Warnanya pudar, catnya mengelupas seperti kulit tua yang keriput. Pohon-pohon merambat memeluk dindingnya, seolah ingin menelan bangunan itu ke dalam kegelapan abadi. Ada sesuatu yang memanggil, sebuah daya tarik misterius yang tak bisa kujelaskan.

Penduduk sekitar selalu menghindarinya, bahkan menyeberang jalan jika harus melintas di depannya. Bisik-bisik dan tatapan ngeri mengiringi setiap penyebutan namanya. “Jangan dekati,” kata seorang nenek tua padaku suatu sore, matanya sarat peringatan. “Ada yang tak pernah pergi dari sana.”

Kata-kata itu melekat dalam benakku, memicu rasa penasaran yang tak terbendung. Gedung itu menjadi obsesiku, sebuah teka-teki yang harus kupecahkan. Setiap malam, bayangannya menari-nari dalam mimpiku, jendela-jendela kosong itu seolah menatap langsung ke dalam jiwaku.

Suatu hari, keberanianku mengalahkan ketakutan. Aku memutuskan untuk mendekatinya, hanya sekadar melihat lebih dekat. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin, seolah waktu berhenti di ambang gerbangnya. Bau apak dan tanah basah menusuk hidung, bercampur aroma misterius yang tak kukenali.

Pintu gerbang besi yang berkarat terbuka sedikit, seolah mengundangku masuk. Aku melangkah ragu, setiap jejak kakiku terasa memantul dalam keheningan yang mencekam. Rumput liar tumbuh setinggi pinggang, menutupi jalan setapak yang dulu mungkin terawat rapi. Pohon beringin besar berdiri kokoh di halaman, akarnya menjalar seperti tangan-tangan raksasa.

Aku merasakan hembusan angin yang aneh, seolah ada sesuatu yang lewat begitu saja di sampingku. Bulu kudukku meremang, namun rasa penasaran mengalahkan naluri untuk lari. Aku berjalan pelan, mendekati bangunan utama. Jendela-jendela di lantai bawah pecah, menyisakan lubang gelap yang menakutkan.

Dari salah satu jendela yang terbuka lebar, kudengar suara samar. Bukan suara angin, bukan pula suara binatang. Itu seperti bisikan, sangat pelan, nyaris tak terdengar. Aku menajamkan pendengaranku, mencoba menangkap makna dari suara samar itu, namun ia menghilang begitu saja.

Aku menyusuri sisi gedung, mencari celah atau pintu yang bisa kubuka. Dindingnya ditutupi lumut tebal, beberapa bagiannya retak, menampakkan batu bata di baliknya. Ada sebuah pintu samping yang terbuat dari kayu jati, terlihat lebih kokoh dari yang lain. Kuncinya berkarat, namun daun pintu itu sedikit terbuka.

Dorongan yang kuat membuatku memberanikan diri. Aku mendorong pintu itu perlahan, menghasilkan lenguhan panjang yang menyeramkan. Kegelapan di dalamnya menyambutku, pekat dan dingin. Aroma apek semakin kuat, bercampur bau debu dan sesuatu yang manis, namun busuk.

Langkah pertamaku masuk ke dalam gedung terasa seperti melintasi batas dimensi. Udara di dalam jauh lebih dingin, seolah suhu di luar tak pernah menjangkau tempat ini. Suara detak jantungku sendiri terdengar keras dalam keheningan yang mencekam. Aku menyalakan senter ponselku, sinarnya menembus kegelapan yang tebal.

Ruangan pertama adalah aula yang luas, dengan langit-langit tinggi yang diselimuti sarang laba-laba. Perabotan besar yang tertutup kain putih berdiri seperti hantu-hantu bisu. Debu tebal menyelimuti segalanya, jejak kakiku menciptakan garis bersih di lantai yang kotor.

Aku melangkah maju, senterku menyapu setiap sudut. Di salah satu dinding, tergantung sebuah lukisan potret yang sudah usang. Wajah seorang wanita muda yang cantik, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Seolah ia tahu, nasib buruk akan menimpanya.

Aku merasakan sensasi aneh, seperti ada yang mengawasiku dari balik kegelapan. Aku menoleh cepat, namun tak ada siapa-siapa. Hanya bayanganku sendiri yang menari-nari di dinding, mengikuti gerak senter. Aku mencoba menenangkan diri, ini hanya imajinasiku.

Namun, kemudian kudengar lagi bisikan itu. Kali ini lebih jelas, seperti nama yang dipanggil, nyaris tak terdengar. Aku menahan napas, mencoba melacak sumbernya. Suara itu berasal dari ujung aula, di balik sebuah pintu yang setengah terbuka.

Dengan jantung berdebar tak karuan, aku melangkah menuju pintu itu. Setiap langkah terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menekanku. Sinar senterku menyorot ke dalam ruangan di baliknya. Itu adalah sebuah kamar tidur, terlihat dari ranjang berukiran kuno yang tertutup kain.

Di sudut kamar, ada sebuah boneka tua yang duduk di lantai. Matanya terbuat dari kancing hitam, menatap lurus ke arahku. Aku merasa merinding, boneka itu seolah hidup, memancarkan aura yang aneh. Kain penutup di ranjang bergeser sedikit, seolah ada yang baru saja duduk di sana.

Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan itu turun drastis. Dinginnya menusuk tulang, membuat gigiku gemeretak. Boneka itu, matanya yang kancing hitam, seolah bersinar dalam kegelapan. Aku merasakan embusan napas tepat di belakang leherku, dingin dan kosong.

Aku berbalik cepat, namun tak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan yang menatapku. Lalu, sebuah melodi samar, seperti senandung pengantar tidur, terdengar di telingaku. Sangat dekat, sangat nyata, namun tak ada sumber yang terlihat. Melodi itu terasa begitu akrab, namun asing pada saat yang bersamaan.

Aku teringat kisah yang kudengar dari kakek tua pemancing. Kisah tentang seorang anak gadis yang hilang misterius dari gedung ini bertahun-tahun silam. Orang tuanya yang kaya, hancur dalam kesedihan, akhirnya meninggal satu per satu, meninggalkan gedung ini dalam duka abadi. Apakah melodi ini adalah senandungnya?

Jantungku berdebar tak karuan, ketakutan yang sesungguhnya mulai merayapi setiap sendi. Aku tahu aku tidak sendiri di sini. Ada sesuatu, atau seseorang, yang tak pernah meninggalkan tempat ini. Dan kini, ia merasakan kehadiranku.

Aku merasakan tarikan samar pada ujung bajuku. Sebuah sentuhan yang dingin, namun tak ada wujud. Melodi itu semakin jelas, semakin mendayu, seolah memanggilku untuk tetap tinggal. Aku ingin lari, namun kakiku terasa terpaku di lantai.

Lalu, sebuah suara. Bukan bisikan, tapi tangisan yang sangat pelan, penuh kesedihan. Itu suara seorang anak kecil. Suara itu berasal dari balik ranjang, di sudut gelap yang tak tersentuh senterku. Aku memejamkan mata, tak sanggup melihat apa yang mungkin ada di sana.

Aku membuka mata lagi, dan boneka itu… ia tidak lagi duduk di sudut. Ia kini berada tepat di depanku, matanya yang kancing hitam menatap lurus ke mataku. Jaraknya hanya sejengkal, dan aku bisa merasakan dinginnya aura yang memancar darinya.

Ketakutan yang tak tertahankan akhirnya memicu naluriku. Aku berteriak, sebuah teriakan yang tercekat di tenggorokanku. Aku berbalik dan berlari, secepat yang kubisa, melewati aula gelap, melewati pintu yang melenguh, menuju cahaya di luar.

Aku tak peduli pada duri yang menusuk kulitku, atau batu kerikil yang menusuk telapak kaki. Aku berlari keluar dari gerbang, tak berhenti sampai aku jauh dari pandangan gedung itu. Napas terengah-engah, paru-paruku serasa terbakar, namun aku terus berlari.

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi mendekati gedung tua di pinggir Kali Code. Namun, kenangan akan melodi itu, tangisan anak kecil, dan tatapan mata boneka itu, tak pernah meninggalkanku. Mereka menghantuiku dalam mimpi, dalam pikiran, dalam setiap hembusan angin malam.

Gedung itu, tetap di sana, diam dan misterius, seperti penjaga abadi. Ia berdiri sebagai monumen kesedihan yang tak terucap, sebuah penjara bagi jiwa-jiwa yang tak pernah menemukan kedamaian. Dan aku tahu, beberapa rahasia memang lebih baik tetap terkunci dalam kegelapan abadi, tak tersentuh oleh rasa penasaran manusia.

Gedung Tua di Pinggir Jalan Kali Code

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *