Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Bandung

Jangan Lewat Jalan Setiabudi Saat Malam — Ada yang Bersembunyi di Balik Sepi

9
×

Jangan Lewat Jalan Setiabudi Saat Malam — Ada yang Bersembunyi di Balik Sepi

Share this article

Jangan Lewat Jalan Setiabudi Saat Malam — Ada yang Bersembunyi di Balik Sepi

Jalan Setiabudi: Tabir Hitam di Balik Keheningan Malam

Jalan Setiabudi, Bandung. Bukan sekadar ruas jalan. Terutama saat malam. Ia adalah kanvas bagi kisah-kisah. Kisah-kisah yang berbisik di antara deru angin. Mengalir di balik dedaunan pohon tua.

Bisikan-bisikan itu bukan tentang kemacetan. Atau tentang keramaian kota. Melainkan tentang sesuatu yang lebih purba. Sesuatu yang menggentayangi. Sebuah sosok bergaun putih.

Dialah Kuntilanak Setiabudi. Legenda urban yang telah lama beredar. Menjelma menjadi mitos menakutkan. Yang diyakini banyak pengendara. Terutama mereka yang nekat melintas.

Arif adalah salah satunya. Seorang pekerja shift malam. Rutinitasnya menuntutnya. Melintasi Jalan Setiabudi. Tepat di tengah kegelapan.

Awalnya ia skeptis. Menertawakan setiap cerita. Menganggapnya bualan semata. Kisah horor pengantar tidur. Yang tak perlu dipercaya.

Namun takdir punya rencana lain. Untuk mengubah keyakinan Arif. Sedikit demi sedikit. Dengan cara yang paling menakutkan. Cara yang takkan pernah ia lupakan.

Suatu malam yang sunyi. Mobil Arif melaju pelan. Hanya suara mesin yang terdengar. Membelah keheningan pekat.

Tiba-tiba, ada keanehan. Udara di dalam mobil mendingin. Dingin yang menusuk tulang. Bukan dingin AC, jelas. Melainkan dingin yang berbeda.

Lalu hidungnya mencium aroma. Aroma melati yang kuat. Terlalu kuat untuk bunga biasa. Aroma yang manis namun mematikan. Seperti wewangian dari alam lain.

Arif mengernyitkan dahi. Mematikan AC mobilnya. Berpikir mungkin ada bunga jatuh. Dari pohon di sisi jalan. Namun aroma itu tak hilang.

Ia mencoba fokus pada jalan. Mencari sumber aroma misterius. Matanya menyapu kegelapan. Di luar jendela mobilnya.

Saat itulah ia melihatnya. Sekilas, di ujung pandang. Sebuah bayangan putih. Melayang di antara pepohonan. Sangat cepat, nyaris tak terlihat.

Jantung Arif berdebar kencang. Ia mengusap matanya kuat-kuat. Berpikir itu hanya ilusi. Akibat kelelahan atau kantuk.

Ia mempercepat laju mobilnya. Berusaha mengenyahkan pikiran aneh. Namun aroma melati itu. Seolah melekat erat padanya. Menjadi pengingat mengerikan.

Malam-malam berikutnya semakin aneh. Aroma itu kerap muncul. Selalu di titik yang sama. Di tikungan dekat pohon beringin tua.

Kadang disusul sensasi dingin. Yang merayap di sekujur tubuh. Membuat bulu kuduknya berdiri. Tanpa bisa ia cegah.

Arif mulai gelisah. Tidurnya tak lagi nyenyak. Bayangan putih itu. Kerap muncul dalam mimpinya. Mengusiknya tanpa henti.

Ia mulai bercerita. Pada teman-temannya di kantor. Namun mereka hanya tertawa. Menganggapnya kurang tidur. Atau kebanyakan minum kopi.

“Hati-hati, Rif,” ujar Budi, rekannya. “Nanti malah beneran nampak.” Kalimat itu terdengar seperti candaan. Namun bagi Arif, itu ancaman.

Suatu dini hari, kabut tebal turun. Menyelimuti Jalan Setiabudi. Jarak pandang sangat terbatas. Hanya beberapa meter ke depan.

Arif mengemudi dengan ekstra hati-hati. Lampu sorot mobilnya. Menembus tirai putih pekat. Mencari panduan di kegelapan.

Aroma melati itu kembali. Kali ini lebih pekat. Seolah memenuhi rongga paru-parunya. Membuat napasnya tercekat.

Lalu ia melihatnya lagi. Bukan lagi sekilas pandang. Tapi lebih jelas. Di sisi jalan, dekat sebuah tiang listrik.

Sosok itu berdiri membelakanginya. Bergaun putih panjang menjuntai. Rambut hitam panjang tergerai. Seolah menari-nari di udara.

Jantung Arif serasa copot. Ia menginjak rem mendadak. Ban mobil berdecit keras. Memecah keheningan mencekam.

Sosok itu tak bergerak. Tetap membelakangi mobil Arif. Namun aura dinginnya. Merasuk hingga ke dalam mobil. Membuat Arif menggigil.

Ia mencoba memberanikan diri. Menatap ke arah spion tengah. Berharap itu hanya fatamorgana. Atau mungkin tiang listrik berbalut kain.

Namun yang ia lihat adalah mata. Sepasang mata merah menyala. Melotot tajam dari spion. Menembus langsung ke retinanya.

Wajah itu pucat pasi. Bibirnya menyeringai tipis. Namun tanpa suara. Sebuah senyum yang bukan senyum. Senyum yang penuh teror.

Rambut hitamnya bergerak. Seolah ditiup angin tak kasat mata. Menutupi sebagian wajahnya. Meninggalkan kesan misterius.

Arif tak bisa bernapas. Seluruh tubuhnya membeku. Keringat dingin membanjiri dahinya. Tangannya gemetar hebat di kemudi.

Ia tak bisa memalingkan muka. Mata merah itu mengunci tatapannya. Seolah menariknya ke dalam. Dimensi kegelapan yang tak berujung.

Tiba-tiba, sebuah tawa. Melengking tinggi, menusuk telinga. Tawa yang mengerikan. Tawa seorang wanita. Namun penuh duka dan amarah.

Suara tawa itu bergema. Memantul di antara kabut tebal. Seolah datang dari segala arah. Mengelilingi mobil Arif. Menjebaknya dalam ketakutan.

Arif memejamkan mata erat. Berharap semua ini mimpi buruk. Ia memutar kunci kontak. Menginjak gas sekuat tenaga.

Mobil melaju kencang. Meninggalkan sosok itu di belakang. Arif tak berani menoleh lagi. Hingga ia merasa aman. Hingga jauh dari jalan itu.

Namun tawa itu. Terus terngiang di telinganya. Mata merah itu. Terus membayang di pelupuk matanya.

Sejak malam itu, Arif tak lagi sama. Ia dihantui ketakutan. Setiap kali melintasi Jalan Setiabudi. Jantungnya berdebar kencang.

Ia mulai mencari tahu. Kisah di balik Kuntilanak Setiabudi. Dari cerita-cerita lama. Dari penduduk sekitar. Namun tak ada yang tahu pasti.

Ada yang bilang ia adalah arwah wanita. Yang meninggal karena kecelakaan. Di jalan itu bertahun-tahun lalu. Arwahnya tak bisa beristirahat.

Ada pula yang menyebutnya. Korban pembunuhan keji. Jasadnya dibuang di sana. Arwahnya menuntut keadilan. Bergentayangan mencari pelaku.

Namun tak ada bukti konkret. Semua hanya asumsi belaka. Membuat misteri Kuntilanak itu. Semakin dalam dan tak terpecahkan.

Arif mencoba menghindari jalan itu. Sebisa mungkin ia lakukan. Namun pekerjaannya tak memungkinkan. Ia harus tetap melintasinya.

Setiap malam, ia berdoa. Berharap tak bertemu lagi. Dengan mata merah menyala itu. Atau mendengar tawa melengkingnya.

Kadang ia melihat bayangan. Berkelebat di kejauhan. Aroma melati itu seringkali muncul. Menjadi peringatan mengerikan.

Ia tak lagi skeptis. Keyakinannya telah runtuh. Digantikan oleh ketakutan. Yang mengakar dalam jiwanya.

Kisah Kuntilanak Setiabudi. Bukan lagi dongeng belaka. Bagi Arif, itu adalah realita. Sebuah teror nyata. Yang terus menghantuinya.

Dan Jalan Setiabudi. Kini bukan hanya sekadar jalan. Ia adalah lorong menuju kegelapan. Sebuah gerbang antara dua dunia.

Tempat di mana yang hidup. Bertemu dengan yang tak terlihat. Di mana ketakutan merayap. Di setiap sudut keheningan malam.

Mungkin Kuntilanak itu. Hanya ingin bercerita. Tentang kisah pilunya. Tentang mengapa ia terperangkap. Di antara dua alam.

Atau mungkin ia hanya ingin. Menakut-nakuti para pengendara. Agar mereka tahu. Ada batas yang tak boleh dilampaui.

Apapun alasannya, misteri itu tetap ada. Tergantung di udara malam. Mengikuti setiap hembusan angin. Di sepanjang Jalan Setiabudi.

Dan setiap kali kabut turun. Atau aroma melati menguar. Para pengendara tahu. Bahwa ada sesuatu yang mengawasi. Dari balik kegelapan.

Menunggu kesempatan yang tepat. Untuk menampakkan diri lagi. Menambah daftar korban. Dari teror Kuntilanak Setiabudi.

Mungkin Anda akan menjadi. Saksi mata berikutnya. Jika Anda berani melintasinya. Saat malam pekat tiba.

Dan merasakan sendiri. Dingin yang menusuk itu. Atau mencium aroma melati. Yang menjadi pertanda. Kehadiran sang legenda.

Siapkah Anda menghadapi. Sepasang mata merah menyala itu? Dan tawa melengking yang akan. Mengoyak keberanian Anda?

Pikirkan baik-baik. Sebelum Anda memutuskan. Untuk melewati Jalan Setiabudi. Terutama setelah senja tiba.

Karena di sana, di balik keheningan. Tersembunyi sebuah kisah. Kisah horor yang tak pernah usai. Kisah Kuntilanak Setiabudi.

Jalan Setiabudi: Tabir Hitam di Balik Keheningan Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *