Gubuk Tua di Bukit Malimbu: Senandung Kegelapan yang Tak Pernah Padam
Bukit Malimbu, permata Lombok yang memukau, memeluk lautan dengan senja jingga. Setiap hari, wisatawan terpukau oleh keindahan panorama yang tak terkira. Namun, di puncaknya yang tersembunyi, di balik rimbunnya dedaunan, berdiri sebuah noda. Sebuah gubuk tua, usang, menatap samudra lepas dengan mata gelapnya. Konon, ia menyimpan bisikan masa lalu yang gelap.
Arif, seorang penulis novel misteri yang haus akan kisah nyata, tergelitik oleh desas-desus. Cerita-cerita tentang gubuk itu, yang selalu dihindari penduduk lokal, memanggil jiwanya. Ia mencari inspirasi, namun tanpa sadar, ia justru melangkah menuju ambang teror nyata. Keingintahuan membawanya pada sebuah perjalanan yang akan menguji batas kewarasannya.
Angin Malimbu berdesir dingin menyambut langkah Arif. Semakin dekat, gubuk itu semakin menampakkan wujudnya yang mengerikan. Berdiri sunyi, jendela gelapnya seperti mata mati yang mengawasi. Lumut tebal memeluk dindingnya yang retak-retak, seolah menutupi rahasia yang terkunci di dalamnya. Aura mencekam memancar dari setiap sudutnya.
Sebuah plang kayu lapuk di depan pintu bertuliskan “Tanah Terlarang” nyaris tak terbaca. Namun, tulisan itu tak menghentikan Arif. Rasa penasaran mengalahkan naluri peringatan. Ia merasakan dorongan tak kasat mata, seolah ada kekuatan lain yang menariknya mendekat. Hatinya berdebar kencang, antara antisipasi dan ketakutan yang mendalam.
Pintu reyot terbuka dengan erangan panjang, seolah enggan menyambut tamu. Kegelapan pekat menyergap begitu Arif melangkah masuk. Debu tebal menyelimuti setiap jengkal lantai, membentuk jejak-jejak tak beraturan. Udara di dalam terasa berat, pengap, dan berbau apek, bercampur aroma tanah lembap dan sesuatu yang tak teridentifikasi.
Seolah waktu berhenti berputar di ambang pintu itu, membeku dalam kehampaan. Cahaya samar dari luar menembus celah-celah dinding yang lapuk. Arif menyalakan senter ponselnya, sinarnya menari di antara perabotan usang. Kursi-kursi berjejer tak beraturan, meja-meja tertutup kain putih yang menguning. Semuanya berteriak tentang kehidupan yang tiba-tiba terhenti.
Di sudut ruangan, sebuah meja reyot berdiri tegak, seolah tak tersentuh oleh waktu. Sebuah buku bersampul kulit tergeletak di atasnya, warnanya pudar dan permukaannya kasar. Halamannya menguning, penuh tulisan tangan rapi yang tampak terburu-buru. Itu adalah catatan harian seorang wanita bernama Larasati, penghuni terakhir gubuk ini.
Arif mulai membaca, bisikan Larasati seolah hidup kembali. Larasati menulis tentang kesepian yang mendalam, tentang bisikan-bisikan aneh yang mulai ia dengar. Suara-suara dari dinding, bisikan dari balik tirai yang bergerak sendiri. Bayangan-bayangan melintas cepat di sudut matanya, menari-nari dalam kegelapan.
Awalnya, Larasati mengira itu hanya halusinasi akibat isolasi. Namun, suara-suara itu semakin jelas, semakin mendesak. Ia mulai menulis tentang “mereka,” entitas tak terlihat yang mulai mengklaim gubuk itu sebagai milik mereka. Larasati menggambarkan bagaimana “mereka” berbisik tentang rahasia masa lalu, tentang kekuatan yang terkubur.
Kewarasannya terkikis perlahan, digantikan oleh obsesi aneh. Ia mulai menggambar simbol-simbol tak dikenal di setiap halaman buku, di dinding, bahkan di lantai. Simbol-simbol kuno yang seolah memanggil, membuka gerbang dimensi lain. Larasati yakin bahwa dengan simbol-simbol itu, ia bisa berkomunikasi dengan “mereka.”
Arif merasakan bulu kuduknya merinding hebat seiring ia membaca. Seiring kalimat-kalimat Larasati yang semakin gila, gubuk itu seolah ikut bernapas bersamanya. Dinding berderit tanpa sebab, angin masuk dari celah yang tak ada. Udara di sekelilingnya menjadi dingin, lalu tiba-tiba menghangat tak wajar.
Bayangan di sudut mata Arif menari-nari menakutkan, seperti Larasati alami. Ia mencoba mengabaikannya, fokus pada tulisan tangan yang semakin tidak keruan. Larasati menulis tentang “malam persembahan,” sebuah ritual yang akan menyempurnakan hubungannya dengan “mereka.” Tanggal yang tertulis adalah malam ini, malam Arif membaca.
Tiba-tiba, cermin tua di dinding retak dengan suara memekakkan telinga. Pecahannya berjatuhan ke lantai berdebu, memantulkan bayangan Arif yang terdistorsi. Namun, bukan hanya bayangannya yang ada di sana. Sebuah wujud hitam pekat, tak berbentuk, muncul di pantulan yang pecah itu, tepat di belakangnya.
Napas Arif tercekat. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata berdiri sangat dekat. Aroma busuk, seperti bangkai yang telah lama membusuk, menyeruak kuat. Tulisan terakhir Larasati berkelebat di benaknya: “Mereka telah datang. Aku adalah persembahan.”
Sebuah bisikan menusuk gendang telinganya, bukan dalam bahasa manusia. Itu adalah suara berdesir, seperti ribuan serangga yang merayap. Bisikan itu memanggil namanya, berulang-ulang, semakin keras. Tubuhnya kaku, terpaku oleh ketakutan yang melumpuhkan. Ia tak bisa bergerak, tak bisa berteriak.
Buku harian Larasati terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai dengan suara tumpul. Halaman terakhir terbuka, menampilkan sebuah gambar mengerikan. Itu adalah Larasati sendiri, dengan mata kosong, terbelenggu oleh simbol-simbol yang ia gambar. Di belakangnya, wujud hitam yang sama, dengan tentakel menjulur.
Arif menjerit, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tak peduli lagi pada apapun, hanya ingin lari. Ia berlari, menabrak pintu, tak peduli rasa sakit yang menerjang. Pintu reyot terbuka lebar, seolah mengusirnya. Ia terhuyung-huyung keluar, paru-parunya seperti terbakar oleh udara segar Malimbu yang dingin.
Ia terus berlari tanpa menoleh, menuruni bukit, menjauhi kegelapan itu. Ia berlari sampai kakinya lemas, sampai ia jatuh tersungkur di pasir pantai. Matahari terbit mulai mewarnai langit, namun ia tak merasakan kehangatannya. Hatinya masih bergetar, jiwanya terguncang. Ia tahu, sesuatu telah mengikutinya pulang.
Malam-malamnya setelah itu dipenuhi mimpi buruk dan bisikan-bisikan aneh. Bayangan hitam seringkali melintas di sudut matanya, bahkan di keramaian kota. Aroma busuk itu kadang muncul tiba-tiba, membuat perutnya mual. Ia tahu, gubuk di Malimbu telah menancapkan cengkeramannya pada dirinya.
Gubuk tua itu masih berdiri di Bukit Malimbu, membisu dan angkuh. Jendela gelapnya masih menatap lautan, seolah menunggu. Penduduk lokal semakin menghindarinya, bahkan menyeberang jalan jika melewatinya. Mereka tahu, gubuk itu bukan hanya sebuah bangunan usang. Ia adalah sebuah entitas, sebuah gerbang.
Ia adalah sebuah makam, bukan bagi jasad, melainkan bagi kewarasan. Ia adalah bisikan Larasati yang tak pernah padam. Gubuk tua itu menanti korban baru, mengulangi lingkaran horornya. Dan Arif tahu, ia hanyalah salah satu dari sekian banyak yang pernah tersentuh oleh senandung kegelapan Bukit Malimbu.






