Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Selatan

Gubuk Kosong di Tengah Kebun Kopi Pendopo yang Tiba-tiba Bercahaya

10
×

Gubuk Kosong di Tengah Kebun Kopi Pendopo yang Tiba-tiba Bercahaya

Share this article

Gubuk Kosong di Tengah Kebun Kopi Pendopo yang Tiba-tiba Bercahaya

Di jantung Pendopo, jauh di balik deretan perkebunan kopi yang membentang hijau, tersembunyi sebuah gubuk kosong. Atapnya melengkung, kayunya lapuk dimakan waktu dan lumut tebal. Penduduk setempat selalu menjauhinya, bisikan cerita seram menyelimuti setiap sudutnya.

Mereka bilang gubuk itu adalah makam rahasia, tempat bersemayam arwah penasaran. Yang lain meyakini ia adalah gerbang ke alam lain, terlarang untuk dijamah manusia. Terlepas dari legenda, gubuk itu selalu gelap, sunyi, dan dingin, tersembunyi di balik kabut pagi yang abadi. Hingga suatu malam, segalanya berubah.

Malam itu, Rian, seorang pemuda yang biasa memantau kebun kopi ayahnya, melihatnya. Sebuah cahaya samar berdenyut dari jendela gubuk tua itu. Ia menggosok matanya, mengira itu hanya fatamorgana kelelahan. Namun cahaya itu tak hilang, justru semakin jelas di tengah pekatnya malam.

Awalnya hanya sekelebat, seperti kunang-kunang raksasa yang terperangkap. Kemudian, ia membesar, memancarkan rona kebiruan yang aneh. Cahaya itu bukan seperti obor atau lampu minyak biasa. Ia hidup, berdenyut, seolah bernapas di dalam kegelapan gubuk.

Rian merasakan bulu kuduknya meremang, namun rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya pantulan bulan, atau mungkin ulah iseng seseorang. Namun tak ada bulan malam itu, hanya awan tebal menggantung rendah. Dan siapa yang berani mendekati gubuk angker tersebut?

Pagi harinya, Rian menceritakan pengalamannya kepada Pak Karto, sesepuh desa. Pak Karto hanya mengangguk pelan, sorot matanya menyimpan kearifan dan kekhawatiran yang mendalam. "Jangan diganggu, Nak," bisiknya lirih, "Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan tersembunyi."

Namun, peringatan itu justru membakar rasa ingin tahu Rian. Ia tak bisa berhenti memikirkan cahaya misterius itu. Setiap malam, setelah semua orang tidur, ia akan pergi ke batas kebun, mengamati gubuk itu dari kejauhan. Dan setiap malam, cahaya itu kembali.

Ia semakin terang, semakin kuat, kadang memancarkan rona keunguan yang menakutkan. Rian melihatnya berdenyut, seolah memiliki ritme jantung sendiri. Terkadang, cahaya itu akan memudar perlahan, lalu tiba-tiba meledak dengan kilatan singkat. Ini bukan sekadar pantulan cahaya biasa.

Gubuk itu seolah telah terbangun dari tidur panjangnya. Kisah-kisah lama tentang arwah dan gerbang alam gaib mulai terasa lebih nyata. Desas-desus mulai menyebar di antara para pekerja kebun. Mereka berbicara tentang "cahaya hantu" dan "roh penunggu" yang telah bangkit.

Ketakutan menyelimuti Pendopo. Beberapa pekerja bahkan menolak pergi ke kebun kopi pada malam hari. Suara-suara aneh mulai terdengar dari arah gubuk, seperti bisikan yang dibawa angin. Pohon-pohon di sekitarnya seolah bergerak lebih aneh, bayangan mereka menari-nari menakutkan.

Rian memutuskan ia harus tahu. Ia tak bisa membiarkan misteri ini menggantung begitu saja. Malam berikutnya, dengan hati berdebar, ia menyiapkan senter dan sebilah pisau kecil. Ia akan mendekati gubuk itu, melihat apa sebenarnya yang ada di dalamnya.

Kabut tebal merangkak di antara pohon kopi, menelan siluet Rian. Setiap langkah terasa berat, daun-daun kering berderak di bawah kakinya. Aroma tanah basah dan kopi yang belum dipetik bercampur dengan bau apak dan sesuatu yang tak dikenal, menusuk hidungnya. Suara jangkrik seolah berhenti, digantikan oleh detak jantungnya sendiri.

Gubuk itu tampak lebih besar, lebih mengancam dalam kegelapan. Cahaya biru-ungu itu kini memancar lebih stabil, menerangi celah-celah papan. Ia seolah memanggil, menarik Rian semakin dekat. Dingin menusuk tulang, bukan hanya karena udara malam, tetapi juga karena aura yang terpancar.

Jendela gubuk itu pecah di beberapa tempat, seperti mata-mata kosong yang menatap. Rian mengintip dari salah satu celah. Di dalamnya, cahaya itu bukan berasal dari lampu atau lilin. Ia adalah sebuah bola energi, melayang di tengah ruangan, berdenyut perlahan.

Bola cahaya itu berwarna kebiruan, kadang berkedip ungu, seolah memiliki kesadarannya sendiri. Permukaannya tampak bergejolak, seperti cairan yang mendidih tanpa panas. Rian merasakan getaran halus di tanah, seolah-olah gubuk itu beresonansi dengan cahaya tersebut. Ia bukan benda mati.

Rian mencoba memberanikan diri, melangkah mendekat ke pintu yang sedikit terbuka. Engselnya berdecit pelan saat ia mendorongnya. Udara di dalam gubuk terasa tebal, berat, seperti terisi energi yang tak terlihat. Cahaya itu kini menerangi seluruh ruangan, namun anehnya, tak ada bayangan yang terbentuk.

Di tengah gubuk, melayanglah sumber cahaya itu. Bukan sebuah artefak kuno, bukan pula alat modern. Ia adalah gumpalan energi murni, berputar perlahan, memancarkan denyutan yang terasa sampai ke dadanya. Dari waktu ke waktu, gumpalan itu memancarkan kilatan-kilatan kecil, seolah-olah ia bernapas.

Rian terhipnotis, tak bisa mengalihkan pandangannya. Ia merasa ada sesuatu yang kuno, yang sangat tua, bersemayam di sana. Sebuah bisikan halus seolah melayang di benaknya, bukan kata-kata, melainkan sensasi. Sensasi ingatan yang hilang, rahasia yang terkubur, dan kekuatan yang tak terpahami.

Cahaya itu berdenyut lebih cepat saat Rian melangkah lebih dekat. Ia merasakan tarikan, seolah gumpalan energi itu ingin menyentuhnya. Rasa takut bercampur dengan kekaguman yang luar biasa. Ia adalah sesuatu yang hidup, namun bukan makhluk hidup yang ia kenal.

Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya yang lebih terang meledak dari bola energi itu. Rian terdorong mundur, merasakan gelombang energi yang tak terlihat. Ia jatuh terhempas ke lantai, matanya terpejam rapat. Ketika ia membuka mata, cahaya itu kembali meredup, berdenyut tenang seperti semula.

Namun, ia tahu ada sesuatu yang berbeda. Ia telah merasakan sentuhannya, merasakan resonansinya. Rian bangkit perlahan, tubuhnya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena kengerian dan keajaiban. Ia melangkah mundur, perlahan, tak ingin memprovokasi entitas itu lagi.

Keluar dari gubuk, udara malam terasa dingin, namun pikirannya berkecamuk panas. Ia berlari menembus kegelapan, meninggalkan gubuk yang kini kembali sunyi. Cahaya biru-ungu itu masih terlihat dari kejauhan, berdenyut misterius di tengah kebun kopi.

Rian tak pernah menceritakan apa yang ia lihat di dalam gubuk. Bagaimana ia bisa menjelaskan gumpalan energi hidup yang tak memiliki bentuk? Ia hanya menyimpan rahasia itu di dalam hatinya, sebuah beban dan sekaligus anugerah. Ia tahu bahwa ia telah menyentuh sesuatu yang melampaui pemahaman manusia.

Gubuk kosong itu tetap berdiri, menjadi titik cahaya aneh di malam hari. Penduduk Pendopo kini lebih menjauhinya, ketakutan mereka semakin nyata. Cahaya itu terus berdenyut, menjadi mercusuar misteri yang tak terpecahkan. Ia adalah pengingat bahwa di balik yang terlihat, ada rahasia yang menunggu untuk ditemukan, atau mungkin, lebih baik dibiarkan selamanya tersembunyi.

Dan di tengah kebun kopi Pendopo, di bawah langit malam yang luas, gubuk kosong itu terus bercahaya. Sebuah misteri abadi, sebuah denyutan dari masa lalu yang tak terjamah. Ia akan terus bersinar, mungkin selamanya, menjaga rahasia yang tak seorang pun berani menguak sepenuhnya.

Gubuk Kosong di Tengah Kebun Kopi Pendopo yang Tiba-tiba Bercahaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *