Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Semua yang Lewat Jalan Gembong Selalu Tersesat… Tapi Kenapa?

9
×

Semua yang Lewat Jalan Gembong Selalu Tersesat… Tapi Kenapa?

Share this article

Semua yang Lewat Jalan Gembong Selalu Tersesat… Tapi Kenapa?

Jalan Gembong: Lorong Kematian yang Selalu Menyesatkan Jiwa

Jalan Gembong. Namanya saja sudah memanggil kengerian. Sebuah lintasan sunyi di pinggir kota, tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon tua yang menjulang angkuh. Bukan sekadar jalan biasa, melainkan sebuah labirin hidup yang konon selalu menyesatkan siapa pun yang berani melangkahinya.

Desas-desus tentangnya telah menyebar dari mulut ke mulut, mengukir legenda gelap di hati penduduk lokal. Mereka bercerita tentang kabut tebal yang tiba-tiba turun, tentang suara bisikan tak kasat mata, dan tentang ilusi yang mengikis akal sehat.

Reza, seorang jurnalis investigasi yang haus akan misteri, awalnya hanya menganggapnya bualan. Ia telah meliput banyak kasus aneh, tetapi kisah Jalan Gembong ini memiliki resonansi yang berbeda. Ada kegelisahan dalam setiap cerita yang ia dengar.

“Jangan pernah melangkah ke sana, Nak,” kata seorang nenek tua dengan mata cekung, suaranya bergetar. “Jalan itu hidup. Ia ingin jiwamu.” Nenek itu adalah kerabat dari salah satu dari sekian banyak orang yang hilang di sana.

Korban pertamanya yang tercatat adalah seorang pemuda bernama Rio, tahun 1987. Ia nekat bertaruh dengan teman-temannya untuk menembus Jalan Gembong saat malam tiba. Rio tak pernah kembali, hanya motornya yang ditemukan terparkir rapi di ujung jalan.

Kemudian ada kasus keluarga Wibowo pada tahun 2003. Mereka tersesat saat pulang dari liburan, GPS mereka tiba-tiba mengarah ke Jalan Gembong. Mobil mereka ditemukan kosong, pintu terbuka, dan tidak ada jejak mereka.

Reza merasa ada pola yang mengerikan. Orang-orang yang hilang bukan hanya sekadar tersesat; mereka seolah ditelan bumi. Tidak ada mayat, tidak ada petunjuk, hanya kehampaan yang mencekam.

Ia memutuskan untuk mendalami misteri ini. Berminggu-minggu ia habiskan di perpustakaan, membaca koran-koran lama, dan mewawancarai siapa saja yang punya kaitan dengan Jalan Gembong. Setiap kisah menambah lapisan teror.

Ada yang menyebutnya gerbang dimensi lain, tempat batas antara dunia nyata dan gaib menjadi kabur. Ada pula yang percaya bahwa itu adalah jebakan roh-roh penasaran yang mendambakan teman.

Reza menemukan sebuah artikel kuno dari tahun 1950-an. Artikel itu menceritakan tentang sebuah insiden mengerikan di lokasi yang kini menjadi Jalan Gembong. Sebuah ritual sesat yang dilakukan oleh sekte misterius, berakhir dengan bencana.

“Mereka mencoba membuka gerbang,” tulis artikel itu samar-samar. “Mengundang entitas purba yang tak seharusnya disentuh.” Ritual itu gagal, atau mungkin berhasil dengan cara yang jauh lebih mengerikan.

Keesokan harinya, Reza memutuskan untuk melangkah sendiri ke Jalan Gembong. Bukan di malam hari, tetapi di siang bolong, saat matahari masih benderang. Ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri, mencari logika di balik kegilaan.

Udara di sana terasa berbeda, lebih dingin, lebih berat. Pepohonan di sisi jalan terlihat seperti siluet raksasa, meskipun matahari bersinar terik. Suara-suara kota seolah teredam, digantikan oleh keheningan yang menekan.

Reza menyalakan perekam suara dan kamera, siap mengabadikan setiap anomali. Ia berjalan perlahan, mengamati setiap detail: lumut yang tumbuh tebal di aspal, dahan-dahan pohon yang saling berbelit membentuk kanopi gelap.

Sekitar satu kilometer masuk ke dalam, ia mulai merasa ada yang aneh. Pohon-pohon di sisi kiri dan kanan jalan terlihat persis sama. Setiap belokan terasa identik, seolah ia hanya berputar di tempat.

Ia mencoba berpatokan pada tanda-tanda kecil: sebuah batu besar, sebuah pohon tumbang. Namun, setelah beberapa saat, tanda-tanda itu menghilang atau muncul kembali di tempat yang berbeda.

Ponselnya kehilangan sinyal. Kompasnya berputar liar, menunjuk ke arah yang tak menentu. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, bukan karena panas, melainkan karena ketakutan yang merayap perlahan.

Sebuah kabut tipis mulai menyelimuti, muncul entah dari mana. Kabut itu tidak tebal, namun cukup untuk membuat pandangan menjadi buram, mengaburkan batas antara pohon dan bayangan.

Reza mendengar bisikan. Awalnya samar, seperti desiran angin. Lalu, bisikan itu semakin jelas, seolah ada suara-suara tak dikenal yang memanggil namanya, berbisik dari balik pepohonan.

“Kembalilah… ke sini…”

Ia mencoba mengabaikannya, terus melangkah. Ia tahu ia harus tetap tenang, mencari jalan keluar. Namun, setiap langkah terasa semakin berat, seolah ada tangan tak kasat mata yang menarik kakinya.

Tiba-tiba, ia melihat sebuah penampakan. Sekilas, di balik kabut, seorang gadis kecil berdiri di tengah jalan. Rambutnya terurai, mengenakan gaun putih usang, menatapnya dengan mata kosong.

Jantung Reza berdebar kencang. Ia mengedipkan mata, dan gadis itu lenyap. Hanya kabut yang tersisa, menari-nari di antara pepohonan. Apakah itu ilusi? Atau sesuatu yang nyata?

Ia mempercepat langkahnya, ingin segera keluar dari tempat terkutuk ini. Namun, semakin cepat ia berjalan, semakin panjang pula jalan itu terasa. Waktu seolah melambat, memutarbalikkan kenyataan.

Reza mencoba berteriak, memanggil bantuan. Suaranya hilang, terserap oleh keheningan yang mencekik. Ia merasa panik, seperti seekor tikus yang terperangkap dalam labirin yang terus berubah.

Di salah satu belokan yang tampak identik, ia melihat sesuatu di tanah. Sebuah dompet kulit usang. Ia mengenali dompet itu dari foto yang ia lihat di arsip polisi. Itu dompet Rio, pemuda yang hilang tahun 1987.

Ia membungkuk untuk mengambilnya, tangannya gemetar. Saat jarinya menyentuh dompet itu, ia merasakan sentuhan dingin yang menusuk, seolah ada energi aneh yang terpancar darinya.

Pada saat itu, kabut di sekitarnya menebal drastis. Bisikan-bisikan berubah menjadi tawa cekikikan, diikuti oleh suara erangan dan ratapan yang pilu. Udara menjadi sangat dingin, menusuk hingga ke tulang.

Reza merasakan tekanan di dadanya, seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya. Ia terhuyung mundur, menjatuhkan dompet itu. Penglihatannya mulai kabur, dunianya berputar.

Ia melihat bayangan-bayangan melintas di antara pohon, bentuk-bentuk yang tidak jelas, namun terasa mengancam. Apakah ini para korban yang tersesat? Atau entitas yang menunggu mereka?

Dengan sisa tenaga, Reza berlari. Ia tidak tahu ke mana, hanya berlari menjauh dari suara-suara dan bayangan-bayangan itu. Kakinya terasa seperti timah, napasnya memburu.

Ia tersandung, jatuh tersungkur di atas tanah basah. Saat ia mencoba bangkit, sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan kakinya. Ia menoleh, tetapi tidak ada apa-apa, hanya kabut yang berputar.

Ketakutan murni menguasai dirinya. Ia meronta, berteriak sekencang-kencangnya. Tiba-tiba, cengkeraman itu menghilang. Kabut mulai menipis, dan suara-suara menghilang seperti ditelan bumi.

Reza terengah-engah, tergeletak di aspal. Ia mencoba berdiri, tubuhnya sakit semua. Ia melihat sekeliling. Kabut telah benar-benar hilang, dan di depannya, ia melihat ujung jalan.

Sebuah cahaya samar terlihat di kejauhan, pertanda ia sudah dekat dengan peradaban. Ia merangkak, lalu berjalan terpincang-pincang menuju cahaya itu, tidak pernah menoleh ke belakang.

Saat ia akhirnya mencapai ujung Jalan Gembong, ia merasa seperti baru saja lolos dari neraka. Napasnya masih terputus-putus, jantungnya berdetak tak beraturan. Ia selamat.

Namun, sesuatu telah berubah dalam dirinya. Ketakutan itu masih melekat, dingin dan mencekam. Ia tahu bahwa ia telah menyentuh sesuatu yang jauh melampaui pemahaman manusia.

Perekam suaranya kosong, kameranya hanya merekam gambar kabut buram. Tidak ada bukti fisik, hanya pengalaman mengerikan yang terukir dalam ingatannya.

Jalan Gembong tetap di sana, sunyi dan misterius, menunggu korban berikutnya. Reza tidak lagi menjadi skeptis. Ia kini menjadi saksi, salah satu dari sedikit yang berhasil kembali.

Ia mencoba menuliskan pengalamannya, tetapi setiap kali ia memulai, kata-kata terasa tidak cukup. Bagaimana ia bisa menjelaskan kengerian yang mengikis jiwa? Bagaimana ia bisa membuat orang lain percaya?

Misteri Jalan Gembong tidak terpecahkan. Ia hanya meninggalkan lebih banyak pertanyaan, lebih banyak ketakutan. Jalan itu memang hidup, dan ia akan terus menyesatkan siapa pun yang berani menantangnya.

Reza sesekali masih mendengar bisikan, bahkan saat ia berada di rumahnya yang hangat. Sebuah pengingat abadi bahwa ia pernah melangkah ke tempat di mana batas antara hidup dan mati, nyata dan ilusi, telah hancur.

Dan di setiap malam yang sunyi, ia bertanya-tanya: siapa yang akan menjadi korban selanjutnya dari lorong kematian yang tak pernah melepaskan mangsanya, Jalan Gembong? Sebuah misteri yang abadi, terbungkus kabut dan kegelapan.

Jalan Gembong yang Selalu Disesatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *