Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Tangisan Perempuan Terdengar di Bangli — Tapi Tak Ada Siapa-Siapa

9
×

Tangisan Perempuan Terdengar di Bangli — Tapi Tak Ada Siapa-Siapa

Share this article

Tangisan Perempuan Terdengar di Bangli — Tapi Tak Ada Siapa-Siapa

Bayangan Kelam Bangli: Kisah Hantu Wanita Penunggu Tanah Suci

Bangli, sebuah kabupaten di jantung Pulau Bali, seringkali tersembunyi di balik bayang-bayang pesona pariwisata selatan. Namun, bagi mereka yang berani melangkah lebih dalam, Bangli menawarkan lebih dari sekadar pemandangan gunung dan danau yang memukau. Ia menyimpan rahasia, legenda, dan bisikan dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati.

Di antara kabut tipis yang sering menyelimuti perbukitannya, dan di antara rimbunnya pohon-pohon tua yang menjulang, tersimpan kisah-kisah yang membuat bulu kuduk berdiri. Kisah tentang kehadiran yang tak terlihat, namun begitu nyata, yang menjaga dan menghantui tanah leluhur mereka. Terutama, kisah tentang hantu wanita di Bangli.

Bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan sebuah misteri yang telah berakar dalam jiwa penduduknya selama berabad-abad. Sebuah kehadiran yang dirasakan, dilihat, dan terkadang, bahkan berinteraksi dengan mereka yang tak sengaja melintasinya. Ini adalah kisah tentang Ni Luh, sebuah nama yang dibisikkan dengan hormat dan ketakutan.

Ardi, seorang peneliti muda yang terobsesi dengan cerita rakyat dan fenomena paranormal, tiba di Bangli dengan hati penuh skeptisisme. Ia ingin membuktikan bahwa semua hanya ilusi, hasil dari imajinasi kolektif. Namun, sejak langkah pertamanya menginjakkan kaki di tanah Bangli, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Udara terasa lebih berat, dingin menusuk, seolah ada mata tak terlihat yang terus mengawasinya. Malam pertama, Ardi terbangun oleh bisikan samar, terdengar seperti ratapan yang tertiup angin. Ia mencoba mengabaikannya, meyakinkan diri bahwa itu hanyalah suara alam pedesaan.

Namun, keesokan harinya, kecurigaannya mulai tumbuh. Barang-barangnya bergeser dari tempat semula, dan ia kerap mencium aroma melati yang pekat, padahal tak ada bunga melati di sekitarnya. Ini bukan kebetulan belaka, ia mulai menyadari.

Ia memutuskan untuk mengunjungi beberapa desa terpencil, mencari penduduk lokal yang bersedia berbagi cerita. Awalnya, mereka semua bungkam, enggan membicarakan hal-hal tabu. Ketakutan terpancar jelas di mata mereka setiap kali Ardi menyinggung “hantu wanita.”

Akhirnya, seorang kakek tua bernama Pak Wayan, seorang penjaga pura desa yang dihormati, setuju untuk berbicara. Wajahnya yang keriput memancarkan kesedihan dan kelelahan, seolah ia telah membawa beban rahasia ini seumur hidup. Pak Wayan memulai kisahnya dengan suara bergetar.

“Dahulu kala, ratusan tahun lalu,” Pak Wayan memulai, “ada seorang gadis bernama Ni Luh. Dia adalah gadis tercantik di seluruh Bangli, dengan hati yang seputih salju dan senyum yang menyejukkan. Semua orang mencintainya, mengagumi keanggunan dan kebaikan hatinya.”

Namun, kecantikan Ni Luh membawa petaka. Seorang bangsawan dari daerah lain, yang berkuasa dan kejam, terpikat padanya. Ia mencoba mendapatkan Ni Luh dengan segala cara, namun Ni Luh menolak, karena hatinya telah berlabuh pada seorang pemuda sederhana dari desanya.

Bangsawan itu murka. Ia tidak bisa menerima penolakan. Dengan licik, ia menyebarkan fitnah keji tentang Ni Luh, menuduhnya melakukan praktik ilmu hitam dan mengganggu kedamaian desa. Tuduhan itu begitu kuat, dan para tetua desa, yang takut akan kemarahan bangsawan, terpaksa menjatuhkan hukuman.

Ni Luh dihukum mati di sebuah tempat yang kini menjadi reruntuhan pura tua, di pinggir jurang yang dalam. Ia dieksekusi secara kejam, tanpa sempat membela diri. Ratapannya yang pilu bergema di seluruh lembah, namun tak ada yang berani menolongnya.

“Ia mati dengan hati yang hancur, dikhianati oleh tanah yang dicintainya,” lanjut Pak Wayan, suaranya nyaris tak terdengar. “Arwahnya tidak bisa tenang. Ia terperangkap di antara dunia, mencari keadilan yang tak pernah ia dapatkan.”

Sejak saat itu, Ni Luh dikenal sebagai penunggu tanah Bangli. Kehadirannya tidak selalu jahat, Pak Wayan menjelaskan. Ia lebih sering muncul sebagai bayangan tipis, atau suara ratapan yang menyayat hati, terutama pada malam Purnama atau Tilem.

Beberapa orang mengaku melihatnya menari di antara pepohonan beringin tua, dengan selendang putihnya yang berkibar, matanya memancarkan kesedihan yang tak terhingga. Yang lain merasakan sentuhan dingin di tengkuk mereka, atau mendengar bisikan “mengapa?” di telinga mereka.

Ada kisah tentang para pencuri yang mencoba mengambil benda-benda suci dari pura-pura tua. Mereka ditemukan pingsan keesokan paginya, dengan rambut memutih dan mata melotot, seolah melihat kengerian yang tak terlukiskan. Mereka semua bersumpah melihat Ni Luh yang murka.

Ardi mulai merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Skeptismenya runtuh, digantikan oleh rasa ingin tahu yang menakutkan. Ia memutuskan untuk mengunjungi reruntuhan pura tempat Ni Luh dieksekusi, di mana energi mistis konon paling kuat terasa.

Malam itu, dengan senter di tangan dan jantung berdebar kencang, Ardi menyusuri jalan setapak yang gelap dan licin. Udara menjadi semakin dingin, dan kabut tebal mulai turun, menyelimuti segala sesuatu dalam selubung misteri. Pepohonan tua tampak seperti siluet raksasa yang mengawasi.

Ketika ia tiba di reruntuhan pura, suasana mencekam menyergapnya. Bebatuan tua yang ditumbuhi lumut tampak seperti wajah-wajah yang menangis. Angin berdesir melalui celah-celah bebatuan, menciptakan suara siulan yang menyeramkan, seperti melodi kematian.

Ardi menyalakan senternya ke segala arah, mencoba menembus kegelapan yang pekat. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa di belakangnya, seolah ada seseorang yang berdiri sangat dekat. Aroma melati yang kuat kembali tercium, kali ini jauh lebih pekat dan memabukkan.

Ia membalikkan badan dengan cepat. Di sana, di antara kabut yang menari dan reruntuhan batu, berdiri sesosok wanita. Gaun putihnya tampak usang dan kotor, rambutnya yang panjang terurai acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya pucat pasi, namun matanya—matanya memancarkan kesedihan yang tak terhingga, dan amarah yang terpendam.

Itu adalah Ni Luh. Ardi terpaku, tak bisa bergerak. Ia ingin lari, namun kakinya seolah terpaku di tanah. Wanita itu tidak bergerak, hanya menatap Ardi dengan tatapan kosong, seolah melihat jauh ke dalam jiwanya, mencari sesuatu yang hilang.

Sebuah suara samar, seperti bisikan dari dunia lain, menusuk gendang telinga Ardi. Bukan kata-kata, melainkan sebuah getaran kesedihan, kepedihan, dan kerinduan yang mendalam. Ardi merasakan gelombang emosi yang begitu kuat, seolah ia ikut merasakan penderitaan Ni Luh.

Tiba-tiba, sosok Ni Luh mulai memudar, larut ke dalam kabut malam. Ia menghilang secepat ia muncul, meninggalkan Ardi terengah-engah, dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Pengalaman itu jauh melampaui segala yang pernah ia baca atau dengar.

Ardi kembali ke penginapannya dengan perasaan campur aduk. Ia tidak lagi skeptis. Ia telah melihatnya, merasakan keberadaannya. Kisah Ni Luh bukan lagi sekadar legenda, melainkan kenyataan yang menghantui, sebuah luka lama yang belum sembuh.

Keesokan harinya, Ardi berkonsultasi lagi dengan Pak Wayan. Ia menceritakan pengalamannya, dan Pak Wayan hanya mengangguk pelan, seolah sudah menduga. “Ia ingin suaranya didengar, Nak,” kata Pak Wayan. “Ia ingin keadilan. Ia ingin kedamaian.”

Sejak saat itu, Ardi tidak lagi mencari sensasi. Ia mulai mendalami ritual-ritual kuno Bali, mencoba mencari cara untuk membantu Ni Luh menemukan kedamaian. Ia belajar tentang upacara penyucian, tentang persembahan yang tulus, tentang doa-doa yang bisa menembus batas dimensi.

Bersama Pak Wayan dan beberapa tetua adat, Ardi melakukan serangkaian ritual di pura reruntuhan. Mereka mempersembahkan sesajen, membakar dupa, dan melantunkan mantra-mantra kuno yang ditujukan untuk menenangkan roh yang gelisah. Mereka memohon agar Ni Luh dapat menemukan jalannya menuju nirwana.

Setelah upacara itu, suasana di sekitar reruntuhan pura terasa sedikit berbeda. Kabut masih ada, namun terasa lebih ringan. Aroma melati masih tercium, namun tidak lagi menusuk, melainkan menenangkan. Penampakan Ni Luh menjadi semakin jarang, nyaris tak terlihat.

Namun, bisikan tentang Ni Luh tidak pernah benar-benar hilang dari Bangli. Ia tetap menjadi bagian dari jiwa tanah itu, sebuah pengingat akan keindahan yang hilang dan keadilan yang tertunda. Ia adalah penjaga yang melankolis, selamanya terikat pada tanah suci yang mengkhianatinya.

Para penduduk Bangli kini menceritakan kisahnya dengan nada yang sedikit berbeda. Bukan lagi hanya ketakutan, melainkan juga empati dan penghormatan. Mereka percaya, Ni Luh masih ada, bersemayam dalam keheningan, menunggu waktu ketika ia benar-benar bisa menemukan kedamaian abadi.

Dan bagi Ardi, Bangli bukan lagi sekadar subjek penelitian. Ia adalah tempat di mana ia bertemu dengan misteri yang sesungguhnya, sebuah pengalaman yang mengubah pandangannya tentang hidup dan mati. Ia tahu, bayangan Ni Luh akan selalu menggantung di atas perbukitan Bangli, abadi dan tak terlupakan.

Hantu Wanita di Bangli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *